Tampilkan postingan dengan label ONE IN A MILLION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ONE IN A MILLION. Tampilkan semua postingan

ONE IN A MILLION PART END


By : Sa-Chan

Suara riuh sudah memenuhi seluruh isi gedung tempat kontes balet yang akan segera di laksanakan. Beberapa sekolah yang mempunyai organisasi atau klub Balet di dalamnya sudah berkumpul untuk memperebutkan juara. Refly dan Vina sudah bersiap – siap di belakang panggung karena sebentar lagi akan tiba giliran mereka. Albert duduk di sebuah kursi dekat panggung bersama teman – teman yang lain, menunggu pertunjukkan dari sekolah mereka. Beberapa menit kemudian, nama sekolah mereka di panggil untuk menunjukkan penampilannya.

Di awali dengan tarian pembuka oleh beberapa penari balet sebelum di isi oleh penari balet pria dan wanitanya sebagai tokoh utama. Deruan tepuk tangan langsung merebak ketika Refly dan Vina masuk ketika selesai tarian pembuka barusan. Albert di kejutkan dengan penampilan Refly tersebut, meskipun tinggi tubuh Vina dan Refly setara tapi tidak membuat pertunjukkan tersebut bosan. Malah sangat makin mendebarkan ketika adegan lifting yang di lakukan oleh Refly dengan sangat cekatan dan sempurna. Rambut panjang Refly yang di ikat ke belakang membuatnya cukup maskulin dengan pakaian ketat yang biasa di pakai oleh balerina pria. Apalagi ketika saat penampilan solo Refly yang membuat tepuk tangan makin keras dan sambutan meriah dari para penonton. Albert sangat terkagum – kagum dan bayangannya selama ini terhadap Refly ketika menari balet sangat berbeda seperti sekarang.

Gairah yang di tunjukkan oleh Refly sangat kuat dan ekspresinya ketika menari benar – benar leluasa dan bebas. Inikah yang ingin di perlihatkan oleh Refly kepada Albert makanya dia tidak mengijinkannya untuk melihat Refly saat latihan berlangsung ?. Ketika di akhiri perpaduan menari lagi dengan Vina alunan musik ikut berhenti dan suara tepuk tangan kembali memenuhi seluruh ruangan.

“Saya tidak pernah melihat kontes balet yang hampir menyamai pertunjukkan penuh orang dewasa seperti saat ini, mengagumkan” ujar salah satu juri bertepuk tangan.

Vina dan Refly mengucapkan terima kasih bersamaan.

“Tidak mengira bisa melihat anak dari balerina yang cukup populer menari balet kembali di sini, saya sangat senang dengan keputusanmu, nak” imbuh juri lain menatap ke arah Refly juga di ikuti dua orang juri lainnya.

Pembawa acara kontes itu memberikan sebuah mic kepada Refly untuk di pakai.

“Pertama - tama saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada seseorang yang sangat spesial bagi saya” ujar Refly menatap Albert di tempat duduknya.

Albert terkejut Refly mengetahui ulang tahunnya hari ini, Albert tidak menyangka bahwa Refly akan memberikan surprise seperti ini untuknya.

“Tadinya saya sangat membenci balet karena ibu saya yang menelantarkan keluarga hanya untuk balet dan meninggalkan kami. Tapi tidak terduga ada seseorang yang masuk ke dalam kehidupan saya dan membuka semua sifat saya bahwa sebenarnya balet adalah memang kebutuhan saya bukan dari pengaruh ibu saya” jelas Refly menatap ke seluruh ruangan itu.

“Saya mencintai balet seperti saya mencintai orang tersebut, tidak peduli orang akan berkata apa tapi saya sudah memaafkan ibu saya karena darinya saya mengenal balet dan bertemu orang tersebut. Perjuangan saya selama ini hanya sia – sia untuk membenci balet karena saya memang tidak bisa, itu sudah mendarah daging di tubuh saya. Terima kasih atas dukungannya selama ini” lanjut Refly membungkukkan badan dan mengakhiri pembicaraannya lalu sorak penonton kembali menyeruak keras.

Albert tersenyum senang melihat ketabahan hati Refly begitu kuat dan tidak tergoyahkan, dia jatuh cinta karena hal tersebut ada pada diri Refly.

***

Hari ini Albert menyudahi keterlibatannya dalam klub Balet dan kembali ke klub Melukis untuk menyelesaikan lukisannya untuk kompetisi akhir tahun nanti. Refly sedang menunggu Albert di depan klub Melukis, karena Albert tidak mengijinkannya untuk melihat lukisannya sebelum di tampilkan di kompetisi nanti. Melakukan hal yang sama kepada Refly ketika tidak di ijinkan untuk melihat latihan baletnya.

“Lho Refly ? Kenapa berdiri di luar tidak masuk ?” tanya Dino ketua klub Melukis mengagetkannya.

“Tidak apa – apa Din, lagipula sebentar lagi Albert selesai kok” senyum Refly menutupi keterkejutannya.

“Oh ya, selamat atas kontes waktu itu ya. Sekolah kita jadi terkenal lagi berkat talentamu yang hebat” ujar Dino lagi mengulurkan tangannya lalu di balas oleh tangan Albert yang tiba – tiba datang di tengah mereka dari arah pintu klub.

“Terima kasih Din, masuk sana gih gue udah kelar make ruangannya” senyum Albert licik tidak senang ketua klubnya selalu menggoda Refly.

“Jangan bertingkah seperti anak kecil, pelit banget cuman nyalamin Refly doank” ketus Dino mengetok kepala Albert dengan buku panduan yang cukup besar lalu masuk ke dalam klub.

Albert hanya menyengir dan mengelus kepalanya yang sakit akibat pukulan tadi.

“Sudah selesai lukisannya Al ?” tanya Refly menggandeng tangan Albert seperti kebiasaannya.

“Bentar lagi, besok pasti selesai terus gue kasih sama pembina abis itu di kirim ke panitia kompetisi deh” jawab Albert tenang.

“Memangnya melukis apa sih ?” tanya Refly lagi masih penasaran.

“Nanti lo bakalan tahu kalau gue menang di kompetisi itu. Lukisan pemenangnya akan di pamerkan di sebuah pameran seni yang akan di adakan di sebuah galeri seni milik seniman terkenal Jakarta” jawab Albert masih tetap tenang.

“Jika menang ? Lalu kalau tidak menang bagaimana aku bisa melihatnya ?” tukas Refly lagi masih dengan polosnya.

“Lo meremehkan bakat gue ?” tanya Albert balik menghentikan langkahnya dan menatap Refly.

“Ma ... Maksudku ... “ ucapan Refly langsung terpotong karena Albert menciumnya di koridor yang sudah sepi.

“Tenang aja, gue yakin bakalan menang karena semua inspirasinya berasal dari lo Ref” ucap Albert menjilati bibirnya lalu memeluk Refly dan menghirup aroma yang keluar dari tubuh Refly.

Wajah Refly merona merah tapi tersenyum senang dan membalas pelukan Albert.

“Pengumuman pemenangnya tanggal dua puluh Desember dan kita udah libur sekolah. Mau nggak liat bareng pameran seninya sekalian date pertama kita ?” tanya Albert beralih ke tengkuk Refly menghirup aromanya yang wangi.

Refly mengangguk cepat,

“Tentu saja, pasti menyenangkan” jawab Refly senang.

Tiba – tiba ponsel Albert bergetar dan pelukan mereka harus di selesaikan, Albert melihat siapa yang menghubunginya.

***

“Kak Roan ?” kaget Refly melihat adik ibunya itu berada di rumah Albert, duduk di samping Shinta, kakak Albert.

“Hai Ref, sudah lama tidak bertemu bagaimana keadaanmu ?” tanya Roan memeluk Refly ketika mereka berdua sudah sampai.

“Aku baik – baik saja, tapi kenapa ada di rumah Albert ?” tanya Refly lagi masih sangat terkejut.

“Langsung saja ya, sebenarnya aku dan Shinta sudah bertunangan sejak empat tahun lalu. Namun, karena pekerjaanku yang masih sangat sibuknya jadi kami masih belum sempat melaksanakan pernikahan dan memberitahumu, juga Albert” jawab Roan lugas merangkul Shinta.

“Apa ?” sambung Albert tidak kalah kaget.

“Ayah dan ibu sudah mengetahui hal ini semua ?” lanjut Albert lagi menoleh ke arah orangtuanya yang masih sibuk meminum teh.

Orangtua Albert saling menatap satu sama lain dan mengangguk bersamaan,

“Jangan marah dulu Al, bukan kami bermaksud untuk menutupi hal ini padamu juga Refly. Kepindahan Refly ke Jakarta sebenarnya juga sudah di rencanakan oleh Roan tapi memang awalnya adalah agar Refly tidak terlalu membenci balet dan ibunya” sambung sang ayah menerangkan.

“Kalian berdua memiliki konflik yang hampir sama, Refly yang membenci balet dan kau Albert yang tidak mau menjadi bankir karena impianmu menjadi pelukis. Ayah juga tidak mengira akhirnya kalian benar – benar menyukai satu sama lain, tapi setidaknya Refly tidak akan kesepian lagi, bukan ?” lanjut sang ayah menatap Refly tersenyum.

“Terima kasih om” balas Refly dengan mata yang sudah berair, menarik nafas pelan agar tidak menangis di hadapan mereka semua.

“Lalu apa rencana kalian sehabis lulus nanti ?” tanya sang ibu yang akhirnya buka suara.

Albert dan Refly saling menatap.

“Mungkin aku akan mengambil Jurusan Arsitektur, tapi jika aku lulus” cengir Albert berusaha membuat suasana cair.

“Dan kau Refly ?” lanjut ibu Albert beralih menatap Refly.

“Ak ... Aku belum tahu, hanya saja aku ingin mengambil Jurusan Keuangan dan bekerja di sebuah bank seperti om dan tante” jawab Refly.

“Benarkah ? Bagus sekali !” seru ayah Albert senang.

“Oi Ref, jangan bilang lo di paksa sama bokap gue ?” cecar Albert langsung membalikkan badan Refly menghadapnya.

“Apa maksudmu Al ?” ketus sang ayah berdiri dan merangkul Refly.

“Ayah sudah mencuci otaknya Refly !!” kesal Albert menatap ayahnya berapi – api.

“Jangan salahkan ayah Al, itu adalah ucapan Refly sendiri dan tidak salah ayah harus mendukungnya bukan ? Bagaimana kalau om ajarkan dasarnya dahulu Ref ?” ajak ayah Albert menarik Refly masuk ke ruang kerjanya.

“Refly !!” sahut Albert kesal dan hanya di iringi gelak tawa oleh ibu, kakaknya juga Roan.

“Ibu belum pernah melihatmu sedekat itu dengan seseorang. Dulu kau sangat penyendiri dan sangat pemilih untuk berteman. Ibu harus berterima kasih pada Refly” tukas ibunya masih dengan tawa.

Albert hanya mendengus dan duduk di sofa tempat ayahnya barusan.

“Aku juga harus berterima kasih padamu Al, berkatmu Refly menjadi seseorang yang terbuka dan kembali jujur dengan isi hatinya. Aku bahkan sempat putus asa bagaimana merubah Refly sejak kematian ibunya” sambung Roan.

“Gue nggak berbuat apa – apa, Refly memang polos dan ketabahan hatinyalah yang paling membuat gue terkesan. Jadi dia memang sudah berusaha untuk merubah dirinya sendiri” balas Albert.

Epilogue

Suasana ramai di sebuah galeri seni di Jakarta Pusat membuat pejalan kakinya sedikit penasaran dan meluangkan waktu untuk masuk ke galeri tersebut. Banyak lukisan yang di pamerkan di sana termasuk sebuah lukisan yang memenangkan kompetisi melukis yang baru saja selesai beberapa hari lalu. Dua orang remaja pria sedang menatap ke lukisan tersebut dan tidak hanya mereka berdua saja, namun banyak orang yang terkesan dengan lukisan yang menjadi juara pertama dalam kompetisi melukis tersebut. Judul lukisan tersebut adalah “One in a Million” karya Albert Julius, lukisan tersebut menggambarkan seseorang yang berdiri di sebuah kerumunan orang sambil membelakangi sang pelukis, mencari – cari sesuatu namun ada makna di balik lukisan tersebut.

“Berkesempatan bertemu denganmu, seperti membandingkan jutaan orang dan itu adalah dirimu satu dari jutaan orang yang paling hebat”

How did i get here ? I turned around and there you were.
I didn’t think twice or rationalize
‘Cause somehow i knew.

That there was more that just chemistry.
I mean i knew you were kind of into me
But i figured it’s too good to be true.

I said, pinch me, where’s the catch this time ?
Can’t find a single cloud in the sky.
Help me before i get used to this guy.

They say that good things take time.
But really great things happen.
In the blink of an eye.

Thought of chances to meet somebody like you were a million to one.
I cannot believe it, you’re one in a million.

Tamat

ONE IN A MILLION Part 10


By : Sa-Chan.

Tak terasa sudah memasuki pertengahan November dan lusa adalah kontes menari balet yang akan di adakan di Bandung. Para member di klub Balet selalu mengambil take overtime dan berusaha mati – matian agar gerakan mereka menjadi sempurna. Latihan eksekusi yang di berikan oleh Refly benar – benar efektif, semua member sudah mempunyai bentuk dan kepribadiannya masing – masing. Program diet yang di kerjakan oleh Vina untuk membuat berat tubuhnya menjadi idealpun berjalan dengan lancar, karena dalam grand pas de deux cukup banyak kombinasi lifting penari balet wanita oleh penari balet prianya.

Sebenarnya Refly tidak mempermasalahkan hal itu, namun Vina yang memintanya sendiri jadi dia tidak bisa berbuat apa – apa.

