Tampilkan postingan dengan label CHOI HA SOO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CHOI HA SOO. Tampilkan semua postingan

UNFAITHFULNESS (Oneshoot)

By: Choi Ha Soo
Happy reading..
Like dan koment ya kawan.. makasih..
‪#‎choi‬
Menikah. Aku tak pernah membayangkan untuk menikah. Terlalu banyak mimpi yang ingin kukejar sebelum semuanya terjadi. Apa lagi kondisiku yang seperti ini,yang menyukai sesama jenis.
Tapi, kini aku mulai memikirkan hal itu setelah minggu kemarin Ibu memanggilku pulang ke rumah. Obrolan di meja makan dengan Ibu, membuatku tersentak—kaget.
"Nak, kenapa belum mengenalkan cewekmu?" Pertanyaan itu serasa dentuman meriam yang menghantam gendang telingaku. Telak. Aku hanya tersenyum keki.
"Sabar, Bu. Nanti aku kenalkan ya.." dengan nada pelan.
Selama ini, aku memang tak pernah mengenalkan seorang gadis pun. Karena aku memang masih belum bisa menyukai seorang wanita. Malahan aku Berkali-kali berpacaran dengan sesama lelaki dan selalu gagal. Meski setiap kali punya pacar lelaki. Bagai antrian mereka pun mundur teratur. Penyebabnya beragam, ada yang hanya sekedar having fun,sampai ada pula yang selingkuh.
Menjalin hubungan memang tak mudah. Layaknya tanaman, butuh perhatian ekstra. Ada saat dimana mesti disiram agar tak layu. Dipupuk biar lebih subur. Juga sesekali menyiangi rumput-rumput yang merambat disekelilingnya.
***
sekitar setahun ini aku memiliki hubungan dengan seorang diseberang sana. Nan jauh dimata. Kami berkenalan tak sengaja melalui dunia maya. Sejak saat itu kami sering chating dan saling bertanya kabar masing-masing. Dunia maya terlalu terbatas dalam ketakterbatasannya. Aku meminta nomor ponselnya agar bisa lebih intens berkomunikasi.
Hubungan kami kian hari semakin akrab. Kami berkirim pesan bagai minum obat bahkan lebih. Bercerita satu sama lain tentang apa saja, dari perihal keluarga, kuliah, hingga hal remeh-temeh. Serasa tak lengkap tanpa tahu apa yang dia lakukan tiap harinya. Aku menyayanginya.
Perasaan berlebih selalu menampakkan wujudnya yang lain. Gejala kecil mulai menguap satu persatu. Saat tak sempat berkirim pesan, gelisah bergemuruh. Ponsel tak aktif, cemas menguasai. Membaca status di dunia maya menggelitik rasa cemburu. Aneh, rasa seperti ini wajar tapi tak mengenakkan hati.
Aku tak punya alasan untuk menuntut berlebih seperti itu. Dia telah memiliki BF. Hubungan mereka sudah empat tahun lebih. Waktu yang tak pernah kucapai semenjak aku berpacaran. Paling lama enam bulan dengan skala putus-sambung. Aku merasa berat dan bersalah telah menjadi pengganggu dalam kisah mereka. Tapi perasaan selalu berkata lain dan tak mengindahkan rambu apapun. Ya, aku terlanjur menyenangi sosoknya. Cara dia bertutur begitu menyejukkan hati. Kunantikan selalu saat dia berbicara ditelepon dan mendengar cerita dan cekikannya.
Disela-sela kesibukan kuliah yang merepresi otakku, selalu kusempatkan menengok fotonya di folder rahasia di laptoku. Foto yang dia kirim melalui email dan sengaja kusimpan tersembunyi karena tak ingin orang lain melihatnya ketika membuka laptopku. Hanya aku yang bisa menikmatinya. Foto-foto itu telah menjadi oase baru bagi rasaku yang kehausan. Semakin berat kuliahku, semakin sering kubuka folder itu.
Pernah suatu ketika aku ditelepon seorang cowok yang mengaku BFnya. Cowok itu berbicara dengan tergesa dan kutahu dia sedang emosi. Cowok itu menanyakan hubunganku dengan BFnya. Aku menjawab dengan santai kalau kami hanya teman penulis saja, dia mengirimiku naskah novelnya untuk aku edit. Cowok itu menitipkan beberapa pesan agar tak mengganggu hubungan mereka, lalu dia menutup telepon. Hal yang sudah kuduga sebelumnya bahwa resiko menyenangi cowok yang sudah punya pacar memang seperti itu. Kita harus siaga setiap waktu untuk bermain kucing-kucingan.
Apakah aku salah karena menyayangi orang yang telah berpacaran. Apakah perasaan dapat dicabut dari akarnya yang begitu kuat mencengkeram lubuk jiwa. Apakah untuk menyayangi mesti dengan cowok yang berstatus single saja. Siapa yang pantas mencintai dan dicintai. Bukankah rasa tak mengenal hal semacam itu. Cinta hanya tumbuh mengikuti gerak rasa. Mungkin aku memang bersalah telah mengganggu hubungan mereka.
***
Seperti penghujan yang tak kunjung usai, masalah pun datang beriringan. Setiap berbicara ditelepon selalu saja pertengkaran kecil mengambil alih semua. Topik pembicaran mulai berulang. Sejak lama dia tak menyenangi sikapku yang keras, yang selalu berpanjang-lebar menanyakan hal-hal yang tak kusenangi. Mengambil alih dengan tiba-tiba saat dia sedang berbicara. Aku tipikal kebalikan dari dirinya. Juga kebalikan dari pacarnya itu. Aku tak bisa bersikap manis dan lemah-lembut seperti pacarnya. Dia selalu menuntut itu. Bukannya aku tak bisa, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Tidak berpura-pura bersikap manis hanya untuk menyenangkan orang lain. Tegas dan jujur menurutku lebih baik daripada kepura-puraan yang manis.
Terlalu naïf untuk mengharapkan orang menjadi seperti yang kita inginkan tanpa mau melihat dan memahaminya. Terkadang kita terlalu selfish dan tidak memedulikan hal lain. Jika ingin dimengerti maka pahamilah orang lain. Karena apa yang kita rasakan dan dapatkan merupakan refleksi dari laku kita juga.
Dia tak pernah memercayaiku sepenuhnya. Setidaknya itu kesan yang kutangkap selama ini. Menurutku itu wajar saja karena kami tak pernah bertemu sama sekali. Hubungan ini dibina dari jarak sepersekian centimeter dari layar monitor dan begitu intim lewat obrolan telepon. Tentunya kami sama-sama mengharapkan pertemuan itu segera. Ada rindu yang menanti untuk dituntaskan.
Dia selalu merasa cemburu dan marah saat mendapati komentar untuk temanku di jejaring sosial. Juga ketika membaca beberapa pesan. Aku selalu menampiknya dengan kelakar dan penjelasan sewajarnya. Aku memang memiliki banyak teman, tidak hanya di dunia maya. Aku orang yang mudah mengakrabi orang dan ketika berbicara dengan mereka begitu santai.
Aku selalu memanggil mereka dengan sapaan manis. Sekedar untuk lebih dekat dan mengobrol asyik. Tapi bukan berarti bermesra-mesraan dengan mereka. Hal yang sangat wajar menurutku. Namun dia selalu mempermasalahkan hal itu—tentang keakrabanku dengan teman-teman.
Aku menyadari hubungan jarak jauh selalu menimbulnya gejala semacam itu. Aku selalu berusaha untuk bisa mempertahankan hubungan ini. Tidak hanya empat tahun tapi sepanjang usia kami.
Sekarang hubungan kami sudah bubar sebelum sempat bertemu. Tapi tetap kujalin komunikasi. Karena aku tetap berharap untuk bisa menjalani hidup bersamanya.
***
Aku dibangunkan dering telepon. Segera kutengok siapa yang meneleponku sepagi ini. Dari monitor kulihat nama adikku yang bungsu dan segera kuangkat. Dia berbasa basi menanyakan kabarku lalu berkata kalau Ibu ingin berbicara denganku.
“Halo, Bu…” sembari menguap.
“Halooo… Kapan kau bawa cewekmu ke rumah?
Aku diam. Telepon kumatikan.
Segera kuketik pesan hendak memberi tahu Tari perihal ini. Tapi gagal. Pulsaku habis.
*********
*kamsahamnida chingu..
Happy reading lile dan komentnya jng lupa ya kawan.. #choi

