Tampilkan postingan dengan label DARREN SHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DARREN SHAN. Tampilkan semua postingan

A Gift From The Heart



By : Shan
Suatu siang yang tampak berawan di Kota Bandung hari itu. Terlihat seorang pria dewasa berkacamata tengah duduk seorang diri di pojok Taman Kota. Dari penampilannya dapat ditarik kesimpulan bahwa ia adalah seorang dokter muda,terlihat jelas dari jas putih yang ia kenakan khas seorang dokter dan sebuah tas hitam kecil seperti koper bertengger disebelahnya. Sejak datang ke tempat itu ia hanya diam saja, sesekali mengedarkan pandangan ke setiap penjuru taman. Sesekali menengadahkan tangan menyambut daun-daun yang jatuh berguguran. Ia kenal betul tempat itu. Tak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu bertahun-tahun yang lalu. Ia menatap ke langit, diantara rerimbunan pohon-pohon akasia besar ia masih dapat melihat awan yang berarak beriringan mengukir siluet wajah orang yang dulu juga ia kenal. Sebuah daun jatuh keatas kepalanya,ia hendak membersihkan namun ada tangan lain yang lebih dulu menyentuhnya. Sang dokter muda terlihat sedikit terkejut melihat pemilik tangan itu kemudian ia tersenyum manis sekali lalu mempersilahkan tamu nya itu untuk duduk.
“Aku ingin menceritakan sesuatu.. mau mendengarkanku?” ujar si dokter muda memecah kesunyian dan hanya di respon oleh sebuah anggukan.
***
“Sampai kapan kamu mau ngeliatin aku kaya gitu terus?”
Mata peonix itu akhirnya terbuka juga. Memamerkan irish hitam-nya yang selalu indah menurutku. Ia mendelik jengah saat mendengar jawabanku yang hanya tertawa geli menjawab pertanyaannya. “Apa aku begitu mempesona ya ducky? Bahkan saat tidur sekalipun?” ia mulai lagi. Aku tertawa lebih keras dari sebelumnya,ia jengkel,bangun dari tidurnya dan menjitak kepalaku gemas membuatku sedikit meringis.
“Sakit tau!” protesku. Ia malah menjulurkan lidahnya meledek. Aku jadi kesal sendiri karena tingkah konyolnya itu,aku gigit saja lengannya,karena aku ga bisa menyentuh puncak kepalanya. Ia terlalu tinggi buatku. Bukan karena aku pendek,aku cukup tinggi kok dikalangan siswa dikelasku, tapi memang dia-nya aja yang ketinggian, maklum saja ia salah satu atlet basket sekolahku.
Ia berteriak keras sekali,sambil menjauhkan kepalaku dari lengannya. Akhirnya karena kasihan aku lepas gigitanku. Ia beringsut menjauhi aku sambil terus memegangi tangannya. Aku melirik kearahnya,deretan gigiku tercetak jelas di lengannya yang memerah. Ia manyun saja. Aku nyengir tanpa merasa bersalah.
“Sakit tau!” kali ini ia yang protes,aku menjulurkan lidahku-membalas ledekannya. “Kebiasaan deh gigit-gigit. Emang kamu vampir apa?!” ia mengomel,persis ibu-ibu galak yang lagi marahin anaknya.
“Abis kamu jitakin aku!” jawabku ga mau kalah.
“Kamu-nya nyebelin!”
“Kamu sih ke-Pede-an!”
“Biarin sih! Aku kan cowo kamu! Emang ada larangannya gitu ga boleh narsis di depan pacar sendiri?”
Dan jurus terakhirpun aku keluarkan,“Ih.. pulang sanah! Udah malem tau! Ngapain sih dirumah orang terus,pulang sanah! Udah hampir tengah malem nih..”
“Hah?eh... ducky..kamu ngusir aku..ducky..kok gitu. Kamu beneran marah ya? maaf deh.. maaf ya?” Nah,berhasil kan? aku tea di lawan.
“Udah sana pulaaaang.. aku mau tiduurr...sanaa dasar gentooong..pulang sanaaaa...” Aku mendorong tubuh besarnya menuju ke pintu. Berat banget lagi! dia masih sempet-sempetnya mohon mohon minta maaf meskipun sedang aku geret paksa. Dengan susah akhirnya perjuangankupun berhasil, sambil mengatur nafas yang ngos-ngosan dengan sisa tenaga aku hendak menutup pintu tapi-
Tapi pintu-nya ditahan si gentong, “Ducky..jangan marah ya..”
“Hemm..he emmm..” aku mengangguk.
“Kalo ada apa apa,panggil aku ya..” aku mengangguk lagi. “Kalo aku ga keluar juga,kamu pecahin kaca kamar aku aja, kamar kita kan berhadapan,terus rumah kita kan hampir dempet pasti bisa lah yah. Aku pasti langsung dateng kok” Lagi-lagi aku mengangguk mengiyakan.
Ia menangkup kedua pipi ku ditangannya yang besar menjadi satu. Membuat bibirku monyong, “Jawab atuh sayang,ngangguk wae jiga guguk-gugukan nu aya di dasboard mobil aku.” Aku melotot mendengar ejekan dengan logat khas sundanya seperti biasa. Ia mengernyit,entah takut entah geli, kemudian- CUUUUUUUUUPPP begitu kurang lebih bunyinya. Akal sehatku terasa dicabut beberapa saat. Si gentong mencium bibir ku di depan rumahku sendiri. Mukaku terasa memanas. Tak lama ia melepaskan ciuman sepihak kami,aku yang shock luar dalam hanya bisa bersandar di daun pintu. “Malah diem..mau lagi?” sebelum ia sempat nyosor, aku buru-buru membanting pintu menyelamatkan diri. Dari luar sempat terdengar ringisan pelan darinya,aku terkikik geli. Lalu terdiam sejenak mengingat kejadian barusan. Muka-ku kian memanas,aku malu banget, “Bukannya ga mau lagi,tapi kamu-nya gitu..kaya bercanda..aku jadi males.” lirihku dalam hati.
Dia-si Gentong-pacarku, Yama namanya pemuda tampan tanpa celah yang telah merenggut paksa hatiku sejak bertahun-tahun yang lalu. Dia temanku sejak kecil..cinta pertamaku.,juga kekasihku. Rumah kami bersebelahan,dan kamar kami juga berseberangan. Setiap malam saat aku tidak bisa tidur,aku selalu memanggil Yama, memintanya untuk menemaniku mengobrol diatas balkon sampai aku mengantuk. Tidak peduli tengah malam sekalipun ia tetap akan ada untukku. Wajah-nya tak pernah bosan untuk kulihat, kulit bagai porselin dan mata yang sepeti bulan sabit ketika tersenyum. Aku suka,suka sekali. Tapi tingkahnya yang luar biasa jahil terkadang membuatku ga tahan. Terlepas dari sifatnya yang kekanak-kanakan aku sangat menyayangi-nya,dan aku tau Yama juga begitu.
Aku masih ingat saat menyatakan cinta padanya. Dihari ulangtahun sekolah kami setahun lalu. Aku menarik Yama melewati kerumunan siswa-siswi lain yang sedang asyik ditengah lapangan menikmati acara musik sekolah,membawanya ke loteng paling atas. Disini jarang sekali ada yang datang,jadi aku bisa mengutarakan perasaanku dengan tenang. Aku gugup sekali waktu itu,jantungku berdetak begitu cepat seperti mau loncat kesana-kemari. Yama hanya diam saja memandangiku yang tengah merunduk,akhirnya dengan tekad bulat dan keberanian yang dikuat-kuatin serta mental baja jika ditolak nanti. Aku berhasil mengatakannya meskipun terbata-bata dan sedikit...gitu...
“Yama aku..aku mau..aku.. aku mau...”
“Mau pup?”
“Iyah.. eh..eh bukan,bukan mau pup. Aku mau ngomong..serius nih..aku mau bilang..”
“Mau bilang kamu mau pup?”
“Bukan!! kamu teh kalo mau pup yaudah sanah. Jangan ngomongin pup mulu!”
“Yaudah aku mau pup dulu kalo gitu,kebelet dari tadi soalnya.”
Tapi serius,meskipun udah bubar ‪#‎apasih‬? Aku berhasil kok ngomong sama Yama begitu dia selesai pup. Saat dia buka pintu WC aku langsung bilang deh, “Yama.. aku suka sama kamu dari dulu..aku ga tau musti gimana lagi.. kalo mau nabok aku sampe bonyok abis ini aku siap kok.. siap banget malah,paling kamu diomelin sama mamah aku..pokoknya Yama intinya mah.. mau ga jadi pacar aku?” udah gitu ajah. Aku ga sanggup ngomong apa apa lagi. Beruntungnya karena waktu itu ga ada seorangpun yang ada di kamar mandi sekolah kecuali aku dan Yama. Saat itu Yama kaget banget kelihatan saat dia mundur beberapa langkah ngejauhin aku sambil nutup mulut dengan tangan kanannya. Aku langsung menunduk lemas,gagal menyembunyikan rasa kecewa yang tiba-tiba berhamburan keluar. Mataku mulai berair. Aku ga boleh nangis-seenggaknya di depan Yama. Gak boleh nangis. Tiba-tiba Yama narik aku kedalam salah satu bilik kamar mandi dan ngunci pintu-nya rapat-rapat. Aku cuma bisa nunduk,siap-siap mau dipukul sama Yama.