“Oke latihannya sempurna” sahut Refly setelah alunan lagu terakhir habis di akhiri oleh gerakan ucapan salam dalam balet.

Vina memberikan handuk untuk mengelap keringat Refly yang bercucuran deras dari tubuhnya.

“Gila sumpah keren banget Ref, gue nggak sabar buat kontes lusa” ujar Vina bersemangat masih menggerak – gerakkan tubuhnya.

Refly hanya tersenyum pelan melihat perubahan di dalam klub Balet itu, semua orang menjadi penuh perjuangan dan tidak mau gagal dalam kontes satu ini. Meskipun balet memang masih sangat jarang sekali di minati oleh banyak orang karena latihannya yang memang cukup berat dan cukup menyiksa. Apalagi untuk penari balet pria di Indonesia yang sangat jarang sekali bahkan tidak ada, hanya satu saja penari balet pria dari Indonesia yang sudah mendapat penghargaan internasional, yaitu Michael Halim. Refly sangat mengaguminya, bahkan berniat ingin go international juga seperti Michael.

“Simpan tenagamu untuk lusa Vin, semua akan baik – baik saja” balas Refly meminum air yang tersedia di klub itu.

“Gue tahu karena sekolah kita punya lo, pasti di kontes lusa pada heboh karena lo menari balet lagi Ref” tukas Vina lagi duduk di sebelah Refly.

“Tapi kenapa sih lo nggak mau Albert ngeliat latihan kita ?” tanya Vina penasaran.

“Itu rahasia” jawab singkat Refly, makin membuat Vina bingung.

“Tenang saja Vin, lusa kau akan segera tahu” lanjut Refly tidak menatap Vina masih sibuk dengan minumannya.

***

Suara alunan lagu musik klasik masih terdengar merdu melantun di ruangan klub Balet, langkah kaki yang sunyi dan terampil masih menapaki lantai kayu yang menutupi seluruh ruangan klub Balet tersebut. Sejenak Refly mengambil nafas dan mengulang kembali tarian yang barusan dia lakukan, peluh yang bercucuran tidak membuatnya berhenti untuk menari kembali. Tiba – tiba ada suara tepuk tangan yang memenuhi ruangan klub tersebut. Refly langsung menoleh ke arah suara itu dan cukup terkejut melihat siapa yang datang.

“Endo ?” kaget Refly.

“Lo nari balet lagi ? Nggak nyangka sejak pemberitaan beberapa tahun lalu, gue kira lo bakalan trauma gara – gara kematian nyokap lo” ujar Endo mendekat ke arah Refly yang berdiri mematung mendengar pernyataan dari sahabat lamanya itu.

“Tidak usah ikut campur urusanku” balas Refly datar tetap tenang.

“Kenapa lo berubah secepat itu Ref ? Ada seseorang yang bikin lo menjadi ingin nari balet lagi ? Apa mungkin, ... ?” lanjut Endo tidak melanjutkan ucapannya seperti membayangkan seseorang yang bisa membuat Refly merubah pikirannya tentang balet.

Refly tidak menjawab perkataan dari Endo mematikan musik yang berada dekat dengannya dan bersiap – siap untuk keluar dari ruangan tersebut, tapi Endo langsung menahan tangan Refly.

“Lo nggak takut akan bernasib sama dengan ibumu ? Menelantarkan seseorang yang di cintai hanya untuk balet ?” tanya Endo berbisik di telinga Refly.

“Lepaskan tanganku” ucap Refly berusaha melepaskan genggaman tangan Endo.

“Jangan lari dari kenyataan Ref, gue tahu lo nggak bakalan bisa lepas dari bayangan nyokap lo. Semua hal tentang balet yang lo pelajari itu semuanya dari video nyokap lo, ingat itu Ref” tukas Endo lagi agak keras.

“Albert hanya penganggu yang masuk ke dalam kehidupan lo, dia itu nggak bakalan bisa mengerti tentang diri lo. Meskipun dia tahu tentang balet, itu hanya karena kakaknya saja tidak lebih, sadar Ref kenapa lo pindah dari Bandung ke Jakarta beberapa bulan lalu ?” lanjut Endo lagi membalikkan tubuh Refly ke arahnya.

Refly masih terdiam tidak menjawab hanya menatap Endo datar.

“Sudah selesai, En ?” tanya Refly balik.

Endo mengerutkan keningnya bingung, lalu dengan kasar Refly menarik tangannya dari Endo dan berlalu dari ruang klub Balet meninggalkan Endo sendirian.

“Refly !!” sahut Endo namun bayangan Refly sudah menghilang dari balik pintu klub tersebut.

Refly berlari menuju keluar sekolah untuk menemui Albert yang sudah menunggunya seperti biasa. Endo memang sahabat sejak kecil Refly ketika masih di Bandung dulu. Dia mengetahui semua kehidupan Refly sejak kecil, bagaimana sifat dan kebiasaan dari Refly. Kenangan masa lalu yang hampir di lupakannya beberapa minggu ini kembali muncul karena perkataan Endo barusan. Keraguan dalam hatinya timbul dan mulai merasuki hatinya lagi, masa lalunya bagaikan sebuah duri yang tidak akan pernah hilang. Airmatanya kembali keluar tanpa di sadarinya, Refly mengelap airmatanya supaya tidak terlihat oleh Albert.

“Refly !!” panggil Endo dari arah belakang mengejar Refly.

Refly tidak menoleh malah berjalan cepat menuju Albert yang sudah melihatnya dari gerbang sekolah sambil melambaikan tangan. Dengan cepat Refly langsung memeluk Albert erat dan tidak menghiraukan panggilan – panggilan dari Endo di belakangnya.

“Kenapa Ref ?” tanya Albert bingung dengan muka memerah tapi langsung merubah mimiknya tegang melihat Endo datang.

“Ngapain lo di sini ?” lanjut Albert sinis.

“Gue ada perlu sama Refly, tolong bisa tinggalkan kami berdua ?” jawab Endo tenang.

Albert melihat ke arah Refly yang masih memendam kepalanya di dadanya tidak berkata apa – apa, namun dia merasakan seragamnya yang agak basah dan dia tahu Refly sedang menangis.

“Dia nggak mau, jadi sebaiknya lo pergi” ujar Albert merangkul Refly dan bersiap pergi dari sana.

Tapi Endo langsung berteriak ke arah Albert.

“Lo nggak usah ikut campur kehidupan Refly Al, dia nggak bakalan bisa mengikuti jejak ibunya lagi. Lo nggak bakalan ngerti apa – apa tentang kehidupan Refly !” sahut Endo memperingatkan Albert.

Albert tercengang mendengar perkataan dari Endo tersebut. Melihat ke arah Refly yang tetap menunduk dan memeluk lengan kiri Albert erat masih belum berani menatapnya.

“Lo nggak tahu kehidupan masa lalunya Refly, dia pindah ke Bandung ke Jakarta ini untuk menghindari semua tentang Balet. Lo nggak tahu perjuangannya Refly selama ini untuk melupakan perbuatan ibunya di masa lalu terhadap ayah dan dirinya, tapi lo merusak semua itu, Al” lanjut Endo lagi keras membuat beberapa siswa yang masih belum pulang menjadi memperhatikan mereka.

Refly makin erat memeluk lengan Albert dan berusaha menariknya untuk keluar dari sekolah dan tidak memperdulikan perkataan dari Endo. Albert melihat Refly hanya terdiam dan melepaskan tangan Refly pelan, Refly melihat hal itu heran dan mengelap sisa airmatanya dari pipinya, lalu Albert berbalik ke arah Endo.

Albert berjalan ke arah Endo yang melihatnya terkejut dan mundur selangkah mengira – ngira apa yang akan terjadi.

Dengan gerakan cepat Albert langsung melayangkan tinjunya ke arah wajah Endo yang mulus dan tubuh Endo mendarat dengan kasar ke atas tanah. Albert mengelus kepalan tangannya yang cukup sakit karena tidak pernah memukul dengan lengan kirinya.

“Nggak usah banyak bicara lo, meskipun gue baru kenal Refly beberapa bulan, itu nggak ada urusannya sama lo ngerti ?” ujar Albert lantang sampai membuat kaget Refly dan beberapa siswa yang masih menonton di sana.

“Gue nggak pernah mempermasalahkan masa lalunya Refly atau kehidupan dia dulu. Sekarang gue hanya melihat Refly yang sudah berubah dan menyukai balet karena bukan pengaruh dari ibunya. Meskipun Refly nggak suka sama balet lagi, gue nggak peduli karena gue suka sama dia itu apa adanya, karena kepribadiannya dan bukan juga masa lalunya atau tetek bengek lainnya. Ingat Endo, kalau lo gangguin Refly lagi, gue nggak bakalan ragu – ragu buat bikin lo nyesel” lanjut Albert panjang dan menarik Refly yang masih terbengong – bengong dari sana keluar sekolah.

Di dalam perjalanan pulang Albert tetap terdiam dan Refly menatap Albert intens.

“Kenapa ngeliatin gue terus Ref ?” tanya Albert akhirnya menyerah tidak bersuara sama sekali dari tadi.

Refly tidak berkata apa – apa hanya menarik tangan kiri Albert dan membalikkan telapak tangannya sehabis memukul Endo tadi, mengambil tissue basah yang sering dia bawa dan mengelap tangannya. Albert terdiam melihat sikap Refly yang sama sekali belum berbicara sedari tadi, masih menunggu dengan sabar.

“Maafkan aku yang masih meragukan ketulusan hatimu, Al” ujar Refly agak berbisik, namun Albert mendengarnya dengan jelas.

“Udah pernah gue bilang ‘kan, mau selama apapun itu gue akan tetap menunggu hati lo agar sepenuhnya terbuka buat gue, Ref” balas Albert tenang.

“Nggak usah khawatir, semuanya akan baik – baik saja. Sejak pertama lo emang udah mengisi hati gue bukan karena keinginan gue melihat lo nari balet lagi. Bahkan sekarang gue pengen ngeliat lo tersenyum lagi sama gue kayak waktu itu dan bikin hati gue berdebar kencang” lanjut Albert menggenggam tangan Refly.

Refly tersenyum kembali dan membuat Albert kaget, lalu mencubit pipi Refly gemas.

Why do you spend all your time.
Watching life pass you by.
Hanging on to your pride.
All that you can anticipate.
Hoping all your mistake will somehow fade away.

What are you to do with this.
It’s either hit or miss.
You know the answer now.
Come on, give your heart away.
I know you hurt inside.
I know the reason why.
Don’t wait a moment.
Come on and give your hear away.

Why the hesitation.
You can pick your destination.
And the risk is so worth taking.
Can you hear me.

Refly kembali mengunjungi rumah Albert, karena hari ini semua perban luka yang ada di lengan kanan Albert akan di buka semua. Ketika memasuki pekarangan rumah, Albert cukup terkejut karena ada sebuah mobil yang lumayan dia kenal.

“Kau sudah pulang Al ?” tanya seorang wanita paruh baya yang mengagetkan Albert dan Refly ketika mereka masuk ke dalam rumah.

“Ibu sudah pulang ?” balas Albert menyalami sang ibu dan ayah bergantian yang duduk di sebelah ibunya.

“Maafkan kami yang baru bisa kembali hari ini dan lagipula Shinta mengatakan sesuatu yang cukup membuat kami ingin pulang secepatnya” jawab ibunya.

Albert melirik Shinta yang sudah duduk di sofa lain.

“Apakah ini pacarmu yang di ceritakan oleh Shinta pada kami ?” sambung sang ayah mengagetkan Albert dan Refly.

“Tidak usah kaget begitu, kami sudah tahu semuanya Al, begitu juga dengan Refly” senyum ibunya menatap ke arah Refly yang langsung menundukkan kepalanya takut.

“Kakak menceritakan semuanya ?” imbuh Albert yang menatap galak kakaknya.

Shinta hanya menganggukkan kepala tenang sambil meminum secangkir teh yang sudah tersedia.

“Maaf jika membuat kalian kecewa jika aku seperti ini, tapi aku tidak mau mengelak karena aku sangat mencintai Refly, bu” ujar Albert sambil mengenggam tangan Refly yang berkeringat dingin dan gemetar.

“Lalu ?” balas sang ayah yang makin membuat Albert bingung.

“Bagaimana keadaan tangan kananmu ? Kau sudah bisa melukis lagi ?” lanjut sang ayah mengalihkan pembicaraan.

“Hari ini perbanku akan di buka semua, ayah jangan khawatir aku akan tetap melukis dan tidak akan berubah pikiran” jawab Albert cepat lalu menatap kembali ayahnya menunggu kelanjutan dari ucapan sang ayah.

“Se .... Sebaiknya aku pulang dulu ya, Al” bisik Refly pelan.

“Nggak, lo nggak boleh pulang Ref” balas Albert kencang menahan tangan Refly.

Sejenak suasana hening tidak ada yang berbicara, kemudian sang ibupun angkat suara.

“Apakah ini anak dari keluarga Hermawan ?” tanya ibu Albert berdiri di hadapan Refly menatapnya lembut.

“Kenapa ibu bisa tahu ?” tanya Albert balik.

“Shinta memberitahukan nama lengkap Refly yang membuat kami terkejut, keluarga Hermawan adalah nasabah favorit kami dulu ketika masih bekerja di sebuah bank swasta” jawab sang ibu mengangkat tangan Refly satunya.

“Pak Hermawan adalah seorang pengusaha kecil namun berbakat, tiap bulan dia akan datang ke bank kami untuk menyetor semua pendapatannya. Lalu dia berkata, “anakku akan segera lahir, jadi aku harus menyiapkan banyak uang untuknya” kami sangat terharu mendengarnya dan dia akan selalu membawa bunga kepada semua staff bank ketika datang” lanjut sang ibu.