The Day Before Oneshoot


By: Choi Ha Soo
happy reading guys kasih like and komentnya yah ‪#‎choi‬
TURN ON
Wekend sudah usai , hari ini Gian masuk sekolah lagi. Seperti biasanya perjalanan kesekolah ia tempuh dengan motor matic kesayangannya, kebetulan hari itu musim hujan. Saat Gian berangkat ke sekolah gerimis turut mengantar keberangkatan Gian kesekolah. Tapi aneh Gian tidak pernah mengeluh dengan gerimis dia sangat menyukain gerimis. “gerimis itu lembut, walau saat kita mengendarai motor dengan kecepatan tinggi ia tak pernah menyakiti. Beda dengan hujan” alasannya menyukai gerimis.
Sesampainya di sekolah dengan seragam putih abu-abu yang lembab terkena gerimis tadi, Gian melenggang dilorong sekolahnya yang konon katanya sekolah itu adalah bekas Rumah sakit Umum di daerahnya. Tlepak.. tlepak.. bunyi sepatu Gian dia lebih suka mengangkat kakinya saat berjalan ketimbang harus diseret seperti kebanyakan orang ketika berjalan bising dan mengganggu katanya.
Dikelas langsung saja Gian duduk di bangku nomor dua dari belakang kolom 2 dari kiri pintu masuk sekolah, teman –temannya dikelas menyebut kolom-kolom bangku itu dengan RT kelas, jadi setiap RT memiliki Pak Rt dan Bu Rt masing-masing. Kelas Gian memang kelas yang paling kompak diantara kelas-kelas XII IPA yang ada disekolahnya, mereka menyebut kelas mereka dengan sebutan KOPLO (komplotan IPA *loro) loro dalam b.jawa adalah dua. Dan seperti biasa Gian datang paling pagi hal ini ia lakukan karena ia menjabat sebagai sekretaris kelas sekaligus pengabsen.
“Ian lu gak pake mantel apa?? Tuh seragam ampek basah kuyup gitu??” tanya Dimas teman sebangkunya.
“tadi tuh gerimis Dim gak ujan kok, lagian aku g suka ribet pake mantel tuh ribet tau” jawab Gian sekenanya.
“gerimis sih gerimis emang lu mau ntar kedinginan dikelas” ujar Dimas lagi.
“ealah Dim Dim wong yang basah kuyup aku kok kamu yang ribet sih hehe” jawab Gian tak mengubris pernyataan Dimas.
Lama- kelamaan kelas makin penuh, makin ramai. Apalagi ada Ratu KOEL sebutan bagi murid yang banyak ngomong dikelas. TET… TEEETTT…. TEEETT… bel masuk berbunyi mungkin hampir lengkap murid yang hadir, Gian melihat dengan seksama seisi kelas tampak seperti dia mencari-cari seseorang.
“heh cari sapa lu??” tanya Dimas saat melihat Gian kebingungan.
“si Andik mana???” jawabnya
“cie ngapain lu cari Andik?? Jangan-jangan kamu…”
“hasem lu!! Emang lu nggak tau aku disini peabsen, wajar donk??”
Tiba-tiba PRAK!! GUBRAK!! WADAWWW… suara dari sebelah pintu kelas, tampak Andik disana sedang duduk sambil memegang pahanya yang tadi terbentur meja sangat keras. Semua murid dikelas tertawa melihatnya, tanpa terkecuali Gian Bfnya.
Sambil meringis kesakitan dan malu, andik berjalan gontai menuju tempat duduknya di RT 4. Gian hanya melihatnya sambil tersenyum kecil. Pelajaran bahasa Indonesia mengawali hari itu, secara sembunyi-sembunyi ternyata sobat Gian, yaitu Nicko menaruh handycam di bagian jendela belakang jadi tampak seisi kelas terambil gambarnya dari handycam itu.
PLAY
“oke anak-anak untuk tugas akhir dan sebagai kenang-kenangan, saya minta kalian membuat sebuah novel terserah tentang apa dan dikumpulkannya bulan depan tanggal 7 januari yah? Novel terbaik nanti insyaallah ibu bantu untuk menerbitkannya.” Jelasnya saat memberikan tugas tersebut.
Gian mendengarkan dengan seksama dan tampak dari raut wajahnya dia sangat antusias dengan tugas itu. Karena menulis adalah salah satu hobbynya. Sepulang sekolah Gian tak langsung menuju parkir motor namun ia pergi ke ruang guru dan berharap Guru pembimbing Bahasa indonesia tadi belum pulang. Namun sangat disayangkan, beliau sudah pulang, akhirnya dengan berjalan lemas ia menuju parkir motor. Ternyata Andik Bfnya menunggunya disana.
“dari mana aja yank??” tanya Andik pada Gian.
“mau tanya and mau konsultasi sama Bu Siti, tapi dianya malah sudah pulang” jawab Gian sambil menunjukkan wajah melasnya.
“ya udah kan masih ada besok?”
“uda kepikir buat judul novel kamu nggak yank??”
“hehe aku g tw deh yank mau nulis apa, g jago nulis kayak kamu..”
“ayank seumpama judul novel aku ntar BILA SANG PENGABSEN, ABSEN SELAMANYA keren nggak yank?”
“eh jangan ngacok kamu yank, udah-udah jangan yang itu judulnya serem tau!!”
Mendengar ide Gian tadi Andik seperti mencuriga sesuatu, namun karena tak ingin ia membahas masalah tugas novel itu. Andik mengalihkan pembicaraan.
“eh iya yank tanggal 7 januari kan hari jadian kita, ehm aku dah buat beberapa kegiatan nie buat menyabut hari jadi kita ntar yank” sela Andik saat Gian melamun sedari tadi.
“oh ya apa aja kegiatannya yank” tanya Gian penasaran.
“rahasia dunk, mulai besok kegiatannya kita mulai, uda yuk uda sore ntar keburu ujan lagi”
Mereka berdua pun pulang, dirumah Andik tengah menyiapkan beberapa kegiatan yang akan mereka lakukan bersama. Sedangkan Gian dikamarnya ia mulai menulis beberapa paragraf yang akan ia susun menjadi sebuah novel untuk memenuhi tugasnya.
“Gian, hayoo makan dulu nak. Dari tadi belum makan kan kamu.” Panggil Ibu Gian yang menyuruh Gian makan.
“ia bu, bentar lagi, lagi nanggung nie bu..”
Jam 19.00, Gian keluar kamar, karena lapar ia langsung saja mengabil beberapa nasi dipiring dan 2 lauk ayam goreng kesukaannya. Dilahapnya dengan nafsu makanan itu, ayah Gian yang melihat sampai geleng-geleng.
“nak nak, kamu itu loh makannya banyak. Tapi kok ya nggak gemuk-gemuk” ujar ayah Gian ketika melihat anaknya dengan lahap makan.
“biarin lah yah, memang sudah dari sananya begini.. yang penting kan sehat, n g sampek mati” jawabnya
“eh hush!! Ngomong apa kamu Gian!! Uda dimakan terus langsung tidur dari tadi ayah liat kamu nulis terus di kamar nulis apa emang??”
“itu yah tadi Gian dapat tugas buat novel”
“oh ya uda kalo capek istirahat nak, jangan dipaksain.”
“siap komandan”
Setelah selesai makan dan selesai mencuci piring nya tadi, Gian langsung kembali ke kamarnya berbaring dan menarik selimutnya.
Sementara Andik, dengan giat dia bermain futsal bersama teman-temannya, Andik sangat menyukai olahraga, oleh karena itu badannya tegap dan lumayan kekar, 23.27 Andik dan kawan-kawannya pulang.
FORWARD
“Bu mau tanya dong bu,…”
Gian menanyakan beberapa hal tentang bagaimana membuat sebuah novel yang bagus dan menarik untuk dibaca kepada guru pembimbingn bahasa indonesianya.
“gian, baru kamu loh yang bela-belain dateng nyari ibu minta penjelasan tentang tugas novel ini. Semoga kamu bisa menciptakan sebuah novel yang bagus yah?”
“ea bu, amien mohon bantuannya juga yah bu”
“pasti nak, sudah disiapkan judul yang menarik?”
“sudah bu”
“kamu sudah bikin inti-inti dari cerita yang akan kamu buat seperti tahap perkenalan, permasalahan, klimaks, penyelesaian dan penutup cerita??”
“sudah juga,”
“bagus ya sudah kamu tinggal kembangkan, inti-inti cerita kamu itu nanti kalo ada kesulitan kamu bisa cari ibu lagi. Kamu juga boleh kalau kepingin maen kerumah ibu.”
“ia bu terima kasih banyak”
Sepulang dari sekolah, Gian dan Andik menjalankan misi kegiatan yang dirancang Andik selama beberapa hari untuk menyambut hari jadian mereka yang pertama.
“yank kita mulai kegiatannya dari huruf A” pernyataan Andik membuat Gian bingung.
“maksudnya yank?”
“ea huruf A kita melakukan beberapa kegiatan ditempat yang berawalan A tau melakukan kegiatan yang berawalan A”
“ehm gmana kalo kita ke Alun-alun kota yank??, kan huruf A.”
“ea sipz tempat pertama kali aku nyatain cinta ma kamu”
Mereka pun pulang kerumah masing-masing, diperjalanan pulang hujan mengguyur menghambat mereka berteduh disebuah rumah kosong dipinggir jalan disitu ada sebuah kursi kayu panjang yang sudah lapuk. Gian kedinginan, Andik mengambil jaket yang dia letakkan di jog motornya. Kemudian jaket itu ia berikan kepada Gian.
“ini pake jaketnya” kata Andik sambil memberikan jaketnya.
“kenapa nggak kamu pake aja, kamu juga butuhkan?”
“badan kamu lebih rentan kena penyakit sayang, aku nggak mau kamu sakit lagi”
“ehm.. makasih ya yank?”
“biasa aja akh sini aku peluk”
Tanpa malu-malu Andik memeluk Gian karena memang Cuma da mereka berdua disana,hujan sebenarnya belum reda tapi tinggal gerimis-gerimis saja. Gian meminta Andik untuk segera menstarter motornya dan berangkat pulang. Awalnya Andik menolak, tapi saat Gian bilang “kalau kita nggak cepet sampai rumah acara kita pergi ke alun-alun ntar malem g bakal jadi” Andik pun mengiyakan dan langsung membonceng Gian pulang.
Dengan seragam yang terlihat basah itu, Gian melenggang masuk kekamarnya. Setelah berganti pakaian ia berbaring dikasurnya, jam 16.45. Gian masih terlelap dikasurnya, suara Ibu Gian membangunkannya.
“Gian, tadi Andik telpon katanya abis magrib kalian mau pergi ya?”
“iya bu,”
“sudah mandi nak?? Kalo sudah cepat makan nak”
“ea bu Gian belum mandi ini mau mandi dulu”
“pake air hangat nggak nak? Ini dipake dulu air adek kamu, dia masih tidur”
“ea udah bu Gian pake dulu air hangatnya hehe”
Selesai mandi, 17.20 sehabis adzan magrib berkumandang.
“assalamualaikum” salam Andik dari pintu rumah Gian
“walaikum salam eh nak Andik, mari masuk nak. Ibu panggilkan Gian dulu”
Tak lama kemudian Gian muncul, dengan kemeja abu-abu, celana panjang dan sweter abu-abu yang masih ia pegang ditangan kanannya. Sejenak Andik menatap Gian dengan raut wajah keheranan.
“heh napa liat aku kayak gitu?” sapa Gian saat melihat Andik menatapnya.
“hehe, tumben kamu dandan serapi ini. Biasanya pake kaos oblong n celana tiga perempat aja kalo lagi jalan ma aku”
“Ibuuuu!!! Gian keluar dulu ya bu??” “iya nak hati-hati dijalan”
Mereka berdua berangkat, jam 18.30, mereka sampai di alun-alun nganjuk. Mereka berdua duduk di kursi taman tepat dibawah sorot lampu yang berwarna orange. Disana sejanak mereka terdiam, lalu tiba-tiba ada seorang pengamen datang menghampiri mereka.
“kebetulan bang, boleh request g bang??”
“ea mau lagu apa?”
“lagunya seventen yang judulnya hal terindah bang”
“oke siap”
Jreng. Jreng. Sampai saat ini rasaku bertahan disini rasa yang tak akan hilang oleh waktu.. saat pengamen itu menyanyi Andik ikut menyanyi sambil berjoget-joget bersama abang pengamen itu.. Gian yang melihatnya ikut tersenyum.. dan ketika liriknya sampai pada reff. Andik menarik Gian sambil menyanyi dengan kerasnya “tak terkira disampingmu adalah hal terindah yang pernah kuinginkan, tak terkira dipelukmu adalah hal terindah yang pernah kurasakan tak terkira memilikimu adalah hal terindah yang pernah kudambakan, tak terkira dekapanmu adalah hal yang pernah kudapatkan,tak kan rela melepasmu walau dihadapanmu ku kan terus menangis bahagia.” Seiring selesainya lagu itu Andik memeluk Gian dan Gian meresa malu karena dilihat abang pengamen itu. Lantas Gian memberi beberapa uang kepada pengamen itu.
