Tampilkan postingan dengan label KIM HYE SO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KIM HYE SO. Tampilkan semua postingan

JEALOUS Part End



Author: Kim Hye So.

Rupanya kebersamaan di rumah yang tenang membuat mereka hanyut dalam gairah yang bergelora. Tidak tahan dengan ciuman lembut Galih, Lana menarik tangan pemuda itu. Mereka melangkah ke lantai dua, ke kamar Lana.
Di kamar itu, Lana yang tidak kuat menahan gairah, melepas pakaiannya. Dan menggoda Galih yang terperangah.
“Dek…!”
“Lakukanlah Mas, demi cinta kita…!” Desah Lana
“Haruskah?”
“Bukankah Mas siap menikahiku?”
“Mas akan lakukan apapun, tapi jangan yang satu ini! Mas tidak ingin mengotori perjalanan cinta kita.” Tandas Galih kalem.
“Tapi…?”
“Mas akan tetap mencumbumu, tapi tidak untuk yang satu ini!”. Galih ingin membahagiakan Lana. Ia mengangkat tubuh ramping putih bak salju itu. Ia letakkan tubuh indah itu di atas ranjang yang empuk dengan hati-hati.
“Jangan tersinggung! Mas akan melakukannya begitu kamu wisuda. Mas tidak mau mengacaukan kuliah dan masa depanmu sayang. Percayalah, tanpa berbuat yang satu itu, Mas tetap mencintai kamu.”
“Tidak apa-apa Mas, aku tulus memberikannya pada Mas. Percayalah Mas!”
“Mas percaya sayang. Namun Mas ingin mengontrol gairah Mas sendiri. Kamu tentu tahu, kalau Mas cukup mampu untuk melakukan itu. Tapi itu jangan kita lakukan sekarang! Mas tidak mau cinta suci kita berjalan di atas nafsu saja. Izinkan Mas mengukir kesetiaan di atas mahligai cinta yang tak ternoda. Kamu jangan marah sayang!”
“Benarkah Mas bisa menahan diri?”
“Iya, percayalah!”
“Kalau begitu maafkan aku Mas. Aku sebetulnya merasa tidak enak. Aku takut kalau sebetulnya Mas ingin, tapi tidak berani meminta.” Galih tersenyum.
“Jangan salah paham sayang! Apa yang kita lakukan selama ini sudah lebih dari cukup buat Mas.” Tandasnya.
“Mas sungguh lelaki yang baik.” Ucap Lana terharu.
“Sebetulnya Mas bukanlah lelaki yang baik, hati Mas sudah tergoda. Tapi Mas tidak mau menodai cinta kita.” Tukas Galih. Galih sekali lagi mencium bibir Lana mesra, dan Lanapun membalasnya dalam. Hingga beberapa saat kemudian mereka melepaskannya. Dengan tenang, Galih mengambil pakaian Lana dan meminta pemuda manis itu untuk memakainya. Lalu merangkulnya dan mengajak ke depan lagi menunggu calon mertua, orang tua Lana.
Lana tersenyum haru. Sesungguhnya ia hanya merasa iba pada Galih. Ia takut lelaki itu tidak berani menyentuhnya, makanya ia memberi lelaki itu kesempatan. Ia bersyukur, Galih bukanlah lelaki yang mudah terkena rayu. Ia juga secara jujur bersyukur karena memiliki kekasih, calon suami yang tulus mencintainya.
****
Sangat berbeda dengan Seger. Setiap pacaran selalu mencari tempat tertutup. Dan Ines tak sanggup menolak, ketika lelaki itu dengan setengah memaksa selalu menelanjanginya. Dan hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan terus bergulir. Tidak terasa mereka sudah tiga bulan menjalin hubungan.
Ines merasakan ada suatu perubahan pada tubuhnya. Ia telah memeriksakan dirinya pada dokter kandungan secara diam-diam. Kini ia hamil. Namun ia tidak berani mengatakan hal itu pada Seger. Hingga lelaki itu sendiri yang merasakan perubahan pada Ines. Saat itu Ines muntah di kamar mandi di paviliun Seger, tempat yang sering mereka gunakan untuk bercumbu.
“Ada apa Nes?” Tanya Seger yang mulai cemas.
“Apa kamu tidak merasa?”
“Merasa apa?”
“Aku hamil…”
“Benarkah?” Seger terlonjak.
“Ini surat keterangan dari dokter kandungan. Aku sudah memeriksakannya minggu lalu. Surat ini ku ambil tadi siang. Aku hamil dua bulan. Kamu sih tidak bisa mengendalikan nafsu..”
“Ya Tuhan…” Ujar Seger terlihat panik.
“Kenapa?” Tanya Ines yang bingung dengan reaksi Seger.
“Aku belum siap untuk menikahimu.”
“Kenapa?” Ines mengerutkan kening.
“Aku..aku masih ingin menyelesaikan kuliahku. Lagipula kita masih terlalu muda untuk menikah.”
“Ya. Tapi aku hamil Mas dan Mas harus menikahiku. Keluargaku akan marah jika kamu menghindarinya.” Seger memeluk gadis itu. Kemudian menatapnya serius.
“Ines..!”
“Apa?”
“Orang tuamu tahu?” Tanya Seger khawatir.
“Hubungan kita?” Ines memastikan.
“Ya..”
“Tahu dan mereka tidak suka. Mereka juga tahu kalau kamu sudah menodaiku. Mereka akan diam jika kamu mau bertanggung jawab. Tapi mereka akan menuntut kalau kamu tidak mau bertanggung jawab. Mereka tidak suka dengan gaya kita berpacaran.”
“Kenapa kamu mengatakannya pada mereka?”
“Mereka tahu dari perubahan tubuhku.”
“Tapi mereka belum tahu kalau kamu hamil?”
“Belum tapi mereka akan segera tahu dari perubahan tubuhku. Mereka bukanlah orang tua yang tidak memperhatikan anaknya. Aku sudah dimarahi habis-habisan. Tapi akupun juga tidak bisa menolak ketika kamu mengajakku tidur…” Desis Ines di akhir kalimatnya.
“Tapi..”
“Kamu harus bertanggung jawab, kamu harus segera menikahiku Mas Seger.”
“Bagaimana kalau aborsi saja?” Tawar Seger yang mulai kalap.
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Aku tidak mau. Hidupku sudah penuh dosa, Mas Seger sudah menjerumuskan aku. Jangan membuatku jadi pembunuh! Kalau Mas memang tidak mau bertanggung jawab, terserah! Aku akan membesarkan bayi ini, apapun yang terjadi. Aku tidak mau menggugurkannya.”
“Tapi..”
“Kita bisa kuliah sambil kerja. Mas berani berbuat, Mas juga harus mau bertanggung jawab. Tidak hanya sekali lho Mas, bahkan sudah berpuluh kali. Dari aku yang masih gadis suci sampai menjadi aku yang hamil sekarang ini.”
“Tapi, apa itu hanya aku yang melakukannya? Apa tidak ada lelaki lain?” Tanya Seger meragukan.
“Astaga! Tega benar Mas Seger berkata seperti itu! Tega benar Mas mengatakannya padaku! Memang Mas pernah liat aku jalan dengan lelaki lain selain Mas Seger? Pernah? Sungguh keterlaluan!” Teriak Ines tidak terima dengan tuduhan Seger.
“Maaf Nes, aku belum siap menikah.” Ujar Seger.
“Terus?”
“Gugurkan! Atau kau cari saja lelaki lain yang mau menikahimu!” kata Seger yang sudah frustasi.
“Jangan gila..!” Umpat Ines.
“Kau yang gila. Mungkin bukan aku saja yang menghamilimu.” Kini giliran Seger yang mengumpat.
“Baik. Aku sanggup membesarkan anak ini sendiri. Tapi jangan kaget jika seluruh keluargaku akan menuntutmu!”
“Aahhhkkkhh…!” Teriak Seger depresi.
Seger membalikkan badan. Ia menatap pisau di dekat buah apel yang tadi dibelinya. Tidak tahu kenapa, pikiran Seger begitu gelap. Ia tidak ingin menikah sekarang karena ia belum siap. Ia masih ingin bebas menikmati masa mudanya.
Tiba-tiba pikiran kalap itu membuat ia menusukkan pisau yang digenggamnya ke perut Ines beberapa kali. Ines terbelalak. Menatap lelaki muda itu tak percaya. Inespun jatuh di depan Seger, tak sadarkan diri.
**************************************************************************************
JEALOUS (END)
Di sebuah kawasan yang tenang, malam itu udaranya begitu dingin dan suasananya pun sepi. Sebuah mobil berhenti begitu saja. Seorang laki-laki keluar, membuang sebah tubuh yang dikiranya sudah meninggal di pinggir jalan begitu saja.
Laki-laki itu adalah Seger, ia tampak panik mengira Ines sudah mati terbunuh. Takut terjadi sesuatu, ia membuang Ines di sebuah kawasan jalan yang sepi. Lengkap dengan tas kuliahnya. Bagaimanapun ia ingin ‘mayat’ itu ditemukan keluarganya.