“Aku gak nyangka.. kamu berani juga ya ternyata..aku..dari lima tahun yang lalu udah suka sama kamu. Tapi aku ga berani buat ngomong. Aku takut..takut banget kamu ngejauhin aku. Aku ga bisa jauh-jauh sama kamu. Wisnu..aku suka banget sama kamu. Aku mau jadi pacar kamu.”
Gitu kata Yama. Dan resmi lah kami jadi sepasang merpati ‪#‎eh‬ kekasih maksudnya. Dikamar mandi sayangnya kita ga ngapa-ngapain. Gak ngelakuin this and that yang sering aku impiin sampe tumpeh-tumpeh kalo malam. Gak pengen juga sih-tapi boong. Yama cuma meluk aku..lama banget. Rasa-nya waktu berhenti berputar saat itu juga. Aku bisa dengar suara detak jantungnya yang gak kalah ngajak ributnya sama aku. Aku senang banget. Impianku jadi kenyataan. Jadi milik pribadi Yama.
Bahkan setelah setahun berlalu aku masih sering deg-deg an sendiri saat ketemu Yama,entah dengar suaranya,entah liat dia tertawa,entah saat dia meluk aku,entah juga saat dia berani nyium aku. Dia punya alasan buat bikin jantung aku jadi ga karuan detaknya. Cuma dia yang punya alasan itu.
“..hmmm..kemana sih..” Daritadi aku menunggu Yama datang, biasanya si gentong sejak jam tiga tadi udah nongkrong dikamarku, tapi sudah hampir jam lima sore dia belum juga datang. “Apa dia marah soal semalam?Tapi masa sih dia marah?Dia gak mungkin marah. Duuh..Yama kemana sih.. Yama cepatan datang dong..” suara hatiku mulai keluar-keluar. Buru-buru aku telfon nomornya tapi ternyata gak aktif. Aku jadi semakin gak tenang.
“Ducky.....bangun.. aku pinjam handuk..sayang banguun..aku pinjem handuk...”
Aku tertidur. Ternyata aku tertidur di sofa saat sedang menunggu Yama. Mataku mengerjap-ngerjap agar terbiasa pada cahaya terang yang berada tepat diatas kepalaku. Aku melihat kesekeliling. Kemudian memandang takjub kearah Yama yang tengah berdiri gemetar kedinginan disampingku. Tanpa berkata apa apa lagi aku segera berlari mengambil handuk dan membantu Yama mengeringkan tubuhnya. Baju-nya basah semua. Aku melirik kearah jendela,hujan deras rupanya. Kasihan sekali dia.
“Kamu ga bawa payung? Yama menggeleng cepat,giginya bergemerutukan menahan dingin. Aku jadi semakin iba padanya. Aku merengut cemas. Gimana jika dia sakit?Aku ga mau Yama sakit.
“Cemberut wae senyum atuh..” ujar Yama pelan.
“Takut kamu sakit..” aku menghela nafas panjang masih sambil mengeringkan tubuh Yama dengan handukku. Sekilas aku melihatnya tersenyum tipis.
“Peluk aku atuh..bentar aja..janji ga macem-macem..pelis banget..aku kedinginan nih...” Peluk dia bilang? Aku menengadah menatapnya ragu,ia juga menatapku. Sorot matanya hangat sekali. Dipandangi seperti itu wajahku terasa memanas. Aku mendekat maju padanya kemudian memeluk pinggangnya posesif menyandarkan kepalaku didadanya. Aku bisa menghirup aroma Yama dari jarak sedekat ini. Jantungku mulai ga bisa diatur detaknya.
“Coba aja kamu ga pendek gini. Pasti enak dipeluk..” seloroh Yama sesaat kemudian. Kesal karena diledek aku berjinjit lalu menggigit bahunya keras-keras. Ia berteriak mencoba menjauhkan kepalaku dari tubuhnya. “Wisnu kebiasaan deh!” raung Yama,ia memegangi bahunya dengan ekspresi wajah yang hampir sama persis seperti semalam saat aku menggigit lengannya. Aku melempar handuk kemukanya, “Keringin sendiri sanah!” bentakku sambil berjalan ke dapur.
“Mau kemana? Aku bercanda kok..jangan marah ducky..”
“Aku tau! Mau bikin teh biar kamu ga kedinginan lagi!”
“....”
“....”
“Makasih.. Akhir-akhir ini kamu kok pucet ya?” ujar Yama setelah aku meletakkan segelas besar teh manis hangat dihadapannya,ia sudah berganti pakaian dengan kaos dan celana training paling besar yang aku punya.
“Masa sih?” aku malah balik bertanya,Yama mengangguk-menyeruput teh manisnya.
Akhir-akhir ini memang badanku terasa gak enak. Bukan akhir-akhir ini,yang benar beberapa bulan ke belakang. Cepat lelah, gampang memar,suka mual. Bahkan yang paling parah dua hari yang lalu aku muntah darah. Aku ga tau aku ini kenapa, aku gak mau menganggap serius juga ga pernah bilang ke siapa-siapa, sekalipun ke orangtuaku.
“Kamu ngelamun lagi...” dan juga susah konsentrasi,aku jadi sering ngelamun. “Kamu sakit?” aku menggeleng menjawab pertanyaan Yama. “Ke dokter yuk? Aku anterin..”
“Enggak.. aku ga apa apa..” aku mengelak.
Perutku rasanya semakin aneh saja. Sejak tadi pagi aku menahannya,tapi aku udah ga kuat lagi. Cepat-cepat aku berlari menuju kamar mandi. Wastafel..wastafel aku butuh benda itu. Aku mau muntah. Tapi ternyata bukan isi perutku yang keluar. Melainkan darah kental kehitam-hitaman. Banyak sekali. Lebih banyak dari dua hari yang lalu. Tubuhku gemetar hebat,kakiku kesemutan,jika ga berpegang pada sisi wastafel pasti aku terjatuh. Aku terbatuk-batuk. Darah itu keluar-lagi. Tanganku yang jadi wadahnya. Aku menengadah menatap cermin didepanku. Wajahku pucat sekali. Aku kenapa ya Tuhan?
Pintu kamar mandi terbuka. Bodoh! aku lupa menguncinya. Aku segera mengelap sisa darah disekitar bibirku kemudian menyembunyikan kedua tangan serta wastafel sekalian di belakang tubuhku. Yama masuk,ia terlihat begitu cemas.
Yama mulai mendekat padaku,“Kamu kenapa?”. Aku menggeleng kuat,“Kamu.. ga pulang?udah.. gak hujan kan?” jawabku berusaha mengalihkan pembicaraan. Perutku makin gak karuan rasanya.
“Aku ga mau pulang..kita ke dokter dulu baru aku pulang yah?” Aku menggeleng lagi, “Aku gak apa- uhugh!! hugh!!” aku jatuh tersungkur. Yama berlari menerjangku, berteriak meminta pertolongan, bertanya apa aku baik-baik saja. Aku diam ga mampu menjawab. Semua terasa berputar kemudian gelap sama sekali. Hal terakhir yang aku dengar adalah suara Yama yang terisak panik memanggil namaku.
Sirosis adalah suatu kondisi di mana jaringan hati yang normal digantikan oleh jaringan parut (fibrosis) yang terbentuk melalui proses bertahap. Jaringan parut ini memengaruhi struktur normal dan regenerasi sel-sel hati. Sel-sel hati menjadi rusak dan mati sehingga hati secara bertahap kehilangan fungsinya. Bila pasien mengalami perdarahan usus sehingga muntah darah, atau mengeluarkan darah melalui tinja, atau tinja menjadi hitam, dokter mungkin akan segera melakukan tindakan untuk mengatasinya. Berbagai teknik bedah dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi risikonya lebih lanjut.
Dalam kasus yang parah di mana jaringan parut meluas dan hati nyaris tidak bisa berfungsi, maka transplantasi hati mungkin adalah satu-satunya pilihan.
“Transplantasi hati satu-satunya cara agar anak bapak dan ibu bisa bertahan. Itupun peluangnya.. semakin hari semakin kecil. Mungkin jika ditangani lebih cepat-..”
Samar-samar aku mendengar suara seorang pria sedang berbicara. Aku mengernyit,dan perlahan-lahan membuka kedua mataku. Sinar terang berwarna putih langsung menguasai ruangan ini,aku mengerjap-ngerjapkan mata berinteraksi. Suara si pria terhenti tepat ketika mataku terbuka. Mataku mencari ke sumber suara,rupanya mereka. Papa,mama,serta seorang pria lanjut usia yang aku yakini adalah seorang dokter.