“bentar ya aq beli makanan dulu” kata andik pada Gian.
“oke”
Sekembalinya andik, Gian tengah asyik berkutat dengan laptopnya. Bincang-bincang seputar sekolah mereka lakukan mulai dari ngebicarain tentang Guru Kimia yang killer dan ketakutan-ketakutannya saat pelajaran kimia berlangsung.
Sudah larut malam merekapun pulang, sebelum tidur Gian menulis kegiatannya bersama Andik tadi dalam tulisan novelnya. keesokan harinya jam pelajaran pertama yaitu Kimia. Pelajaran yang sebenernya menyenangkan namun karena gurunya yang killer suasana lebih mencekam dan menenggangkan. Seminggu yang lalu mereka diberi tugas untuk mengfalkan Sistem Periodik Unsur.
“Golongan IA Hari LIbur NAik Kuda RAbu CAmis Free” Gian berkomat-kamit menghafalkan SPU itu.
“Golongan IIIA Beli ALmond GAk INgat TeLur” Dimas teman sebangkunya tidak mau kalah.
Kemudian dari arah belakang bangku Gian.
“Golongan IVA Cewek SIapa GErangan SedaNg PuBer”
Nicko teman Gian juga tidak mau kalah tapi gara-gara itu teman-teman cewek dikelas pada ngeliat.
“ngapain pada ngeliat gue??” nicko bicara dengan polosnya.
Tiba-tiba guru kimia datang dan suasana yang tadi gaduh dengan sekejap menjadi hening. Semua duduk rapi, pandangan mereka tertuju pada guru kimia itu.
“gimana? Sudah siap??” suara guru kimia itu mengagetkan mereka.
“kok malah diam?!! Saya tanya sama kalian, sudah siap??” suaranya tampak meninggi sepertinya beliau marah, karena tak ada jawaban dari murid-muridnya.
“Siap bu” jawab serentak.
“tutup bukunya semua masukkan kelaci meja kalian, dimeja tidak ada barang apapun, lipat tangan kalian di atas meja, tidak ada suara lagi.”
Deg.. deg.. deg.. hhmmm hfuuu hmmm hfuuu yang terdengar hanya suara detak jantung dan hembusan nafas yang tidak beraturan.
“andik, sebutkan golongan VA” tanya guru kimia itu menganggetkan Andik.
“Nini Pelet ASal SuBuh Bingung” jawab Andik dengan cepat.
Semua siswa menahan tawa mereka, tampak wajah bu nanik guru Kimia itu memerah.
“ngomong apa kamu ndik??, maju kedepan”
Andik jalan menuju depan kelas, kemudian tanpa dikomando lagi ia mengangkat satu kakinya dan meletakkan tangannya diatas kepalanya, Gian yang melihat tampak iba. Satu persatu pertanyaan dilayangkan kepada masing-masing siswa dan tentu pertanyaanya semakin lama semakin sulit sehingga semakin banyak siswa yang berdiri didepan kelas.
“Gian, berapa nomor atom Zn” tanya bu nanik
Sebenarnya Gian tau tentu 30 jawabannya namun Gian ingin sama-sama dihukum bersama Andik didepan kelas.
“ehmm.. 23 bu” jawab Gian sekenanya
“goblok, maju kedepan”
Gian berjalan kedepan sambil tersenyum-senyum, ia berdiri disamping Andik dan melakukan hal yang sama dengan Andik. Mereka berdua tersenyum. Tett…. Tettt… tet… bel istirahat. Pelajaran Kimia selesai, semua siswa bernafas lega. Dan kembali melakukan aktivitas sewajarnya. Andik dan Gian pergi ke kantin. Namun ditengah jalan.
“eh yank shalat Dhu’ha dulu yuk” ajak Gian
“ide bagus yuk”
Mereka mengambil wudhu, dan shalat dhu’ha berjama’ah.
“ya allah berikanlah kemudahan dalam mengahadapi ujian nasional nanti dan berikanlah kesehatan pada kami ya allah..amien”
Setelah shalat mereka pergi ke kantin, Andik membeli 2 es krim untuk dimakan bersama. Mereka pergi ke belakang halaman sekolah disana mereka selalu menghabiskan jam istirahat. Berbagi cerita, bertukar ilmu pengetahuan. Kadang mengerjakan PR bersama disana.
“sepulang sekolah kegiatan yang berawalan B gmana kalo kita ke Bendungan Kali bening??” tawar Andik pada Gian.
“oke setuju,”
Untung hari itu cerah, dan setibanya mereka di Bendungan Kali Bening sangat tepat waktunya untuk melihat matahari terbenam, Andik memarkirkan motornya dan Gian berlari ke bebatuan dipinggiran bendungan itu. Duduk di batu besar, kemudian Andik menyusul. Mengalungkan tangannya pada bahu Gian menikmati indahnya matahari tenggelam, dan Gian memberi usul.
“foto-foto yuk” tawar Gian sambil mengambil hape jadulnya dan berfoto bersama dengan Andik.
Gian mengangkat kamera handphonenya dan Andik berpose piss!! Jepret!!!
Matahari tenggelam merekapun pulang, seperti biasa. Gian menuliskan kegiatannya bersama Andik dalam tulisan novelnya. Kali ini sambil memainkan jemarinya di keyboard Gian meneteskan airmata, entah apa yang dipikirkannya dan entah mungkin kebersamaanya bersama andik membuat terharu.
FAST-FORWARD
Keesokan harinya untuk Inisial C Gian dibuat penasaran oleh Andik, tentang kegiatan yang berhubungan dengan inisial C ini. Sepulang sekolah dihalaman belakang sekolah Gian dan Andik duduk direrumputan yang lumayan tinggi itu. Kemudian Andik berbaring, disusul Gian.
“liat deh, tampaknya langit akhir-akhir ini sangat bersahabat yah dengan kita” singgung Andik tentang suasana langit saat itu.
“iya yah, tiap hari selalu cerah. Eh apa sich yank untuk inisial C hari ini??”
“mau tau jawabannya?”
“iya dunk”
Andik mendekatkan kepalanya ke kepala Gian dan kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Gian, mereka berdua Ciuman. Dan ini pertama kali mereka lakukan selama mereka BF’an. Begitu mesra, sacara bergantian Gian mengecup bibir bagian bawah Andik dan kemudian Andik pun melakukan hal yang sama. Setelah cukup lama mereka ciuman, tiba-tiba gerimis datang dan semakin menambah keromantisan. Mereka berdua basah kuyup, dan akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Sesampainya dirumah Gian menuliskan hal-hal tersebut. Dalam novelnya itu 2 tokoh utamanya bukan laki-laki semua namun cewek dan cowok. Dalam akhir bait pada paragraf tersebut tertulis, Dangsin ttaemune eonjena haengbokhal subakke eomneun na…
Aku yang hanya bisa bahagia karenamu, kapanpun itu…
Untuk Inisial D hari ini, Gian dan Andik sama-sama bingung untuk menentukan kegiatan dengan inisial D. Tiba-tiba Gian menyampaikan idenya pada Andik.
“yank ehm untuk inisial D hari ini gimana kalau DAMAI”
“maksudnya yank??”
“kita cari tempat yang damai, yang tenang yang indah yang sejuk yank..”
“gimana kalo ke air terjun roro kuning??”
“oke siap langsung aja berangkat??”
“yank kalo kesana g boleh pake baju atau barang warna kuning itu kata temen-temen sich”
“terus kenapa??” “kamu kan lagi pake jaket kuning??”
“ayank percaya sama mitos yang begituan??”
“nggak juga sich tapi ambil amannya aja yank?” “ngak akh aku pengen pake jaket ini, ini jaket pemberian kamu kan yank.. yuk uda berangkat aja”
Mereka berangkat mencari tempat DAMAI, sesuai inisial untuk hari ini. Mereka sampai dengan selamat, dan tidak seperti mitos yang dikatakan teman-teman Andik tadi.
“owh iya yank di belakang air terjun ini kan ada DEER hehe”
“yuk kesana”
Mereka memberi makan Deer, foto-foto bersama dengan hewan yang satu ini. Saat Gian dan Andik duduk di bebatuan, Gian menyodorkan sebuah Flash disc.
“yank ehm ini flash dics aku itu ada novel aku yang belum jadi, hmm aku minta pendapat kamu. Dan kalo kamu bisa dikit-dikit tulis aja beberapa cerita disitu biar cepet jadinya hehe”
“oke-oke”
tiba-tiba gerimis. Mereka berdua berteduh disebuah gubuk kecil, tanpa sengaja Andik terpeleset dan tangan kanannya terkilir waktu menahan badannya. Gian mengurut-urut pelan tangan kanan Andik, ketika sudah reda. Mereka memutuskan untuk pulang. Kali ini Gian yang membonceng Andik.
“yank gak apa-apa kamu yang bonceng??”
“tenang gak apa-apa kok”
“kamu bisa kan? Aku takut”
“bismilahirohmanirohim”
Mereka pun pulang, ditengah perjalanan Gian kehilangan kendali saat turunan, dan didepan ada tikungan tajam. Gian mengerem karena jalanan licin mereka berdua tepental keras, Gian terpelanting menabrak pohon beringin dan Andik terkapar di pinggir jalan. Keadaan Gian tepat di bagian Pipinya tertembus sebuah ranting. Darah mengucur deras, untung ada yang langsung menolong. Mereka berdua dibawa kerumah sakit dan ditengah perjalanan karena darah yang dikeluarkan Gian terlalu banyak Gian tidak bisa diselamatkan. Dan andik belum sadarkan diri.
PAUSE
Dipemakaman Gian gerimis mengguyur, para pelayat memakai pakaian serba hitam. Andik dengan duduk disebuah kursi roda menahan tangis melihat pemakaman kekasihnya. Ia seperti menyesali ketidak percayaan akan sebuah mitos. Dia menyesali kemanjaannya karena hanya tidak bisa menahan sakit ditangan kanannya. Kali ini ia benar-benar menangis, tak bisa lagi ia tahan.
Seminggu setelah kejadian, kelas tidak lagi ber pengabsen, pengabsen yang selama ini selalu setia berangkat lebih awal dan selalu menanyakan “ada yang nggak masuk nggak teman-teman” atau terkadang “sapa yang membolos jam pelajaran ini”. Sekarang pengabsen itu benar-benar absen untuk selamanya.
Sebagai penghibur, setiap hari setiap waktu Andik menghabiskan waktu berkutat dengan laptopnya ia lanjutkan novel Gian yang belum sempat ia selesaikan. Sepulang sekolah Andik selalu pergi ke belakang halaman sekolah ia mengenang kejadian waktu pertama kali ia ciuman dengan Gian.
STOP
Tepat tanggal 7 januari sesuai jadwal. Novel karya Gian dan Andik berhasil diselesaikan, dan tepat saat itu adalah hari jadi yang pertama untuk kisah asmara mereka. Andik menatap nanar foto mereka berdua saat melihat matahari terbenam di bendungan kali bening. Hari demi hari terlewat Andik tak bisa melupakan Gian hingga akhirnya ia jatuh sakit. Ia terserang Demam Berdarah sekaligus Typus. Dirumah sakit ia tak mau makan, setiap ia memakan sesuap saja perutnya tidak bisa menerima. Seorang temannya datang menjenguk.
“Bro novel kalian udah terbit, yang ini kan novel kalian masuk best seller bro. Laku banyak dipasaran selamat ya bro??” sambil menunjukan sebuah novel berjudul BILA SANG PENGABSEN, ABSEN SELAMANYA dengan gambar sebuah pena dan sebuah buku absen, dengan latar belakang warna abu-abu.
Andik tersenyum, ia hanya melihat dan membaca bagian belakang yang ia tulis.
Dangsin ttaemune eonjena haengbokhal subakke eomneun na…
Aku berharap kita bisa bertemu lg secepatnya…
Andik tersenyum manis walau bibirnya pucat sekali. Malam hari Andik tidur mengadap kekanan, sambil memeluk novel itu dibibirnya terukir senyum manis dan ia menghembuskan nafas terakhir.
Happy reading kawan like dan komentnya jgn lupa #choi