Sekitar jam Sembilan malam, Ines tersadar. Ia merasakan sakit yang luar biasa. Ia berusaha merangkak dari semak belukar ke jalan beraspal. Namun tenaganya sudah terkuras karenaa begitu banyaknya darah yang keluar. Maka begitu tubuhnya bergulingan di jalanan beraspal, ia jatuh pingsan. Pada saat yang bersamaan, sebuah mobil berhenti mendadak melihat sosok tubuh menggelepar di jalan.
Beberapa saat kemudian, di rumah Ines, Sang Mama menerima telpon seseorang dari rumah sakit.
Seorang polisi dan seorang laki-laki yang menemukan Ines, memberitahukan bahwa Ines ada di rumah sakit dalam kondisi yang kritis. Tas kuliah yang di dalamnya terdapat dompet milik Ines dan uang yang membuat sang penolong tahu nomor telpon keluarga Ines.
Betapa terkejutnya Sang Mama. Ia langsung mengajak suaminya dan Rikas ke rumah sakit.
Dokter memberitahu bahwa tusukan itu juga melukai kandungan Ines. Sehingga dokter akan menggugurkan kandungan itu, daripada anak itu lahir dengan cacat kelak. Hal ini memungkinkan karena kandungan Ines yang masih muda.
Orang tua Ines bukan main kagetnya. Namun demi menyelamatkan Ines, mereka mengijinkan dokter untuk menggagalkan kandungan yang terluka parah karena tusukan pisau itu. Polisi yang sudah datang, segera memburu Seger setelah menerima laporan bahwa mobil Ines tidak ditemukan.
Satu-satunya orang yang dicurigai adalah Seger. Apalagi Ines ditemukan dalam keadaan hamil muda. Dan keluarganya tahu, siapa yang menghamili anak bungsunya itu.
Ines malam itu langsung ditangani dokter bedah, menjalani operasi pengangkatan kandungannya. Ternyata tusukan itu merusak kandungan Ines.
***
Seger menghilang. Namun polisi menemukan bercak darah di paviliun tempat Seger tidur dan belajar. Juga menemukan pisau yang masih belumuran darah. Bahkan keluarga Seger sendiri kaget, karena tidak menduga putra sulungnya telah menjadi kriminal. Apalagi mobil Ines juga dibawa keluar oleh teman Seger.
Kabar tentang tertusuknya Ines juga membuat Imam kaget. Tapi ia tahu dimana Seger sering nongkrong dengan teman-temannya. Bersama Rikas dan teman-temannya di kampus, juga Galih yang dimintai tolong, malam itu mereka memburu Seger di tempat-tempat dimana Seger dan teman-temannya sering nongkrong.
Imam menemui sahabat dekatnya, yang kenal baik dengan Seger.
“Tadi kami bersama, baru saja. Tapi karena aku ada perlu, jadi ya mereka ku tinggal. Memang ada apa dengan Seger?” Tanya teman Imam itu.
“Ia hampir membunuh Ines. Rio! Jika kau tidak ingin terseret, lebih baik kau beritahu dimana Seger?!”
“Tadi ia menawarkan mobil. Coba kau ke rumah Caca! Biasanya mereka suka ngumpul disana. Caca kan tinggal sendiri.”
“Dimana itu?”
“Dekat pusat belanja..”
“Kamu ada alamatnya?” Desak Imam. Rio terpaksa memberikan alamatnya sebab ia tidak mau terseret arus.
Malam itu, tiga mobil memburu ke arah pusat belanja kota. Ke alamat yang diberi Rio. Satu mobil polisi yang menyamar, dua mobil berisi Rikas dan sahabat dekatnya. Termasuk Galih dan Izham.
Baru sekitar subuh, mereka berhasil menangkap Seger yang tertangkap tangan sedang menjual mobil Ines. Dan merekapun mabuk-mabukkan di tempat Caca, teman Seger yang disebutkan Rio. Bersama Seger, ditangkap pula Caca dan beberapa temannya yang lain.
***
Air mata Ines tidak bisa dibendung, kandungannya teraborsi. Karena rahim dan kandungannya terluka parah akibat tusukan. Ines menjalani operasi dan nyawanya selamat. Namun ia harus kehilangan kandungannya dan membuat Ines cukup terguncang.
“Ines..!” Panggil Mamanya menangis.
“Mama..!” Ines pun tak kuasa menahan air mata. Sang Mama memeluknya setelah tiga hari tidak sadarkan diri. Kini Ines sadar bahwa harapannya telah hancur. Cintanya hanya sebatas impian yang menyakitkan. Impian yang nyaris menghancurkan hidupnya.
***
Malam keempat, Imam datang menjenguk bersama Rikas, Galih dan Lana. Mereka menatap Ines dengan sedih. Ines pun sempat kaget melihat Galih dan Lana, mengingat cerita Seger yang pernah terluka oleh mereka. Dan akhirnya Ines tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah Lana menceritakan semua.
“Sejak lama kami tahu, Seger bukan lelaki yang tepat untukmu. Tapi Rikas tahu, kau begitu mencintai Seger. Sehingga Rikas meminta kami untuk membiarkanmu terus malanjutkan hubunganmu dengan Seger. Tapi sebenarnya kami sadar, kau sudah terlalu jauh terjerumus. Kami ingin menolong, tapi kau seperti tidak mengindahkan nasehat Rikas dan Mamamu.” Tukas Imam.
“Aku berada di sebuah persimpangan yang membingungkan Mas Imam. Aku juga seperti sedang mengunyah buah simalakama. Dilepas, aku kehilangan Seger. Tapi tidak dilepas, aku kehilangan keluargaku.” Ucap Ines terisak.
“Tapi Seger tetap bukan jodohmu Ines. Ia tetap bukan lelaki yang tepat untukmu, juga untuk anak-anakmu kelak.”
“Ya, Ines sadar..”
“Ia kini ada di penjara..” Ungkap Imam.
“Aku tahu. Aku sendiri yang akan menuntutnya. Maafkan aku Mas Rikas..” kata Ines terisak.
“Sudahlah! Kamu istirahat saja! Supaya cepat sembuh. Jangan memikirkan Seger lagi! Ia tidak pantas mendapatkan hati dan cintamu..” Tandas Rikas.
“Maafkan aku…”
“Kelak kamu kan menemukan jodoh kamu Ines, kalau kamu berani meninggalkan Seger!” Imbuh Lana.
“Seperti Lana!” Ucap Imam dan Rikas bersamaan. Lana tersipu, sementara Galih hanya menggaruk rambutnya yang tak gatal. Merekapun tertawa.
Ines berhambur ke pelukan kakaknya yang sangat menyayanginya. Ia tahu, sebetulnya kakaknya itu sangat ingin menghajar Seger. Tapi demi menjaga perasaan Ines, Rikas tidak mau melakukannya.
***
Dua bulan kemudian, di sebuah sel tahanan, Ines menjenguk Seger sendirian. Bukan karena kangen, tapi karena kini ia harus mengambil keputusan tegas. Seger tidak pantas mendapat cintanya.
Di dalam sel, Seger menangis, menyesali perbuatannya. Namun Ines sama sekali tidak peduli dengan itu. Kalau ia tidak menahan diri, ia bisa saja meludahi wajah Seger.
“Kau bukan manusia Seger! Kau adalah hewan yang sanggup membunuh calon istrimu sendiri. Semoga Tuhan memasukkanmu ke neraka!” Ketus Ines.
“Maafkan aku Ines..!” Ucap Seger berderai air mata.
“Sebelum kau minta maaf padaku, minta maaflah pada calon anak kita yang sudah kau bunuh. Tapi perlu kau tahu satu hal, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Bahkan kau tidak pantas mendapat apapun dariku. Hubungan kita bukan hanya putus disini saja, tapi aku berharap pengadilan menghukummu seberat mungkin. Kalau perlu hukuman mati!” Ines kemudian meninggallkan Seger yang hanya menunduk meratapi nasibnya. Ia tidak perduli dengan apapun yang diucapkan Seger. Hatinya hancur. Ia melangkah meninggalkan sel penjara itu dengan mata berlinang.
Di pelataran parkir, Imam merangkulnya menyambutnya dengan sedih dan prihatin. Tampak Rikas yang mengusap rambut sang adik dengan iba. Disana juga ada Galih dan Lana yang menyambutnya. Tak mau terlalu meratapi nasib, Ines mencoba untuk tersenyum walau sulit.
“Loh, kok Mas Galih dan Mas Lana disini? Katanya mau ke Santorini liburan?” Tanyanya terlihat ceria.
“Kami berangkat nanti sore.” Ungkap Galih.
“Aku ingin menyambut teman seperjuanganku dan Imam, korbannya si Seger.. hehe..” Ucap Lana bercanda, dan mereka semuapun tertawa. Akhir yang mereka harapkan agar dapat terselesaikan dengan indah.
~ TAMAT.