“Jadi aku sakit parah ya?” kataku sambil berusaha untuk bangun,aku tak mampu menahan rasa ingin tau. Mama terlihat terkejut mendengar pertanyaanku. Aku bisa lihat airmata tadi sempat turun dikedua pipinya. Ia mendekat padaku kemudian memelukku erat seraya membisikkan, “It’s ok honey,it’s ok..it’s gonna be ok..I’ll be with you.” Sementara papa membawa keluar dokter yang tadi bercakap-cakap dengan mereka.
Bukan jawaban itu yang aku inginkan. Aku kembali berbaring, badanku sakit semua rasanya, mataku terpejam. Airmataku meleleh turun. “Wisnu sakit parah yah ma?” bisikku nyaris tak bersuara. Saat aku kembali membuka mata mama juga ikut menangis, “Kata dokter... ya. Tapi kata Mama enggak. Anak Mama kuat kok. Mama tau itu. Wisnu-nya Mama kuat.” Aku tau beliau sedang berbohong atau hanya berusaha menghiburku, aku tau betul kebiasaannya,beliau tidak mau menatap mataku. Malah beralih membetulkan selimutku yang tidak seharusnya dirapikan.
“Jadi kamu kena sirosis hati? Aku mengangguk meng-iyakan menjawab pertanyaan Yama. Sejak dirawat dirumah sakit sampai hari ini-tiga hari setelah keluar,aku belum bilang apa-apa sama pacarku itu tentang sakit ini. Aku menengadah menatap sosok yang kini duduk di meja belajarku,dihadapanku. Hari ini dia tampan sekali. Bukan hari ini saja..setiap hari dia memang selalu tampan. Tapi aku gak pernah mengakuinya. Bagaimana jika aku..ga bisa lebih lama ngeliat dia lagi..Aku menggelengkan kepala kuat,mencoba agar gak menangis.
“Parah ga? Tanya Yama polos.
Ternyata dia gak tau apa-apa tentang sirosis hati, “Enggak kok..” jawabku sekenanya.
“Masa sih?kok kamu sampe pingsan gitu? Keluar darah juga dari mulut kamu..aku takut banget waktu itu.”
“Beneran.. Cuma lebih parah dari diare. Sedikit.”
Ia mengernyit, “diare? Kamu boong ya ducky?”
Aku jadi tertawa. Yama bodoh juga ya ternyata. Dia beneran gak tau atau lupa sih? Waktu itu kan kita berdua pernah nonton film Heart di bioskop. Masa dia ga inget sakitnya si Luna pemeran utama yang nyaris bikin dia sesenggukan di akhir film.
“Kenapa ketawa?Aku lagi serius Wisnu.” Aku berhenti tertawa,Yama benar-benar lagi serius. Biasanya kalo lagi bercanda dia pasti manggil aku dengan sebutan ~ ducky.
“..aku sekarat..kata dokter.” Yama diam tak bergeming,ia terlihat mencerna kalimatku. “Aku sekarat..”ulangku lagi,kali ini airmataku juga ikut turun. Aku tersenyum kecut masih sambil menatap Yama. Yama berjalan ke arahku,kemudian duduk dihadapanku. Ia menghapus setiap tetes yang turun dari sudut mataku.
“Kamu gak sekarat ducky,pasti ada jalan keluarnya..ada aku disini. Kamu tenang aja..kamu ga perlu khawatir..”
***
Lima bulan berlalu sejak vonis dokter yang membuat keluarga kami dibayangi-bayangi oleh duka nestapa. Dalam waktu yang sesingkat itu perubahan besar-besaran terjadi dalam hidupku. Tubuhku jadi ringkih sekali. Dalam seminggu aku absen sekolah hampir setengahnya. Orangtuaku jadi lebih sering ada dirumah,walaupun gak setiap hari,tapi mereka selalu ada saat aku harus chek-up di rumah sakit. Aku jadi akrab dengan jarum suntik yang dulu aku takuti. Aku juga jadi akrab dengan para suster dan beberapa dokter dirumah sakit langgananku itu. Setiap kali aku menatap cermin ada bayangan orang yang tidak ku kenal disana. Bayangan seorang pemuda dengan wajah pucat seperti mayat. Setiap saat aku katakan bahwa itu bukan aku,tapi saat itu juga aku menyadari bahwa itu adalah aku.
Aku dan Yama baru aja menyelesaikan Ujian Nasional dua minggu yang lalu. Setelah perundingan panjang yang dibuat oleh mama dan papa, mereka memutuskan agar aku menunda kuliahku. Aku ga bisa nolak meskipun mau. Aku sadar diri. Aku ga bakalan kuat. Sementara Yama,dia memutuskan untuk menjadi dokter. Aku sempat tertawa geli mendengar cita-citanya yang berubah sekitar tiga hari yang lalu. Dan aku ga bisa berhenti tertawa saat membayangkan Yama menjadi seorang dokter. Gak cocok banget! Badannya kan besar,dia lebih cocok jadi atlet basket atau gulat sekalian. Tapi dia bersungguh-sungguh. Untuk menyembuhkan aku katanya. Aku cuma bisa tersenyum saja mendengar alasannnya.
Hubunganku sama Yama juga berubah. Yama masih rajin kerumahku setiap hari,dia juga sering nganterin aku ke rumah sakit,tapi Yama jadi lebih berhati-hati padaku. Gak kasar kaya dulu. Dia gak pernah menjitak kepalaku lagi. Gak pernah ngejar aku kalau lari,malah menyuruhku untuk berhenti,takut aku kelelahan. Gak pernah bergulat lagi dikasurku. Bahkan dia juga gak pernah nyium paksa aku lagi seperti kebiasaannya dulu. Diperlakukan seperti itu aku bukannya senang,malah sedih. Aku gak tau kenapa. Kalau seperti itu aku jadi lebih sadar bahwa aku ini orang sakit yang lagi sekarat dan menunggu ajal datang.
“Ducky..duduk yuk..” Aku menggeleng menolak ajakannya, “Ini bukan tempat biasa kita duduk Tong..itu disana tempatnya! Ayo jalan lagi..”kataku sambil menarik tangan Yama memaksanya mengikuti keinginanku.
“Tapi kamu pucet..jangan cepet-cepet Wisnu!” Ia mulai berteriak saat aku berlari gak sabar.
“Yama!” bentakku sambil menatap tajam pada Yama, membuatnya jadi bungkam. Aku benci diperlakukan seperti orang sakit.
Disinilah kami berada. Taman Kota. Setiap hari Sabtu kami berdua selalu ada ditaman ini. Bangku paling pojok disudut taman ini adalah tempat favorit kami. Disini jarang sekali ada orang yang lewat. Suasananya sepi sekali,begitu damai,aku suka tempat ini. Biasanya aku dan Yama mengobrol berjam-jam lamanya,sampai matahari terbenam kami baru pulang.
Sejak mulai duduk tadi Yama hanya diam saja. Dengan raut wajah serius matanya menerawang ke depan tanpa memperhatikanku. Apa dia marah?
“Gentong....”
“Hmm..”
“Kamu marah bukan? Dia menggeleng tanpa berpaling padaku membuatku jadi sedih sekali. “Jangan..diemin aku gitu..aku..maafin aku atuh..” ucapku penuh sesal.
Terdengar helaan nafas panjang dari Yama sebelum ia menjawab kalimatku, “Aku gak marah kok ducky..aku takut.. kamu susah banget dibilanginnya. Batu.” Ia terkikik,kepalaku jadi sasarannya ia menjitakku lagi tapi kali ini pelan sekali. Aku juga ikut tertawa lega lalu menyandarkan kepalaku di bahunya. Kami diam menatap daun yang berguguran disekitar kami. Perutku mulai aneh. Akhir-akhir ini semakin sering bahkan disertai dengan rasa sakit yang menusuk.
“Kamu gak mau nyium aku? Disini ga ada orang loh. Biasanya kamu nyium tanpa izin aku. Tapi sekarang gak pernah lagi.” Kataku memecah kesunyian seraya mengangkat kepala dari bahu Yama.
Ia sedikit terkejut,terlihat dari sorot matanya dan saat ia menelan ludah kalut. Pandangannya beralih pada bibirku,seakan ingin menerkamku tapi ia tahan sekuat tenaga. Ia malah kembali berbalik menatap lurus kedepan mengabaikan aku yang menunggunya. Aku mendesah kecewa, “Kamu takut ketularan ya?” lirihku. Aku sedih banget.
Yama bedecak kesal. Kini ia menatapku tajam, “Apaan sih?! Jangan ngawur kamu Nu. Kalo aku takut,aku udah ninggalin kamu dari awal aku tau!”
“Terus kenapa?”
Tatapannya melunak saat aku bertanya dengan muka sedih, “Kenapa kamu masih aja sok kuat sih?” raut wajahnya berubah jadi seperti ingin menangis.