“Tetapi sehari sebelum istrinya melahirkan, pak Hermawan meninggal karena penyakitnya yang makin memburuk. Beberapa bulan kemudian kami mendengar istrinya meninggalkan sang anak sendiri di sini dan pergi ke Perancis untuk mewujudkan cita – citanya menjadi ballerina terkenal. Tadinya kami ingin mengadopsi anak pak Hermawan, namun sudah di bawa terlebih dahulu oleh kerabat dari istrinya” sambung ayah Albert panjang.

Albert dan Refly tidak menduga akan mendengar semua cerita ini dari mereka.

“Kebahagiaan seseorang itu tidak di ukur dari seberapa banyak dia mengumpulkan kekayaan atau memberikan yang terbaik kepada orang lain. Tapi kebahagiaan itu berasal dari ketulusan hati dan tentu saja hanya kau yang bisa merasakan kebahagiaan itu sendiri, bukan orang lain” tukas sang ibu menatap Albert dan Refly bergantian.

“Tapi ayah masih mengharapkan kau mengikuti jejak ayah Al, menjadi ... ” sambung ayahnya, namun langsung di potong oleh Shinta.

“Ayah, jangan mulai lagi” balas Shinta melihat ayahnya ketus mengulang – ngulang hal tersebut.

“Baiklah, ayah mengerti kau sama galaknya dengan ibumu Shinta” ujar sang ayah menyerah mengangkat tangannya.

Gelak tawa di rumah itu kembali bersuara, Albert dan Refly bertatapan dan bernafas lega. Refly merasa tenang jika berada di dalam keluarga ini. Mungkin tepat baginya memang untuk mencintai Albert dalam kehidupannya.

Bersambung...

ONE IN A MILLION part 9


By : Sa-Chan

“Tumben datang ke sini Al ? Bukannya masih fokus sama klub Balet ?” tanya Dino melihat anggota kesayangannya itu sedang berada di depan kanvas memegang kuasnya berharap menggambar sesuatu. 

“Refly larang gue untuk datang ke klub Balet dan ngeliat dia latihan” jawab Albert masih sibuk dengan kuas di tangan kirinya mencoba menggambar sesuatu, namun sangat sulit sekali karena dia bukan kidal.

Albert menghembuskan nafasnya dan menaruh kuasnya kembali ke tempat semula.

“Dia menari lagi ? Itu hal yang bagus donk, kenapa dia melarangmu melihatnya ?” tanya Dino lagi masih penasaran duduk di sebelah Albert.

“Gue juga nggak tahu, ngomong – ngomong Din, pembina klub masih nagih lukisan sama gue ?” tanya Albert balik.

Dino mengangkat bahunya singkat,

“Jarang sih sejak dia tahu kamu gabung sama klub Balet juga pentas seni waktu itu. Pembina bilang, “Mungkin Albert butuh istirahat sejenak untuk melukis, tapi sekolah tetap akan mengirimnya untuk menjadi kontestan di kompetisi akhir tahun” aku hanya mengangguk saja, lagian kamu juga sedang terluka seperti itu lebih baik pulihkan dulu hingga benar – benar sembuh” jawab Dino panjang menepuk bahu Albert.

“Thanks bro” balas Albert, lalu Dino beranjak pergi dari klub meninggalkan Albert sendirian.

Sudah dua minggu sejak peristiwa di rumah Albert waktu itu, di mulai hari itu mereka berdua menjadi seorang sepasang kekasih. Albert selalu tersenyum ketika mengingat hal tersebut, wajah Refly yang merona merah sangat atraktif dan lucu. Meskipun Albert belum terlalu yakin bahwa Refly sungguh – sungguh mencintainya atau hanya karena simpati saja dia tidak tahu. Namun satu hal yang paling Albert senang adalah hanya dialah satu – satunya orang yang bisa melihat semua ekspresi Refly, ketika senang, sedih, cemburu, marah dan yang lainnya. Refly tidak akan menunjukkan hal tersebut kepada orang lain, jika di sekolah atau tidak bersama dengan Albert, Refly akan bersikap biasa dengan wajah datar dan tenang.

Albert segera membereskan peralatan melukisnya dan beranjak berdiri meninggalkan ruangan klub Melukis lalu tinggal menunggu Refly di luar sekolah untuk mengantarnya pulang. Namun, ketika hampir sampai di lapangan sekolah, Albert di hampiri oleh seorang siswi perempuan yang tidak di kenalnya. Keadaan sekolah saat itu kebetulan sudah sepi karena waktunya pulang sekolah.

“Kak Albert” ujar siswi itu berdiri di depannya sambil menunduk.

“Ada apa ya ?” tanya Albert pelan tidak mengerti.

Di tempat lain, Refly sudah selesai dengan latihan baletnya dan sedang berlari menuju luar sekolah karena Albert sudah menunggunya. Saat melihat Albert di lapangan sekolah berdiri membelakanginya, Refly hendak memanggilnya namun mulutnya langsung tertutup ketika mendengarkan sebuah ucapan dari seseorang yang berada di depan Albert tersebut.

“Kak Albert mau nggak jadi pacarku ?” tanya siswi itu cukup lantang memberikan sebuah amplop putih kepada Albert.

Mengerti akan keadaannya sekarang Albert hanya tersenyum simpul dan menolak amplop dari siswi tersebut.

“Sorry, gue nggak bisa karena gue udah punya pacar” jawab Albert cepat.

Bukan maunya Refly untuk menguping tapi, dia tidak bisa mengelak dari tempatnya berdiri sekarang. Mau tak mau dia mendengar pembicaraan tentang pengakuan cinta seseorang, terutama kepada Albert. Refly tidak menyangkal bahwa Albert cukup menarik dan tampan walaupun tidak terlalu populer di sekolah. Tubuhnya yang tinggi dan cukup atletis karena berlatih balet membuatnya mempunyai beberapa penggemar di sekolah. Refly tidak menyangka hal ini akan terjadi, tapi dia cukup kaget dengan jawaban Albert barusan, ingin mendengar kelanjutannya.

“Benarkah ?” tanya siswi itu lagi polos.

Albert mengangguk pelan lalu mengelus kepala siswi itu pelan.

“Ya benar, maaf tidak bisa membalas perasaan lo. Gue sama pacar gue baru jadian dua minggu dan orang berpikiran pasti masih senang – senangnya. Justru kenyataannya nggak begitu, gue sama dia hanya selalu berbicara seadanya ketika malam minggu kami tidak ngedate seperti pasangan lainnya hanya hal – hal biasa aja. Tapi di situlah letak cinta gue sama dia dan meskipun gue belum tahu perasaan dia sesungguhnya sama gue, nggak akan ada orang lain yang bisa menggantikan keberadaannya di sini” ucap Albert panjang sambil menunjuk ke dadanya.

“Carilah orang lain yang benar – benar mencintaimu ya” lanjut Albert dan segera berlalu dari tempat tersebut.

Tak terasa pipi Refly sudah basah karena airmatanya keluar begitu saja mendengar perkataan Albert tadi. Dengan cepat dia keluar dari tempat persembunyiannya dan mengejar Albert sekaligus berpapasan dengan siswi tadi yang melihat Refly kaget dan menatapnya terkejut. Tapi Refly mengacuhkannya dan langsung memeluk Albert dari belakang.

“Udah selesai latihannya Ref ?” tanya Albert terkejut dan ingin berbalik, namun Refly tidak berkutik dari posisinya dan menahan Albert tetap dalam posisi membelakanginya.

“Ayo pulang” jawab Refly singkat.

***

Albert duduk di sebuah sofa berwarna putih gading dan menyenderkan lengan kanannya yang mulai nyeri lagi ketika dalam perjalanan ke apartemen Refly. Baru kali ini dia mendatangi kediaman Refly yang hanya sebuah apartemen namun cukup luas. Di dalam perjalan pulang tadi mereka berdua hanya terdiam tidak ada yang berbicara, Albert tidak mau memaksa Refly bicara jika itu bukan keinginannya sendiri.

“Mau makan sesuatu Al ?” tanya Refly ketika sudah berganti pakaian dan menuju dapur yang menyatu dengan ruang tamunya.

“Boleh, kebetulan gue laper” jawab Albert senang.

“Ini minum obat penghilang rasa sakitnya dulu Al, nyeri lagi ‘kan ?” tanya Refly lagi memberikan segelas air pada Albert.

Refly kembali ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk Albert juga dirinya. Albert melepaskan dasinya lalu meregangkan kancing seragamnya, bersantai sedikit di sofa yang sedang di dudukinya. Melihat sekeliling ruangan tersebut dan berhenti di sebuah bingkai foto yang berukuran cukup besar bergambarkan seorang wanita yang sedang dalam salah satu posisi gerakan balet. Ekspresi wanita itu sangat bahagia dan mungkin terlalu bahagia karena Albert melihat suatu perasaan yang sangat memuncak di dalam foto tersebut.

“Itu foto ibuku” ujar Refly menyadarkan lamunan Albert yang cukup tertahan di foto barusan dan membuatnya cukup kaget.

“Nyokap lo ?” tanya Albert masih terkejut.

Refly mengangguk dan menaruh dua piring nasi beserta lauk juga minumannya di atas meja dekat Albert dan duduk di sampingnya.

“Dia penyebab phobia menariku juga alasan kenapa aku membenci balet” jawab Refly.

Albert membelakakan matanya tidak percaya mendengar apa yang barusan di katakan oleh Refly.

“Sejak kecil aku sudah di asuh oleh kak Roan, bukan dengan ibuku. Dia sudah tinggal di Perancis dan hidup dengan baletnya, tidak memperdulikan keluarganya yang ada di sini” ucap Refly memulai penjelasannya dan Albert mendengarkan dengan serius.

“Waktu kecil aku senang dengan balet karena di depan rumahku terdapat sanggar balet dan ketika alunan musik klasik terdengar dari sana aku mulai menari dan mempelajari balet. Namun ketika aku beranjak dewasa dan mengetahui bahwa ayah meninggal dan ibu menelantarkan keluarganya hanya karena untuk menjadi penari balet terhebat di dunia” jelas Refly lagi mengontrol emosinya.

“Balet menjadi hal yang paling kubenci dan tidak mau kulihat lagi dalam kehidupanku. Empat tahun lalu kematian ibuku karena dia mengidap sebuah penyakit yang mematikan dan akhirnya dia kembali ke Indonesia untuk melihat keluarganya, namun dia sudah terlambat karena aku tidak mau menemuinya dan tinggal bersama kak Roan” lanjut Refly masih fokus dengan ceritanya.

“Lalu kenapa lo pengen nari balet lagi sekarang ? Apa phobia lo udah benar – benar hilang ?” tanya Albert memegang tangan Refly yang sudah dingin.

Refly sejenak terdiam lalu berbalik mengarah menatap Albert dan tiba – tiba memeluknya, membuat Albert sangat terkejut.

“Tadinya aku sudah tidak berniat mempelajari balet kembali, tapi kau datang menghampiri kehidupanku. Aku berpikir selama ini aku belajar balet hanya karena aku adalah anak dari seorang ballerina. Namun beberapa bulan ini mengenalmu aku belajar bahwa sebenarnya aku memang menyukai balet bukan dari ibuku, melainkan keinginan dari lubuk hatiku sendiri terima kasih, Al” balas Refly panjang memeluk erat Albert.

Albert tidak percaya mendengar ucapan Refly barusan, dia tidak menduga Refly akan berbicara seperti itu dan bahwa karena dirinyalah dia mau menari balet kembali. Hatinya terasa hangat, baru kali ini ada orang yang bergantung padanya dan percaya padanya, Albert memeluk Refly dengan erat juga mencium aroma yang paling di sukainya.

“Kau masih belum percaya aku mencintaimu juga Al ?” tanya Refly memecahkan keheningan di antara mereka.

Albert bingung mendengar pertanyaan dari Refly tersebut, berusaha melepaskan pelukan mereka tapi Refly makin erat memeluk Albert dan tetap berbicara.

“Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan seorang siswi di lapangan sekolah barusan dan aku sangat senang ketika kau berkata seperti itu, Al” ucap Refly lagi.

“Hah ? Lo ada di sana tadi ?” kaget Albert dengan muka memerah.

“Aku kira hanya aku yang mencintaimu dan kau hanya bersimpati padaku saja karena keadaanku, tapi sekarang semuanya sudah beres kau sangat mencintaiku begitu juga denganku” cengir Refly mulai meregangkan pelukannya dan memegang wajah Albert dengan kedua tangannya.

Lalu dengan cepat mencium bibir Albert cepat, sedangkan yang di cium tidak bisa mengelak malah terkaget – kaget dengan sikap Refly yang tidak terduga. Albert tidak mau berpikir panjang, dengan tangan kirinya dia menarik pinggang Refly maju ke depan dan makin melumat bibir Refly ganas. Mendapati perubahan Albert yang tidak terkontrol, Refly langsung melepaskan ciumannya dan mengambil nafas, Albert hanya menatapnya bingung.

“Kalau tangan gue nggak luka, mungkin gue nggak bisa kontrol diri gue lagi Ref” ucap Albert menjilati bibirnya yang basah.

Refly hanya memukul bahu Albert pelan dengan wajah merona.

“Bisa berdiri sekarang ? Jika tidak, sesuatu yang ada di bawah lo ini akan memasuki diri lo, Ref” goda Albert berusaha merubah posisinya sekarang yang sedang memangku Refly di kedua pahanya.

Refly hanya merengut pelan lalu berdiri dari pangkuan Refly dan kembali memberikan seporsi nasi kepada Albert untuk di makannya.

“Latihannya gimana ? Mau mempertunjukkan apa di kontes nanti ?” tanya Albert saat sudah fokus dengan makanannya.