Jealous Part 14


By. Kim Hye So

Kunjungan pertama ke rumah mewah itu benar-benar membuat Galih berdebar-debar. Ia dengan membawa mobil barunya datang dengan segenap keberanian dan rasa percaya diri.

Namun ia sungguh tidak menduga sama sekali kalau di rumah itu ia akan mendapat sambutan hangat dari keluarga Lana. Sepertinya Lana telah cerita panjang lebar mengenai kerja samanya dengan Galih. Bahkan diluar dugaannya, ia dijamu makan malam dengan keluarganya.

Baru setelah itu, keluarga Lana menghadiri sebuah konser bersama kakak Lana.

“Om tinggal dulu ya nak Galih? Tidak apa-apa kan?” Pamit ayah Lana, tn Soenarto Djojodihardjo.

“Iya Om, tidak apa-apa. Biar saya dan Lana yang jaga rumah..” Kata Galih.

“Ya sudah, kita pergi dulu ya nak Galih! Titip Lana! Dia soalnya radak penakut kalau di rumah sendirian..” Ungkap Mama Lana, Lana pun mendesis pada sang Mama.

“Apaan sih Ma? Nggak usah didengerin Mas! Mama ini ngada-ada aja kok..” Lana membela diri.

“Iddiiih, sejak kapan adik Mas ini jadi pemberani? Kemaren aja waktu mau ditinggal keluar kota ngrengek, Mas nggak boleh ikut! Suruh nemenin kamu! Hayo, lupa ya?” kakak Lana ikut nimbrung menggoda Lana.

“Iiiihhhss, Mas Arsyl nggak usah ikut-ikut!” Teriak Lana pada sang kakak yang bernama Arsyl Djojodihardjo.

“Sudah-sudah! Ayo kita berangkat! Keburu malam…” Ujar Papa.

“Titip adik Mas yang cerewet ini ya Galih!” ucap kakak Lana yang tidak bosan-bosannya menggoda sang adik sambil mencubiti pipi sang adik. Lanapun hanya bisa menggembungkan pipi.

“Iya Mas, tidak usah khawatir. Pasti Galih jaga baik-baik.” Kata Galih sembari menahan tawa. Ia merasa lucu. Ternyata kekasihnya yang ia kenal cukup pendiam di kampus, rupanya bisa manja juga pada keluarganya.

Tinggal mereka berdua saja yang tinggal di rumah tidak ada yang berani mengganggu tentunya. Karena satpam diminta menutup pagar, menunggu keluarga Lana pulang dari menonton konser. Mereka duduk disofa sambil saling memandang satu sama lain.

“Bagaimana kesan Mas dengan keluargaku?” Tanya Lana serius

“Sebuah kejutan untukku.”

“Benarkah?”

“Mereka seperti mengenal Mas dengan baik, seakan mereka sudah mengetahui semuanya.”

“Ya, bahkan mereka setuju dengan hubungan kita.” Galih tersentak dibuatnya.

“A..apa?”

“Bahkan mereka sudah membicarakan pernikahan kita dengan orang tua Mas..”

“Orang tuaku?” Galih dibuat terkejut lagi. Kapan itu terjadi? Orang tuanya tidak mengatakan apapun piker Galih.

“Iya, orang tua Mas juga setuju. Mereka berencana mau menikahkan kita di Inggris. Apalagi kakakku. Dia yang paling bersemangat. Sampai mau menghadiahi paket honeymoon segala… hahahaha….” Ungkap Lana sambil tertawa. Galih masih shock. Tidak menyangka dengan semua ini. Antara senang, gugup bingung semua rasa itu bercampur menjadi satu. Melihat ekspresi Galih yang masih terlihat kaku, Lana pun mendekatkan tubuhnya.

“Kok diem? Mas masih mencintaiku kan?” Tanya Lana.

“Ya sayang, Mas datang karena cinta. Mas hanya terkejut saja, tidak menyangka. Hal seindah ini bisa dianugerahkan pada Mas. Betapa sangat baik sekali Tuhan..” Ucap Galih tersenyum.

“Syukurlah. Aku bahagia mendengarnya.”

“Jangan khawatir! Mas akan sabar menunggu kamu sampai kamu lulus kuliah. Mas yakin, kamu bisa menyelesaikan kuliah kamu dengan baik.”

“Mas betah? Mas kuat?”

“Iya. Tapi bukan berarti Mas tidak boleh mencium kamu kan?”

“Menjamah yang lain juga boleh. Yang penting hati-hati! Jangan sampai aku hamil sebelum menikah.. hahaha…” Tukas Lana bercanda.

“Mas bukan lelaki serakah. Mas mencintai kamu sayang, dan cinta Mas tulus karena kekaguman Mas kepada kamu.”

“Benarkah?”

“Ya, Mas akan bersabar. Mas akan menunggumu sampai kamu lulus.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Selain itu, apa Om dan Tante tahu usaha kita berdua?” Tanya Galih penasaran.

“Iya, mereka tahu. Tapi yang aku gunakan uang simpananku sendiri. Papa, Mama dan Masku siap meminjamkan modal jika usaha kita mau dibesarkan.”

“Benarkah?”

“Iya, mereka sudah mentransfer sebagian uang. Tapi modal pinjaman itu belum aku butuhkan. Nanti saja kalau kita sudah lulus, wisuda, kita usaha yang lebih besar, baru aku akan mempergunakan modal itu. Aku hanya menerimanya saja, tapi belum mau untuk menggunakannya.” Tandas Lana.

“Jangan tergesa-gesa sayang! Nanti saja langkah awal kita ini kita pastikan dulu! Sambil melihat teman-teman kita matang.” Imbuh Galih.

“Iya, aku juga berpikir demikian Mas. Tapi, ku lihat Irma sudah matang. Tinggal Mas Izham.”

“Sebetulnya Izham sudah cukup matang. Hanya dia masih sibuk mempersiapkan ujian. Tapi ia cukup professional kok. Ia setiap hari membawa pembeli dan penjual mobil. Walau hanya satu orang. Mungkin karena ia merasa digaji.”

“Iya aku tahu…”

“Mas punya usul…!”

“Apa?”

“Amel dan Devi, si kembar ini cukup jujur dan baik. Bagaimana jika kita beri mereka kesempatan untuk kuliah? Jam kerjanya kita kurangi dua jam agar bisa kuliah malam.”

“Tapi mereka kan nggak punya transport Mas…”

“Kita bisa membelikan mereka motor. Biar mereka juga memiliki masa depan yang baik. Bukankah tenaganya juga kita butuhkan empat tahun mendatang?”

“Iya. Tapi kita harus ingat, mereka bekerja untuk keluarganya, bukan untuk diri mereka sendiri.”

“Justru itu. Bukankah kalau sore sudah ada kita, Irma dan Izham?”

“Baiklah, terserah Mas saja. Kalau begitu, satpam juga diberi kesempatan maju sekalian. Bukankah mereka belum ada yang menikah?”

“Iya. Pada saatnya nanti, mereka memang harus masuk sebagai staff kantor.”

“Bagaimana dengan sift mereka?”

“Ada enam orang, ita bagi menjadi tiga sift biar semua bisa kuliah. Jika program ini jalan, kita akan memiliki orang-orang yang loyal kelak.”

“Setuju…”

“Jadi hanya berlaku untuk mereka saja?”
“Itu cukup. Sebab toh kebutuhan untuk mereka sebenarnya empat tahun. Untuk sales, kita bisa rangkap ketika Amel dan Devi kuliah setengah tiga.”

“Okay, Mas setuju saja..”

Mereka terdiam. Namun Galih tidak mau terlena membicarakan pekerjaan yang tak pernah selesai. Bagaimanapun memang menyenangkan kalau mereka sudah membicarakan masa depan usaha mereka. Namun ada tujuan lain Galih datang yakni memastikan agar hati Lana tidak goyah. Calon Presdir itu memang harus ia miliki. Bukan saja untuk memuluskan usahanya semata, akan tetapi ia memang jatuh cinta berat pada pemuda tampan yang tiba-tiba punya perhatian lebih pada keluarganya itu.

Jemari tangan itu segera menggenggam jemari lentik Lana. Mengangkat dan menciumnya mesra.

“Saayaang…!”

“Mas Galih…”

“Mas cinta kamu. Bukan karena kamu bos, tetapi karena prribadimu yang membuat Mas mencintai kamu sepenuh hati.” Lana tersenyum.

“Iya Mas. Lana sudah mendengar suara hati Mas. Mas bersumpah dalam hati saja. Yang penting, asal Mas tahu, Mama, Papa dan kakak sudah setuju hubungan kita. Mereka sudah menyiapkan modal untuk kita mengembangkan usaha yang baru. Ada showroom yang akan kita dapatkan dari Mas Arsyl kalau Mas sudah wisuda nanti.”