“Kalo cuma dicium aku kuat kok!” jawabku sambil nyengir lebar.
Yama diam gak menjawab malah menarik tanganku pelan berhadapan dengannya, ia memegang belakang kepalaku dan mempersempit jarak diantara kami. Jantungku mulai berontak,aku gugup luar biasa. Mataku kututup rapat-rapat. Aku bisa merasakan nafasnya sekarang. Lalu ada sebuah bibir lain yang menyentuh bibirku. Lembut sekali. Aku membuka mataku. Mata Yama terpejam. Aku mulai membuka mulutku perlahan dan berusaha mengatakan, “Aku..kuat kan..” Yama meremas rambutku membuat mulutku lebih terbuka,lidahnya masuk,mengabsen deretan gigiku,kemudian mengajak lidahku bergulat sebelum akhirnya aku mendengar dengan samar, “Diamlah sayang..” he is a good kisser i swear. Aku hampir kehabisan nafas,Yama gak mampu mengendalikan diri lagi, Ia ga mau berhenti, tapi perutku kian bergolak,sakit. Aku mencengkram kuat punggung kaos Yama. “Yama..”erangku pelan. Aku hampir terbatuk,Yama mengakhirinya cepat. Ia memutuskan belang saliva yang kami ciptakan. Warnanya..merah..
Aku memegang bibir Yama dengan tangan gemetar hebat. Warnanya juga merah... Perutku semakin sakit,aku terbatuk beberapa kali,Yama memegangiku. Darah itu keluar lagi. Warna merah itu ternyata memang aku penyebabnya. Aku mengamati kedua tanganku yang berlumuran cairan kental itu lalu beralih menatap Yama putus asa.
“Kamu mau alasan kalo lipstik kamu berantakan? kaya Luna saat ciuman sama Farrel? Ga bisa sayang.. Aku tau kamu ga punya lipstik.” seloroh Yama,ia tersenyum tapi airmatanya jatuh turun satu persatu. Deras sekali. Ini pertama kalinya aku melihat Yama menangis.
Aku tertawa pelan tapi aku juga ga mampu menahan untuk ga menangis. Yama membawaku ke pelukannya,memelukku erat. “Aku gak mau mati...” lirihku nyaris tanpa suara.
“Iya sayang..iya..”bisik Yama
***
Tuhan ga akan memberikan cobaan lebih jika umatNya ga mampu. Ungkapan itu memang benar adanya. Setelah menunggu hampir tujuh bulan lamanya. Mukjizat itu datang. Orangtuaku menemukan seorang pendonor. Namanya Bayu. Ia penderita kanker otak stadium empat yang juga sedang menunggu ajal. Kondisinya lebih parah dariku. Ia gak bisa kemana-mana. Hanya dirumah sakit setiap hari. Saat pertama kali bertemu dengannya aku mengucapkan beribu-ribu terimakasih. Ia hanya diam. Tapi dia juga ikut tersenyum seraya mengangguk. Aku seperti terlahir kembali hari itu.
Tapi cobaan gak berakhir sampai situ aja ternyata.
“Kata dokter peluang operasi kamu berhasil cuma 35%?” Yama mengulang kalimat yang baru saja aku katakan. Ia menghela nafas panjang,wajahnya penuh tanya,ia menggeser tempat duduknya mendekati tempat tidurku. Aku dirawat dirumah sakit empat hari yang lalu setelah lagi-lagi ditemukan pingsan oleh kedua orangtuaku. Aku mengagguk meng-iyakan.
“Pendonornya kelamaan..” ucapku memberi menjawab kebingungan Yama.
“Aneh deh itu dokter..”
Aku mengernyit mendengar komentar Yama, “Aneh?”
“Aneh lah. Main vonis ajah. Bikin orang pesimis hidup tau ga. Harusnya dokter itu memotivasi pasiennya. Bukannya malah nakutin. Emang dia Tuhan bisa nentuin waktu hidup manusia? Aku sih kalo jadi dokter ga akan kaya gitu.” Kelakar Yama membuatku tertawa.
“Emang dokter Yama ini mau jadi dokter yang gimana sih?” ujarku gak serius.
“Ya..yang baik..yang pengertian..yang keren. Yang We O We deh pokoknya.”
Aku ngakak banget mendengar kalimatnya yang terakhir, We O We? Yama juga ikut tertawa geli. Akhirnya aku berhenti tertawa setelah merasa perutku mulai sakit, “Gimana bimbel kamu?”
“Lancar sih.. ducky..kamu ga pengen ikut SBMPTN juga?”
Aku tersenyum kecut,bisa lulus aja aku udah bersyukur banget, malah punya impian lolos Universitas Negri. “Enggak..”jawabku singkat
“Bohong!”
“Iya emang bohong! Aku pengen ikut. Tapi mana bisa nembus?kemarin-kemarin kan aku jarang masuk sekolah. Terus gak ikut bimbel juga. Gak akan lolos deh.”
“Ducky...”
“Apa?”
“Sebenernya aku udah daftarin kamu juga kemarin. Abis aku gak tahan. Jangan marah yah? Kabar baiknya kita seruangan loh. Semoga aja duduknya juga deketan yah.” Mataku membulat mendengar ucapannya,Yama nyengir innocent malah sambil memamerkan dua jarinya di pipi. Imut banget,heuh 
“Yama...”lirihku lesu.
“Jurusannya sama kaya aku. Di Universitas yang sama pula. Pendidikan dokter. Dokter Wisnu. Dokter Yama. Widiiih...”
“Yama ih...”
“Ducky bisa kok..kamu kan pinter..pasti bisa..”
“Tapi gak sepinter kamu..”
“Tapi kemarin nilai Un kamu terbaik se-sekolah sayaang..aku aja kalah. Udah ah jangan ngebantah terus. Mulai besok pulang bimbel,aku bakalan bawa buku-buku soal kesini. Kita belajar bareng. Masih sempet kok,kan ujiannya masih sebulan lagi. Kamu boleh nanya apapun yang kamu ga tau. Aku bakalan ajarin sebisa aku. Oke?” Yama mengacak rambutku pelan,ia tersenyum tulus. Aku gak tau harus bilang apa lagi. Beruntung banget aku kenal dia,lebih beruntung lagi karena aku pacarnya. Aku menganguk setuju akhirnya.
“Nah gitu dong..aku pulang ya ducky..udah hampir maghrib. Aku belum ijin tadi sama mamah mau mampir. Kamu ga apa apa kan sendirian?”
“Ga apa apa kok,bentar lagi juga orangtua aku dateng.”
“Yaudah deh..”
Aku mengangguk,Yama malah memperhatikanku,aku jadi gak enak diliatin gitu, “Apa?”
“Kiss doong..aku mulu yg nyium kamu..”
Wajahku memerah. Yama mendekatkan wajahnya padaku sambil menutup mata. Duh..aku harus gimana.. Buru-buru aku cium keningnya saja. Gak sampai lima detik aku langsung berbaring ngumpet dibawah selimut.
“Apaan tuh?Kaya kepentok pintu..”protes Yama. “Ducky..yang bener dong..”
Masih berada didalam selimut aku menjawabnya,“Gak mau ah..malu tau gentong! Udah sana katanya mau pulang...”
“Yaudah deh aku pulang..bye ducky..”
LOH!
Udah?begitu aja?tumben dia gak maksa lagi. Aku kecewa sedikit-boong-banyak! Penasaran kenapa Yama begitu kalem,aku membuka selimutku. Tapi-
CUUUUUUUPPPPP! Ternyata Yama belum pergi,dia malah berdiri disampingku dengan setengah badan menunduk diatas kepalaku. Kebiasaannya belum ilang! Cium paksa-lagi.
“GENTOOOOOOOOOOONG!!!”
***
Kabar baik-juga buruk itu- datang seminggu kemudian. Sore hari ketika aku sedang mengerjakkan soal-soal SBMPTN yang Yama berikan seperti biasa. Telepon rumahku berdering. Aku sendiri yang mengangkatnya. Dari rumah sakit. Bayu sekarat. Benar-benar sekarat. Aku bisa di operasi besok sore. Airmataku turun,rasa senang bercampur sedih. Aku bergegas menelpon orangtuaku mengabarkan berita ini, bersamaan dengan kedatangan Yama. Senyum gak pernah lepas dari wajah Yama yang tampan setelah aku memberitahukannya juga.
“Besok kamu bakalan sembuh ducky..Tapi besok aku harus try out di tempat les dulu. Jadi ga bisa nemenin kamu dari pagi. Apa aku bolos aja?”
“Enggak..gak usah ga apa apa lagi kan ada mama sama papa aku..kamu tenang aja....Gentong..janji sama aku yuk.” Aku mengacungkan jari kelingkingku di depan wajah kami.
“Ayo..janji apa?” Yama menautkan jarinya padaku.