“Aku sama Vina akan mempertunjukkan grand pas de deux, dari tarian Sleeping Beauty. Memang hanya beberapa menit saja tapi cukup untuk membuat para juri senang” jawab Refly tenang.

“Jadi kalian berdua akan berkolaborasi ? Mengikuti Koreografi siapa ?” tanya Albert lagi merasa penasaran.

“Tenang saja, aku mempunyai video balet punya ibu dulu ketika dia memainkan grand pas de deux juga dengan partnernya dari Perancis. Tapi aku akan sedikit merubahnya agar tidak terlalu sama dan Vina pasti akan kelelahan dengan latihan biasa yang kubuat” balas Refly sedikit tertawa.

“Berjuanglah, gue tahu lo pasti bisa dan memenangkan kontes itu bersama Vina, lalu gue akan buat lukisan tentang diri lo” imbuh Albert mendekat ke arah Refly dan menepuk bahunya pelan, Refly hanya tersenyum senang.

Can’t fall down now, so even when clouds surround you.
And everyone seems to doubt you.
Baby still know who you are,
So you gotta keep on climbing.
In spite of the chains that bind you.
You can see the mountain top.
It’s not too far.

Can’t fall down stay triumphant keep on living.
Stay on your toes.
Get off the rope.
Don’t let ‘em ever count you out.
Realize all things are possible.
In your heart who’s the greatest.
Reach for the stars.
Be all that you are.
And make ‘em fall down.

“Kapan – kapan gue pengen nari balet bareng lo Ref, boleh ?” tanya Albert lagi.

Refly mengangguk cepat.

“Tentu saja, aku sangat menunggu hal itu Al. Kau janji akan segera sembuh dan menari balet bersamaku” ujar Refly senang memeluk Albert lagi.

Albert menunjukkan jari kelingkingnya dan dengan cepat tanggap Refly juga mengikutinya, lalu mereka berdua melakukan janji yang sering di lakukan oleh anak kecil tersebut, lalu tertawa bersamaan.

Bersambung. . .

ONE IN A MILLION part 8


By : Sa-Chan.


“Lo yakin Ref ?” tanya Albert berbisik ketika mereka sudah di dalam kelas melaksanakan tes ujian. 

“Jangan berisik Al, nanti pengawas mendengar kita” jawab Refly berbisik juga dari arah depan.

“Tapi, lo bener – bener mau ikut menari balet ?” lanjut Albert, namun terdengar dehaman dari sang pengawas ujian melihat ke arah Albert.

Albert hanya menundukkan kepala dan melanjutkan menyelesaikan ujiannya.

***

“Ref, ini novel yang lo minta” ujar Endo saat mereka berpapasan di koridor menuju kantin.

“Terima kasih ya En, maaf soal kejadian kemarin” balas Refly agak pelan agar tidak menyinggung perasaan Endo.

“Nggak apa – apa, tapi kenapa dia ?” tanya Endo melihat ke arah Albert yang berdiri tepat di samping Refly menatap Endo tajam.

“Jangan khawatir aku duluan ya, Albert sudah cerewet ingin makan siang sebelum bel masuk berbunyi” jawab Refly lugas sambil menarik Albert dari sana, namun sebelum itu Albert berbalik dan menengok ke arah Endo sambil menunjukkan jari tengahnya, sedangkan Endo hanya mengerutkan dahi tidak senang.

“Kau bisa makan dengan tangan kirimu ?” tanya Refly setelah mereka sampai kantin dan membawa makanan untuk Albert.

Albert menggelengkan kepala cepat dan langsung membuka mulutnya mengisyaratkan sesuatu. Refly menatap Albert heran, tidak mengerti maksud dari sikapnya, namun Albert langsung menunjuk – nunjuk mulutnya dengan tangan kirinya bahwa dia ingin di suapi. Refly hanya tertawa pelan melihat mimik wajah Albert seperti anak kecil meminta makanannya.

“Memalukan sekali” imbuh Refly sambil menyendokkan sesuap nasi ke dalam mulut Albert.

“Nggak usah protes, gue laper jadi lo harus bantu gue makan” balas Albert tidak menghiraukan pandangan sekelilingnya yang menatap kelakuan mereka berdua.

“Maafkan aku, kau jadi seperti ini” ujar Refly pelan memberikan sesuap nasi lagi kepada Albert.

“Jangan ngomong begitu lagi gue bosen dengernya, udah di bilang gue nggak marah ‘kan” balas Albert dengan mulut yang penuh makanan.

“Aku akan menari balet lagi, tapi selama latihan kau tidak boleh melihatku menari, Al” lanjut Refly memasukkan nasi ke dalam mulut Albert lagi, namun seketika Albert tersedak mendengar hal tersebut dari Refly dan alhasil semua nasi yang ada di mulut Albert beterbangan, tatapan sekeliling mereka makin menjadi – jadi.

“Kenapa Al ?” tanya Refly bingung mengelap mulut Albert dengan tissue dari sampingnya.

“Harusnya gue yang nanya kayak begitu, kenapa gue nggak boleh ngeliat lo latihan ?” tanya Albert balik, berusaha tetap terlihat cool di depan Refly.

“Bisa janji ‘kan Al ? Kamu boleh ngeliat ketika kontes November nanti” lanjut Refly tidak menghiraukan pertanyaan Albert.

“Tapi kenapa ? Gue nggak boleh tahu alasannya ?” tanya Albert lagi.

Refly menundukkan kepalanya tidak tahu harus menjawab apa atau ingin merahasiakan sesuatu dari Albert.

“Oke, Oke, gue janji nggak bakalan liat lo lagi latihan balet, tapi lo juga harus janji sama gue buat nemanin gue tiap hari selama tangan kanan gue belum sembuh” ucap Albert menyerah melihat sifat Refly yang selalu membuatnya mengalah.

Wajah Refly langsung berubah sumringah, membuat Albert tersenyum senang.

“Oi, tangan lo kenapa Al ?” sambung Lena mengagetkan mereka berdua di sana.

“Eh, Len udah lama nggak keliatan lo ?” balas Albert pindah ke tempat duduk di samping Refly.

“Biasa tugas OSIS menumpuk, baru hari ini selesai dan gue baru rileks makanya sekalian ngajak Indra makan siang di sini” jawab Lena lugas dan memperkenalkan pacarnya Indra pada Refly yang belum kenal sama sekali.

“Gimana bro, klub Basket ? Banyak peminatnya ?” tanya Albert bersikap santai di depan Indra dan menyalami pacar sahabat kecilnya itu.

“Biasa aja kok, kayaknya klub Balet yang lagi booming tahun ini” balas Indra singkat sesekali melirik ke arah Refly.

“Nggak kok, si Vina ribet padahal setelah pensi kemaren banyak yang request masuk klub Balet, cuman si Vina eliminasinya kebanyakan jadinya sisa sepuluh orang doank yang di anggap bertalenta menurut Vina” ucap Albert sambil menyenggol lengan Refly meminta makanannya kembali yang sempat tertunda tadi.

“Dia memang agak ketat orangnya, jadi nggak heran Vina bakal memilah – milah anggota baru” sambung Lena.

Ketika Refly menyuapi Albert seperti tadi, Indra dan Lena terkejut bukan mainnya.

“Jangan bilang lo berdua udah pacaran ?” tanya Lena cepat, dan di hadiahi semburan kedua oleh Albert menumpahkan nasi dari mulutnya mendengar ucapan aneh dari Lena.

“Lo jorok banget sih Al” ketus Lena menyingkirkan nasi – nasi yang berserakan di bagian mejanya, Indra melihat hal itu hanya tertawa terbahak – bahak.

“Lagian lo ngomongnya begitu, Len” semprot Albert tak kalah ketus.

“Siapa suruh lo berdua main suap – suapan begitu ? Biarpun tangan lo lagi terluka nggak usah manja di depan Refly” seru Lena mendelik ke arah Albert masih mengelap mulutnya dengan tissue.

“Udah yuk Ref, pada ganggu aja lo” sebal Albert menarik tangan Refly dan berlalu dari sana, Refly hanya menganggukkan kepala meminta maaf atas sikap Albert pada Lena yang mengerti maksudnya.

“Sumpah aku kaget yank, ngeliat pertunjukkan tadi” ucap Indra masih tertawa kecil.

“Aku senang Albert sudah berubah dan lebih dewasa daripada sebelumnya” senyum Lena memberi pengertian pada Indra.

“Yah, mungkin ini yang terbaik Albert sudah mulai tertarik berinteraksi dengan seusianya, padahal sebelumnya sejak kelas satu aku menganggap dia cukup aneh” balas Indra mengecup puncak kepala Lena.

“Albert sudah mempunyai cahayanya sendiri” ucap Lena pelan.

***

“Kak Roan jadi balik ke Austria lagi ?” tanya Albert ketika sudah sampai di rumahnya.

“Iya, dia akan kembali ketika kontes balet November nanti, aku sudah memberitahunya bahwa aku akan menari balet lagi” jawab Refly menaruh tas ransel yang cukup besar di atas lantai kamar Albert sambil mengeluarkan perlengkapan mandinya.

“Aku mandi duluan ya Al, latihan balet pertama tadi lumayan banyak Vina bahkan meminta overtime tapi badanku tidak sanggup lagi” lanjut Refly langsung menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar Albert.

“Nyalain keran air panasnya ya Ref, buat gue mandi nanti” sahut Albert dari luar mengganti pakaiannya dan Refly menjawab pelan dari dalam kamar mandi.

Mulai hari ini Refly menginap di rumah Albert karena janji yang di berikan olehnya ketika di kantin siang tadi. Hanya beberapa minggu saja, karena Refly tidak bisa meninggalkan apartemennya terlalu lama. Sang kakak, Shinta cukup terkejut dengan kedatangan Refly bahkan sekaligus menginap juga. Beberapa menit kemudian, Refly keluar dari kamar mandi dan sudah memakai piyamanya bercorak polkadot berwarna hitam dan putih. Melihat hal itu, Albert sedikit cekikikan juga sedikit tegang karena wangi tubuh Refly langsung menyeruak memenuhi kamarnya. Rambut basahnya yang panjang masih di biarkan terurai begitu saja, penampilannya saat ini benar – benar terlihat seperti perempuan, membuat Albert menelan ludah.

“Al ? Kok bengong ? Air panasnya sudah siap nanti keburu dingin” ucap Refly masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Hah ? I ... Iya” balas Albert langsung menuju kamar mandi lalu menarik nafas pelan berusaha mengontrol dirinya.

Di dalam kamar mandi Albert tidak tenang sama sekali, tangan kanannya yang terluka membuatnya sulit untuk membersihkan dirinya, aroma shampoo yang di pakai oleh Refly masih tercium dan membuat Albert bergetar. Dengan cepat dia langsung menghilangkan pikiran tersebut dan menyelesaikan membasuh dirinya lalu keluar dari sana. Di meja belajarnya Refly terlihat sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang di berikan oleh guru mereka. Meskipun masih beberapa bulan bersekolah di sana, Refly cepat tanggap akan semua pelajaran yang di ajarkan di sana. Albert pun mendekat ke arah Refly dan menengok apa yang sedang di kerjakan oleh Refly,

“Bikin PR, Ref ?” tanya Albert masih mengusap – usap rambutnya yang basah dengan handuk.

Refly mengangguk lalu menoleh ke arah Albert, namun langsung berbalik lagi dengan wajah memerah.

“Pakai bajumu, Al” ucap Refly pelan.

Saat ini Albert memang hanya memakai boxer saja tanpa menggunakan pakaian sama sekali. Ketika di rumah apalagi di kamarnya, Albert memang lebih senang hanya memakai singlet ataupun boxer.

“Kenapa ? Gue kalo pengen tidur begini, seksi ya ?” goda Albert merangkulkan kedua tangannya di leher Refly, namun langsung merintih kesakitan karena lengan kanannya di paksa untuk bergerak.

“Rasakan, sini aku ganti perbannya pasti sudah basah” balas Refly menjulurkan lidahnya dan memegang tangan kanan Albert lalu mengambil kotak P3K yang berada tidak jauh dari meja belajar Albert.

“Aroma tubuh lo kok wangi banget Ref ?” tanya Albert ketika Refly sedang mengganti perban di tangan kanannya, wajahnya dekat sekali dengan Albert sehingga aroma yang berasal dari Refly tercium begitu kuat.

“Maksudmu ?” tanya Refly tidak mengerti masih sibuk dengan kegiatannya.

“Iya, ada aroma yang keluar dari tubuh lo yang gue suka, beda dengan wangi parfum. Padahal lo cowok, tapi wangi terus apa rahasianya sih ?” tanya Albert memejamkan matanya dan menghirup kuat aroma tubuh Refly dan menghembuskannya kembali.

“Tidak ada yang spesial kok, mungkin hanya perasaanmu saja” jawab Refly singkat.

Albert tidak membalas jawaban dari Refly masih melihat ke wajah serius Refly yang serius akan tangan kanannya. Albert mempelajari seluk beluk wajah Refly, bulu matanya yang panjang juga jari – jari tangannya yang lentik membuat Albert terpesona. Kulit Refly yang putih bersih tanpa bercak – bercak mirip spokesperson di iklan kecantikan selalu memperdaya penglihatan Albert, seperti bukan Refly saja.

“Sudah selesai, jangan terlalu banyak di gerakkan tangannya ya, Al ... “ ucapan Refly terpotong karena wajah Albert sudah berada di depannya dan bibir mereka saling bersentuhan satu sama lain.

Ciuman kali ini cukup lama, Albert memegang kepala Refly dengan tangan kirinya dan menahannya, beberapa menit kemudian Albert melepaskan bibirnya dari Refly.

“Kenapa lo nggak nolak ciuman gue barusan, Ref ?” tanya Albert pelan, masih dekat dengan wajah Refly yang memerah.