A WAR (Oneshoot)


By: Choi Ha Soo
bagi like dan komentnya yah.. ‪#‎choi‬
Terima kasih buat kawanku S…. yang menjadi inspirator ceritaku ini. Pengalamannya membantuku membuat cerpen ini. Dan terima kasih sudah mengijinkan saya untuk membuatnya menjadi sebuah cerpen seperti ini.
Pada suatu malam, aku masih bersusah payah untuk berusaha memejamkan mata. Sesuatu yang sangat membebaniku membuat mata dan pikiranku tak berhenti terjaga. Seperti halnya hansip yang berjaga di pos ronda dan memikirkan beberapa resolusi agar Maling tak lagi mencuri barang milik warga, dan tentu saja resolusi yang mungkin berhasil itu akan membawanya terbebas menjadi hansip full time. Pikiran tentang uang SPP selama 5 bulan yang harus kubayarkan mingu-minggu ini karena uang itu telah aku pakai untuk menyenangkan BF-ku membelikannya sesuatu yang membuatnya senang dan semakin sayang kepadaku. Tapi nyatanya hubungan kita Cuma bertahan 1 minggu? Bayangkan?? Betapa percumanya aku menyia-nyiakan uang SPP yang aku hamburkan untuk dia tapi nyatanya kulihat dia lebih memilih pindah ke rumput tetangga yang lebih hijau. Sehela nafas mengantarku tidur yang kupaksakan malam itu.
Keesokan harinya, sepulang sekolah. Aku bertemu dengan seorang temanku yang lebih senior dari aku, dia jauh lebih berpengalaman tentang urusan dunia ABU_ABU ini, namanya Rolan. Aku percaya dengannya maka dari itu aku utarakan beberapa hal yang mengganggu tidur dan hampir setiap kegiatanku. “lihat lah kecermin sesekali, kantung mata terukir jelas dibawah matamu Rud.” Katanya padaku sambil memperhatikan mataku. Kemudian aku raih saja spion motor yang berada didepanku, entah motor siapa itu aku tak peduli karena kebetulan kami berada di tempat parkir sekolah. Aku lihat dengan seksama karena memang tadi sebelum aku berangkat ke sekolah aku tak memperhatikan keganjilan di wajahku. Memang benar seperti warna tanah tandus yang kering yang tersiram air begitulah keadaannya tepat di bawah mataku yang tidak sempurna itu.
Entah akan di bawa kemana aku ini dengan Rolan, setelah selesai kuceritakan masalah yang menggangguku itu dia seperti langsung mendapatkan ide untuk menyelesaikan masalahku ini. Angin menerpa wajahku, kencang sekali Rolan mengendarai motornya. Membuat aku sedikit menyipitkan mataku dan sempat mengeluarkan air mata saking kencangnya angin menerpa wajahku. Dan entahlah bodohnya aku kenapa saat itu, aku tidak menutup kaca helmku saja. Sesaat kemudian aku tersadar Rolan membawaku ketempat yang cukup terkenal oleh kalangan sopir-sopir truk. Aku berteriak dalam hati, ini tempat “PROSTITUSI”, hampir saja aku menghentikan Rolan dan hendak bertanya maksudnya dia membawaku kemari. Namun dia sudah membawaku masuk ke sebuah gang yang tidak cukup ramai, dia berhenti di sebuah rumah kecil yang di bagian depanya terdapat warung. Di dalam warung itu terdapat televisi dan sebuah DVD lengkap dengan dua mic serta pengeras suara. Baru sadar saat aku lihat kesekeliling tempat aku berdiri saat itu, bahwa hal sama juga terdapat di tiap-tiap rumah disekitarnya. Aku masih tercengang tak percaya aku berada di tempat ini, tempat yang sangat dilarang oleh kedua orang tuaku meski mereka tidak menyampaikan secara langsung, tapi aku tahu mereka tidak ingin aku berada disini saat ini. Rolan menatapku, dan aku langsung melemparkan pertanyaanku yang sempat aku simpan tadi.
“maksud kamu ngajak aku kesini apa Lan?” tanyaku dengan ketus.
“gak ada cara lain buat ngebantu kamu selain ngajak kamu kesini” jawabnya. Aku tarik kerah seragamnya aku dorong dia ketembok,
“bawa aku keluar dari tempat ini sekarang” ancamku sambil memperkeras cengkraman pada kerah seragamnya.
Tapi seseorang mendengar pertengkaran kami saat itu, pintu rumah kecil itu terbuka. Memperlihatkan seorang yang tua dengan rambut yang beruban, tengah memakai kaos berkerah berwarna biru-kelabu. Yang ku lihat semakin lama semakin menyunggingkan senyumya seolah tak peduli dengan pertengkaranku dengan Rolan.
“kenapa masih berdiri disitu Ardi cepat ajak masuk kawanmu” ucapnya yang tampaknya tertuju pada kami.
Tapi siapa yg dimaksud Ardi disini? Sambil perlahan kulepas cengramanku di kerah seragam Rolan aku mencari-cari di sekeliling ku siapa tahu ada orang lain selain kami yang dimaksud bapak Tua itu.
“ayo masuk, percaya padaku tak akan terjadi apa-apa disini nanti” ajak Rolan padaku. Seperti sapi yang dicolok hidungnya dan aku pun ikut saja apa yang disuruh Rolan padaku.
Kami berdua masuk dirumah kecil itu, saat aku masuk disebelah kiri dan kananku terdapat 2 buah kursi panjang yang terbuat dari kayu. Disitulah bapak tua itu duduk, tetap dengan senyum yang mengembang. Sadar atau tidak aku sudah duduk di kursi sisi lain yang bersebrangan dengan kursi tempat pak tua itu duduk, aku duduk bersama Rolan tanpa dipersilahkan dulu oleh pak tua itu. Lama kami terdiam, aku menatap kebawah.
“siapa namamu nak?” pak tua itu bertanya padaku. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Rolan menjawab
“Nino pak namanya”. Aku tercengang, mendengar jawaban Rolan dan berpikir apa Rolan tengah mabuk sehingga memperkenalkan aku dengan nama “Nino”.
Pak tua itu berdehem, sambil menggaruk-garuk dibalik jenggot yang sama
putihnya dengan uban yang terdapat banyak di rambutnya.
“rumah kamu mana nak?” dia bertanya lagi dan kali ini dia tidak memperbolehkan Rolan menjawab.
“saya tinggal di desa Yu Mei pak” jawabku. Sejenak aku lihat raut wajah Rolan yang seperti orang menyesal. Kemudian pertanyaan – pertanyaan diajukan lagi.
“kamu Bot? Uda pernah ML sebelumnya? BF kamu anak mana?”
“saya tidak pernah melakukan hal itu pak dan saya tidak tahu maksud anda mengenai “Bot” itu apa? Seminggu yang lalu saya baru putus dengan BF saya
pak” sedikit heran aku mendengar pertanyaan itu.
“owh bagus kalo gitu, sudah lama kamu kenal Ardi?”
Rolan menginjak kakiku dan terpaksa aku melihat kearahnya, dia mengerlingkan matanya memberi tanda dan akupun menjawab.
“ss..udah pak, dia teman satu sekolah”
Setelah mendengar jawaban-jawabanku pak tua itu mengambil hand phone yang tergeletak di meja sambil berlalu meninggalkan kami.
“apa dia bisa membantu aku Lan?” tanyaku, dan jujur aku tidak percaya dia bisa memberi uang sebanyak tunggakan 5 bulan SPP ku.
Belum sempat Rolan menjawab pak tua itu masuk kembali. Dia memanggil Rolan untuk bergabung dengannya di sebuah ruangan atau lebih tepatnya kamar. Kira-kira setengah jam mereka berdua berada disana, dan keluar bersamaan dengan itu seorang lelaki yang kira-kira berumur 30 tahun masuk, wajahnya oval sempurna dengan barisan rambut halus tumbuh di sekitar rahangnya menambah gagah penampilannya. Selang beberapa detik kemudian satu laki-laki lagi yang kira-kira berumur 25 tahun masuk, kali ini wajah lelaki itu tidak asing buatku aku perhatikan wajahnya dan kemudian aku baru sadar ternyata lelaki yang baru-baru ini sering memakai seragam lengkap Polisi di kantor polisi depan rumahku. Aku sulit mengenalinya dengan tidak memakai seragam polisi seperti yang biasa aku lihat. Seingatku nama yang sering tertera di seragam yang sering dipakainya adalah Wiradika tapi entah benar atau salah.
“loh kamu? Kok bisa ada disini?” sapanya padaku dan namapaknya dia kaget melihat aku berada ditempat seperti ini.
Aku tidak langsung menjawab aku lebih banyak terdiam. Dia berlalu duduk dikursi sambil matanya tidak lepas dari memandangku. Sejujurnya aku sangat terpana melihatnya ketimbang pria yang datang lebih dulu sebelum dia.
“jadi begini, ada lubang belut baru ditempatku, saya jamin lubang belut itu belum ada satupun belut yang pernah masuk karena lubang itu masih sangat sempit.
Saya berpikir apa ada belut yang menawarnya padaku untuk menyewa lubang belut itu” kata pak tua itu yang akhirnya ku tau dia bernama pak Rosyid.
Sungguh sulit aku mengartikan maksudnya dan mungkin kalian pun juga apabila berada diposisiku saat itu. Rolan menarik tanganku memaksaku untuk mengikutinya masuk ke ruangan lain dari rumah pak Rosyid itu. Dia menyuruhku duduk di sebuah kursi diruangan itu tapi dia tidak lantas ikut duduk juga padahal masih tersisa satu buah kursi lagi tepat disebelah kursi aku.
“oke jadi gini Rud, maaf aku dah ngajak kamu kesini. Tapi mendengar masalahmu aku hanya bisa membantumu menyelesaikan masalahmu disini, kamu gak mungkin jujur sama orang tua angkatmu mengenai jumlah uang yang kamu hambur-hamburkan untuk kadal itu, bisa-bisa kamu akan ditendang keluar oleh bapak angkatmu. Aku dulu juga sama seperti kamu saat ini, dan jujur nantinya kamu akan berbuat dosa yang akan menyelamatkanmu.” Rolan mengatakan itu padaku dan aku belum cukup paham apa maksud yang dia katakan. Melihat wajahku yang masih kebingungan dia kemudian menjelaskan kembali maksudnya.
“kamu akan tidur dengan salah satu pria diluar tadi Rud, mereka akan memberimu uang untuk membayar tunggakan SPPmu. Mereka akan membayar mahal untuk lubang belutmu itu” penjelasan Rolan cukup ku mengerti dan memaksaku untuk menamparnya keras-keras.
“kenapa kamu nggak bilang dari tadi kalo bakal kayak gini jadinya, aku mau pulang Lan” jawabku setelah mendengar penjelasanya. Aku melangkah hendak keluar dari rumah itu tapi Rolan menahanku.
“aku nggak mau kamu bakal dikeluarin dari rumah, uang yang kamu pakek itu amat banyak untuk ukuran anak SMA kelas 2 seperti kita”
Sementara di bagian ruang tamu tadi terdengar seperti tawar menawar dan kemudian pak Rosyid memanggilku.
“Nino sini nak akan saya kenalkan kamu dengan bapak ini yang menyempatkan singgah hanya untuk mengenalmu” panggilnya.
Rolan memelukku sebentar dan aku tak tahu harus melakukan apa, kami keluar dari ruangan dan duduk dikursi yang tadi aku duduki. Pak rosyid memperkenalkan aku dengan kedua lelaki itu dan akhirnya dugaanku benar namanya Wiradika dan yang satunya Indra. Setelah kami berkenalan pak Wira meminta ijin pada pak Rosyid untuk istirahat disalah satu kamar. Pak Rosyid beranjak kedalam kamarnya lalu keluar membawa selimut tebal berwarna merah.
“Nino berikan selimut ini untuk pak Wira” suruhnya padaku dan aku berfikir kenapa tidak dia sendiri yang memberikanya. Rolan mendorongku seakan menyuruhku mematuhi saja apa yang diperintahkan pak Rosyid. Aku ambil selimut tebal itu dari tangan pak Rosyid, aku berjalan kekamar dimana pak Wira berada. Dengan perasaan gusar tangan dingin sedingin es aku membuka pintu kamar itu. Dan kulihat pak Wira terbaring dikasur dengan telanjang dada.
“eh kamu, makasih ya” katanya saat aku memberikan selimut itu padanya.
“jangan pergi dulu aku mau ngobrol sebentar dengan kamu”
“maaf pak apa tidak sebaiknya kita bicara diluar saja, saya kira tadi bapak meminta ijin untuk istirahat kenapa sekarang bapak meminta saya menemani bapak bicara?” jawabku.
Matanya menatap tajam kepadaku dan dia kemudian menarik aku ke kasur. Dia menindihku, berat badan pak wira memang tidak gemuk dia proposional sekali badannya sebagai polisi baru. Tapi saat itu cukup membuat susah untuk bernafas dalam keadaan seperti ini. Melihat aku yang susah bernafas dia memindahkan badannya disampingku, tapi tidak melepaskan tangannya yang melingkari pinggangku.
“kenapa kamu bisa ada disini? Tidakkah bapak kamu sudah cukup kaya untuk memberimu uang jajan?” tanyanya padaku.
“maaf pak, bukan itu masalahnya…” belum selesai aku bicara pak Wira menghentikanku.
“jangan panggil pak saya rasa saya masih muda untuk dipanggil pak. Panggil saja Wira, dan bersikaplah seperti kamu dengan teman sebayamu jangan terlalu menggunakan bahasa yang formal seperti kamu berhadapan dengan ayahmu, lanjutkan ceritamu”
“iya jadi seminggu yang lalu aku membelikan sebuah Hand phone untuk Bfku karena saat itu dia berulang tahun. Sejak lama ia bilang padaku bahwa dia sangat menginginkan Hand phone itu, jadi aku belikan hand phone itu dengan menggunakan uang SPP aku. aku tidak berani untuk mengaku kepada ayah aku akan hal ini karena status ku yang sebagai anak angkat dirumah itu”
“kamu belum pantas memberikan hadiah-hadiah semahal itu kamu belum kerja, kecuali aku. Dan kamu salah berada disini untuk menyelesaikan masalahmu. Pak tua itu akan menjual kamu kepada banyak orang dan menjeratmu agar tidak lepas darinya. Karena kamu salah satu aset berharga baginya. Jujur aku bayar cukup mahal untuk lubang belutmu yang sempit itu karena aku tahu dan kenal kamu, kamu anak komandanku. Walau ternyata baru aku tahu kamu anak angkatnya.”
Kata-katanya jelas sangat membuatku kagum dan mengerti bahwa semua yang aku lakukan ini salah. Dia meraih kemejanya yang ia gantung di gantungan baju, lalu dipakainya.
“berusahalah semirip mungkin menirukan seolah seekor belut menjebol lubang belutmu yang sempit itu” suruhnya saat ia selesai mengancingkan kemejanya.
“maksud kamu?” tanyaku.
“pertama kamu menjerit agak kencang seolah lubang itu aku masukan pusakaku ini, kemudian mendesahlah pelan. Aku akan membantumu, dan aku nggak akan tega melakukan hal yang seharusnya terhadap lubang itu ke kamu” dia berbisik pelan di telinga aku.
Kemudian dengan pakaian yang lengkap dia menindihku seolah kami melakukan ML padahal hal itu tidak kami lakukan alih-alih mengelabuhi orang yang ada di luar kamar.
“menjeritlah” suruhnya.
“akhh… sakit!!!”
“oke bagus lakukan lagi berulang kali”
“akh sakit.. sakit aduh akhh akhh”
Mungkin menurut kalian ini hal bodoh yang pernah orang lakukan tapi, aku sungguh beruntung. Lubang belutku masih utuh, Desahanku kemudian beriiringan dengan desahan Wira.
“akh.. enak banget yank akh.. akh..”
“ehmm ea sayank akh akh.. “
Tak sulit untuk berpura-pura seperti ini karena aku sering melihat video bokep berikut adegan adegannya dan desahan-desahannya. Lama kami melakukan hal itu sampai terkadang kami tertawa kecil mengingat tinggkah kita ini. Kira-kira sejam kemudian Wira mendesah panjang.
“akh….” dia kemudian melepas tindihan badanya ke badanku. Dan duduk dipinggir ranjang, keringat menbasahi sekujur tubuh kami. Kami kemudian beranjak keluar kamar dan melihat 3 orang yang tadi masih duduk ditempat yang sama tapi kali ini mereka berkonsentrasi sekali menonton suatu acara di televisi. Pak Rosyid memandang kami, dan tentu memperhatikan dengan seksama sekujur tubuh aku seolah memastikan apa aku baik-baik saja.
“gmana pak lubang belutnya masih benar-benar sempit kan?” tanya pak Rosyid pada Wira.
“luarbiasa sempit,dua kali belutku muntah-muntah” jawabnya sambil tersenyum melihatku.
Wira pun berpamitan untuk pulang, sebenarnya dia menawarkan aku untuk diantarnya pulang, tapi pak Rosyid menyuruhku tinggal karena ada berapa hal yang ingin dia bicarakan kepadaku.
“ ini bagianmu No,” sambil memberikan 2 lembar uang seratus ribuan.
“terima kasih pak” jawabku
“jadi, selama tidak ada orang yang datang kesini yang menawarkan dirinya untuk menjadi “SAN SING” kamu. Kamu setiap hari harus ada disini melayani tamu yang datang. Jangan berusaha melarikan diri jika kamu tak ingin orang tua, teman-temanmu, keluargamu, tetanggamu siapapun dari kamu tahu kalo kamu seorang pelacur GAY. Besok datanglah kesini ambil uang yang kamu butuhkan dan segeralah membayar tunggakan SPPmu itu”