“Kamu tau kan peluang berhasilnya operasi ini cuma 35%, malah kemarin turun jadi 30%?” Yama mengagguk, “Kalau operasinya gagal..terus aku..meninggal..kamu ga boleh sedih lama-lama. Cuma seminggu. Janji? Kalo kamu ngelanggar janji ini,aku bakalan jadi jurig yang ngehantuin kamu seumur hidup. Janji?”
“Janji apaan tuh?!” Yama melepaskan tautan kelingking kami, ia berdecak kesal.
“Ih..Yamaa..janji doong..ayo janji!” aku menarik tangan kanannya lagi,kali ini aku pegangi, aku tautkan kembali jari kami. Yama menatapku tajam, “Ayo janji!” ia diam saja.
“Yama please..” aku merengek.
“Ya..” aku tersenyum lebar. “Ya saya sih no,ga tau mas Anang. Ga mau ah. Konyol banget janjinya. Ga mau pokoknya.” Senyumku memudar,disuruh janji dia malah bercanda. Aku tarik tangannya,aku gigit! Biarin! Biar tau rasa. Dia berteriak seperti biasa.
“Wisnuuuuuuuu!!!!” aku berlari menyelamatkan diri ke taman belakang rumahku,dia mengejar dan berhasil mendapatkanku. Ia memelukku dari belakang. Sangat erat lalu menyandarkan dagunya di bahuku. “Kalo janji..kamu ga akan pernah jatuh cinta sama cowo lain selain aku,kamu mau janji?”
Yama memutar badanku berhadapan dengannya. Ia mengacungkan jari kelingkingnya sambil tersenyum lembut juga mengagguk tanda setuju, “Janji!” ikrarnya. Aku menyambut jarinya. Yama telah berjanji.
“Kalau jatuh cinta sama cewe boleh kok. Aku malah seneng.” Lanjutku. Yama ga menjawab,ia malah mencium pipiku singkat.
“Denger ya ducky-bebek-jelek-punya aku. Kamu pasti bisa kok ngelewatin ini semua. Kalau kamu cuma punya 30% -kata dokter. Aku bakal nambahin yang 70% nya. Jadi kan 100% kamu bisa sembuh. Aku bakalan berdoa yang khusyuk sama Tuhan. Aku tau Dia pemurah banget,pasti doa ku dikabulin. Meskipun harus ditukar pake nyawa aku juga..ga apa apa.”
“Jangan ngomong sembarangan gentong!” aku berjinjit menjitak kepalanya.
Ngomong apa dia barusan. Aku gak suka cara ngomong Yama yang kaya gitu. Terdengar begitu sedih. Aku juga gak suka liat ekspresi wajah sedihnya itu. Aku ga suka.
Dan hari itu pun tiba. Lima belas menit lagi aku akan masuk dioperasi. Aku duduk sendirian di sebuah bangsal. Orangtuaku sedang berbicara dengan keluarga Bayu diluar sana. Yama belum juga datang. Dia bilang akan sedikit terlambat. Entah karena apa. Dia gak jawab lagi saat aku tanya alasannya. Tapi dia berjanji akan datang sebelum aku masuk kamar operasi. Aku semakin resah saat seorang perawat masuk, mengingatkan sepuluh menit lagi dia akan menjemputku,aku disuruh bersiap-siap katanya. Aku segera menelfon Yama. Tapi ga ada jawaban. Aku melirik ke jendela. Hujan deras. Tiba-tiba aku jadi sadar betapa bergantungnya aku pada Yama.
BRAAKK!!!
Pintu bangsal terbuka. Itu Yama. Ia datang. Aku berlari hendak menerjangnya tapi dia melarangku. Tubuhnya sedikit kotor,dia terlihat pucat,dan berantakan.
“Jangan sentuh..aku kotor..nanti kamu ikut kotor. Aku ga sempet ganti baju tadi.” Lirihnya pelan.
“Ga apa-apa. Aku mau meluk kamu..bentar aja..” aku berjalan mendekat,tapi Yama malah mundur menjauhiku.
“Gak bisa Ducky..nanti aja kalo kamu selesai operasi terus sembuh.. kamu baru boleh meluk aku.” Aku merengut. Aku gak pernah minta dia buat peluk aku. Sekalinya meminta dia malah menolak.
Krieeeeett...
Pintunya terbuka lagi. Kali ini perawat yang tadi datang. Ia mengajakku untuk ikut bersamanya. Ia keluar dan menunggu di luar bangsal. Aku menatap Yama. Ia juga menatapku.
“Kalau aku ga selamat-“
“Aku ga akan jatuh cinta sama cowo lain.”
“Kamu ga boleh sedih lama-lama,atau-“
“Atau kamu bakalan jadi jurig terus nakutin aku kan? Iya kan? Aku inget janji aku sayang...”
Aku mengangguk. Ia ingat semua janjinya padaku. Ini bukan perpisahan kan Yama? Kenapa kamu kelihatan sedih banget sih. Aku berjalan menuju pintu ia terus menatapku. Aku sudah memegang engsel pintu, “Yakin gak mau peluk atau cium aku dulu?” aku bertanya lagi. Ia menggeleng. Airmatanya jatuh satu-persatu. “Kamu-“ aku hendak bertanya ada apa.
“Aku cinta kamu Wisnu. Cinta banget sama kamu Ducky..”
Aku tersenyum mendengar kalimatnya. Aku berjanji ini bukan perpisahan Yama. Aku akan berjuang buat kamu. Aku pasti bisa meluk kamu lagi nanti. Aku pasti bisa bertahan. Pasti bisa.
Dengan diantar kedua orangtuaku memasuki ruang operasi. Jarum infus sudah ada dilenganku setelah sebelumnya dipasang oleh perawat tadi. Mataku mencari sosok Yama. Ternyata ia ada di sana. Disudut lorong. Jarak kami cukup jauh. Tapi aku bisa melihat ia sedang tersenyum sambil menatap padaku. Tatapannya berbeda. Masih sehangat dulu tapi juga sedingin es. Aku ga suka tatapan itu. Tenang Yama! Ducky pasti bisa kok melewati ini semua.
***
“Yama mana?”
“. . . . .”
“Mama..Yama dimana?”
“. . . .”
***
I dream
We sail with a yacht
Sailed the oceans, acrossed the sea
Heading to the island of dreams
Every morning we can see the sun rising in the east
Every night we can see the sunset in the west
I know how much you love them
So I brought you here
To the island of dreams, just you and i
One day we walked down the beach
Waiting for the sunset as usual
Together we looked at the ocean west
At that time, you look so beautiful, dear
Then you turned to me
You hold me
Kissing my eyes
***
Tuhan..ini mimpi bukan?Ini mimpi kan..mimpi terburuk yang aku punya. Ini pasti hanya mimpi. Pasti mimpi.. Siapapun..tolong... bangunkan aku dari mimpi ini. Aku gak kuat. Aku gak bisa.. Yama.. tolonglah jangan bercanda..
***
But you're releasing our grasp
And began to walk away
I asked, "where are you going?"
You just keep quiet
Trying to chase but still can not
Scream your name but you're not still turned to me
Begging you not to go, hope you come back to me
In the twilight, you turned to me
You just keep quiet and waving your hands
Once again I say don’t go
But you are keep going, very far away
Suddenly I woke up
My eyes were wet
Tears of sadness
My heart melted rumble
Turns out I had a dream
It's really a dream, dear.
I began to cry
Through the window of my room I look at the sky
There are many stars there
***
Dengan kaki gemetar aku berjalan. Berat sekali rasanya. Aku masih percaya ini semua adalah mimpi buruk semalam..paling buruk yang pernah aku alami. Airmataku menetes deras seperti hujan mengiringi setiap langkahku. Saat menatap tempatnya sekarang aku lemah tak berdaya. Aku jatuh tersungkur bersimpuh menatapnya. Kamu benar. Aku bisa memelukmu sekarang. Aku bisa memelukmu. Tapi kenapa kamu jadi begitu dingin.. kamu bahkan gak bisa membalas pelukanku.. kamu bahkan gak pernah menemuiku lagi...Yama.. hentikan lelucon kejam ini. Aku mohon. Berhenti sekarang atau aku akan marah selamanya. Ga akan pernah maafin kamu. Hentikan sekarang..Aku mohon. Yama..aku kangen...
***
I know you're there, my love
I know you are in a place that I couldn’t reach
Now you've become a part of theirs
The stars that you used to be admire
I so miss you
Until every night I wake up from my sleep
Calling your name, hoping you talk to me
But you just keep quiet
I know you were there, in a different world to me
You said you would come by the time I call your name
But why don’t you come too?
Oh my love .. I miss you so
I was going crazy for a while longer
Because I miss you so much
Do not you miss me too?
***
Aku gak nyangka.. kamu berani juga ya ternyata..aku..dari lima tahun yang lalu udah suka sama kamu. Tapi aku ga berani buat ngomong. Aku takut..takut banget kamu ngejauhin aku. Aku ga bisa jauh-jauh sama kamu. Wisnu..aku suka banget sama kamu. Aku mau jadi pacar kamu
Kebiasaan deh gigit-gigit. Emang kamu vampir apa?