“Aku juga tidak tahu” jawab Refly cepat.

“Maksudku, aku hanya nyaman berada di dekatmu tidak seperti orang lain walaupun kau berbuat hal yang aku tidak mengerti, tetap saja aku tidak mau jauh darimu Al” lanjut Refly yang membuat Albert terkejut.

Sejenak suasana hening tidak ada yang berbicara, Refly menundukkan kepalanya dengan telinga dan pipi yang memerah, tidak berani menatap Albert. Dengan gerakan pelan, Albert memegang tangan Refly dan menatap Refly serius.

“Jadi, kalau gue bilang pengen lo jadi pacar gue, gimana menurut lo Ref ?” tanya Albert masih dengan nada pelan.

Refly tidak bisa berkata apa – apa, wajahnya makin memerah mendengar pernyataan barusan dari Albert.

“Lo nggak usah jawab sekarang nggak apa – apa ... “ perkataan Albert terpotong karena Refly sudah mencium pipi Albert dengan cepat dan kembali dengan menundukkan kepala seperti kebiasaannya.

Albert terdiam terkejut dengan sikap tiba – tiba dari Refly tersebut. Hatinya memanas, berdebar dengan kencang, jawaban yang tidak biasa dan jelas mencerminkan pribadi Refly yang polos. Albert menyukai hal itu dan tidak bisa di pungkiri lagi cintanya sudah berlabuh kepada Refly, pertahanannya runtuh.

“Itu jawaban lo barusan ?” tanya Albert tersenyum kecil mengangkat wajah Refly yang masih merona merah.

“Gue bukan siapa – siapa juga bukan seseorang yang spesial, tapi seenggaknya gue pengen bisa bahagia bersama dengan orang yang gue cintai dan itu lo Ref. Walaupun mungkin mendapatkan hati lo sepenuhnya masih belum sempurna, gue ingin berusaha sekuat mungkin dan nggak akan menyerah buat dapetin perhatian lo sepenuhnya buat gue, Ref” lanjut Albert panjang dan menarik Refly berbaring di ranjangnya dan memeluknya erat.

Refly membalas pelukan Albert dan membenamkan kepalanya di dada Albert yang hangat dan menenangkan dirinya.

Bersambung. . .

ONE IN A MILLION Part 7


By : Sa-Chan.


Pentas seni yang di adakan beberapa minggu kemarin berjalan dengan lancar dan sukses. Klub Balet keborongan mendapat anggota baru yang ingin bergabung setelah melihat pementasan ballet lesson yang di pertunjukkan oleh Albert, Vina dan beberapa anggota lainnya. Jam istirahat makan siang hari ini di luar klub Balet sudah banyak orang yang mengantri untuk mendaftar masuk terutama kaum hawa. Vina sempat kebingungan akan hal ini karena banyaknya peminat yang datang untuk masuk menjadi anggota klub, tapi dia cukup senang ada beberapa yang benar – benar ingin belajar balet dengan motif serius walaupun ada juga yang dengan alasan hanya ingin menari bersama Albert.

“Gue nggak nyangka lo sepopuler itu Al” ujar Vina ketika para pendaftar sudah mengisi formulir dan menunggu untuk panggilan tes.

Albert tetap terdiam menatap ke arah luar jendela terlihat murung.

“Woi, kenapa lo ?” tanya Vina menepuk bahu Albert, namun dia tidak bergeming.

“Berisik lo, Vin” jawab Albert ketus masih menatap ke luar jendela, tepatnya ke arah seseorang di bawah sana.

Vina mengerutkan dahinya merasa aneh dengan sikap temannya itu, sejak selesai pentas seni tersebut Albert sering melamun dan tidak bersemangat.

“Kenapa lo ? Tumben banget lo nggak bareng Refly ?” tanya Vina lagi.

“ .... , Sekarang dia udah bisa berinteraksi dengan banyak orang, liat aja tuh di bawah” balas Albert menunjuk ke arah luar.

Vina hanya menyerukan suara “Ooohh” panjang mengerti maksud dari Albert dan tidak berniat bertanya lagi kepada Albert, sepertinya dia butuh tempat untuk sendiri.

“Ya udah nggak usah murung gitu kali, itu bagus buat Refly bisa bersosialisasi dengan teman – teman lain sebelum ujian kelulusan nanti” ujar Vina duduk di samping Albert, namun masih sibuk merapikan formulir – formulir pendaftaran yang berantakan.

“Menurut lo Refly bakalan nari balet lagi nggak Vin ?” tanya Albert mulai buka suara.

“Kenapa nanya ke gue ? Itu bukannya keinginan terbesar lo ‘kan ? Gue yakin Refly bakal nari balet lagi, karena ada sesuatu di dalam dirinya yang nggak akan pernah gue punya sebagai penari balet” jawab Vina berhenti memegang kumpulan formulir pendaftaran yang berserakan dan menatap Albert.

“Apa itu Vin ?” tanya Albert penasaran.

“Sebuah perjuangan dan kedisiplinan” jawab Vina singkat kembali dengan pekerjaannya.

Albert hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya kembali ke arah luar jendela, melihat Refly sedang berbicara bersama beberapa orang. Semenjak pentas seni tersebut tidak pelak juga nama Refly di sebut – sebut sebagai seseorang yang mensukseskan pertunjukkan balet saat itu. Meskipun hanya di balik layar, ternyata banyak yang penasaran akan siapa yang membuat klub Balet menjadi sukses seperti itu.

“Ref, mau pulang nggak ?” tanya Albert setelah bel terakhir berbunyi.

Refly langsung menengok ke arah belakang dan menganggukkan kepala cepat, aroma tubuh yang di sukai oleh Albert kembali tercium membuatnya merinding. Semenjak ciuman saat di ruang klub Balet tersebut, Albert berusaha bersikap normal, namun selalu teringat akan bibir mungil Refly yang kecil dan berwarna merah sexy. Refly pun tidak mengungkit masalah tersebut, tetapi terkadang ketika mereka bertatapan Refly langsung mengalihkan pandangannya dari tatapan Albert.

“Refly !!” panggil seseorang dari arah pintu kelas.

Albert dan Refly menengok bersamaan ke arah suara tersebut.

“Endo ? Ada apa ?” tanya Refly begitu tahu seseorang yang dia kenal.

“Novel yang lo bilang kemaren udah ada nih, ke rumah gue yuk” ajak Endo langsung menarik tangan Refly keluar kelas, namun tangan Refly yang lain sudah di genggam oleh Albert.

“Refly mau pulang bareng gue” ujar Albert sinis, seisi kelas melihat hal tersebut sambil berbisik – bisik.

“Nggak ada urusan sama lo Al, Refly kepingin novel ini jadi dia minta sama gue buat cariin, lagian Refly bukan milik lo seorang ‘kan ?” sindir Endo menatap Albert balik dengan tatapan tajam.

Suasana hening sejenak, lalu dengan gerakan pelan Albert melepas tangan Refly dan berlalu dari kelas tanpa melihat ke arah Refly lagi.
Refly melihat hal itu hanya menatap punggung Albert yang menjauh lalu menghilang dari tembok kelas. Ekspresinya sulit untuk di baca untuk orang awam yang belum pernah kenal dengan Refly, bahkan Albert masih selalu berusaha mengerti setiap ekspresi yang di tunjukkan oleh Refly.

“Ayo Ref !” sahut Endo lagi, namun Refly langsung menarik tangannya dari genggaman Endo dan menatap Endo datar.

“Maaf, bisakah kau bawa saja besok Novelnya, En ?” tanya Refly pelan.

“Kenapa nggak sekarang aja Ref ?” tanya Endo balik agak bingung dengan sikap Refly.

“Bisakah besok kau bawa novelnya ? Aku ingin pulang sekarang” lanjut Refly segera berlalu dari kelas meninggalkan Endo dengan tatapan aneh.

Refly berlari cepat di koridor berusaha mencari sosok Albert yang mungkin masih bisa dia kejar. Langsung menuju tempat parkiran namun sudah tidak ada motor yang sudah dia kenal, Refly langsung menuju keluar sekolah berhenti sebentar untuk menarik nafas karena sehabis berlari sedari sekolah. Ketika hendak menyebrang lampu lalu lintas pejalan kaki, langsung berubah menjadi merah, bunyi klakson yang cukup kencang dari arah samping kanannya membuat Refly terkejut, lalu ada sebuah dorongan dari arah belakang yang membuatnya kaget dan jatuh terjerembab ke tanah.

Refly melihat kerumunan orang mendatanginya dan terlihat sebuah tubuh besar memakai seragam sekolah menindihnya juga banyak darah mengalir dari tangan kanan orang yang menindihnya tersebut. Wajahnya langsung terkejut kaget ketika mengetahui siapa sosok tersebut yang menolongnya.

“Lo nggak apa – apa ‘kan Ref ?” tanya Albert pelan berusaha menahan sakit di lengan kanannya.

“Albert ??” teriak Refly berusaha berdiri dan menopang tubuh Albert yang besar.

“Gue kaget tiba – tiba ada lo di dekat lampu lalu lintas yang udah berubah jadi merah dan ngeliat lo nyebrang tanpa menengok arah kanan, bukannya lo pulang sama Endo ?” tanya Albert masih meringis kesakitan.

Airmata Refly langsung mengalir begitu saja berusaha mencari saputangannya untuk memberhentikan pendarahan di lengan kanan Albert.

“Nggak usah, nanti saputangan lo kotor” ujar Albert mengetahui sikap Refly lalu menghapus airmata Refly yang turun dari pipinya.

Dengan bantuan orang sekitar yang menghubungi rumah sakit terdekat, akhirnya Albert mendapat perawatan dan harus tinggal di sana beberapa saat.

“Untuk sementara lengan kananmu tidak boleh di gunakan untuk apapun” ujar dokter yang menangani luka Albert.

Refly tersontak kaget mendengar larangan tersebut dari sang dokter.

“Ta ... tapi dok, sampai kapan dia tidak boleh menggunakan tangan kanannya ?” tanya Refly masih ketakutan.

“Tergantung dari pemulihan kondisi tubuhnya, paling cepat sekitar satu bulan atau mungkin bisa tiga bulan” jawab sang dokter selesai mencatat data – data Albert dan berlalu bersama perawat di belakangnya.

Refly hanya menatap kepergian sang dokter, tidak tahu harus berbuat apa juga tidak berani melihat ke arah Albert.

“Pulang yuk, Ref” ujar Albert tenang mengagetkan Refly sambil menggendong tas selempangnya dan berdiri.

“Kamu tidak marah Al ?” tanya Refly melihat Albert khawatir.

“Kenapa ? Tentang tangan kanan gue ? Nggak usah khawatir bukan masalah besar kok” jawab Albert mengulurkan tangan kirinya agar Refly berdiri.

“Tapi ..., Kamu ‘kan siswa melukis dengan lengan kananmu seperti ini ... “ ucapan Refly terpotong karena Albert sudah menarik tangan Refly dan keluar dari ruang perawatan.

“Albert ... “ imbuh Refly tidak mengerti dengan sikap Albert yang agak aneh hari ini.

Di dalam busway mereka berdua hanya terdiam tidak ada yang berbicara dan Albert masih menggenggam tangan Refly erat.

“Tadi gue belum pulang karena sedikit marah dengan pernyataan Endo tadi” ujar Albert memulai pembicaraan.

“Tapi tiba – tiba gue ngeliat lo udah keluar dari dalam sekolah sendiri, jadi gue ngejar lo tapi nggak nyangka kejadian tadi cepat banget” ucap Albert lagi di selingi tawa sedikit.

“Namun, tangan kananmu .... “ balas Refly, tetapi di potong oleh Albert kembali.

“Jangan khawatir, yang penting lo nggak terluka” senyum Albert memasukkan tangan kanan Refly masuk ke kantung celananya.

Refly tidak bisa berkata apa – apa lagi, sikap Albert yang ramah dan rendah hati membuat Refly tenang dan rasa keraguannya untuk memiliki kepercayaan terhadap Albert hilang seketika begitu saja, hatinya di penuhi dengan sesuatu rasa yang berbeda sebelumnya.

***

“Al tangan lo kenapa ?” tanya Vina keesokan harinya ketika Albert dan Refly datang ke klub Balet untuk melihat beberapa anggota baru.

“Aduh, lo berisik banget pagi – pagi Vin, nggak usah ribet” ketus Albert menutup sebelah telinganya dengan jari kirinya.

“Ta ... tapi, Ref lo tahu kenapa si bodoh ini terluka ?” tanya Vina lagi masih penasaran beralih menatap Refly.

Refly balik menoleh ke arah Albert meminta persetujuan jika memberitahu kejadiannya kepada Vina, namun Albert menggelengkan kepala.

“Apaan sih lo Al ? Nggak usah ngasih – ngasih kode ke Refly biar nggak kasih tahu gue” ketus Vina sengit.

“Terserah gue donk, udah nggak usah ngurusin luka gue, cepet bimbing anggota barunya aja” balas Albert duduk di sebuah kursi.

Vina mengambil nafas pelan, sudah tahu watak Albert yang terlalu acuh dengan dirinya sendiri.

“Oke semua kumpul di tengah, kita akan memperkenalkan beberapa anggota lama klub Balet” sahut Vina keras dan menyuruh anggota baru untuk duduk di tengah ruang sambil melihat sekelilingnya.

“Baiklah nama saya Vina, selaku ketua di sini saya akan memberitahukan dahulu bahwa latihan balet di tempat ini cukup keras dan membutuhkan ke disiplinan yang ketat, jika ada yang tidak suka silahkan langsung keluar” sahut Vina lagi panjang.

Anggota baru di sana terdiam dan menganggukkan kepala cepat mengerti maksud dari ketua klub Balet itu.