“SAN SING” disini diartikan seperti BF tapi dia mau membiayai segala keperluan pria simpanannya dan mau membayar mahal pada Mucikari (pak Rosyid) untuk membeli aku sadiskan?? Mendengar penjelasannya itu aku benar-benar seperti sebuah kapal kertas yang sengaja diceburkan seorang anak di sebuah selokan kotor berair hitam.
Tanpa mau mendengar jawabanku atas penjelasannya tadi, dia menyuruh Rolan mengantarku pulang. Ditengah jalan sekelebat pikiran menggantung mungkin utang-utang SPPku akan terbayar tapi bagaimana dengan nasibku sekarang. Baru sadar ternyata tempat prostitusi juga terdapat pelacur gay seperti aku sekarang.
Dan masing-masing dari kami mempunyai nama samaran. Begitupun dengan istilah lubang belut dan belut serta “SAN SING”. Sampai dirumah ibuku bertanya padaku dari mana saja aku pergi hingga sore hari baru pulang. Aku beralasan pergi ke rumah teman mengerjakan tugas kelompok.
Keesokan harinya, sepulang sekolah Rolan menungguku di ambang pintu kelas.
Dia beranjak menyusulku ke bangku tempatku duduk karena semua murid sudah pulang kecuali aku yang masih duduk dibangku ku memandang kosong kelangit-langit kelas.
“woy.. ngapain bengong!!” sapanya membuyarkan lamunanku, dia seperti tak berdosa membawaku ketempat itu. Aku tetap diam, dia membereskan alat-alat tulisku yang masih tergeletak dimeja. Dan kemudian menariku untuk segera menuju parkir sekolah.
“harusnya kamu lega hari ini kamu akan dapat uang itu segera” dia kembali berkata dan berusaha membuatku menjawab apa yang di katakannya, dan dia berhasil.
“tapi tidak dengan cara seperti ini Lan” jawabku sambil menghempaskan genggaman tangannya dari tanganku.
“lantas dengan cara apa lagi? Mau maling kamu??”
“bila aku sanggup mungkin lebih baik aku lakukan itu”
“wah gila bapak kamu akan mengurung sendiri dirimu di SEL, mungkin seumur hidupmu”
Kami kemudian pergi ketempat itu, yang mulai dikenalkan oleh Rolan bahwa nama tempat itu adalah “Rumah Kelabu” dan dia kembali mengingatkanku bahwa nama kami jika berada disana adalah NINO dan ARDI. Sesampainya kami di Rumah Kelabu itu aku mendengar banyak orang tengah asyik mengobrol, setelah kami masuk. 6 orang berada di ruang tengah rumah itu, seperti yang kulihat mereka tak jauh beda mungkin umurnya denganku. Mereka menyapa Ardi alias Rolan, dan menanyakan siapa aku, Rolan memperkenalkan namaku Nino, sebagian ada yang berwajah ramah dan tak sedikit menampakkan wajah bengis terhadapku. Seperti anak kucing yang kotor yang baru dipungut dari pinggir jalan.
“owh sudah datang kamu Nino, aku sudah siapkan uangnya” pak Rosyid keluar dari salah satu kamar sambil memberikan sebuah amplop kepadaku.
“bawa pulang dan simpan dirumah segera, nanti malam jam 7 kamu kesini lagi ada yang harus kamu kerjakan”
Jam 19.00 WIB, aku berangkat dari rumah. Di jalan depan rumahku Rolan sudah menungguku, kami berangkat. Sesampainya di Rumah Kelabu itu, dari luar rumah itu aku mendengar suara gaduh musik-musik yang biasa terdengar di discotic. Aku tidak yakin untuk melanjutkan masuk ketempat itu. Tapi Rolan memaksaku.
“ingat apa yang dikatakan Mucikar tadi” ancam Rolan padaku.
Kami masuk kedalam rumah itu, ramai dan penuh sesak, aku tidak tahu harus duduk dimana dan baru sadar hampir semua yang ada disana melihat kedatangan ku. Wira, aku llihat dia tengah bercengkrama dengan salah satu rekan kerjaku yang tentu belum aku kenal sebelumnya. Memandangku seolah menginginkan sesuatu.
“Nah semua, ini anggota baru kita namanya Nino.” Mucikari itu merangkulku dan memperkenalkan aku pada semua orang yang ada disana.
“buat kalian yang ingin ditemani Nino malam ini silahkan nego dengan saya”
Aku berdiri seperti anak dungu, mereka yang jadi partner kerjaku mendatangi aku dan mengajak aku berkenalan. Bukan hanya partner kerjaku lelaki hidung belang pun juga. Postur tubuh mereka bermacam-macam gendut, pendek, tinggi kurus dan banyak lagi yang lainnya. Tak lama setelah aku berkenalan dengan partner kerjaku, seseorang masuk dengan tergesah-gesah.
“apa aku sudah sangat terlambat??” tanya dia pada salah satu Genggo yang duduk disebelah pintu. “Genggo” istilah yang aku buat agar lebih mudah menyebutkan sebagai pelacur gay.
“oh tentu saja kamu belum terlambat Jimmy, apa kamu mau saya temani malam ini” tawar genggo itu pada pria yang baru datang itu.
“tentu tidak, aku diberitahu bahwa ada yang baru malam ini”
“sini Jim, ini yang baru namanya Nino” teriak genggo yang kebetulan tadi habis berkenalan dengan ku.
Jimmy menatapku, entah dia tertarik denganku atau tidak dia malah berlalu menjauh dan masuk ke kamar mucikari itu berada. Menurut teman genggoku dia salah satu putra kedua dari bupati yang sedang menjabat di kotaku saat ini. Tak heran usianya masih muda mungkin 20 tahun, meskipun usiah masih 20 tahun tapi bapaknya sudah memegangi dia pekerjaan di perusahaan milik bapaknya. Dan kata mereka Jimmy sangat jarang datang kesini, itupun hanya sekedar ngobrol dengan mucikari. Banyak genggo yang berebut untuk dapat menemaninya, namun Jimmy tak semudah itu dirayu.
“Nino, masuk sini cepat” mucikari memanggilku untuk masuk ke kamar itu. Saat aku masuk Jimmy tengah duduk disalah satu kursi.
“Jimmy mau kamu menemaniny malam ini”
Sumpah perasaanku jadi kalut apa ini saatnya lubangku dijebol? Sejenak aku lihat
Jimmy dia lumayan cakep tinggi dan matanya indah sekali. Lamunanku buyar ketika dia tersenyum melihatku memperhatikannya.
Sesaat kemudian tanganku dibimbingnya untuk masuk ke salah satu kamar di rumah itu. Semua genggo melihat kami dan aku sadar Wira pun juga melihatku, di beranjak berdiri setelah melihat kami hendak masuk ke sebuah kamar.
“STOP!!! Tunggu dulu, kalian mau apa?” sesaat kemudian Wira menghadang kami.
“maaf apa urusan anda, ingin tahu apa yang akan kami lakukan didalam sana” jawab Jimmy.
“berapa uang yang kamu bayar untuk dia?” sela Wira lagi.
“sungguh itu sebuah rahasia dan tak pantas untu dikatakan disini”
“jangan masuk dulu sebelum aku kembali kesini”
Wira berlalu dari kami dan aku dapat melihat dengan jelas dia berlari menuju kamar mucikari itu. Tak lama kemudian dia dan mucikari itu keluar.
“saya sangat mohon maaf sekali untuk hal ini Jimmy, ternyata Wira memberi lebih banyak uang kepada saya, dan sangat terpaksa ijinkan Nino bersama Wira malam ini” saat mendengar penjelasan mucikari itu terlukis warna merah wajah dari Jimmy.
“aku tak percaya orang ini bisa mengalahkanku, aku naikkan harga 2 kali lipatnya dia” jawab Jimmy
“tapi aku berani 5kali lipatnya kamu” jawab Wira kemudian.
“ oke pakai dia malam ini, dan ku kira apa spesialnya dia sich?” jawab Jimmy mengalah.
Jimmy melepaskan pegangan tangannya dari tanganku, dan mendorongku ke arah Wira sambil berkata “ malam ini kau bisa memilikinya tapi tidak untuk hari-hari berikutnya” sambil berlalu keluar rumah kelabu. Semua mata genggo-genggo melihat kejadian ini tampak seperti orang tercengang melihat film horor dimana tokoh utamanya mati dibunuh hantu-hantu itu.
Wira menarikku dan membawaku kekamar cepat-cepat, dia mendorongku ke kasur menindihku mencium bibirku dengan ganasnya seperti ayam yang kelaparan. Selagi dia menciumku baju celana kami terlepas dengan tarikkan tangannya. Kami berdua telanjang, Wira melihatku sejenak dia kemudian berkata.
“Aku sayang sama kamu Nino, dan dengan segala caraku nanti. Aku tidak akan begitu saja membiarkan dia (Jimmy) mengambil kamu sepenuhnya”
Dia kembali melumat habis bibirku, sekujur tubuhku dijilatinya aku tercengang tak percaya membiarkan setiap usapan lembut lidahnya yang menyapu bibirku.
Tatapanku kosong dan tak percaya apa yang tengah aku lakukan ini. Tiba-tiba Wira mengangkat kedua kakiku seperti mencari-cari tangannya ia. kami berhubungan badan. seperti yang pernah aku tonton di video biru.
00.15 Wib, mataku belum terpejam, rasa perih melanda di lubangku. Aku menangis pelan, diriku kini begitu hina sekarang.
Disekolah semua berjalan seperti drama, aku segera membayar uang SPPku diloket pembayaran. Terpikir apa aku beruntung? Masalah uang dan cinta memang benar bisa membalikkan semuanya. Yang rajin jadi malas, yang baik jadi jahat, yang berani jadi penakut atau bahkan sebaliknya. Seperti biasa, aku harus datang pukul 7 malam di rumah kelabu, genggo-genggo disana sedang menunggu pelanggan, disini kami menjalani hidup ini seperti air yang mengalir menuruni bukit menuju satu tujuan sampai kami tercebur kedalam sesuatu yang memaksa kami menemukan arah baru. Aku dekati salah saru genggo yang ternyata dia adalah salah satu keponakan mucikari kita di rumah kelabu ini. Aku tanya kenapa dia bisa berada disini di menjawab orang tuanya tidak mampu membiayainya dan dia terpaksa dititikan disini, salah satu yang kuingat dari dia bahwa orang tuanya berkata “ ada anak yang pintar, ada anak yang bodoh. Kau anak yang baik, tapi kau termasuk yang bodoh. Kau tak akan bisa hidup sendiri di dunia ini. Aku akan mengirimu ketempat dimana orang akan memberitahumu apa yang harus kau lakukan. Lakukan apa yang mereka suruh dan kau akan selalu terurus.
Kebanyakan genggo disini memiliki cerita suram sendiri yang membawa mereka ke jalur ini. Tapi sedikit kah kalian sadar mereka sudah menderita ditambah lagi teman-teman yang dulu mereka kenal perlahan menjauh dari mereka. Sahabat mereka sama seperti mereka hanya nasib yang membedakan kita.
Aku lihat kesekeliling Wira tak ada disini, mungkin dia piket jaga di kantor polisi. Aku lihat lagi Jimmy jga tidak ada disini mungkin dia sibuk dengan perusahaannya. Setealah pikiranku melayang kearah mereka berdua aku tak sadar betapa riuh para genggo menyambut seseorang, dan ternyata dia Jimmy. Begitu terkenalnya dia dikalangan genggo dirmah kelabu ini.
“hey, ayo ikut bersamaku” sapa Jimmy seraya menggandengku. Aku kira dia akan melakukan hal sama seperti yang dilakukan Wira kepadaku, tapi Jimmy mengajakku ke tempat mucikari itu ada. Kami berdua duduk di depan mucikari itu, Jimmy memulai pembicaraan.
“pak, ehm.. saya bermaksud mengajukan diri untuk menjadi SAN SING Nino pak” ujar Jimmy pada mucikari itu.
“apa kamu yakin?”
“yakin, yakin sekali”
“Nino keluar sebentar” suruh mucikari itu. Aq tidak benar-benar tahu apa yang mereka berdua bicarakan tapi aku dengar beberapa nominal uang yang mereka sebutkan. Kemudian Roland datang kepadaku.
“bentar lagi kamu bakal bebas bro!!” sapanya sambil menepuk pundakku dengan tangan kirinya.
“maksudnya??”
“Jimmy bakal jadi SAN SING kamu, kamu g perlu ada disini lagi”
“yang bener?”
“ia bener, sayang Wira nggak ada disini. Kalo ada disini, mungkin dia akan berebut dengan Jimmy untuk mendapatkan kamu. Belakangan ini dia sering sms aku cari tahu tentang keadaanmu, tapi sayang dia sekarang nggak bisa datang”
Tak lama kemudian mucikari itu memanggilku.
“No mulai sekarang kamu nggak usah kesini lagi, kamu uda jadi milik Jimmy sekarang”
Aku bingung dengan perasaanku, harus bahagia kah? Tapi terlintas dibenakku, tentang Wira apa yang dikatakan Roland padaku tadi benarkah? Setelah bincang-bincang pendek tadi aku hendak keluar dengan Jimmy tapi saat kami hendak keluar Wira datang tampangnya yang menyesal terukir jelas.
Keesokan harinya sepulang dari sekolah aku duduk dibangku kosong yang ada di alun-alun kota. Berkutat dengan laptopku, menulis beberapa cerita tentang hidupku kemudian aku sadar tentang Wira dia seakan lagu yang hanya pernah ku dengar sekali dalam penggalan-penggalan, tetapi sejak itu kunyanyikan terus dalam hati. Dia pernah memberiku kenyamanan dia pernah menyakinkanku betapa jalan yang kutempuh salah. Dan mengenai ceritaku di rumah kelabu itu, seseorang telah mengangkatku dari kubangan air selokan yang hitam itu. Bukan
Wira tapi Jimmy. Seseorang merangkulkan tangannya dipundakku ketika aku asyik berkutat dengan laptopku, saat aku tengok kesamping kananku, wajah yang tidak asing bagiku. Wajah yang selalu tersenyum tapi kali ini tidak, dia adalah Wira seragam polisi lengkap dan sebuah pistol tergantung di ikat pinggangnya.
Terkadang aku takut memandang pistol itu membayangkan hal-hal yang menyeramkan.
“hey, ngapain disini sendiri” sapa nya padaku.
“eh kak Wira, ea sendiri aja nie aku”
“emang mana SAN SING mu?” mendengear pertanyaanya aku terkejut, dan aku lihat wajahnya semakin tampang serius lebih tepatnya kecewa. Dari mana dia tahu, apa semua genggo di rumah kelabu itu yang memberi tahunya.
“heh kok diem, aku menyesal. Aku nyesel aku nggak ada disana saat itu”
“semua sudah terjadi kak, nggak perlu disesali, aku seneng kok”
“syukur kalo kamu seneng, aku sayang sama kamu No. Mungkin belum jodohnya”
Sambil berkata begitu dia berlalu meninggalkan aku, tiba-tiba kesedihan menyelimutiku. Seperti jendela yang membuka atas kemaunnya sendiri, ruangan menjadi dingin, dan kita tak bisa berbuat apapun kecuali gemetar kedinginan.
Malam harinya aku diajak Jimmy ketempat club di kota ku, disitu aku duduk ruang khusus kaum seperti kita. Dan saat aku masuk disana kira-kira sekitar 4 orang ada disana paling ujung aku lihat Wira dengan Roland, aku rasa mereka baru jadian.
Aku senang, didalam ruangan itu banyak kegiatan yang kami lakukan bersama mulai dari karaoke, permainan-permain kecil. Aku lihat Wira banyaj sekali minum bir, sehingga tampak sekali dia mabuk. Dan tiba-tiba dia datang kepadaku dan menarikku keluar dari ruangan, Jimmy mencegah Wira mereka berdua sempat beradu jotos hingga mereka berhenti ketika Wira mengacungkan pistolnya tepat ke arah Jimmy. Secara reflek aku teriak melihatnya, aku berdiri dan melindungi Jimmy.
“minggir No, biar aku mampusin tu anak” teriak Wira wajah bengis yang belum pernah aku lihat sebelumnya dari wajah Wira menambah takut aku, airmataku menetes aku coba merayu Wira agar tidak melakukan hal gila itu. Tapi amarahnya semakin menjadi, dia menarik pelatuk pistol itu, aku kembali memohon untuk tidak melepas penarik pelatuk pistol itu. Roland dari samping Wira mencoba menarik pistol yang ada ditangan Wira namun…
DOOORRR!!!
Peluru pistol itu mengenai Roland tepat di pelipis sebelah kanannya membuat Roland jatuh tersungkur. Wira yang menembakkan peuru itu tertawa-seperti orang gila, melihat kesempatan itu Jimmy menarikku keluar ruangan dan meninggalkan tempat itu sebelum aku menutup pintu mobil terdengar suara tembakan lagi diarah ruangan yang kami tempati tadi.
Keesokan harinya dikoran dikabarkan berita tentang tewasnya Wira dan Roland, aku masih terpukul akan kejadian itu. Jimmy merangkulku, aku menangis dipelukannya.
“sayank,aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu, nggak akan pernah aku lepas kamu melihat perjuanganku mendapatkanmu.”ujarnya sambil memeluk erat tubuhku, menggengam tanganku dan kulihat matanya berkaca-kaca. Rumah kelabu itu akhirnya ditutup, semua yang bernuansa kelabu dihidupku berangsur hilang.
Aku mulai merasa bahwa semua orang yang pernah kukenal, yang telah meninggalkanku, sebetulnya tidak pergi melainkan tetap hidup dalam diriku
—–END—–
“apapun perjuangan dan kemenangan kita, betapapun kita menderita karenanya, segera saja semuanya akan merembes menyatu. Seperti tinta yang tumpah kekertas.”
“Kurasa tak seorang pun dari kita bisa bicara jujur tentang rasa sakit sebelum kita tak menderitanya”