Jawab atuh sayang,ngangguk wae jiga guguk-gugukan nu aya di dasboard mobil aku.
Cemberut wae senyum atuh..
Kamu gak sekarat ducky,pasti ada jalan keluarnya..ada aku disini. Kamu tenang aja..kamu ga perlu khawatir..
Jangan cepet-cepet Wisnu!
Ya..yang baik..yang pengertian..yang keren. Yang We O We deh pokoknya.
Janji!
Aku ga akan jatuh cinta sama cowo lain.
Atau kamu bakalan jadi jurig terus nakutin aku kan? Iya kan? Aku inget janji aku sayang...
Aku cinta kamu Wisnu. Cinta banget sama kamu Ducky.
Waktu itu hujan turun deras sekali. Yama tertabrak mobil. Di dekat tempat bimbelnya. Motornya tergelincir. Dia..meninggal ditempat.
Aku bakal nambahin yang 70% nya
Meskipun harus ditukar pake nyawa aku juga..ga apa apa
Ga ada siapa-siapa diruangan itu. Cuma mas Wisnu aja sendirian.
Jangan sentuh..aku kotor..nanti kamu ikut kotor. Aku ga sempet ganti baju tadi.
Bangku ini kosong? Peserta atas nama Yama Nareswara? Kemana dia? Ada yang tau?
Yama tertabrak mobil. Di dekat tempat bimbelnya. Motornya tergelincir. Dia..meninggal ditempat.
Meskipun harus ditukar pake nyawa aku juga..ga apa apa
Aku cinta kamu Wisnu. Cinta banget sama kamu Ducky.
***
“Begitu ceritanya..” Ujar sang dokter muda mengakhiri pembicaraan panjang mereka. Ia menghela nafas panjang, melepas kacamata lalu duduk bersimpuh didepan lawan bicaranya. Kemudian merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sana. Sang dokter membuka kotak kecil itu. Isinya sepasang cincin perak bermahkotakan berlian diatasnya. Ia hendak melamar gadis pujaannya itu.
“Aku tau.. kamu bukan cinta pertamaku. Bahkan aku gak nyangka bisa jatuh cinta sama kamu. Tapi percayalah,kamu wanita pertama buatku. Juga yang terakhir. So, would you be mine and take me the way i am?Would you?Please..”
“Kak Wisnu...”
Ya..Dokter muda itu adalah aku. Wisnu. Aku juga mengikrarkan janji yang sama dengan Yama. Meskipun ia belum sempat mendengarnya. Aku telah berhenti menyerah sejak delapan tahun yang lalu. Gak mudah untuk bangkit. Gak mudah juga untuk melupakan Yama mungkin ga akan pernah bisa. Tapi aku tetap bangkit, beberapa bulan ini hatiku tertambat pada juniorku dulu semasa kuliah. Namanya Yashinta. Ia cantik sekali. Wanita tercantik setelah ibuku. Gadis berkerudung yang telah membuatku jatuh cinta.
Aku menatap teduh ke arah Yashinta,penuh harap. Ia mengangguk. Gadis itu setuju menikah denganku. Aku tersenyum lega sekali. Dari sini dapat kupandangi awan yang berarak beringringan mengukir siluet wajah seseorang yang ku kenal. Yama. Ia berkedip padaku.
TAMAT~
##########################
Ini sebuah cerpen pembangun jiwa yang khusus aku persembahkan buat salah satu member CeKape
Kisah nyata dengan rombakan besar-besaran di sana-sini.
BTW ada yang bawa Tissue? Kepake gaaa? wkwkwk
RCL RCL RCL yang buanyaaaaak bgt yah. Anti komentar cabe 
Oh iya hampir lupa makasih buat min ‪#‎Mayo‬ yg udah bantuin nerjemahin puisi abal-abal aku. Dasar ketua osis keren! 

Immortal Love



By : Shan
“Aahhhh!!”
Pekik seorang remaja bersurai coklat yang sedang berjalan di sebuah gang kecil disudut kota sore itu ketika merasa ada sesuatu mendarat di kepalanya keras. Ia berjongkok lantas menggelengkan kepalanya cepat, bertujuan untuk mengusir rasa pusing yang langsung datang menjalar ke ubun-ubunnya. Remaja tampan itu memegangi dahinya sembari memungut benda yang telah membuatnya pusing. Sebuah buku usang dengan ukiran naga disampulnya. Ia memicingkan kedua mata untuk bisa membaca tulisan yang tertera disana.
“Nut Ahun Ra..” ucap bibir tipis itu sambil mengamati tiap inci buku. Rupanya ia cukup tertarik untuk membacanya terbukti saat remaja itu memasukkan Nut Ahun Ra ke dalam tas lalu melangkah gontai pulang kerumah.
Sei,nama pemuda berlesung pipi itu. Wajahnya tampan tanpa cela,ia pendiam bahkan cendrung pemalu. Sei tak banyak memiliki teman mungkin karena ia tak banyak berbicara. Meskipun begitu,banyak dari mereka para hawa yang tergila-gila pada keelokan wajahnya,namun tak ada seorangpun yang mampu meluluhkan hatinya. Sei belum pernah jatuh cinta sekalipun.
Setengah jam berlalu, Sei sampai di sebuah rumah besar yang ia huni sendirian. Ya, Sei hidup seorang diri. Orangtuanya bercerai beberapa tahun yang lalu dan hidup terpisah sampai hari ini. Ia adalah putra tunggal mereka. Dan rumah yang ia tempati adalah rumah mereka saat dulu masih menjadi keluarga yang sangat bahagia. Mereka hanya beberapa kali dalam setahun mengunjungi Sei disana,selebihnya?hanya uang yang berbicara. Sei hampir melupakan buku kuno yang tadi ia pungut. Ia segera membuka tas selempang kesayangannya dan mengeluarkan buku itu. Ia membuka tiap lembar dan membaca tiap kalimat yang terukir disana sembari rebahan di tempat tidurnya.
“Chaque grain de poussière, chaque grain de pluie, chaque pouce de terrain, chaque air qui souffle même les feuilles qui tombent dans Itchlion.” Rapal Sei seperti yang tertulis di sana.
Tiba-tiba angin yang sangat kencang datang entah darimana. Semua yang ada di ruangan itu berterbangan tak tentu arah. Sei terlonjak dari tempat tidurnya. Tanpa ia sadari Nut Ahun Ra terlempar ke kolong ranjangnya. Sei terpana menyaksikan asap yang keluar dari bawah tempat tidur. Gumpalan asap putih itu membumbung ke langit-langit kamarnya,kemudian terbelah menjadi dua. Setelah memisahkan diri,salah satu kumpulan asap itu terhembus ke luar jendela dan meninggalkan kumpulan asap putih yang lain. Kini asap putih yang masih tersisa bergelung menjadi satu disudut kamar lalu lenyap entah kemana dan menyisakkan seonggok tubuh telanjang.
Sei berjalan mengamati setiap jengkal kamarnya yang luar bisa menjadi berantakan karena peristiwa barusan. Ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar. Ia masih terlihat shock. Pandangannya terhenti pada sosok telanjang disudut kamar yang mulai bergerak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Mata Sei membulat ketika sosok itu menengadahkan kepala,memamerkan Irish Biru-nya yang sangat indah dan wajahnya yang jelita bak seorang Bidadari. Cantik sekali batin Sei. Sosok itu kembali bergerak,ia berdiri. Mulut Sei ternganga melihat daerah sensitif sosok tadi. Sei telah tertipu dengan keindahan sang bidadara.
“Siapa kamu?” tanya Sei memecah kesunyian.
Sang bidadara memicingkan telinga lalu bergetar ketakutan menutupi tubuh dengan kedua tangan pucatnya,“Ini dimana?Si-siapa anda?”ucapnya ketakutan.
“Ini dirumahku, Aku Sei. Siapa namamu?”
“Niel.. namaku Niel.”
***
Niel,masih ingat dia?pemuda tuna netra yang memiliki kecantikan Sang Mahadewi. Entah bagaimana caranya ia bisa kembali hidup dimasa dua ribu tahun setelah kematiannya. Ia sendiri juga tidak tahu menahu tentang penyebab ini semua. Di lain pihak Sei berusaha mencari Nut Ahun Ra dikamarnya,mungkin dengan ditemukannya buku sakral itu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang kejadian tak masuk akal ini. Sekarang malam telah larut. Dan Sei telah berhenti mencari Nut Ahun Ra ber jam-jam yang lalu,ia kelelahan sementara buku itu tidak juga ditemukan. Akhirnya Sei lebih memilih mendengarkan Niel menjelaskan asal-usulnya, meskipun hanya dijawab anggukan atau gumaman ber-Oh ria dari pemuda dihadapannya itu. Niel menceritakan kejadian dimasa lalunya dan lain hal. Sei mengijinkan Niel tinggal dirumahnya sampai semua kembali seperti semula. Bahkan ia meminjamkan Niel beberapa pakaiannya meskipun sedikit kebesaran ditubuh Niel.