“Ini Refly pelatih kita saat ini, pasti beberapa dari kalian sudah mengenal Refly siapa, walaupun dia masih muda dan seusia saya namun teknik gerakan baletnya sudah bisa di bilang pro dan cangkupan latihannya sangat efektif” imbuh Vina memperkenalkan Refly yang berdiri di sampingnya.

“Kenapa kak Albert tidak di perkenalkan kak Vina ?” tanya seorang anggota mengacungkan tangannya.

“Oh, Albert hanya member sementara saja dia sebenarnya anggota klub Melukis jadi tidak perlu perkenalkan” senyum Vina tenang, Albert hanya mencibir di belakang.

“Oke proyek kita sebelum tahun depan adalah mengikuti kontes di Bandung November nanti, jadi kalian bersiaplah untuk latihan keras yang akan menunggu” ujar Vina lagi memberikan manual latihan kepada anggota baru.

“Lo serius Vin mau ikut kontes balet nanti ? Lo nggak nyadar semua anggota barunya cewek semua ?” sambung Albert dari belakang.

“Nggak usah lo kasih tahu gue sadar, tapi lo juga lagi terluka nanti gue bakalan pikirin sesuatu buat kontes nanti agar tidak memakai penari balet pria” balas Vina cukup kesal karena mengetahui kenyataan di hadapannya.

“Aku saja” ujar Refly singkat.

“Hah ?” kaget Vina dan Albert bersamaan melotot ke arah Refly.

“Pengganti Albert biar aku saja Vin, nggak usah khawatir kita pasti bisa memenangkan kontes November nanti, aku ingin membuat suatu kenangan yang baik di sekolah ini” balas Refly sambil tersenyum pelan membuat Vina terperangah lalu memeluk Refly cepat.

“Thanks Ref lo memang baik banget, tapi nggak terpaksa ‘kan ?” tanya Vina meyakinkan Refly.

Refly menggelengkan kepala cepat dan Albert hanya terdiam menatap Refly.

Bersambung. . .

ONE IN A MILLION part 6


By : Sa-Chan

Suara riuh yang berasal dari sebuah sekolah swasta di daerah Jakarta Selatan tersebut mempertandakan bahwa pentas seni yang di adakan sekolah itu sudah di mulai. Banyak stand – stand makanan dan pertunjukkan musik yang di sajikan oleh sekolah tersebut. Kerumunan orang sudah membludak dan mengitari sekolah tersebut untuk melihat setiap pementasan yang di berikan oleh sekolah itu. Dari arah klub balet semua anggota sudah bersiap – siap mengenakan kostum mereka masing – masing. Albert memakai outfit ketat berwarna hitam berlengan panjang juga celana ketat berwarna hitam juga bersamaan dengan soft shoesnya yang sering dia pakai. Badannya yang cukup terbentuk dengan di balut pakaian ketat itu membuat beberapa anggota klub melihatnya berbinar – binar belum pernah melihat seorang penari balet pria sebelumnya.

“Apakah ada yang salah dengan pakaian gue ?” tanya Albert memperhatikan sekujur tubuhnya memeriksa jika ada yang aneh.

“Nggak kok, biasa aja malah lo keliatan lebih .... , ganteng makanya anak – anak lain pada ngeliatin lo” jawab Vina enteng dengan memberi jeda sejenak sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan anggotanya.

Albert hanya mendengus pelan, lalu melihat ke arah Refly yang masih menatapnya intens.

“Ke ... Kenapa Ref ?” tanya Albert lagi gugup.

Refly masih tetap diam memperhatikan tubuh Albert yang sempurna. Tubuh tingginya yang cocok dan perawakannya yang seperti model membuat Refly cukup terpesona dengan penampilan Albert sekarang.

“Ref jangan liatin Albert terus donk, gimana pakaian gue ? Udah bagus belum ?” sahut Vina berdiri di depan Refly yang sontak membuatnya terkejut.

“I ... Iya sudah bagus kok Vin, tidak usah khawatir kau sudah terlihat cantik” jawab Refly mengalihkan pandangannya dari arah Albert.

Vina memakai outfit berlengan panjang yang ketat berwarna putih juga di ujungnya yang berenda dan rok tutu yang sesuai dengan bentuk tubuhnya. Rambutnya yang sudah pendek hanya di rapikan sedikit saja agar tidak menganggu pementasannya ketika melakukan gerakan – gerakan sulit bersama Albert nanti.

“Ayo saatnya klub Balet tampil, segera siap – siap di belakang panggung” sahut seorang panitia acara pentas seni itu.

Semua orang yang berada di klub langsung keluar dan menuju panggung pentas yang sudah di buat sedemikian rupa oleh panitia penyelenggara pensi tersebut.

“Meskipun ini bukan pertamanya gue tampil di panggung untuk nari balet, tapi tetap aja perasaan gugup kayak begini masih muncul, apalagi berduet dengan lo Al” ujar Vina mengenggam kedua tangannya berusaha menutupi kegelisahannya.

“Tidak usah gugup Vin, aku percaya pada kalian. Tiga minggu kalian berlatih giat seperti itu aku rasa kalian sudah cukup mahir” tukas Refly memegang pundak Vina.

“Lebay banget lo Vin biasanya juga lo yang paling pede buat tampil di panggung begini” ujar Albert tertawa pelan.

“Sial lo !” ketus Vina kesal namun di selingi tawa juga.

Refly yang melihat itu hanya tersenyum polos juga terlihat raut kesedihan di wajahnya.

“Kenapa Ref ?” tanya Albert yang melirik sekilas ke arah Refly dan mengelus pipi Refly yang lembut.

“Tidak apa – apa Al, hanya teringat betapa dulu aku terobsesinya dengan balet namun sekarang aku takut sekali menari” jawab Refly kembali dengan tubuhnya yang gemetar.

“Hentikan itu !!” sahut Albert memegang kedua bahu Refly, sontak Refly melihat ke arah Albert menatapnya dengan tajam.

“Gue janji bakalan bikin lo nari balet lagi dan akan gue pastikan itu, jadi tolong lihat perform gue saat ini dengan hati lo. Karena gue datang ke kehidupan lo hanya buat lo Ref” ucap Albert serius, namun dia sudah di tarik oleh Vina ke atas panggung karena panitia sudah memanggil mereka.

Refly masih menatap punggung Albert yang tegak dan sudah bersiap dengan posisinya bersama Vina memulai gerakan ballet lesson di iringi lagu klasik dari Mozart. Perkataan Albert barusan masih terngiang – ngiang di pikiran Refly membuat hatinya berdebar – debar dan entahlah susah untuk di definisikan.

I had a change of heart.
But don’t know where to start.
What i’m about to say may surprise you.
But now i see it clear, life ain’t always fair.
What can you do, when you don’t wanna hurt him.
‘Cause you don’t deserve him and there’s no other way.

I’m breakin’ down, i just can’t take it anymore, oh no.
I won’t let you go, you know i’m comin’ for you.
No matter what it’s gonna take i gotta make this move.
You’re the one that i choose, you know i’m comin’ for you.

“Meriah sekali pentas seninya, Ref ?” tanya seseorang yang membuat Refly menoleh ke sampingnya.

“Kak Roan ?” kaget Refly langsung memeluk pamannya itu.

Roan hanya tersenyum melihat tingkah keponakannya yang imut itu, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah panggung.

“Bukankah itu Albert ? Jadi benar dia bisa menari balet juga ?” tanya Roan lagi.

“Iya kak, sebenarnya dia siswa melukis namun ternyata kakak Albert seorang balerina” jawab Refly masih di rangkul oleh Roan.

“Benarkah ? Tapi kau tidak keberatan dia mengingatkan tentang balet lagi kepadamu ?” tanya Roan lagi sekarang mengalihkan pandangannya kepada Refly di sampingnya.

Refly menggelengkan kepala cepat.

“Albert tidak seperti “dia” yang hanya mementingkan balet saja, bahkan sekarang aku berpikir untuk menari balet kembali” balas Refly.

Pembicaraan mereka berdua yang cukup serius di sela oleh sorakan penonton yang memenuhi sekeliling panggung tersebut. Pertunjukkan yang di berikan oleh klub Balet sudah selesai, improvisasi terakhir adalah gerakan attitude derriere oleh Vina sambil memegang bunga mawar dan Albert juga melakukan gerakan arabesque di samping Vina. Setelah memberi salam terima kasih kepada penonton para anggota klub Balet turun dari panggung dan bersorak senang karena pertunjukkan mereka yang mendapatkan sambutan luar biasa.

Albert terkejut ketika turun dan melihat Refly di rangkul oleh seseorang yang beberapa minggu ini membuatnya cukup cemburu.

“Pertunjukkan yang bagus Albert” puji Roan sambil menyodorkan tangannya untuk memberi selamat pada Albert, tapi dia mengacuhkannya.

“Kak Roan juga datang ke sini ?” tanya Albert agak sinis mendekat ke arah Refly.

Roan yang melihat reaksi dari Albert hanya terkejut sebentar lalu tersenyum pelan tahu dari sikap Albert tersebut.

“Tentu saja, ini adalah kegiatan keponakan tersayangku, bagaimana aku tidak datang untuk melihatnya ? Lagipula pekerjaanku sudah selesai dan aku cukup senang Refly bisa beradaptasi di sekolah barunya ini” jawab Roan panjang lebar sambil merangkul Refly makin erat.

Albert hanya terdiam dan menarik lengan Refly ke arahnya, melihat hal itu Roan makin geli berusaha menahan tawanya di depan Refly.

“Siapa ini Al ?” sambung Vina dari arah belakang.

“Ini pamanku Vin, namanya Roan” jelas Refly memperkenalkan mereka berdua.

“Paman lo ? Tapi masih kelihatan muda ya ?” tanya Vina bingung setelah bersalaman dengan Roan.

Roan hanya tersenyum senang lalu melirik ke arah Albert yang menatapnya tajam.

“Gue mau ganti baju dulu, temenin gue Ref” tukas Albert sambil menarik tangan Refly dan menjauh dari sana.

“Temenin pamanku dulu ya Vin” sahut Refly sebelum menjauh dari tempat tersebut.

“Apakah Albert orangnya pemaksa seperti itu ?” tanya Roan ketika Refly dan Albert pergi dari sana.

“Yah terkadang dia memang seperti itu, jangan khawatir gelagatnya sudah sangat mudah di tebak” jawab Vina enteng sambil memainkan ekspresinya membuat Roan tertawa.

“Maksudmu kau sudah tahu tentang hubungan mereka berdua ?” tanya Roan lagi masih memegangi perutnya karena tertawa terlalu berlebihan, masih cekikikan.

“Meskipun aku belum terlalu yakin, tapi Albert selalu menunjukkan sikap yang tidak biasa pada Refly jadi aku peka akan hal itu” balas Vina lagi melepaskan ikatan rambutnya dan berjalan ke arah kursi dekat panggung tersebut untuk duduk bersama Roan.

“Aku senang Refly bisa beradaptasi dengan cepat di sekolah barunya ini, kukira dia akan menghabiskan waktu sekolahnya sampai ujian kelulusan tiba dengan kesepian” ujar Roan menghela nafas pelan.

“Pertama mengenal Refly kukira dia sangat egois dan sombong, tapi setelah mengenalnya dia memang pendiam sekali dan jarang berbicara, namun aku tahu dia berhati mulia” tukas Vina lagi menatap ke arah kerumunan penonton yang masih membludak di sekitar panggung itu.

“Maafkan Refly jika dia tertutup dengan sekelilingnya, masa lalunya cukup menyedihkan dan dia sudah tidak percaya dengan orang lain lagi. Makanya aku sangat terkejut ketika dia mengatakan percaya pada Albert untuk menyembuhkan phobianya” kata Roan mengenang masa lalu.

“Apa penyebab phobianya itu kak Roan ?” tanya Vina hati – hati.

“Refly menderita phobia menari sejak SMP terutama kepada balet, salah satu talentanya, biarkan Refly yang menceritakannya sendiri pada kalian nanti” jelas Roan seperti tahu pandangan Vina padanya.

Vina masih terdiam mendengar penjelasan dari paman Refly itu.

“Kemarin aku baru kembali dari pekerjaanku yang sibuk dan akhirnya selesai. Dari Austria aku langsung pulang ke Indonesia dan menemui Refly di apartemennya, juga aku cukup kaget ketika dia pulang bersama seseorang” ujar Roan sedikit tertawa di ucapannya.

“Refly tidak tinggal bersama orangtuanya ?” tanya Vina, namun langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.

“Tidak usah khawatir, Refly memang sudah yatim piatu dan hanya aku sebagai penjaganya sekarang, aneh memang usia muda sepertiku ini sudah menjadi paman untuk Refly” Roan hanya tertawa lepas sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

“Aku merasa bersalah kepada Refly, memaksanya untuk menari balet lagi padahal dia mempunyai phobia” imbuh Vina pelan menundukkan kepalanya.

“Tidak usah sungkan, Refly memang mempunyai phobia tapi aku tahu dia tidak akan pernah membenci balet dalam hidupnya, karena dari sanalah dia tahu arti dari kebahagiaan sesungguhnya” ujar Roan menepuk pundak Vina agar tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut.

***
Ruangan klub Balet masih sepi karena semua anggotanya masih berada di luar untuk menikmati acara pensi sekolah yang makin ramai. Albert sudah berganti kostum ke seragamnya semula dan Refly hanya duduk di sebuah kursi menatap ke arah Albert yang sedang berganti baju. Raut wajah Albert tidak berubah semenjak kedatangan Roan ke sekolah untuk menemui Refly.

“Nggak usah ngeliatin gue kayak begitu Ref” ujar Albert mengetahui isi pikiran Refly walaupun tidak melihat ke arahnya masih sibuk dengan seragamnya.