“Mas berhutang budi banyak pada kamu sayaaang. Tanpa kamu, Mas belum bisa melihat masa depan Mas…” Kata Galih terharu. Ia kemudian merengkuh Lana dalam peluknya. Dan mengangkat dagu pemuda lugu yang telah memberi gambaran masa depan yang jelas. Ia sungguh tidak menyangka kalau usahanya dipantau dengan baik oleh keluarga Lana.

~BERSAMBUNG.

Jealous Part 13


By: Kim Hye So

Sebuah mobil berhenti di sebuah showroom yang baru dibuka dua hari yang lalu. Izham masuk dengan senyum yang lebar. Tampak di belakang meja di sebuah ruangan, Galih masih tekun mempersiapkan ujian sambil mengawasi penjualan mobilnya.

“Mas Bram!” Sapa sekretaris umum yang menangani penjualan mobil. Sementara dua pramuniaga cantik berseragam bersantai di antara beberapa mobil bekas yang masih bagus kondisinya.

“Selamat pagi Irma!”

“Pagi Mas…!”

“Mas Galih ada?”

“Ada Mas, di dalam..”

“Bagaimana penjualan Irma?”

“Tadi ada dua mobil keluar Mas..” Ungkap Irma senang.

“Kredit?”

“Cash Mas..” Imbuhnya.

“Beitu ya?”

“Iya. Agak ramai Mas…”

“Syukurlah…” Izham menempati posisi Marketting Manager. Ia baru saja mendapat sebuah mobil bagus milik teman mahasiswanya yang ingin dijualkan. Ia langsung membawa ke kantor barunya dan menemui Galih.

Izham langsung menuju ruangan Galih, sementara ia melirik ruangan kerja Lana yang masih terkunci. Lana memang kuliah dulu kalau pagi. Sementara Izham dan Galih tinggal menunggu ujian. Pada saat ujian, Lana libur. Dan ia telah meminta tolong Yanto yang ada di bengkel untuk mengawasi penjualan bersama Lana.

Sementara di depan ada dua satpam yang santai dan terus mengamati para pembeli. Mereka tentu tidak ingin kehilangan pekerjaan jika ada sesuatu yang ada di luar pengawasannya terjadi.

“Oh, hay Zham…!”

“Aku bawa mobil yang mau dijual Galih..”

“Apa?”

“T*y*ta Yarizz…”

“Bagus kondisinya?”

“Istimewa…”

“Kau sudah lihat mesinnya?”

“Sudah! Tuh aku bawa. Lihat saja sendiri! Boleh kau coba dan kau bawa ke ayahmu!”

“Minta berapa?”

“Coba saja dulu! Kalau tertarik, aku bisa langsung menelpon pemiliknya. Dia sudah memberi batas terendah.”

“Mana kuncinya?”

Izham melempar kuncinya. Galih kemudian melangkah menuju mobil yang Izham jual. Mereka memang begitu. Jika Galih yang dapat mobil, Izham yang meneliti dan menaksir harganya. Begitu juga sebaliknya. Namun soal mesin, mereka selalu meminta ayah Galih yang sudah mengenal mesin dengan baik untuk memberikan persetujuan soal mesin. Dan ayah Galih pun tahu perkiraan harga mobil bekas jenis apapun.

Setelah beberapa saat lamanya memeriksakan mesin di bengkel sang ayah, Galih kemudian kembali ke showroom miliknya. Kondisinya prima.

Setelah harga dibicarakan dengan baik. Kemudian Galih menjatuhkan harga penawaran. Izham kemudian menelpon temannya, apakah harga itu disetujui atau tidak.

“Tidak bisa ditambah?” Suara yang di ujung sana.

“Wah, itu sudah sangat tinggi. Aku sudah meyakinkan Bos agar mau membelinya. Itupun harga terbaik. Jika setuju, uangnya bisa kau ambil sekarang.”

“Bagaimana dengan komisimu Zham?” Tanya yang ditelpon.

“Ahh terserah kau saja. Itu hanya uang bensin saja. Jangan banyak-banyak! Santai saja!”

“Tiga juta?” Tawar yang ditelpon.

“Terserah kau saja…”

“Okay, aku setuju. Aku kesana sekarang.”

“Suratnya itu asli kan?”

“Sebagai pembeli, Bosmu pasti tahu kalau surat-surat itu asli.”

“Iya, aku percaya. Lagipula aku tahhu alamatmu, mana berani kau menipuku? Hahaha” Canda Izham

“Hahaha, aku pastikan surat-surat itu asli” Imbuh yang ditelpon tertawa.

“Sip. Datang ke alamat yang aku sebutkan ya! Aku menunggu disini. Oh iya, kau jadi cari mobil?”

“Iya, yang murah tapi bagus. Soalnya sisa uangnya mau aku gunakan untuk bayar kuliah dan bayar apartement..”

“Kau mau cari apa?”

“Kijang ada? Yang dibawah seratus tapi kondisinya bagus?”

“Ada dua. Cat nya orisinil full variasi. Datang saja! Nanti pilih sendiri! Dijamin mesinnya orisinil.”

“Okay, sekalian aku kesana.”

Begitulah kerja Izham dan Galih. Mereka melibatkan teman di kampus dan apa saja yang mereka lihat di jalanan. Tapi mereka suka mobil dari tangan pertama.

Setelah telpon ditutup Izham bersiul, wajahnya sangat berseri. Galih menatap sahabatnya.

“Kau tampak senang sekali…?”

“Ahh, biasalah..”

“Setuju?”

“Ya, dia mau ambil kijangnya kalau tidak salah. Tapi dia mau lihat kondisinya dulu.”

“Wadaww, dapat uang banyak dong lu…”

“Enggaklah. Masak sama teman sendiri harus ngambil komisi yang banyak. Terserah dia saja.”

“Berapa?”

“Lumayan, bisa jadi tambahan menabung. Nanti aku trakir kau makan.”

Galih tersenyum. Ia tidak bicara apa-apa. Kemudian menyerahkan surat-surat itu kepada Irma untuk diproses penjualannya. Mobil segera dibawa ke belakang untuk dicuci oleh dua orang cleaning services di belakang showroom itu. Galih mengeluarkan uang dari brangkas dan memberikannya pada Irma.

Sementara setelah Vicko, pemilik mobil itu datang, dan menandatangani penjualan mobil, mereka melihat kondisi kijang setelah menerima uangnya. Ia menyelipkan tiga juta ke kantong Izham. Dan pemuda itu enjoy saja memperlihatkan mobil kijang yang didapatkan tiga hari lalu.

Sementara mereka sibuk, Galih meneruskan belajarnya. Masalah penjualan sepenuhnya diserahkan pada Izham dan Irma serta dua pramuniaga cantik Amel dan Devi. Siang harinya Izham kembali ke kampus. Sementara sekitar jam dua, Lana datang.

Lana senang menerima laporan Irma mengenai penjualan dan pembelian mobil hari itu. Ia percaya, di tangan Galih dan Izham semuanya akan berjalan dengan lancar. Satu bulan lagi mereka akan selesai kuliah, ujian dan konsentrasi penuh pada pekerjaan.

“Mas Galih…!” Panggil Lana.

“Sudah makan?” Tanya Galih

“Belum..”

“Ayo ke lantai atas! Kita makan dulu! Yang lain bagaimana?”

“Mereka sudah mengambil uang makan, pasti sudah pada makan.” Ujar Lana.

“Mas nunggu aku?” Imbuh Lana.

“Iya..” Jawab Galih.

“Lain kali kalau Mas lapar, Mas makan duluan saja! Aku makan sendiri juga tidak apa-apa. Jangan biarkan perut Mas lapar! Orang kalau lapar nggak bisa mikir Mas..” Ujar Lana berkelakar.

Galih tersenyum.

“Mas sedang belajar menjadi suami yang sabar. Masak istri belum makan, aku sudah makan sendiri. Kan nggak enak, nggak romantis sayang…” Lana tersipu. Kemudian ia menggerutu.

“Iiihh, ngomong apa sih? Nggak jelas..” Galih tersenyum dibuatnya. Keduanya naik ke lantai atas. Disana ada beberapa kamar yang biasa dipakai Galih dan Izham. Sementara Galih dan Lana makan, di bawah Irma juga sudah makan dengan Amel dan Devi beserta dua satpam. Mereka makan nasi bungkus yang telah dipesan satpam.

Mata Galih tak henti-hentinya menatap mesra Lana, sehingga membuat Lana merasa aneh sendiri. Karena dulu ia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini dari Seger.

“Mas Galih…!”

“Ya?”

“Kenapa menatapku seperti itu?”

“Kamu semakin tampan sayang…” Pujinya.