“Sei..apa boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Apakah tadi ketika aku dibangkitkan kembali..ada seseorang yang bersamaku?”
“Tidak ada.” Mendengar jawaban singkat pemuda bersurai coklat itu membuat Niel termenung. Irish biru-nya berpendar. Tersirat kesedihan didalamnya. Ia menghela nafas kecewa. “Tapi..” Sei menyambung kalimatnya.
“Tapi apa?”
“Tapi ada asap putih lain yang memisahkan diri lalu terbang keluar jendela.”
Niel tersenyum lega,wajahnya tidak lagi sedih,“Itu pasti Shan ”lirihnya pelan. “Sei..apa didekat sini ada sebuah taman?”
“Ada..diujung jalan sana. Taman Firdaus.”
“Bisakah esok sore,kamu mengantarkanku kesana Sei?”
“Untuk?”
“Aku ingin menunggu seseorang disana.” ujar Niel penuh tekad.
Hampir sebulan berlalu semenjak kedatangan Niel ke rumah Sei,seperti halnya setiap sore di hari-hari yang lalu. Mereka kembali duduk dibangku taman Firdaus. Menunggu orang yang dinanti Niel selama ini,dan kembali pulang dengan kekecewaan yang dirasakan Niel. Seperti halnya hari ini,disaat matahari telah condong ke barat Niel kembali mengajak Sei ke taman Firdaus. Menunggu seseorang yang berarti bagi Niel disana. Berjam-jam Sei dan Niel duduk disana. Mereka menunggu sampai hari gelap. Lelah,itulah yang mereka rasakan. Terlebih Niel,beberapa kali ia menghela nafas berat. Tak ada seorangpun yang datang menghampiri mereka sampai hari ini,orang yang Niel tunggu tidak juga datang.
“Ayo pulang!” ujar Sei sambil menarik lengan Niel.
“Tidak..aku masih ingin menunggunya disini Sei..”
Sei memutar bola matanya jengah lalu menarik lengan Niel lebih keras,“Jangan keras kepala,ayo pulang!aku tau kau lelah Niel. Aku janji besok kita kesini lagi,sekarang pulang!”
“Sei berjanji?Sei berjanji akan terus mengantarkanku kesini?”
“Hnn...” Sei menautkan kelingkingnya dengan kelingking Niel tanda ia telah berjanji,Nielpun menurut. Ia berdiri,dan melangkah menyusuri gelapnya malam. Mereka berjalan pulang dengan ditemani sinar bulan Purnama yang terang menderang sempurna. Udara di kota itu bertambah dingin. Sepertinya akan turun hujan. Niel membuat kepulan asap dari hidungnya ia masih saja menghembuskan nafasnya panjang-panjang,menandakan ia sangat kecewa. Entah siapa yang ia tunggu, namun yang pasti orang itu sangat berarti dihidup Niel. Sei menantap Niel cemas. Ia menggenggam lembut jemari Niel,dirasakannya permukaan kulit yang sedingin es itu berusaha menahan dingin, Sei segera memasukkan genggaman tangan mereka kedalam mantel bulunya. Niel diam tak membalas genggaman tangan Sei.
Sementara di seberang taman,terlihat juga seorang pemuda bermanik hijau dikedua irishnya sedang duduk disana, menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Mencoba menciptakan rasa hangat ditengah butiran air dari langit yang mulai turun beberapa saat yang lalu.
“Niel...kamu dimana?aku menunggumu sejak tadi.” lirih pemuda bersurai hitam itu menahan dingin.
***
Sei,pemuda pendiam itu tak bisa melepaskan perhatiannya pada pemuda ber-irish biru dihadapannya ini. Entah apa penyebabnya,mungkin karna Niel seseorang dengan keterbatasan fisik. Berulang kali ia membantu Niel,mulai dari membantunya memakai pakaian,menuntun berjalan,menyuapinya makanan dan banyak hal lain. Meskipun Niel bersikeras mengatakan bahwa ia dapat melakukannya sendiri. Namun,Sei tidak benar-benar membiarkannya. Pemuda tujuh belas tahun itu sungguh bersikap ramah kepada Niel. Sei telah terlalu lama kesepian,dan dengan adanya Niel membuatnya tidak merasakan hal itu lagi. Ia sangat senang berada didekat Niel,mengobrol bersamanya,tertawa,bahkan hanya sekedar melihat senyumnya. Belum pernah ia memiliki teman seakrab Niel.

“Aku harus sekolah,mungkin akan pulang sedikit telat karna ada latihan. Kamu ga apa-apakan dirumah sendirian?Ini makan siang untukmu sudah aku siapkan. Aku letakkan diatas meja makan ya?kamu bisa menjangkaunya kan?kunci pintu dan jendela,jika ada orang yang tidak dike- mmphhh!!!”ucapan Sei terputus setelah mulut dan hidungnya berhasil dibungkam oleh tangan kanan Niel.
“Sst..Sei berisik sekali..”
“Hmmphttt!!Lephhaskkhh... ah haaah haaah,Nhieelh khauu mhau memmbu-nuhku hah?”rutuk Sei susah payah.
Niel terkikik geli,“ maaf Sei..hehehe.”
Sei kembali mengatur nafasnya,kemudian melangkah gontai menuju pintu. Sebenarnya ia merasa tidak enak meninggalkan Niel sendirian,tetapi ia tidak mungkin bolos sekolah dan latihan. Sebentar lagi ada turnament basket antar sekolah dan Sei berambisi membawa klub basketnya menjadi juara. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Sei..”
“Hnnn...” jawab Sei sembari memutar badan menghadap Niel.
“Tak perlu menghawatirkanku,aku akan baik-baik saja.”
Sei tersenyum mendengar ucapan Niel,itu membuatnya tenang,“Tentu,aku akan segera pulang oke?” ujar Sei sembari mengelus pucuk kepala Niel lembut.
Hari pertandingan dimulai. Riuh redam para pendukung mulai bersorak sorai. Niel terlihat duduk dibarisan paling depan penonton. Meskipun ia tidak bisa melihat,namun ia cukup menjadi pematik api semangat Sei. Ia tersenyum dan melambaikan tangan penuh antusias setiap Sei memanggil namanya. Beberapa orang melemparkan pandangan aneh ke arah Niel.
Turnament basket dimulai,Sei dan teman-teman timnya bermain dengan semangat. Naas, salah seorang anggota tim Sei cidera lutut saat pertandingan memasuki babak kedua. Permainan imbang,nilai dari kedua belah kubu sama. Sisa tiga menit pertandingan. Sei menatap Niel dan meneriaki namanya. Niel kembali melambaikan tangan untuk yang kesekian kalinya. Bola ada ditangan Sei,ia bergerak kearah ranjang lawan. Mendribble bola,lalu melompat untuk memasukkannya. Curang! Seorang pemain dari klub lawan menyikut perut Sei,hingga ia jatuh tersungkur. Sei meringis kesakitan. Penonton berteriak kecewa,Niel memicingkan telinganya mencoba mengetahui apa yang terjadi melalui indera pendengarannya. Bola berhasil direbut. Dan... waktu pertandingan berakhir disaat tim lawan berhasil memasukkan bola ke keranjang Tim Sei. Sei kalah.
Sesampainya dirumah,Sei mengurung diri dikamar. Niel menunggunya sambil duduk didepan pintu. Memanggil-manggil namanya terus menerus,membujukknya untuk keluar kamar dan menasihati agar jangan terlalu bersedih atas kekalahan yang ia dapatkan,tidak ada jawaban dari Sei. Niel menunggu Sei hingga ia tertidur didepan pintu. Sei keluar kamar,rupanya sedari tadi ia tertidur. Sei menepuk jidat merasa bersalah karna menemukan Niel tertidur didepan pintu menunggunya keluar. Rupanya Niel salah paham. Memang Sei sempat sedih karna kalah dalam pertandingan tadi. Tetapi ia tidak terlalu memikirkan kekalahannya itu.
“S..Sha..n..Shan..” Niel mengigau-ngigau memanggil nama seseorang yang ia tunggu selama ini disaat Sei meletakkan tubuhnya di tempat tidur. Sei duduk ditepi ranjang. Memandang wajah Niel khidmat.
“Apa yang Niel katakan?Shan?siapa dia?apa dia orang yang Niel tunggu?apa dia begitu penting?siapa Shan?apa hubungan mereka?kenapa?kenapa rasanya sakit sekali mendengar Niel mengucapkan nama orang lain?apa ini?rasanya pedih sekali disini” rutuk Sei didalam hati sambil memegang dadanya.
“Shann..sha..shan..”lirih Niel lagi.