Kado -Oneshoot-


By: Choi Ha Soo
“Hai…”
Tomy tiba-tiba muncul di hadapanku, mengumbar senyumnya. Nyengir memamerkankan gigi gisulnya, menambah wajah putihnya kelihatan lebih ganteng.
“Gendut, kemana saja?” Gendut, begitulah aku menyapanya.
Bukan karena perutnya mblendung. Atau badanya yang menyerupai gajah tapi karena dia selalu memanggilku kerempeng. Tak salah sebenarnya dia menggunakan panggilan itu karena aku memang kurus. Tapi tak tahu mengapa aku merasa harus membalasnya dengan memanggilnya “gendut”. Aku mengenal dia lewat jejaring sosial dan tidak aku sangka ternyata kita belajar di universitas yang sama. Aku bertemu cowok ini di forum diskusi yang sekarang diketuai oleh dia sendiri. Semangatnya yang luar biasa membuatku penasaran apakah lelaki yang sama-sama BELOK seperti aku ini mengenal cinta juga?, Kadang aku berfikir tidak. Sebab setiap aku duduk bersamanya tak pernah sekalipun bicara selain tentang teori akademik atau membahas sesuatu yang seharusnya jadi tema diskusi yang serius. Hari ini sepertinya ada maksud lain dia menemuiku setelah beberapa hari ini aku tidak melihat wajahnya. Aku lihat fotonya memakai jas almamater terpampang di poster besar mendampingi calon presiden BEM.
“Aku boleh minta bantuanmu kan?”. Tanyanya kemudian. Raut mukanya berubah jadi serius, dari mulutnya juga tidak keluar kata kerempeng seperti biasanya.
“Temanmu pernah bilang, kamu punya forum bahasa inggris. Benar?”
“Ya, meski anggotanya hanya dari teman-teman sedaerahku. Aku ikut belajar di situ. Tumben menanyakan hal gak penting macam ini!”. Sengaja aku tinggikan nada bicaraku pada kata gak penting untuk menyindirnya.
Sebenarnya aku tahu apa yang ia inginkan dalam situasi sekarang, dia pasti minta dukungan suara kami dalam PEMILWA besok.
“Dalam pemilihan besok…” Dia diam sejenak.
“I know what you want, tapi aku tak bisa memastikan”. Aku tak membiarkan ia melanjutkan bicaranya karena aku benar-benar tahu apa yang dia inginkan.
“Jam empat nanti kita ada pertemuan, silahkan kamu bilang sendiri di hadapan mereka. Soal mereka akan memilih kamu atau tidak itu hak mereka tak bisa dipaksakan”. Jelasku.
“Hari ini aku terlalu sibuk, kamu yang memperkenalkan kami pada mereka. Plissss!, aku butuh bantuanmu”. Tomy memelas di hadapanku.
“plisss”. Katanya lagi, seraya menggerak-gerakkan tanganku. Baru sekali ini dia menyentuhku. ~#~
Dalam hati nuraniku, aku tak mendukung sama sekali Tomy akan jadi calon yang terpilih nantinya. Bukannya aku meragukan kemampuannya, Tapi yang menjadi pasangannya adalah orang yang tidak konsistent dalam kuliahnya. Mengurus diri sendiri saja kerepotan bagaimana mau memimpin kita, Batinku. Tapi itulah politik dalam kampus kami, kuantitas akan mengalahkan kualitas. Seberapa cerdaspun lawannya takkan mengalahkan kandidat dari pergerakan yang sudah mendominasi. Kalau dia jadi wakil presiden BEM artinya dia pasti akan lebih sibuk dan tak mungkin memiliki waktu lagi untukku. Itu alasan lain kenapa aku tak mengharapkan ia akan terpilih. Huh,, kenapa aku berfikir harus selalu bertemu dengannya? Apakah yang sebenarnya aku rasakan, inikah yang dibicarakan orang-orang? Cinta. Mungkinkah?. Aku merasa kesepian setelah beberapa hari ini aku tak jumpa dengannya. Awalnya aku hanya merasa membutuhkan kehadirannya karena pikirku akan sulit mencari orang yang seantusias Tomy dalam beradu argumen. Masih ingat betul aku ketika ia membawaku dalam pergulatan serius pada pandangannya terhadap kenyataan rakyat miskin di indonesia. Dia lebih suka menyalahkan sistem pemerintahan yang kurang memperhatikan sumberdaya manusia, jelasnya. Dan aku berpandangan lain, kita harus sadari juga kalau kemiskinan juga dikarenakan pribadi masyarakat yang kurang kreatif. Tidak bisa memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di negara kita ini. Dia memojokkanku dengan pertanyaan sederhana
“apa yang akan kamu lakukan, untuk membela hak rakyat itu” kata itu selalu membayangiku. Entah kenapa hal ini kuanggap sebagai tantangan darinya.
Apa yang bisa dilakukan oleh orang yang tak pernah aktif di organisasi ekstra yang katanya memperjuangkan hak rakyat. Demo adalah salah satu jalannya.
“Demo itu bertujuan untuk menyuarakan keluhan rakyat, keinginan rakyat, hak rakyat, yang harus diperjuangkan!” katanya.
Tapi aku bilang “percuma, pemerintah sedang terjangkit “wabah tuli”. Demo mahasiswa yang mengorbankan nyawa, merusak gedung, membuat jalan macet. Banyak rakyat yang justeru jadi korban, mereka takkan peduli”.
“Perjuangan memang butuh pengorbanan” sangkalnya.
Andai saja para wakil rakyat memiliki pemikiran sama denganmu, Tomy, mengutamakan kepentingan rakyat daripada pribadi atau golongan. Kalau saja para pemuda yang akan menjadi penerus bangsa memiliki tujuan sama denganmu, menjunjung tinggi hak-hak rakyatnya. Negara ini akan menjadi Negara yang benar-benar merdeka, bagi rakyatnya, serta di mata dunia. Tanah sorga bagi penghuninya.
~#~
Apa yang aku takutkan terjadi pula. Sejak pemilihan itu, Tomy sama sekali tak menghubungiku apalagi menemui. Beberapa kali aku kirim pesan via sms-pun tak pernah ada balasan. Aku mencari dia kemana-mana. Bahkan tiga hari ini, saat kutanya temannya, dia tidak masuk kelas. Benar-benar keadaan telah berubah. Sekali aku melihatnya melintas di depan kampus, tapi belum sempat aku memanggilnya ia sudah ngacir bersama orang yang terpilih menjaadi president BEM. Sesibuk itukah dia? Tahun baru kemarin bahkan dia tak mengucapkan selamat tahun baru atau apapun. Hari ini seharusnya dia mengundangku dalam pesta ultahnya. Nampaknya aku sudah tak terlihat sama sekali di matanya sekarang. Aku merindukan dia. Banyak hal yang ingin aku katakan. Banyak hal yang meskinya dia tahu, tentang aku bukan teori atau diskusi. Tapi sekarang dia tak ada, bagaimana aku menceritakannya. Kalau saja angin bisa menyampaikan pesan, akan ku titipkan kata cinta untukknya. Aku merenung sejenak, berpikir apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku berharap sikap acuhnya saat ini bukan karena dia marah denganku. Atau dia bosan melihatku. Tapi karena dia benar-benar sibuk. Telah kucoba hubungi ponselnya, tidak aktif. kuputuskan memgirim sms “Tomy, selamat ulang tahun semoga apa yang kau cita-citakan akan tercapai. Amiiin”.
~#~
Jam sembilan malam ponselku berdering, tak kusangka Tomy menelponku. Ia minta maaf karena tidak bisa mengundangku ke pesta ultahnya, Karena dia tidak mengadakannya. Dia mengikuti pendakian ke puncak gunung Semeru yang diadakan oleh teman-temannya di organisasi. Untungnya dia juga setuju saat kuajak jalan-jalan besok ke kebun Teh. Malamku menjadi sangat panjang saat itu, jam pun berdetak begitu lambat. Pikiranku melesat sampai kekebun teh itu, memperkirakan apa yang akan terjadi. Merancang kata-kata, bagaimana aku akan mengatakan perasaanku. Membayangkan bagaimana ekspresinya saat mendengarnya. Adakah cinta yang sama dihatinya?
“Hari ini tidak ada bahasan akademik, ok?”. Aku memulai kata yang telah aku persiapkan semalam.
“Aku ingin tahu tentang kamu lebih banyak”.
“Oke, aku juga pingin tahu siapa kamu”. Suaranya terdengar lesu, tak seperti yang sering aku dengar di hari-hari sebelumnya.
Mungkin karena kecapekan kemarin, atau mungkin dia bergadang semalaman sepertiku.
“By the way, belum telat kan aku ucapkan selamat tahun baru, juga selamat ulang tahun, semoga tahun ini menjadi tahun keberuntunganmu”.
“Kadonya?” Tomy mencoba memecahkan ketegangan suasana. Kayaknya dia tahu aku sangat gugup.
“Ups, ketinggalan kayaknya di rumah”. Aku berusaha mencairkan kekakuan sikapku. Kemudian aku pelan-pelan mengambil kado yang telah kubawa di dalam tas.
“Boleh kubuka sekarang?”. Kubiarka ia membuka kado yang kuberikan.
Tapi sebenarnya bukan itu yang akan kuberikan, karena aku telah kirimkan hadiah ulang tahun yang sebenarnya kerumahnya. Sedangkan kotak yang sedang dibukanya adalah kosong. Aku mulai melihat perubahan aneh di wajahnya saat kotak itu terbuka. Tomy menoleh ke arahku.
“What????, Bian,,,, krem…..peng!”. dia berhasil kubuat benar-benar kesal.
Dia memukul lenganku, kemudian aku memegang tangannya, menariknya, membuat matanya berhadapan denganku.
“Kamu tahu? hatiku kosong, sunyi, tak berarti tanpamu. Seperti kotak itu. Aku pernah berpikir cowok super serius, kutu buku kayak kamu tak punya cinta. Tapi aku cinta kamu. Aku berharap kamu punya perasaan yang sama. Beberapa hari tidak melihatmu, aku benar-benar merasa kehilangan. Aku merindukanmu. Aku membutuhkanmu. Tomy, maukah kamu jadi pacarku?”. Pertapaanku semalaman merangkai kata-kata itu berhasil.
Kata demi kata mengalir begitu saja. Tapi aku masih menunggu jawaban dari Tomy. Dia masih diam berjuta bahasa. Beberapa saat dia menatapku.
“Bian,, tahukah kamu berapa lama aku tersiksa karenamu?, menunggu kamu mengatakan ini semua?, Aku mencintaimu, aku juga tak bisa jauh darimu”. Akhirnya, di awal bulan Maret ini kiamat sudah kesendirianku.
Hari-hari selanjutnya akan kami jalani bersama. Berbeda dalam berbagai pandangan tapi satu dalam cinta. Perselihan bukan sebuah tembok besar yang menghalangi pertemuan hati antara aku dan Tomy. Karena pada dasarnya kita memiliki tujuan yang sama “Peduli pada masyarakat”. Kubiarkan dia tetap dalam pendiriannya untuk berkecimpung dalam dunia politik. Dan aku akan terjun langsung dalam social masyarakat. Itulah komitmen dalam hubungan kami.
~the end~