“Kenapa sikapmu jadi berubah ketika kak Roan datang ?” tanya Refly polos.

Albert langsung tersandung ujung celananya ketika baru ingin dia pakai setelah mendengar perkataan Refly tersebut, membuatnya salah tingkah.

“Ma ... Maksud lo ? Biasa aja kok” jawab Albert berusaha duduk di sebuah kursi sambil memakai celananya dengan benar.

Refly tidak membalas ucapan Albert terdiam menunduk seperti memikirkan sesuatu.

“Kenapa ? Lo marah karena gue bersikap berbeda kepada kak Roan ?” tanya Albert mendekati Refly setelah berpakaian rapi.

“Apa maksud dari perkataanmu sebelum pentas tadi Al ?” tanya Refly balik menatap mata Albert intens berusaha mencari kebenaran dalam tatapan Albert.

Wajah Albert memerah ketika Refly mengingatkan perkataan yang dia ucapkan sebelum pementasannya barusan. Albert berjongkok di hadapan Refly menggenggam kedua tangannya. Mengambil nafas, supaya terlihat normal ketika berbicara sedekat itu dengan Refly.

“Lo percaya sama gue ?” tanya Albert lagi.

Refly langsung menganggukkan kepalanya, tanpa berpikir bahwa mungkin saja Albert akan berbohong padanya namun tidak, Refly percaya kepada Albert.

“Gue janji akan terus support lo, meskipun lo masih ragu – ragu sama sikap gue tapi, gue akan tetap nunggu lo biar bisa percaya sepenuhnya sama gue” ujar Albert menatap lembut Refly.

Entah siapa yang memulai, mereka berdua sudah berciuman.

Bersambung...

ONE IN A MILLION part 5


BY : Sa-Chan

Pertemuan pertama Albert dengan Roan cukup singkat, karena hari sudah tengah malam, akhirnya Albert meminta ijin langsung pulang dan berlalu dari apartemen Refly. Roan adalah adik dari ibunya Refly yang sudah meninggal beberapa tahun lalu, seharusnya Refly memanggilnya paman, namun usia Roan yang masih di bilang cukup muda akhirnya Roan meminta kepada Refly agar menganggapnya sebagai kakak saja. Ketika ibunya meninggal, Refly sudah di asuh oleh Roan sedangkan ayah kandungnya sudah meninggal ketika ia di lahirkan. Refly sudah tidak memikirkan tentang ayahnya, sejak lahir Refly memang tidak pernah melihat ayahnya.

“Waktu di telepon kemarin, kakak mengatakan akan datang ketika bulan Desember ?” tanya Refly datang membawa secangkir teh kepada Roan.

“Ternyata pekerjaanku selesai lebih cepat, jadi kukira lebih baik aku langsung menemuimu datang ke Jakarta” jawab Roan menyeruput teh buatan keponakannya tersebut.

Refly hanya mengangguk pelan duduk di samping Roan.

“Kau sudah mempunyai teman di sekolah barumu ?” tanya Roan balik menatap wajah Refly antusias.

Refly terkejut Roan berbicara menanyakan hal itu, kembali Refly hanya menganggukkan kepala.

“Tidak usah malu, aku senang kau bisa beradaptasi dengan lingkungan barumu, lupakan masa lalu ya Ref ?” ujar Roan lagi mengelus rambut Refly yang panjang.

“Aku ikut klub Balet kak” ujar Refly pelan tapi terdengar jelas oleh Roan.

Roan membelakakan matanya sangat terkejut dengan pernyataan Refly barusan.

“Hei, kau tidak apa – apa dengan hal itu ? Bukankah kau mempunyai phobia ? Jangan di paksakan Ref” tukas Roan langsung memeluk Refly erat.

“Aku baik – baik saja, Albert mengatakan akan berusaha menyembuhkan phobiaku jadi aku percaya padanya, meskipun penyebab utamanya dia belum tahu” balas Refly tenang agar Roan tidak khawatir padanya.

Roan kembali di kejutkan dengan perkataan Refly tersebut,

“Aku tidak mengira kalian sudah sedekat itu ? Aku senang kau bisa mengandalkan orang lain selain diriku Ref, ini kemajuan besar” balas Roan riang melepaskan pelukannya dan menatap Refly sumringah.

Wajah Refly memanas mendengar ucapan pamannya itu, Refly belum terlalu sadar bahwa dirinya sudah cukup terikat oleh Albert.

***

Suasana di klub Balet pagi ini sudah cukup ramai, karena Refly dan Albert sudah memulai latihan pertama mereka di klub tersebut. Mayoritas anggota klub Balet memang perempuan semua dan hanya Albert dan Refly siswa pria pertama yang mengikuti klub Balet. Sudah tersebar ke seluruh sekolah juga menjadi bahan gosip untuk para murid – murid lainnya. Namun Albert tidak pernah menanggapinya hanya acuh saja tidak mendengarkan ejekan yang di lemparkan oleh beberapa murid yang tidak tahu akan seni balet. Refly juga tidak mengacuhkan hal itu, bahkan wajahnya selalu terlihat datar ketika ada yang mengatainya, tetapi Albert selalu membelanya dan terkadang adu mulut.

“Kenapa gerakannya di ulang – ulang terus sih Ref ?” keluh Albert menarik nafas setelah selesai melakukan lima gerakan dasar kaki pada balet.

“Iya Ref, bukannya kita mau mulai dengan beberapa gerakan untuk pensi bulan depan ?” sambung Vina mengelap peluhnya yang sudah bercucuran turun.

“So ... Sorry, aku hanya melihat gerakan dasar kaki kalian masih kurang sempurna, itu saja kok” balas Refly menundukkan kepalanya sambil memainkan kuku – kuku jarinya.

Melihat hal itu Albert jadi salah tingkah, lalu mendekat ke arah Refly memegang kedua bahunya.

“Nggak apa – apa, gue bakalan dengerin semua perintah lo kok, jadi jangan kecil hati ya ? Ayo ulang lagi Vin, sampe Refly bilang gerakan kaki kita udah sempurna” sahut Albert kembali ke posisinya dan memulai gerakan tadi berulang – ulang bersama Vina dan beberapa anggota klub Balet lainnya.

Refly melihat Albert seperti bercermin ke arah dirinya saat kecil dahulu, yang sangat terobsesi dengan balet. Namun sekarang semuanya sudah tidak ada artinya lagi, bahkan sebagus apapun dia berusaha dalam balet, pujian yang sering di lontarkan oleh seseorang yang selalu di banggakannya sudah tidak ada lagi.

“Oke itu sudah bagus Al, mau lanjut lagi ?” ujar Refly melihat gerakan Albert yang sudah leluasa dengan irama kakinya.

Albert sama Vina juga beberapa anggota lainnya langsung terduduk di lantai sambil mencoba menarik nafas kuat – kuat, hampir enam jam mereka berlatih dengan gerakan yang sama terus. Kebetulan hari ini hari minggu jadi mereka semua tidak khawatir dengan penjaga sekolah yang selalu ribut akan pemakaian ruangan yang terlalu berlebihan hingga pulang jam sekolah.

“Gila, kaki gue serasa melayang, nggak ada rasanya lagi Vin. Baru kali ini gue latihan, bener – bener balet itu harus menunjang kesempurnaan banget” ujar Albert memijat – mijat kakinya yang di selonjorkan.

Vina hanya tertawa lebar, melihat sikap Albert yang tidak biasanya seperti itu.

“Baru tau lo kesengsaraan seorang balerina belajar balet ?” imbuh Vina melakukan hal yang sama seperti Albert.

Albert hanya menyengir lebar, tidak biasanya dia latihan seberat ini seperti yang selalu dia lakukan di rumahnya. Ternyata Refly benar – benar seorang penari balet profesional tidak heran latihan pertama seberat ini, bagaimana jika ingin mengikuti kompetisi internasional ? Albert tidak bisa membayangkannya.

“Dari tadi ngeliatin Refly aja ?” sahut Vina menepuk bahu Albert yang membuatnya tersontak kaget.

“Ma ... Maksud lo ?” gugup Albert meminum minuman yang tadi di belikan oleh Refly yang sedang membagi – bagikan minuman lainnya pada anggota klub lainnya.

“Nggak usah ngeles, muka lo mupeng gitu lagian gue terbuka soal hubungan yang “cukup terlarang” untuk sebagian besar orang pikir” balas Vina tenang meminum minumannya juga sedikit melirik ke arah Albert yang melotot ke arahnya.

“Kalian berdua lagi ngomongin apa ?” sambung Refly yang membuat Albert terkejut.

“Nggak apa – apa kok Ref, lanjut yuk latihannya” balas Vina berdiri dan menarik Refly ke tengah podium lagi, di ikuti oleh Albert dari belakang.

“Untuk pensi bulan depan, kita hanya akan menampilkan beberapa posisi balet dalam ballet lesson, yaitu kombinasi gerakan dari Fifth Position, Téndéu ke samping, pindahkan kaki ke belakang, Fourth Position, plié, dan terakhir retiré ” ujar Refly menerangkan.

“Kenapa nggak sebuah drama klasik aja Ref ?” tanya Vina menawarkan idenya.

“Kita kekurangan anggota, jadi untuk menampilkan balet klasik cukup susah dan kurasa walaupun hanya ballet lesson yang di tampilkan akan menjadi pertunjukkan yang spektakuler karena Albert akan menjadi pemeran utamanya bersama Vina” jawab Refly lugas menatap Albert yang berada di depannya dan membuat beberapa anggota klub itu bersorak riuh.

“Kenapa lo nggak ikut juga Ref ?” tanya seorang anggota klub mengacungkan tangannya dan membuat semua mata memandang ke arah Refly.

Refly hanya diam mendengar pertanyaan itu tidak tahu harus menjawab apa.

“Udah jangan bahas itu ya, sampai pensi bulan depan Refly hanya akan menjadi pelatih untuk klub ini” sambung Albert maju ke depan berusaha mengurangi atmosfer yang mulai tegang di sana.

“Aku ke kamar mandi dulu, lanjutkan latihannya ya Al” tukas Refly berusaha tersenyum dan langsung meninggalkan auditorium tempat mereka berlatih.

“Memangnya kenapa Refly nggak ikutan nari Al ? Sepertinya ada sesuatu ganjil di sini” selidik Vina menatap Albert.

Albert mengambil nafas sejenak,

“Mumpung orangnya lagi nggak ada di sini gue cuman pengen bilang dia punya phobia menari, itu dia sendiri yang ngomong ke gue. Tapi kalian nggak usah terlalu heboh ya, cukup diam saja dan gue janji bakal bikin dia menari balet lagi” jelas Albert panjang lebar dengan mimik serius.

Semua orang di sana menganggukkan kepala tanpa berkata sepatah katapun pertanda mereka bahwa mengerti dengan penjelasan Albert tersebut.

***

“Kenapa setelah aku kembali dari kamar mandi dan melanjutkan latihan, mereka semua menjadi diam dan tiba – tiba serius latihan bahkan meminta overtime ?” tanya Refly pada Albert ketika dalam perjalanan pulang.

Albert tertawa cukup keras membuat Refly bertanya – tanya,

“Sebagian orang mempunyai semangat untuk memperbaiki dirinya dan mereka semua di sana membuat lo menjadi teladan dalam berlatih balet” jawab Albert turun dari motornya karena sudah sampai di depan apartemen Refly.

“Benarkah ? Kukira mereka semua bosan dengan cara latihanku” ujar Refly lagi polos.

“Bosen darimana ? Latihan lo itu benar – benar efektif, pose semua anggota menjadi lebih sempurna di bandingkan sebelum lo ngajar mereka. Vina benar – benar memuji bakat lo Ref, jadi bersemangatlah” balas Albert mengelus rambut Refly yang panjang.

Refly terdiam menatap Albert ke dalam bola matanya, lalu mendekat ke arahnya lalu memeluk Albert erat. Sedangkan yang di peluk sangat terkejut melihat sikap Refly yang tidak biasa seperti itu.

“Aku berhutang padamu Al, beberapa minggu ini aku sudah tidak terlalu membenci balet lagi, tapi aku masih tidak yakin apakah masih bisa menari lagi apa tidak” ujar Refly pelan.

Albert mendengar hal itu dadanya makin berdebar kencang, keberadaannya di sisi Refly ternyata membuatnya berhasil maju selangkah untuk menghilangkan phobia yang di alami oleh Refly tersebut. Albert merasa pertahanannya runtuh dia tidak bisa membohongi perasaannya lagi, dia benar – benar menyukai Refly dari lubuk hatinya yang paling dalam. Aroma segar yang keluar dari tubuh Refly langsung di hirup kuat – kuat oleh Albert bahkan tidak mau sedetikpun aroma tersebut hilang begitu saja.

“Gue senang bisa berguna buat lo Ref, tapi gue nggak akan maksa lo buat menari lagi atau tidak. Refly tetaplah seorang Refly meskipun tidak menari balet lo tetep diri lo sendiri” balas Albert memeluk tubuh Refly yang kecil erat.

Albert merasa di dadanya Refly sedang menangis sesengukan karena bahunya yang terlihat bergetar dan seragamnya yang serasa basah. Albert tetap memeluk Refly erat berusaha memberikan dirinya untuk Refly menangis sepuasnya agar beban yang selama dia simpan selama ini bisa keluar dengan lega.

Perasaan yang muncul tiba – tiba di benak Albert membuatnya makin ingin mempelajari balet lebih dalam bahkan salah satu impiannya selain melukis adalah bersanding dengan Refly di panggung pentas balet, menari berdua dengan senang tanpa kegelisahan sedikitpun di dalam diri mereka masing – masing.

Bersambung . . .