“Iiiissh, tidak usah menggombal!”

“Tidak, siapa yang menggombal? Mas berkata yang sebenarnya kok.” Ucap Galih tak henti tersenyum melihat rona merah pada pipi sang kekasih.

“Aiiihh, gombal banget itu mah…!”

“Sungguh!”

“Mas serius mencintaiku?”

“Iyalah…”

“Kalau begitu, sabtu besok berani tidak datang ke rumahku?”

“Bersaing dengan Seger?”

“Jangan pernaah menyebut namanya lagi! Sekarang yang aku cinta hanya Mas..!”

“Benarkah?” Ucap Galih menggoda Lana.

“Iya…” Tiba-tiba Galih mulai mendekatkan duduknya dengan Lana. Kemudian perlahan-lahan dia mulai mendekatkan wajahnya. Begitu kurang 1 cm bibirnya akan menempel pada bibir Lana, bibirnya sudah terlebih dulu tertutupi telapak tangan Lana.

“Mas…!” Panggil Lana pelan ragu-ragu.

“Mas serius. Mas sayang sama kamu dek..” Dengan hati berdebar-debar, Lana bisa merasakan bibir Galih menempel pada bibirnya tepat saat ia memejamkan mata. Galih sangat romantis, bagaimana ia bisa menolak pemuda yang sudah membalut luka hatinya itu? Ciuman itu begitu lembut dan penuh cinta yang belum pernah Lana terima sebelumnya dari Seger. Lana membuka mata bersamaan saat Galih melepas ciumannya. Keduanya tersenyum dan saling berpelukan, menyalurkan hasrat cinta yang menggelora diantara keduanya.


~ BERSAMBUNG

JEALOUS Part 12


By. Kim Hye So

Pengakuan Ines yang gamblang bahwa hubungannya dengan Seger amat serius dan telah beberapa kali telah melakukan hubungan intim membuat Rikas, sang kakak terhenyak. Membuat sang Mama kaget dan pucat. Bahkan Mamanya begitu emosi sampai menampar Ines.

“Plakk..!” dan itu adalah tamparan terkeras dari sang Mama.

Untung Rikas menahan Mamanya agar tidak jadi emosional. Sehingga sang Mama dengan mata berlinang meninggalkan Ines masuk ke kamarnya.

“Kau telah melukai hati Mama..”

“Tapi kami saling mencintai..”

“Cinta tidak harus mengobankan dirimu sampai seperti itu. Kau belum banyak mengenal lelaki. Kau lihat kakakmu ini! Aku menjaga Imam tetap bersih dan tidak tersentuh. Kami pacaran tapi biasa saja. Kami tidak pernah mencoba untuk tidur bersama, memikirkannya pun tidak pernah sekalipun. Karena kami tahu tujuan kami adalah rumah tangga walau kami sama-sama laki-laki. Jadi buat apa saling merusak?” Jelas Rikas.

“Tapi Mas…”

“Kau pernah melakukannya. Itu tandanya imanmu masih rapuh.”

“Aku..” Lidah Ines terasa sangat kelu.

“Kau belum matang dan dewasa Ines. Gadis sepertimu akan mudah hancur, dan aku tidak yakin jika Seger mau bertanggung jawab jika ada sesuatu yang akan terjadi. Biar aku menemui Seger…”

“Jangan Mas! Nanti malah tidak enak suasananya. Biarkan saja! Mulai besok aku akan berhati-hati.”

“Sebetulnya tugasku untuk melindungimu Ines. Tapi karena kau sangat mencintai Seger untuk sementara aku akan diam. Tapi sebaiknya kau minta maaf pada Mama. Atau Mama akan lebih dahulu mengatakan hal ini pada Papa. Kalau sudah sampai pada Papa, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantumu.”

“Tolong Mas! Jangan sampai Papa tahu!” Pinta Ines.

“Papa pasti akan tahu pelan-pelan. Tapi jika kau tidak ada masalah, sebaiknya kau hentikan pergaulan bebasmu itu. Bercintalah secara sehat, bukankah kuliahmu masih lama?”

“Iya Mas, aku mengaku salah.”

“Kau mengecewakan Mas Ines!”

“Maafkan Ines Mas! Tapi aku memang sangat mencintai Seger. Kalau Mas bertemu dengannya, aku takut nanti kalian bertengkar. Dan Seger akan sungguh-sungguh meninggalkan aku.”

“Itulah kelemahanmu. Kau bukan hanya menjadi bulan-bulanan Seger, tetapi posisimu sudah sangat lemah.”

“Aku sudah siap menanggung semua yang sudah aku perbuat ini mas.”

“Benarkah?” Rikas menatap tak percaya.

“Iya mas…”

“Jadi kalau sampai terjadi sesuatu pada dirimu, aku tidak ikut menanggung? Mama tidak ikut? Begitu juga Papa?” Tanya Rikas dengan nada yang mulai meninggi.

“Aku tidak tahu..”

“Kamu benar-benar bodoh Ines! Kamu masih terlalu kecil unuk mengenal lelaki. Kini kau mempersulit dirimu sendiri, mempersulit langkahmu, mempersulit masa depanmu. Kau pasti akan banyak bergantung pada Seger. Dan dengan mudah Seger akan mempermainkanmu.”

“Semoga saja Seger tidak berpikir seperti itu. Dia sangat mencintaiku, itulah yang ku rasa.” Tandas Ines.

“Nonsense. Seorang laki-laki yan mencintai kekasihnya tak akan mau merusak masa depan kekasihnya.”

“Ini salahku juga Mas..”

“Terserah kau saja! Jangan pernah mengeluh jika nanti menghadapi persoalan yang lebih sulit dan terlalu pelik untuk kau pecahkan.” Rikas pun beranjak.

“Mas mau kemana?”

“Aku mau keluar. Dan kau tetaplah di rumah! Jangan keluar lagi! Lebih baik kau minta maaf pada Mama! Dan kuliah lah dengan benar, jangan membolos lagi! Sebagai kakak, aku juga tidak rela jika kuliahmu harus hancur gara-gara ketidak seriusanmu.”

“Iya Mas. Maafkana aku..” Dengan wajah menunduk sedih, Rikas meninggalkan sang adik. Dibawanya mobil miliknya untuk keluar dari rumah. Pikirannya kacau saat ini. Ia iba, ia kasihan pada adiknya yang sangat lugu itu. Bahkan sampai saat ini Ines tidak menyadari kalau ia sudah menjadi korban cinta lelaki. Rikas geram dan kesal dengan gaya pacaran Seger. Ia marah. Namun untuk sementara, ia masih bisa menahan amarahnya. Ia tidak mau mempersulit posisi adiknya.

Sementara itu Ines masuk ke kamar Mamanya. Wanita yang masih memiliki gurat kecantikan itu masih berdiri di dekat jendela. Ia lah yang paling terpukul dengan pengakuan polos Ines yang sudah menyerahkan tubuhnya kepada sang pacar. Bahkan dengan polos pula Ines mengakui bahwa ia sudah beberapa kali berhubungan intim dengan Seger.

Lalu siapa yang salah? Sebagai seorang Mama, ia merasa sangat bersalah. Apa yang harus dikatakannya pada sang suami? Apa yang harus diceritakannya?

“Ma…!” Panggil Ines pelan

“Ines?”

“Maafkan aku Ma..!”

“Semua sudah terjadi Ines…”

“Maafkan aku sudah mengecewakan Mama.!”

“Masalahnya bukan itu Ines. Masa depanmu masih panjang, tak bisakah kau berpacaran dengan sehat seperti kakakmu? Kakakmu saja yang tidak normal bisa, kenapa kamu tidak? Kakakmu mampu bertahan dengan baik selama dua tahun lebih. Bahkan sampai mereka mau wisuda.”

“Iya Ma. Aku mengaku salah. Aku kurang pengalaman. Tapi Mama berkata seperti ini bukan karena tidak setuju aku berpacaran dengan Seger kan?”

“Siapapun pacarmu, sebetulnya itu tidak masalah buat Mama. Mama hanya kecewa dengan cara berpacaranmu. Selain menodai harga dirimu sebagai seorang wanita terhormat, kau juga sudah menorehkan luka di jalanmu sendiri. Kau telah mempersulit jalan masa depanmu sendiri. Seharusnya seorang pacar itu sebagai pendorong semangat belajar, bukan perusak seperti ini.” Ucap sang Mama geram.

“Aku tahu Ma. Maaf Ma, aku yang salah..”

“Hentikan pergaulan bebasmu Ines! Jika tidak, maka Papa akan mengetahui semua ini.”

“Jangan Ma! Tolong! Jangan sampai Papa tahu semua ini!” Pinta Ines.