I Love You, Friend..



By. Choi Ha Soo

“Fabian!!” suaranya memekakan telingaku, dia yang muncul tiba-tiba ke kamarku tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.

“Ada anak yang aku taksir, bantu aku yah?” lanjutnya masih di ambang pintu kamarku.

Aku yang saat itu masih sibuk dengan hobbyku membuat cerita pendek tiba-tiba buyar mendengar Alfin mengucap kalimat itu. Dia menyukai seseorang,dan meminta bantuanku untuk mendekatinya.

“Tidak mau!” jawabku santai, sambil berpura-pura mengetik di laptopku. Padahal pikiranku membuyar saat Alfin tiba-tiba datang ke kamarku.

“Ayolah, aku kan jarang-jarang minta tolong padamu. Jadi kali ini, bantu aku yah Fabian?” wajahnya memohon sambil meyakinkanku.

“Jangan pikir karena kita teman sejak kecil jadi bisa minta tolong apa pun padaku yah?” “Jangan manja.. kalau kamu suka seseorang usaha sendiri dong!” jelasku padanya.

Kulihat sepintas raut mukanya berubah, ada tersirat rasa kecewa dari yang kulihat. Andai dia tau aku menyukainya, dan aku melakukan ini karena aku tak mau dirinya di miliki orang lain.

“Ka.. Oke aku nggak akan minta tolong kamu lagi Ian!” ucapnya sambil berbalik keluar dari kamarku.

Setelah menolak membantunya, ada rasa bersalah pada diriku. Kita berteman sejak kecil, rumah kami bersebelahan, orang tua kami pun berteman sejak lama. Dan dia salah satu anak yang pertama kali mau mengajakku bermain ketika aku dan keluargaku pindah dan tinggal di desaku saat itu. Cerpenku akhirnya terancam macet di tengah jalan, gara-gara prince Alvin itu datang ke kamarku dan mengatakan kalimat yang membuat pikiranku buyar.

Astaga! Kenapa jadi begini yah, siapa yang di sukai? Minta bantuan apa? Aku menyukaimu Alvin, andai kamu tahu itu. Kamu tidak mengerti perasaanku padamu, tapi wajar karena aku belum mengungkapkan perasaanku padamu. Karena aku tidak punya cukup keberanian untuk mengatakannya padamu, aku takut kau malah menjauh dariku setelah tau perasaanku yang aneh ini.

****

“Duh, ni anak lama banget nggak keluar-keluar” aku mendengar suara Alvin dari luar kamarku. Kita ngekost di tempat yang sama, tapi kita punya kamar sendiri-sendiri. Seperti biasa dia selalu menungguku untuk berangkat ke kampus bersama – sama.

“Sedang apa kau?” tanyaku setelah membuka pintu kamar dan melihat Alvin berddiri bersandar di tembok bagian luar kamarku.

“Kita kan selalu bersama-sama kalau ke kampus..” jawabnya sembari menarik tanganku.

“Bentar lagi kan kamu bakal punya pacar dan sibuk sama pacar kamu, mungkin kamu perlu mendatangi kamar kost annya dan mengajaknya pergi ke kampus bersama, jadi biarkan aku terbiasa berangkat ke kampus sendiri yah, mulai sekarang kamu tak perlu menungguku untuk berangkat ke kampus bersama” jelasku sambil melepaskan genggaman tanganku darinya.

“Kamu ngomong gitu pasti karena kamu cemburu yah? Kamu takut aku ninggalin kamu yah?” kali ini dia berhasil membuatku berhenti berjalan setelah mendengar dia berucap begitu.

“Bukan begitu!! Ada orang yang kusukai juga!! Jadi aku juga bakal sibuk dengannya berusaha dekat dengannya, jadi mulai sekarang kita berteman biasa saja yah” jawabku tanpa menghadap ke arahnya, karena aku sedang berusaha menutupi mukaku yang merah.

“Jadi gitu yah? Baiklah!” jawabnya dan berjalan mendahuluiku.

Bodoh!! Batinku berkata aku masih ingin berjalan bersamamu Vin, tapi apa daya apa yang terucap tak dapat di tarik lagi, semuanya sudah terjadi.

***

Jam makan siang di kampusku, aku baik-baik saja ya aku akan baik-baik saja. Aku berjalan menyusuri koridor kampus dan menuju ke lobby gedung B fakultas komunikasi bisnis, kali ini aku bersama Sandy. Biasanya aku bersama Alvin, selalu bersamanya. Sembari menyeruput susu kotak yang ku beli di kantin tadi aku dan Sandy bercakap-cakap.

“Ternyata kampus kita ni banyak cowok ganteng juga yah? Haha” celetukku saat kita asyik berjalan.

“Haha kamu juga ganteng kali Fab, tu anak-anak yang sakit lain juga memerhatikanmu tiap kamu lewat” tambah Sandy. Sandy sahabatku juga kami kenal ketika ospek jurusan, awalnya kami kenal lewat grup facebook Mahasiswa Baru kampus kita, hingga berlanjut sampai sekarang. Radarku mengatakan bahwa dia pun “ sakit”.

Hingga suatu malam saat kita sama-sama kelelahan mengerjakan tugas Ospek di kost anku, ketika aku tertidur diam-diam dia mencium keningku dan aku menyadarinya. Aku terbangun sontak dia kaget melihatku terbangun, dengan malu-malu dia menceritakan semuanya. Tapi kami berjanji hanya dalam ikatan pertemanan kita sama-sama sadar kita ‘sakit” tapi kami memilih memutuskan untuk berteman saja.

Saat kami melewati beberapa anak “sakit” yang ku lihat memiliki paras yang menawan, ya aku tau dia dan aku kenal mereka tapi hanya sebatas Facebook saja.

“Kenapa kamu gugup Fab?” tanya sandy.

“ah,nggak kok..” aku berkilah, senyum salah satu dari mereka mampu membuat jantungku berhenti berdetak.

Tiba-tiba dari arah belakang, Grep!! Seseorang menarik tanganku yang memegang susu kotak dan mengarahkan sedotan susu kotak itu ke bibirnya yang tepat ada di belakang pundakku.

“Minta dikit ya..”

“Alvin!!”

Gleg! Gleg! Srooott!!

“Ahh.. maaf jadi habis” tingkah Alvin benar-benar aneh sekali, semua mata anak-anak yang “sakit” itu melihat kearah kita berdua, Alvin berhasil membuatku malu.

“Katanya Cuma dikit!”

“Nih Gantinya,” sembari memberiku sekantong kentang goreng.

“Kentang Goreng ‘Pak Sarif’ rasa Keju kesukaanmu”

Kentang goreng pak sarif ini memang kesukaanku rasa keju, dan biasanya aku dan Alvin selalu membelinya bersama-sama. Alvin berjalan meninggalkan aku dan Sandy.

“Aigoo.. Apa aku nggak salah liat tadi Fab, sepertinya dia nggak ingin kamu di dekatin orang lain. Seolah memperlihatkan kalau ‘Fabian Milikku’ begitu.” Sela Sandy saat aku masih mematung melihat tingkah laku Alvin tadi.

“Ah tidak, itu Cuma perasaanmu saja San, kita emang berteman sejak kecil. Tingkah laku dia emang begitu.” Jawabku.

Karena sejak kecil kami tumbuh seperti saudara, yang seperti itu tadi tidak ada artinya. Tapi dia tidak suka susu, kenapa tiba-tiba meneguk susu kotak milikku sampai habis. Dasar Alvin aneh.

***

“Fabian!!” Alvin tiba-tiba muncul di hadapanku, ketika aku berjalan pulang ke kost an.

“Model rambutnya bagus yang kanan apa yang kiri?” sambil menunjukkan gambar model rambut pria dari majalah fashion pria entah di dapat darimana.

“Yang mana aja bagus.” Sambil terus berjalan.

“Hoi! Kamu Cuma ingin populer sendiri yah?”

“Apa maksudmu?”

“Aku juga ingin populer dan tampak ganteng sepertimu”

“Mau ganti model rambut? Buat seseorang yang kau sukai itu kan?”

“Iya tentu,”

“Anak itu pasti punya kriteria sendiri jadi jangan tanyakan model rambut yang cocok buatmu padaku”

“Eh.. kamu kenapa?”

“Kamu tu aneh, memangnya dia itu orang yang akan tergerak hatinya setelah melihatmu mengganti model rambutmu? Bagaimana model rambutnya kamu, kamu ya tetap kamu kan!?”

“Ya aku tau, aku hanya ingin terlihat keren. Kau mengerti kan?”

“Oh begitu!! Model Spike aja”

“Hah!?”

“Spike keren kan? Coba aja.”

Astaga dia benar-benar nggak tau perasaanku, aku sangat tersiksa kalau dia selalu meminta pendapatku tentang hal-hal yang buat dia agar dekat dengan kekasih idamannya.

“Hmm, sudah lah. Bagiku kau sudah ganteng. Tapi entah seseorang yang kau sukai itu menganggapmu ganteng atau nggak.” Jawabku.