ONE IN A MILLION part 4


By : Sa-Chan

Jakarta Selatan adalah kota administrasi yang paling kaya di bandingkan dengan wilayah lainnya. Dengan banyaknya perumahan warga kelas menengah ke atas dan tempat bisnis utama. Jakarta Selatan merupakan daerah penyangga atau daerah resapan air bagi Propinsi DKI Jakarta. Kota Jakarta Selatan memiliki satu kawasan industri yaitu, Cilandak Commercial Estate yang di dukung oleh sarana listrik dan sarana komunikasi sebagai penunjang investasi.

“Albert, tumben lo datang ke ruangan OSIS tanpa di minta ?” ujar Lena saat mereka berdua sedang berdiskusi tentang pentas seni yang akan di laksanakan beberapa minggu lagi.

“Kemarin ‘kan lo bilang mau ngomongin tentang pensi bulan depan ? Ya udah gue mampir ke sini” balas Albert malas.

Lena hanya menyengir lebar, lalu memberikan sebuah file laporan yang cukup tebal kepada Albert

“Semua klub sudah memberikan proyek acara yang akan mereka tampilkan nanti, terkecuali klub Balet” lanjut Lena menerangkan.

Albert agak terkejut mendengar ucapan dari sang Ketua OSIS sekaligus teman kecilnya tersebut.

“Nggak usah kaget begitu, Vina bilang ke gue dia masih bingung tentang pertunjukkan balet apa yang akan di tampilkan. Dia sering curhat sama gue tentang keadaan anggota klubnya yang tidak terlalu serius dengan latihan baletnya” tukas Lena lagi mendesah pelan.

“Kemarin Vina juga ngomong ke gue begitu, dia masih minta gue buat ngajak Refly ke klubnya” balas Albert membolak – balik proposal yang di berikan oleh Lena tadi.

“Angkatan kelas tiga sudah pada tahu kok, lo paling deket sama Refly. Jadi nggak kaget juga Vina memelas sama lo buat ngajak Refly masuk ke klub Balet. Tapi gue bingung tuh anak kayaknya langsung menjauhi semua yang berurusan dengan balet, .... , dia nggak ada cerita apa – apa sama lo, Al ?” tanya Lena memberi jeda sebentar.

Albert terdiam sejenak memikirkan kejadian beberapa hari lalu saat Refly menceritakan tentang phobianya terhadap balet.

“Al ? Kenapa ? Refly cerita sesuatu ke lo ?” tanya Lena masih penasaran.
“Chorophobia, Refly bilang begitu ke gue, tapi gue nggak tahu penyebabnya apa sampai dia punya phobia kayak begitu” jawab Albert pelan.

Lena terkejut mendengar hal itu dari Albert.

“Jarang seorang penari mempunyai phobia seperti itu, pasti ada alasan di balik Refly nggak mau menari lagi” ujar Lena lagi antusias mendengarkan pembicaraan yang Albert ucapkan.

“Lo tahu tentang Chorophobia ?” tanya Albert.

“Nggak terlalu juga sih, tapi gue pernah punya saudara yang menderita phobia kayak begitu, cuman bukan phobia terhadap balet” jawab Lena lugas.

Albert hanya termenung memikirkan apa penyebab Refly mengidap phobia seperti itu. Apakah dia memang benar mempunyai sebuah cedera sehingga phobia itu muncul begitu saja ? Albert tidak tahu tapi firasatnya mengatakan terjadi sesuatu dengan kehidupannya di masa lalu.

Beberapa saat di ruang OSIS mendengarkan ocehan Lena tentang pensi yang akan di laksanakan bulan depan, akhirnya Albert pergi setelah bel keempat berbunyi dan kembali menuju kelasnya. Namun langkahnya terhenti karena melihat seseorang yang berdiri di depan klub Balet, dan Albert mengenal orang itu dengan baik.

“Refly !!” panggil Albert langsung berlari menuju ke arah Refly yang terkaget karena sahutan dari Albert.

Refly tidak menengok malahan berusaha tidak mendengar suara Albert yang menangkap basah melihatnya ke arah klub Balet, namun tangan Albert yang besar menggenggam pergelangan tangan Refly erat sebelum dia menjauh.

“Tunggu, kenapa lo kabur begitu ?” ujar Albert memberi jeda sejenak sambil melihat ke arah klub Balet yang masih berlatih.

Refly tidak menjawab juga tidak menatap ke arah Albert. Sebelum Refly menepis tangannya, Albert langsung menarik Refly masuk ke dalam klub Balet, lalu memanggil Vina.

“Albert ? Refly ?” kaget Vina tidak percaya.

“Tadi gue ngeliat Refly berdiri di depan klub, jadi gue ajak sekalian masuk” ujar Albert riang, namun merasakan gemetar di telapak tangan Refly yang di genggamnya.

“Ref, bisa nggak lo liat sebentar latihan kita, mungkin lo mau merubah pikiran lu buat masuk klub kita” ujar Vina tidak sabar menatap Refly intens.

Refly hanya mengangguk pelan namun tetap menunduk.

Vina dan beberapa temannya yang sudah senior bersiap – siap dan melakukan gerakan pemanasan dasar dalam balet dengan alunan lagu instrumental klasik.

“Angkat kepala lo Ref, Vina serius ketika berbicara tadi meskipun lo punya phobia dan gue nggak tahu penyebabnya tapi tolong hargain jerih payah Vina” ucap Albert pada Refly yang kaget dan mulai menatap ke arah depannya.

Gerakan tiga orang balerina yang di depan Refly mulai seirama dengan musik lantunannya dan memperlihatkan beberapa gerakan balet yang indah. Membuat Refly melihat masa lalunya kembali, sesuatu yang ingin benar – benar dia lupakan. Namun saat ini semuanya muncul lagi, mengusik mental dan fisiknya, Refly tidak menyadari cara berdirinya sudah seperti seorang penari balet profesional dengan posisi kaki turn out. Albert yang melihat hal itu hanya tersenyum senang dan menatap wajah Refly dengan antusias, tidak fokus dengan pertunjukkan yang berada di depannya sekarang.

“Gimana Ref ? Gue harap lo mau bergabung sama klub kita” sahut Vina agak tersengal – sengal sehabis menari tadi dan mendekat ke arah Refly dan Albert.

Refly masih dengan mimik tidak yakin dan tubuhnya masih bergetar, lalu beralih menatap Albert di sampingnya, namun terlihat kaget karena Albert masih menatapnya dengan posisi yang sama. Vina yang melihat hal itu hanya mengerutkan keningnya dan menyenggol bahu Albert agar tersadar dari lamunannya.

“Woi Al, lo ngapain ngeliatin Refly begitu ?” ketus Vina agak keras karena merasa kecewa pertunjukkannya tadi tidak di lihat oleh Albert.

Seketika wajah Albert memerah dan tersadar akan sekelilingnya yang sudah menatapnya aneh.

“So ... Sorry Vin, gimana Ref ?” tanya Albert balik berusaha mengalihkan pandangan mereka padanya.

“Ak ... Aku tidak yakin” jawab Refly gugup masih memegang seragam lengan kiri Albert.

“Pliss Ref !! Gue pengen lo jadi pelatih kita di sini juga sebagai anggota, pensi bakalan di adain sebulan lagi dan gue nggak tahu harus berbuat apalagi” tukas Vina langsung membungkuk memohon.

Melihat hal itu Refly tidak enak hati dan tidak tahu harus melakukan apa, hanya melihat Albert untuk meminta pertolongan.

“Gue akan bantu lo menghilangkan phobia itu” ujar Albert berbisik di telinga Refly yang sontak wajahnya merona merah.

Refly masih tertunduk dengan warna telinga yang sangat merah, melihat hal itu Albert hanya tersenyum jahil, namun mendadak Refly makin menggenggam erat lengan kiri Albert di sampingnya lalu berkata pelan,

“Aku mau masuk asal Albert juga ikut” ucap Refly pelan namun terdengar sangat jelas.

“Hahhh ... ??” kaget semua orang di situ terutama Vina yang membulatkan mata tidak percaya dan langsung menatap Albert curiga.

Mengetahui hal itu Albert salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa, wajahnya juga sangat memerah kembali mendengar hal itu dari Refly.

“Ma ... Maksud lo apa Ref ? Kenapa ngajak si bodoh ini ?” ketus Vina menunjuk muka Albert langsung dengan jari telunjuknya.

“I ... Iya, gue bukan penari balet Ref, lo bercanda aja” sambung Albert dengan nada tertawa.

“Di rumahmu ada sanggar balet dan kakakmu juga seorang balerina, lalu waktu itu kamu juga bilang sering berlatih balet di rumah ‘kan ?” tanya Refly balik menatap mata Albert.

Vina makin menyipitkan matanya berusaha menunggu konfirmasi dari Albert.

“Ta ... Tapi gue ‘kan udah ikut klub Melukis, waktu luang gue nggak akan cukup untuk latihan balet lagi di sini” jawab Albert masih membela diri dan mengalihkan pandangannya dari tatapan Refly yang memelas.

“Nggak usah banyak alasan Al, lagian lo belum punya ide buat melukis untuk kompetisi akhir tahun ‘kan ? Jadi seenggaknya waktu luang lo itu bisa berbagi di sini sama kita – kita” senyum Vina penuh arti, Albert hanya menelan ludah melihat sifat asli Vina keluar.

Gemerutuk tangan Refly yang masih memegang seragam Albert kembali terasa di sekujur tubuhnya, kepala Refly kembali tertunduk. Albert merasa bersalah, dengan helaan nafas sekali akhirnya dia memutuskan sesuatu.

“Oke gue bakalan masuk klub Balet, tapi karena Refly yang minta” ujar Albert tegas menatap Vina dan sekelilingnya.

Mendengar hal itu, Refly langsung mendongakkan kepalanya dan kembali menatap wajah Albert. Vina langsung menepuk bahu Albert kencang dan tertawa lepas,

“Gue nggak nyangka lo latihan balet juga Al” ujar Vina senang.

“Dengan satu syarat Vin, lo nggak boleh maksa Refly menari balet sampai dia berkata ingin menari dari mulutnya sendiri” balas Albert tidak mengindahkan pernyataan Vina.

“Ke ... Kenapa ?” tanya Vina kaget.

“Lo bisa ‘kan janji sama gue ? Sampai pensi bulan depan Refly bakalan jadi pelatih doank dan nggak bakalan ikut menari” lanjut Albert lagi.

Vina menolehkan pandangannya pada Refly, tapi Refly masih terdiam memeluk lengan kiri Albert.

“Oke, itu untuk Refly doank ‘kan ? Sebagai gantinya lo yang bakalan ganti posisinya Refly, Al” ujar Vina tak mau kalah membuat keputusan cepat sebelum Albert membantah.

“Ti ... Tidak apa – apa ‘kan Al ? Aku juga ingin melihatmu tampil di atas panggung menari balet” sambung Refly membuat Albert dan Vina terkejut.

Albert hanya menggaruk – garuk pipinya yang tidak gatal, melihat sisi imut dari Refly yang beberapa minggu ini belum pernah di lihatnya.

“Lo denger ‘kan ? Refly sudah setuju jadi jangan banyak alasan, besok datang pagi buat latihan pertama kita buat pensi bulan depan” sahut Vina kencang yang membuat semua anggota di sana menjadi bersemangat melihat dua pria pertama yang masuk klub Balet.
***

Sebelum mengantar Refly kembali ke apartemennya, Albert mengajaknya ke sebuah tempat makan di bilangan daerah Jakarta Selatan. Sehabis dari klub Balet, Albert menuju ke klub Melukis meminta ijin kepada sang ketua karena beberapa bulan sebelum kompetisi melukis akhir tahun nanti waktu luangnya akan di gunakan di klub Balet. Dino sang ketua klub langsung mengangguk menyetujui setelah melihat seseorang di samping Albert yang di kenalnya cukup baik dan sudah menjadi bahan gunjingan di sekolahnya tentang kemahirannya dalam menari balet.

“Kenapa diam aja Ref ? Makanlah” ujar Albert ketika pesanan makanan mereka sudah sampai.

Refly masih menatap semua makanan yang berada di atas meja, merasa mengerti tatapan Refly, Albert langsung menyeletuk,

“Traktiran gue, nggak usah sungkan ayo cepat di makan keburu dingin” lanjut Albert lagi memberikan sendok ke tangan Refly agar di pegangnya.

“So ...Sorry ya Al, kalau kamu jadi repot gara – gara keinginan egoisku” balas Refly pelan dengan wajah tertunduk.

“Gue nggak suka lo terus – terusan menunduk kayak begitu, kalau bicara sama orang harus tatap matanya ‘kan ?” tanya Albert sambil menaikkan dagu Refly ke atas dan menatap wajah imutnya yang masih berair karena ingin menangis.

“Baru kali ini ada orang sebaikmu sama orang sepertiku Al, benar – benar jujur dan nggak ada niat buruk” jawab Refly tersenyum polos dan membuat Albert menahan nafas saat itu juga melihat senyuman Refly pertama kali di perlihatkannya.

Wajah Albert memanas, dadanya berdebar kencang tidak karuan. Selama ini setelah mengetahui orientasi seksualnya yang berbeda dengan beberapa pria lainnya, Albert belum pernah merasa terobsesi seperti ini terhadap seseorang. Jantungnya seperti ingin meledak dan Albert merasa harus melindungi Refly apapun yang terjadi dan tidak akan pernah melepaskan pandangannya dari hadapan Refly.

“Terima kasih sudah traktir makan malam hari ini Al, juga mengantarku pulang” ujar Refly setelah mereka berdua sampai di pintu masuk apartemen Refly.

Sebelum Albert membalas ucapan Refly, ada sahutan seseorang dari dalam lobby apartemen Refly, memanggilnya.

“Refly ?” sambung seseorang.

“Kak Roan ?” kaget Refly mendengar suara orang yang memanggilnya.

Bersambung .