“Kalau misal tidak terjadi apa-apa, Mama masih bisa merahasiakannya. Tapi bagaimana kalau kamu hamil? Papa dan Mama mau tak mau tetap terlibat bukan? Mau tak mau, Papa dan Mama juga ikut susah. Bukankah kamu belum siap berumah tangga? Bukankah Seger belum siap menanggung beban hidupmu? Kamu tahu artinya menikah? Itu berarti secara dewasa kamu akan hidup mandiri, lepas dari Mama dan Papa. Sudah siap kamu?”

“Kalau memang itu adalah resiko yang harus Ines ambil, mau bagaimana lagi Ma? Ines harus menghadapinya.”

“Ya, memang nanti pada akhirnya kau harus menanggungnya. Tapi apa kamu siap?”

“Ya. Nanti kuliah sambil kerja. Bagaimanapun yang penting Mas Seger bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Aku akan siap menghadapi kesulitan bersamanya..”

“Ajak dia kemari! Mama mau bicara dengannya..”

“Jangan sekarang Ma! Ines mohon! Jangan sekarang! Jangan desak Mas Seger! Ines takut nanti dia malah meninggalkan Ines. Biarkan semua berjalan seperti biasa dulu! Nanti biar Ines yang bicara pada Mas Seger..”

“Tapi kendalikan dirimu Ines! Mama tidak suka caramu bergaul. Tubuhmu ini berharga. Jangan dengan murah kau berikan kepada lelaki! Kecuali jika dia sudah melamarmu dan mau menikahimu!”

“Iya Ma…”

“Mama benar-benar kecewa padamu…!”

“Maafkan Ines Ma…!”

“Sudahlah! Mulai sekarang laporkan dengan jujur kemana kamu pergi! Kuliahmu jangan ditinggal-tinggal lagi! Dan jaga pergaulanmu! Jangan sebebas sebelumnya!” Nasehat sang Mama.

“Iya Ma..” Ines tidak membantah. Ia tahu, situasinya sudah buruk. Ia tidak mau memperburuk lagi. Biar sang Mama menumpahkan kekecewaannya karena iapun keterlaluan. Ia sendiri juga tidak yakin apakah Seger benar-benar mencintainya atau tidak.

***

Hujan gerimis ketika Rikas sampai di rumah Imam. Ia memasukkan mobil berwarna hitam metalik miliknya ke halaman rumah Imam. Imam menyambutnya degan senyum cerah. Siapa yang tidak senang kekasihnya datang?

“Wajahmu kusut sekali Mas…?” Tanyanya.

“Pinjam handuknya!”

“Kuambilkan. Mau masuk sekalian?”

“Tidak. Kita ngobrol di teras saja. Pinjam sisirnya sekalian.”

“Sebentar ya! Mau minum kopi? Susu? Teh?” Imam masih dengan lincah menwarkan minum pada sang kekasih.

“Terserah kamu saja…”

“Sebentar ya…”

Dengan lesu Rikas duduk dan menghempaskan pantat(?)nya di sofa empuk yang ada di teras. Persoalan adiknya memang membuatnya lesu, ia sangat kecewa. Meski begitu, ia tidak mau memarahi Ines, sebab Ines adalah adik satu-satunya. Nanti Ines akan semakin menderita pikirnya. Ia takut nanti Ines malah akan lari ketakutan, dan membawa masalahnya pada orang lain.

Hujan turun semakin deras. Udarapun semakin dingin menyentuh kulit, sesekali terlihat kilat melejit. Langit yang suram terlihat putih, terang benderang. Meski hanya sesaat saja.

Beberapa kali pemuda itu menghempaskan nafasnya. Ia geram setiap kali terbayang wajah Seger yang sudah merusak masa depan adiknya. Ia masih berharap kalau lelaki itu mau bertanggung jawab atas masa depan adiknya. Kalau tidak, mungkin ia akan mengajak teman-temannya untuk membuat Seger babak belur.


- Bersambung

JEALOUS Part 11


By: Kim Hye So.

Sore itu, Rikas menunggu sang adik yang sejak kuliah tadi belum pulang. Sebab seharian mencari di kampus, ia tidak menemukan Ines. Ada rasa cemas, setahunya Ines sudah keluar kampus dan tidak ikut kuliah.

Tidak ada yang tahu kemana Ines dan Seger pergi. Namun berdasarkan keterangan teman-teman Ines, mereka sering bolos kuliah. Seakan yang dicemaskan Imam dan Galih menjadi nyata. Mereka tidak menilai bagaimana Ines jatuh cinta, namun mereka tahu karakter lelaki yang mengajaknya berkencan.

“Kau terlihat gelisah sekali Rikas, ada apa?” Mamanya yang sore itu berada di rumah menyapanya. Tidak biasanya Rikas begitu gelisah.

“Mama tidak cemas dengan Ines?” Tanya Rikas.

“Tadi dia menelpon, pulang agak sorean sebab ada tugas kelompok yang harus dia kerjakan bersama teman-temannya.”

“Itu bohong Ma!”

“Bohong bagaimana?”

“Ines berbohong pada Mama.”

“Iya, kenapa ia berbohong?”

“Ines bolos kuliah beberapa hari. Teman-temanku mencemaskan Ines.”

“Bolos?” Ucap Mama terkejut.

“Iya, sudah beberapa kali ia bolos dan keluar bersama pacarnya. Bukan keluarnya yang dicemaskan teman-temanku, tapi karena lelaki yang mengajaknya ini mempunyai sisi buruk. Ines jatuh cinta pada laki-laki yang salah. Kalau saja teman-temanku tidak tahu siapa lelaki itu, mungkin mereka tidak akan cemas. Dan menganggap pacaran Ines biasa saja dan sama seperti gaya pacaran siapa saja. Tapi lelaki itu penakluk gadis dan pria di kampus. Dia bisex Ma. Teman-teman takut Ines yang lugu akan dibawa ke dalam pergaulan sex bebas.”

“Apa?” Mama terkejut bukan main. Tiba-tiba tengkuknya terasa sakit.

”Iya Ma, serius. Ines belum bisa berpacaran sehat, seperti aku dan Imam. Yah walaupun hubungan kami ini tidak normal yang pentingkan sehat. Bagaimana menjaga pacaran agar tetap selamat sampai tujuan Ines belum tahu. Rikas takut Ma..”

“Mama tidak tahu masalah itu Rikas…”

“Mungkin sudah satu bulan ini mereka berpacaran. Coba Mama Tanya pembantu, pernah tidak Ines membawanya ke rumah?”

“Hadduh, Ines kan belum pernah jatuh cinta ya?” Mama mulai khawatir

“Itulah Ma. Aku takut keluguan dan kepolosan Ines akan dimanfaatkan laki-laki itu. Laki-laki itu sudah dinilai buruk di mata beberapa temanku ma..”

“Adduh, kenapa kamu tidak mengawasi adikmu sih Rikas..!”

“Aku juga baru tadi diberitahu teman-temanku yang mencemaskan Ines.”

“Lalu?”

“Aku langsung saja mencari Ines di kelasnya. Tapi Ines sudah pergi. Tasnya pun juga tidak ada. Ia sudah bolos dua mata kuliahnya hari ini dan hal ini sudah berlangsung beberapa kali.”

“Hadduh, bagaimana ini?”

“Mama juga sih, ditelpon percaya begitu saja pada Ines.”

“Mama kan tidak tahu Rikas..!”

“Coba tanyakan saja! Terutama saat Mama pergi berziarah ke makam eyang dua hari kemarin itu. Sorenya kan aku main band di rumah teman. Siapa tahu saja Ines juga mengajak pacarnya menginap di rumah ini.”

“Memang sudah sejauh itu?”

“Itu yang aku cemaskan Ma. Sebagai kakak, aku sudah berusaha memberi contoh yang baik. Bagaimana memilih pacar dan mempertahankan pacar sampai tujuan kita selesai. Ines kan belum pernah tuh, aku takut jika ia tidak bisa menjaga dirinya.”

“Coba Mama tanyakan Bik Marni dan Bik Ijah, siapa tahu saja mereka tahu sesuatu.” Sang Mama dengan gelisah masuk ke dalam rumah. Mereka menemui dua pembantu di belakang dan menanyakan dengan detail tentang Ines. Akhirnya sang Mama terkejut mendapatkan jawaban yang sungguh di luar dugaan.

Mama keluar lagi dengan wajah yang muram. Ia beberapa kali menarik nafas panjang.

“Bagaimana Ma?” Tanya Rikas.

“Benar Rikas, kita kecolongan…”

“Maksud Mama?”

“Ines pernah membawa pacarnya itu dua kali ke rumah. Mereka pacaran di rumah waktu Mama dan Papa ke luar kota. Mereka pacaran dari siang sampai malam di kamar, tidak keluar sama sekali. Tidak tahu apa yang terjadi. Tapi siapa yang bisa menjamin mereka tidak melakukan apapun?”

“Itu sudah satu bulan lalu kan Ma?”