“Eh.. Tunggu”

***

Keesokan harinya, di kelas mata kuliah manajemen bisnis. Suara gaduh tiba-tiba terdengar dari segerombolan cewek-cewek di kelas saat itu, yang kebetulan masih belum ada dosen. Seseorang dengan postur tubuh tinggi tegap berjalan masuk ke kelas, denga potongan rambut spike di berjalan santai dan duduk di bangku nomor dua baris ke dua. Aku benar-benar di buatnya kaget, itu Alvin dengan potongan barunya Spike.

“Wah Alvin, ganteng banget hari ini yah” suara bisik-bisik kecil dari sekelompok cewek di sebelahku.

“Iya dia terlihat lebih manis dengan potongan rambut begitu.”

Tanpa sadar aku yang berdiri mematung melihatnya masih melihatnya, sampai Alvin menoleh kepadaku aku pun masih mematung melihatnya.

“Hei, kenapa kamu?” tanya Alvin padaku.

“Eh.. nggak.”

“Keren kan?, kan kamu yang bilang kalau aku bakal terlihat lebih keren dengan potongan rambut begini”

Aku masih mematung, aku tidak habis pikir kalau Alvin akan menuruti apa yang aku katakan kemarin. Tak lama setelah dia mengobrol sedikit dengan ku, beberapa cewek datang menghampirinya.

“Alvin, gaya rambut kamu keren”

“iya aku bisa menata rambutmu jadi lebih keren lagi kalau kamu mau”

Tidak! Alvin terlihat tertarik dengan seorang gadis cantik yang menawarinya menata rambut Alvin.

“Kamu bisa membuatku jadi keren!?” tanya Alvin pada gadis yang memiliki nama Amanda itu.

“Ya tentu saja aku suka menata rambut dan aku sedang ambil kursus menata rambut”

Huh.. padahal gaya rambut seperti apapun Alvin selalu terlihat ganteng dan keren. Aku melihatnya seolah Amanda pasti jodoh Alvin, dan Alvin akan segera meninggalkanku. Dia akan lebih dekat dengan Amanda.

“Fabian!!” panggil Alvin.

“Aduh kayaknya aku nggak enak badan, aku mau ke Klinik dulu” jawabku sembari jalan keluar kelas.

“Fabian tunggu!!”

Dan tiba-tiba, bayangan masa lalu pun bergelayut di pikiranku. Menemaninya mengerjakan tugas kuliah, menonton film dvd bersama, hunting foto bersama, beli makan di luar bersama sampai berkunjung ke pantai bersama. Aku sudah banyak melakukan kegiatan bersamanya, bahkan aku berusaha ikut tim futsalnya yang sebenarnya aku tidak pernah bisa bermain futsal agar aku bisa lebih dekat dengannya, menemaninya bermain basket di lapangan kampus walau aku hanya dapat duduk melihatnya bertanding bersama teman-temannya. Semua usahaku mendekatinya. Sampai kapanpun ini hanya mimpi.

Aku ada di ruang auditorium kampus, sepi dan gelap. Biasanya saat hatiku bersedih, aku selalu ada disini. Dan Alvin selalu menemukanku disini, dan dengan cepat aku menghapus airmataku sambil berpura-pura baik-baik saja.

“drrrt drrrt drrrt”

Panggilan masuk dari Alvin, kotak pesan suara dari Alvin.

“Fabian, kamu nggak ada di klinik? Kamu pergi kemana!?”

Tidak ada tempat untuk pergi, kataku dalam hati. Setiap hari aku akan bertemu denganmu dan menahan sesak setiap melihatmu. Karena mustahil bagiku mendapatkan cinta tulusmu. Airmata perlahan menetes dari ujung mata dan membasahi setiap centimeter pipiku. Berlanjut dengan jatuhan bulir airmata yang lain. Kali ini aku benar-benar menangis.

“Hei!! Ngapain kamu disini!!” seseorang menemukanku.

“Alvin.. “

“Aku yakin kamu pasti ada disini”

“Seharusnya kamu nggak perlu repot-repot nyari aku sampek kesini”

“Kenapa!?”

“Karena aku nggak mau bertemu denganmu!!”

“Kenapa?! Kenapa kamu tiba-tiba berubah!?”

Aku tak peduli dan terus berlari menjauh dari Alvin, dia pun berlari mengejarku.

“Aww..”

“Alvin!! Kamu nggak apa-apa?”

“Yee ketipu..” sambil menangkap tangganku dia tersenyum melihatku.

“akh kamu bohongin aku menyebalkan!”

“Biarin!! Kau aja yang terlalu khawatir sama aku”

“Menyebalkan, selalu menyebalkan”

“Kenapa? Kamu nggak suka? Kalau gitu pergilah.”

“Uh.. Aku selalu ingin pergi.. tapi nggak bisa, aku menyukaimu. Berusaha dekat denganmu, tapi aku tidak pernah bisa dapet cinta tulus darimu. Karena kamu cowok sama kayak aku. Selama ini aku menahan sesak di dadaku setiap melihatmu, karena aku tahu ini hanya mimpi buatku, nggak mungkin aku dapet cinta tulusmu.”

Syuuut..

Alvin menarikku dan memelukku.

“Akupun menyukaimu.. sejak kecil.. lalu makin tumbuh dewasa kamu semakin manis, aku pun sama sepertimu tidak pernah berani mengungkapkan isi hatiku.”

Aku menangis di pelukkannya, cinta pertamaku. Sahabatku sejak kecil, dan dia begitu manis.

NB: Buat sahabatku Alvin, semakin tumbuh dewasa kita. Kamu terlihat begitu manis, aku jadi ingat setiap hari kita selalu bermain di lapang bersama, mencari banyak jalan menuju rumah kita yang berdekattan. Dan kamu selalu menggenggam tanganku sewaktu kita bermain petak umpet bersama saat kita sama-sama bersembunyi di gelapnya malam. Kamu selalu tahu kalau aku takut dengan gelap, tapi kamu tak pernah berhenti mengajakku bersembunyi di tempat yang gelap. 

Before Sunset


By. Choi Ha Soo
Kadang perpisahan itu seperti ini, sama-sama tidak sadar bahwa ia sudah di ujung jalan dan untuk sekedar melambaikan tangan saja kita tak ada waktu. Maka kadang apa yang di katakan Ibu benar, “ucapkan selamat tinggal sesegera mungkin nak kadang perpisahan tidak bisa di tebak datangnya”
****
Theo duduk gelisah di kursi peron. Seperti juga matahari yang condong ragu-ragu untuk segera tenggelam dan merampungkan senja atau berlama-lama membiaskan cahaya ke dalam sepasang mata yang dengan sendu tengah memandanginya. Senja berpindah ke dalam mata Theo. Juga sebagian mata lain yang sempat memerhatikan senja. Sebab sudah tidak terlalu banyak orang yang peduli pada matahari dan senja. Sebab orang-orang sudah melupakan langit dan sibuk berdesakan dengan hiruk pikuk bumi yang menyesakkan. Sebab orang-orang sibuk dengan kehampaan sendiri-sendiri. Sibuk memikirkan pulang. Sibuk memikirkan lelah. Sibuk memikirkan keluh. Sibuk memikirkan keringat. Sibuk memikirkan tidur yang masih jauh. Dengan berkas-berkas cahayanya. Dengan warna-warna.
Dengan sepi yang ditebar angin dan burung-burung pulang meninggalkan gema kepak sayap di udara. Dengan bunga-bunga menguncup dalam temaram. Dengan segala itu Theo masih duduk menunggu. Sendirian. Gelisah. Sementara matahari belum juga mau pulang. Belum juga mau tidur. Padahal bulan sudah mulai hendak beredar. Sudah cantik berpulas pupur putih cahayanya. Sudah anggun dibalut sutra kain gaunnya. Tapi belum muncul benar, sebab matahari masih juga berjaga di sana, condong. Ia, matahari itu, ingin menemani Theo yang duduk sendiri dan gelisah. Maka senja menjadi lama. Menyiramkan temaram ke sisi kursi di mana Theo duduk sendiri dan gelisah. Sebab senja berdiam diri di situ, maka malam mengembang di tempat lain yang jauh. Malam harus tetap bergulir, walau senja memilih tidak tenggelam dalam detik dan waktu yang terus mengalir. Jadilah Theo itu duduk di payungi senja, seperti dipayungi cahaya lampu yang jingga keungu-unguan warnanya. Sementara duduk dan gelisah itu, Theo berulang mengedar pandangannya. Bolak-balik matanya melongok ke pintu masuk stasiun dan rel kereta yang memanjang dan hilang di kejauhan. Sebentar-sebentar juga melirik jam dinding besar yang detiknya terdengar menyentak. Sepi yang mulai merambahi sudut-sudut stasiun. Sebentar ia pandangi senja, yang memang tidak bergerak. Tidak beranjak. Maka ia bergumam dalam duduknya dan dalam rasa gelisahnya.
berkas-berkas cahaya inipun akan berubah menjadi kenangan detik-detik melenggang tidak pernah memberi jeda terus berjatuhan
tidak ada perpisahan paling sunyi kecuali ketika senja seperti ini dan matamu tinggal mengedip hilang dalam gelap tanpa tanda
jika semua kelak habis kita tak lagi menuliskan kisah apa-apa tinggal merenungi segala jejak yang berserakan mencari makna
Dari kejauhan, dari batas temaram dan kekaburan pandangan, Theo samar- samar melihat kereta datang. Mula-mula lokomotif, kemudian gerbong demi gerbong tampak. Kembali, ia melirik jam dinding besar, kali ini dengan perasaan getir. Ia mengutuk detik-detik, yang, seperti dalam gumamnya, tidak pernah memberi jeda seraya terus saja berjatuhan. Lalu lemah dan putus asa, ia melirik ke pintu masuk stasiun dari balik pundaknya yang jatuh lunglai. Orang-orang sibuk keluar-masuk. Kereta kian dekat. Kereta yang menjadi alasan baginya untuk duduk tidak tenang, untuk gelisah yang kian menggeliat tak karuan. Kereta yang beberapa saat lagi akan menepi dan memuntahkan penumpang. Dan Theo, harus juga bergegas masuk ke dalam kereta itu, duduk di salah satu gerbong, untuk pergi meninggalkan stasiun ini, untuk juga menepi dan dimuntahkan di stasiun lain di tempat yang lain. Tempat yang jauh. Maka ia bangkit dari duduknya. Tapi rasa gelisah dan getir masih memberati tiap langkah yang diseretnya dengan sisa harapan yang sepertinya bakal mati ketika ia memasuki gerbong kereta. Dan akhirnya harapan itu memang mati! Theo masuk dan duduk di salahsatu kursi penumpang di gerbong paling belakang. Lewat jendela kereta, ia bisa melihat jam dinding besar yang suara detiknya tak lagi terdengar. Ia bisa juga melihat ke arah pintu masuk stasiun.
Orang-orang masih saja keluar-masuk. Orang-orang masih saja sibuk. Sementara ia tertelan rasa hampa sendiri, duduk di kursi penumpang di gerbong kereta yang sebentar lagi akan berangkat meninggalkan stasiun kecil itu. Perasaan hampa itu membuatnya terhisap ke dalam perasaan lain, perasaan asing yang memisahkannya dengan kesibukan penumpang lain yang juga naik seraya mencari tempat duduk kosong di dalam gerbong untuk ditempati. Terdengar suara peluit panjang. Suara peluit yang membikin hatinya tambah hampa. Suara peluit yang membuat telinganya pekak dalam bunyi denging panjang yang menyirap segala suara di sekitarnya. Yang ada hanya hening. Yang ada hanya denging.
Kupingnya tiba-tiba terasa sakit. Gerbong bergetar. Kereta bergerak. Theo memandang terakhir kali ke pintu masuk stasiun dengan rasa kecewa. Juga jam dinding besar dan kursi peron tempatnya sebentar lalu duduk menunggu. Kereta melaju meninggalkan stasiun. Senja tenggelam. Gerimis turun.
***
Seorang Lelaki terkapar ditengah jalan. Darah bersimbahan di sekitarnya. Di sekujur tubuhnya. Tertabrak angkutan umum. Tubuhnya terhempas. Kepalanya keras menghantam aspal jalan. Seketika itu juga ia meninggal. Padahal, Lelaki itu harus bergegas menemui kekasihnya yang berjenis kelamin sama di sebuah stasiun kecil tak jauh dari tempat ia tertabrak itu. Ia harus segera menemui kekasihnya yang akan berangkat ke tempat jauh. Ia harus menemui kekasihnya… harus… Orang-orang berkerumun melingkari mayatnya dengan suara-suara riuh. Jalanan macet. Bunyi klakson. Bunyi bicara orang. Bunyi deru kendaraan. Di antara bunyi-bunyi riuh itu, di udara, angin membawa gema sebuah suara: tidak ada perpisahan paling sunyi, kecuali ketika senja seperti ini…
“aku akan tetap mencintaimu walaupun kau tak mau bertemu lagi denganku” gumam Theo dalam hati, ketika kereta telah beranjak membawanya pergi ke kota tujuannya.
TAMAT~