“Iya…”

“Saat itu Seger Wahyudi baru putus dengan Lana. Pacarnya ketakutan, dan memilih putus cinta dengannya. Ia kemudian mendapatkan Ines. Aku takut Ines tidak tahan godaannya. Justru Imam dulu juga pernah disakitinya. Hanya saja Imam, Lana dan lainnya masih bisa menjaga diri. Tapi Ines? Entah mengapa aku merasa khawatir..”

“Jadi laki-laki itu bernama Seger Wahyudi?” Tanya sang Mama.

“Iya..”

“Kamu mencemaskan Ines karena pacaran dengan lelaki itu?”

“Iya, semisal dengan lelaki yang Rikas kenal berkarakter baik itu tidak masalah, namanya juga anak muda. Tapi masalahnya, dimata banyak teman Rikas, seperti Imam, Lana, Galih juga Izham menilai Seger negative Ma. Bahkan teman-teman mengingatkanku untuk menyelamatkan Ines. Padahal selama ini mereka tenang-tenang saja. Mereka berkomentar justru setelah mereka melihat sendiri betapa lengketnya Ines dengan Seger. Mereka tentu saja berharap tidak terjadi apa-apa pada Ines. Tapi masalahnya, kalau kita terlambat memberi peringatan. Bagaimana kalau Ines hamil?” Ujar Rikas panjag lebar.

“Apa sudah sejauh itu Kas?”

“Justru itu, karena lelaki itu bernilai negative di mata teman-teman Rikas. Mereka mencemaskan Ines, karena Ines adik Rikas Ma..”

“Mama juga tidak setuju kalau mereka pacaran seperti itu Kas..”

“Makanya Ma. Ines hanya melihat aku pacaran dengan Imam. Ia tidak tahu, bagaimana kami menjaga untuk tetap bersih sampai kuliah selesai. Kami berhasil, sebentar lagi kuliah selesai, dan dua tahun pacaran kami bisa menjaga diri. Tapi Ines, kuliahnya masih lama. Masih tiga tahun lebih dia untuk sampai semester akhir…”

Belum lagi selesai ucapan Rikas Rusdiantoro, sebuah mobil memasuki halaman rumah dengan halaman yang cukup luas itu.

Ines keluar dari mobilnya dan heran melihat Mama dan kakaknya menatapnya dengan serius. Ines menjadi salah tingkah sendiri.

“Ma…!” Panggilnya pelan.

“Darimana Ines?” Tanya Mama mulai menginterogasi.

“Dari ngerjain tugas kelompok.”

“Kalau seorang anak sudah berani berbohong, mau jadi apa kelak dia? Kamu tidak takut dosa Ines, sehingga berbohong pada Mama? Kamu darimana? Kamu terlihat seperti habis mandi, iya kan?” Selidik Mama.

“Ahhh, aku dari rumah teman ma..” Jawab Ines ragu.

“Dari rumah teman? Apa kamar teman? Atau dari hotel?” Lanjut Mama agak keras.

“Ma..?” Ines tidak menyangka kalau ia akan diinterogasi begini, dia tidak menyiapkan diri sama sekali. Ines tercekat. Rasa tidak enak mulai menelusupi relung hatinya. Sebab Mamanya jarang sekali berkata seperti itu.

“Ma…!”

“Duduklah Ines! Mama mau bicara…”

“Ada apa sih Ma?”

“Ya tentu saja ada apa-apanya kalau mama sampai bicara seperti ini. Mama sedang sangat serius, dan Mama sudah lama menunggumu. Begitu juga dengan kakakmu.”

“Ines tidak mengerti.”

“Sudah lama kamu pacaran?”

“Ma..?” Ines mulai gugup. Pasti ada sesuatu pikirnya.

“Tidak usah berbohong sama Mama kalau kamu tidak ingin Mama tidak percaya padamu! Jawab dengan jujur! Sudah lama kamu pacaran dengan Seger?” Tanya sang Mama. Mata wanita paruh baya yang tetap menjaga kecantikannya itu menatap dengan tajam. Ines menunduk lesu.

“Jawablah Ines!” Perintah sang kakak.

“Satu bulan…” jawabnya akhirnya.

“Kenapa kamu memilih Seger?” Selidik Rikas.

“Maksud Mas Rikas?”

“Banyak lelaki baik yang tidak membuat gelisah kakak dan Mamamu ini. Tapi ketika aku tahu pacarmu adalah Seger, kami langsung mencemaskanmu.”

“Mencemaskan bagaimana? Bukankah wajar kalau seorang gadis jatuh cinta? Mas Rikas juga punya pacar, laki-laki juga bahkan..”

“Ya. Tapi aku bukan Seger. Aku bisa menjaga Imam dengan baik. Dua tahun kami pacaran, namun kami memiliki tujuan yang sama. Ingin menikah setelah wisuda. Akupun juga menjaga Imam agar tetap bersih dan terhormat.”

“Aku tidak mengerti..” elak Ines.

“Kamu mengerti. Jika kau tahu siapa Seger, siapa lelaki yang kau sebut pacar itu, dan berapa gadis maupun pria yang telah disakitinya? Akupun juga tidak yakin jika kau punya pengalaman yang cukup untuk mempertahankan diri dari rayuan seorang lelaki. Itu yang membuatku resah, dan juga membuat Mama gelisah…”

‘Gadis maupun pria? Jadi Mas Seger..?’ pikir Ines. Selain itu, ucapan Rikas juga tegas, lugas dan jelas. Menusuk pada persoalan, langsung pada pokok sasaran. Membuat Ines terperangah, karena ia tahu kalau kakaknya itu sangat menyayanginya.

Ines menunduk, lama ia termenung. Sehingga ia tersudutkan. Ia tahu, selama ini ia tidak pernah berbohong pada Mamanya. Tiba-tiba Ines menangis, menghambur pada pelukan sang Mama. Rikas tercekat, ia sudah menduga apa yang telah dialami adiknya. Sialan Seger!

JEALOUS Part 10


By; Kim Hye So.
Lengketnya Ines dan Seger sungguh diluar dugaan, dan sangat mesra pula. Mereka terus punya acara kemanapun mereka suka. Itu sudah menjadi rahasia mereka. Pacaran dan menikmati gairah, seperti tidak ada bedanya.
Ada yang kaget dan terus mengamati hubungan mereka. Pria yang cukup berpengalaman ini yakin kalau Ines sangat mencintai Seger. Melihat sinar mata gadis itu yang terus meredup, Ines pasti telah menyerahkan segalanya kepada Seger.
Ia yang memiliki hubungan khusus dengan sang kakak, yakin benar bahwa Seger telah menaklukkan hati Ines, setelah putus cinta dengan Lana.
Imam, pria tampan dengan tubuh yang cukup tinggi itu menemui kekasihnya, yang tak lain adalah kakak Ines sendiri, Rikas.
Saat itu Rikas sedang berdiskusi hangat mengenai persiapan ujiannya yang sudah semakin dekat. Ada Galih disana.
“Rikas..!” Panggil Galih.
“Ya??” Jawab si empunya nama.
“Tuh! Ditunggu tuh!”
“Siapa?”
“Siapa lagi ah.”
“Imam ya?” Tanya Rikas memastikan.
“Ya. Tuh! Di depan pintu!” tunjuk Galih.
Mata Rikas menatap jauh ke pintu, ia melihat Imam melambaikan tangan mengisyarakan bahwa ia sedang memanggilnya. Dua anak muda itu sudah menjalin hubungan cinta dua tahun terakhir. Imam tentu saja sangat mengenal Ines, gadis manja yang masih sangat lugu. Tapi, ditangan Seger, bisakah ia tetap lugu dan terjaga?
Kecemasan Imam membuat Rikas mengerutkan kening.
“Ada apa Mam?”
“Aku mau bicara denganmu.”
“Aku ada diskusi.”
“Sebentar, ini sangat penting.”
“Dimana?”
“Di bangku, dekat balkon itu saja.” Tunjuknya pada sebuah bangku.
Merekapun memutar koridor menuju balkon di belakang ruang kuliah. Mereka duduk di bangku tak jauh dari balkon itu. Yang berhadapan dengan gedung fakultas hukum.
“Ada apa sayang?” Ucap Rikas menggoda.
“Tidak usah bercanda. Ada sesuatu yang gawat…” kata Imam panik.
“Gawat apaan?” Tanya Rikas mulai serius.
“Ines…”
“Ines?” Tanya Rikas tak mengerti.
“Iya, adikmu..”
“Ada apa memangnya?”
“Gawat…”
“Iya, gawat apanya?”
“Sudah tahu belum?” Tanya Imam.
“Apa sih sayang? Aku tidak mengerti maksudmu.” Ucap Rikas bingung.
“Ines jatuh ke pelukan Seger.”
“Seger?”
“Iya…”
“Sejak kapan?” Tanya Rikas.
“Enggak tahu aku, aku mengamatinya sudah satu minggu ini. Aku tidak berani bilang sebelum yakin benar. Tapi mereka sangat mesra. Kamu bisa tanya Galih, bagaimana Seger itu. Kau pasti juga tahu kalau anak semester enam itu sangat sombong sekali. Dan ia juga sudah menyikiti banyak orang, tidak wanita saja bahkan lelakipun sudah menjadi korbannya. Kau tahu kan dia bisex? Dan itu sudah menjadi rahasia umum.” Jelas Imam panjang kali lebar kali tinggi.
“Iya, termasuk kamu.” Goda Rikas
“Dan Lana, serta yang lain..” Jawab Imam tak menghiraukan godaan kekasihnya itu.
“Tapi dulu, kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Rikas memastikan.
“Benar. Aku dan Lana mungkin biasa saja, kami tidak dirugikan apapun. Tapi Ines,?” Ucap Imam khawatir.
“Kenapa memangnya?”
“Dia lengket sekali dengan Seger, sangat mesraa..”
“Kau cemburu?” Tanya Rikas menelisik.
“Ini bukan masalah cemburu, sebagai kakak kamu seharusnya melindungi Ines.” Anjur Imam.
“Wajar toh perempuan dekat dengan laki-laki, nggak tahu lagi jika Ines sama seperti kita..” Jawab Rikas santai.
“Bukan masalah itu, kamu yakin pasti tahu siapa Seger. Kamu pernah dibuat marah olehnya. Galihpun sempat beradu fisik dengannya demi menyelamatkan Lana.”
“Lalu apa hubungannya dengan Ines?” Tanya Rikas dengan lemotnya.
“Astaga Rikas..!! Apa kau tega membiarkan Ines menjadi korban cinta Seger?” Umpat Imam gemas.
“Apa mereka sudah sejauh itu?”
“Aku melihat kemesraan mereka tidak wajar. Seger sedang patah hati. Aku takut kalau ia balas dendam dengan menyakiti hati adikmu. Aku takut mereka sudah terperosok terlalu dalam. Jika Seger bertanggung jawab, itu tidak jadi masalah. Bagaimana jika Seger tidak mau bertanggung jawab? Kamu tidak melihat perkembangan adikmu? Bagaimana ia nampak lesu, mata redup, namun sangat lengket dengan Seger? Rikas! Kau harus mengingatkan Ines..!” celoteh Imam.
“Aku selama ini sibuk. Jadi aku belum tahu. Coba nanti habis diskusi aku temui Ines. Tapi jika mereka saling mencintai, aku tidak akan keberatan. Namun jika Seger mempermainkan Ines, baru aku akan menuntut.”
“Bagaimana kalau kamu sudah terlambat?”
“Maksudmu?”
“Ines masih sangat hijau dan polos. Ia masih belum bisa menjaga cinta yang baik itu harus bagaimana. Kalau tahu-tahu dia hamil bagaimana?” Ucapan Imam barusan tentu saja mencengangkan Rikas.
“Apa mereka sudah sejauh itu?” Tanya Rikas masih tidak percaya.
“Siapa tahu saja kan?”
“Baiklah, nanti aku akan menemui Ines.” Putusnya kemudian.
“Aku calon kakak iparnya, itupun jika kau menepati janjimu untuk melamar dan mengajak ku menikah di London.”
“Untuk masalah kita, kamu tidak usah khawatir! Aku pasti menepati janji. Orang tua kita kan juga sudah merestui.” Ujar Rikas tersenyum.
“Nah, sebagai calon kakak ipar, aku tentu saja sayang. Dan aku melihat perkembangan tidak sehat. Aku yang sudah menjalin kasih denganmu dua tahun saja, tidaklah semesra mereka berdua yang baru kenal lho! Ines satu kelas dengan Rama. Dan Rama adiknya Seger. Yang aku khawatirkan, Rama sengaja mengumpankan Ines agar Seger tidak patah hati. Karena Ramalah yang menjadi penyebab hancurnya hubungan Lana dan Seger.” Cerita Imam.
“Aku lihat Lana dengan Galih.”
“Bagus. Galih adalah lelaki yang bertanggung jawab dan selama ini memang belum pernah punya kekasih.”
Rikas terdiam. Ia paham apa yang dicemaskan Imam. Masalahnya ia memang tidak tahu kalau Ines punya hubungan dengan Seger. Kalau saja ia tahu, ia pun akan menasehati sang adik untuk hati-hati.
“Yang membuatmu cemas itu apa?” Tanya Rikas kembali.
“Perubahan wajah yang tidak lagi cerah. Lengket dan mesranya mereka berdua. Bahkan aku sering melihat mereka berdua keluar kampus saat mereka masih ada jam kuliah.” Ungkap Imam.
“Sampai sejauh itu?” Kembali Rikas tercengang.
“Iya. Kita saja susah payah menghindari hal itu, walapun kita sama-sama laki-laki. Aku takut adikmu yang belum punya pengalaman akan menjadi korban buaya kampus. Jika sudah terlambat, bukankah Ines sendiri yang kelak akan rugi? Kalau belum apa-apa sih, tidak masalah tinggal memesan hati-hati saja. Tapi gimana kalau semua sudah terlambat, dan Ines nantinya hamil, bagaimana?”
“Wadduhh..” Rikas mulai panik. Rikas merah padam. Namun ia berusaha agar tetap tenang. Ia berharap adiknya belum sejauh itu. Namun Imam adalah pria yang pernah dekat dengan Seger (red:pacar).
“Ku harap ini bukan karena kau cemburu Imam! Ku harap bukan karena kau iri pada Ines.” Ucap Rikas dengan wajah yang terkesan datar.
“Ya Tuhan! Amit-amit deh jika kamu meragukan ketulusanku. Jika kamu menuduhku begitu, berarti aku tidak setia denganmu. Berarti kamu menuduhku menduakan hati?” Kata Imam agak sengak.
“Bukan begitu, aku percaya pada kamu kok sayang..” Rayu Rikas.
“Kalau percaya, selamatkan Ines! Aku dulu susah payah menghindarinya. Hingga keputusanku sama dengan Lana, menjauh darinya. Itu karena Seger bukan lelaki yang bisa dipercaya.” Ujar Imam.
“Begitu ya?” Rikas terlihat masih ragu.
“Percayalah padaku! Kalau aku termasuk pria yang mudah menyerah, aku mungkin sudah melakukan itu dengan Seger dan tidak jadi milikmu.”
“Tapi, kamu masih mempunyai kesucianmu kan? Kamu masih perawan kan?” Rikas menggoda Imam lagi.
“Percayalah! Aku belum ada yang menyentuh, walau sudah ada yang mengajak.” Kata Imam. Rikas mengernyit.
“Hahhaha, jangan khawatir! Ini milikmu dimalam pertama kita. Atau nanti setelah kita wisuda, baru akan ku serahkan padamu.” Ucap Imam serius.
“Benarkah..?” Kata Rikas masih menggoda kekasihnya itu.
“Sumpah!”
“Sumpah apa?”
“Sumpah dicium kamu!”
“Yang benar dong! Sumpah apa?”
“Ya ampun, jika aku berbohong, kamu tidak usah repot-repot memboyongku ke England dan menikahiku. Buat apa menikahi seseorang yang suka berbohong. Bagaimana denganmu sendiri?”
“Percayalah! Aku masih lelaki terhormat sampai saat ini. Rugi kan jika memberikannya kepada orang lain, sementara kita hampir melewati waktu yang panjang dan membosankan itu. Bukankah kita sepakat?” Rikas mengulum senyum.
“Iya. Setelah lamaran pertama kita bisa saling menikmati atau sekalian nanti waktu kita sudah menikah. Masalahnya sekarang adalah, selamatkan adikmu!” omel Imam.
“Iya-iya, nanti akan ku selidiki dulu.”
“Ku harap kamu tidak terlambat menyelamatkan Ines. Ku harap kamu tidak akan menyesal atas sikapmu yang terlalu tenang melihat adikmu perlahan terseret arus dalam percintaan!”
“Astaga Imam! What should I do? Tidak bisakah kamu sedikit woles?” Kata Rikas frustasi menanggapi kekasihnya yang agak over itu.
“Sudah-sudah! Tugasku sudah selesai. Jangan pernah menyesali sesuatu yang mungkin akan menimpa adikmu!” kata Imam sambil meninggalkan Rikas yang termangu sendirian. Ketika ia menoleh, Imam sudah menghilang di balik gedung. Mungkin ia sudah menuruni tangga.
Untuk meyakinkan hal itu, ia membicarakan serius dengan Galih. Apa yang dilihat Imam, juga sering dilihat Galih.
Lelaki itu juga mencemaskan adik sahabatnya itu. Ia tidak yakin kalau Seger akan menjaga baik Ines yang lugu. Bagi Galih, Ines terlalu muda untuk mengenal cinta yang sesungguhnya. Ines juga belum mengenal Seger dengan baik.