Sei mengusap lembut surai emas Niel. Memandangnya dengan wajah sendu,kemudian memegang salah satu tangan Niel. Meletakkan dipipi kanannya,“Tolong jangan lakukan itu Niel..rasanya sakit sekali..” Ini cinta. Ini cinta. Sei jatuh cinta pada Niel. Niel orang pertama yang mampu membuat dadanya berdebar kencang,Niel orang pertama yang mampu membuat pipinya bersemu merah setiap menatap senyum indah Niel,Niel juga orang pertama yang membuatnya merasakan sakit kala mendengar orang yang ia puja itu memanggil nama orang lain. Niel orang pertama yang membuat Sei jatuh cinta. Ini memang cinta.
“Lupakan Shan..aku bisa membuatmu bahagia Niel.”gumam Sei.
Ia lalu mengecup dahi Niel,kedua kelopak matanya,dan terakhir bibir tipis Niel. Ia melumatnya,ciuman pertama Sei. Basah. Bukan karna saliva yang ia keluarkan,tetapi air mata. Air mata Niel,membuat Sei segera melepaskan bibir manis itu dengan panik ketika mendapatinya. Niel menangis dalam tidurnya,mungkin ia bermimpi tentang Shan lagi. Sei menghapus setiap bulir yang turun dari sudut mata Niel.
“Tak boleh ada yang membuatmu menangis Niel.”gumam Sei. Ia mengecup dahi Niel sekali lagi,dan keluar meninggalkan kamar Niel.
***
“Sei ayooo...ayo ke taman..ini sudah sore kan?”rajuk Niel sambil menarik-narik lengan Sei.
“Niel..aku banyak tugas sekolah,hari ini tidak usah kesana ya?”Sei berbohong, sesungguhnya ia tak ingin Niel menunggu Shan lagi.
“Baiklah,aku akan kesana sendiri. Bye bye Sei.”
“Tidak!jangan! kamu gak boleh pergi!” Sei berlari menerjang Niel,memeluknya dari belakang.
“Kenapa?aku janji akan segera pulang begitu lelah” ujar Niel.
“Pokoknya gak boleh!”
“Ta-tapi Sei..aku harus menunggunya..”
“GAK NIEL!!GAK BOLEH!!” Sei menjerit marah.
Niel tersentak kaget,ia ketakutan. Ini pertamakalinya Sei membentaknya dengan keras. Niel terduduk dilantai menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia sangat ketakutan,irish birunya berkaca-kaca. Sei tersadar lalu segera berlutut penuh penyesalan.
“Maaf...maafkan aku Niel..aku tak bermaksud..maafkan aku Niel..maaf..baik ayo kita ke taman sekarang,yah?”
“I-iya Sei..i-iya.”
Begitu keluar rumah,Niel menarik lengan Sei untuk segera ke taman. Menunggu Shan,kekasihnya dimasa lalu.
“Niel..seperti apa wajah orang yang kamu tunggu itu?”
“Sebenarnya,aku belum pernah melihat wajahnya Sei.”
“Terus gimana caranya kamu tau kalo itu dia?”
“Aku..hapal suaranya. Matanya bertahtakan zamrud,rambutnya hitam pekat,tingginya mungkin sama sepertimu. Aku tau wajahnya sangat tampan,aku bisa merasakannya saat aku menyentuhnya.” Seloroh Niel dengan riang.
“Tampan?dia laki-laki?”
“Ya..kami berbeda. Namanya Shan. Ia putra mahkota Itchlieon. ”
Sei kembali menatap lekat-lekat wajah Niel,ia bertanya dalam hati,“Lalu bagaimana denganku?aku juga sangat mencintaimu yang merupakan lelaki. Apa aku juga sama sepertimu,Niel?Apa aku juga berbeda sepertimu,Niel?”
Sei mengalihkan pandangannya ke setiap sudut Taman Firdaus. Pemuda itu,pemuda yang juga duduk dibangku panjang di seberang taman. Pemuda yang sama yang dilihat Sei dihari pertama mereka menunggu Shan. Pemuda dengan surai hitam,dan irish berwarna hijau. Itu Shan. Itu pasti pemuda yang selama ini Niel tunggu.
Sei segera menarik lengan Niel,membuat Niel berjengit,“Niel..ayo kita pulang.. aku..aku pusing. Ayo Niel.”
“Ta-tapi Sei.. kita baru sebentar disini.”
“Kumohon Niel,aku pusing sekali.. kumohon ayo kita pulang sekarang.”
“Baik lah.”
Sei menghela nafas lega. Ia sungguh tak ingin Niel bertemu pemuda di ujung taman itu. Shan, ia tak ingin Niel kembali padanya. Mungkin memang egois. Tapi Sei tak bisa melihat pujaannya itu bersama dengan orang lain. Ia tak sanggup,mendengar Niel mengigaukan nama Shan saja bisa membuat hatinya luar biasa sakit. Bagaimana mungkin ia mampu melihat Niel kembali ke pelukan Shan?
“Tunggu!” Niel sedikit berteriak, membuat Sei terlonjak kaget.
“Apa?”
“Aku merasakan Shan ada di dekat sini,aku bisa mendengar tawanya.”
Sei menatap cemas ke arah pemuda di tepi taman yang kini juga sedang tertawa, ia bermain bersama seekor anjing berbulu emas. Sei menelan ludah menutupi ke gugupannya,ingin rasanya ia segera membawa kabur Niel dari sana,“Apa kamu melihatnya Sei?Pemuda ber-irish zamrud dengan surai hitam?kamu melihat Shan-ku?” tanya Niel tiba-tiba.
“Tidak..aku..tidak melihat seorang pemuda pun disini,hanya kita berdua. Mungkin..mungkin kamu salah dengar Niel..” jawab Sei akhirnya.
“Mmhh..mungkin..yasudah ayo kita pulang Sei.”
***
“Sei mungkin masih tertidur,apa ia masih sakit yah?biarlah hari ini aku saja yang ke taman Firdaus seorang diri. Hanya perlu belok kanan lalu ikuti arah jalan. Aku pasti bisa!” seru Niel dalam hati pada sore berikutnya.
Remaja berambut blonde itu melangkah keluar rumah dengan hati-hati. Ia tak ingin membangunkan Sei yang terdengar sedang mendengkur di sofa ruang tengah. Ia lalu berjalan menuju taman Firdaus,lima belas menit berlalu. Niel telah sampai disana bahkan ia telah duduk dibangku taman seperti biasa. Ingatannya memang tajam,jadi dengan mudah ia bisa sampai ke tempat ini. Sepertinya hujan akan turun. Suara petir mulai bersaut-sautan,namun Niel tak bergeming sedikitpun ia tetap duduk disana. Menunggu belahan jiwanya tiba,Shan. Rintik hujan mulai turun. Mereka yang ada disana berlari-lari kecil mencari tempat berteduh,kecuali Niel. Ia tetap setia menunggu Shan.
“Nggghh..” Mata onix itu akhirnya terbuka. Sei telah bangun. Ia mengamati sekitar lalu berteriak memanggil-manggil Niel setelah mendapati sang pujaan tak ada disampingnya. Sei mencari Niel disetiap ruang dirumahnya,hasilnya nihil. Niel tak ada dimanapun. Sei mengintip ke luar jendela,hujan. Ia segera berlari menerjang payung dan berhambur ke luar. Tujuannya tentu ke Taman Firdaus.
“Shan...”lirih Niel bergetar karna menahan rasa dingin setelah merasakan tubuhnya dipeluk oleh seseorang. Orang itu bahkan memeluknya lebih erat.
***
“Bukan Niel..aku Sei..”
Niel mencoba melepaskan pelukannya, tetapi tidak berhasil. Dalam hujan Sei memeluk tubuh mungil Niel sangat erat, hingga pujaannya itu susah bernafas bahkan payung yang tadi ia bawa telah terjatuh ke tanah,“Sei..sesaakh...kenapa ada disini?kamu sedang sakit kan?”
“Lupakan dia Niel..tidak cukupkah aku yang menemanimu ini?” gumam Sei masih sambil memeluk Niel.
“Apa maksudmu Sei?”
“Aku..aku..Niel..aku..men-”
“Niel..”ujar suara lain menyebut nama remaja beri-irish biru itu.
“Shan..”
Sei melepaskan pelukannya,ia berbalik menatap tubuh tinggi yang sedang berdiri menatap Niel dengan mata berkaca-kaca. Shan,dia benar-benar Shan. Pemuda yang dilihatnya kemarin benar-benar Shan. Niel berdiri menggapai-gapai kekasihnya itu,Shan menyambutnya dengan suka cita. Memeluk sang kekasih tak kalah erat seperti Sei memeluknya. Ia sungguh bahagia bertemu dengan Shan kembali. Sementara Sei,hatinya hancur. Ia mematung menyaksikan Niel memeluk orang lain. Tangan Sei mencoba menggapai Niel,namun tidak berhasil ia tak mampu bergerak. Sakit sekali rasanya.
“Jangan pergi Niel..kumohon..” lirih Sei, setelah Shan memohon ijin membawa kekasihnya itu untuk tinggal bersamanya. Mereka telah sampai dirumah Sei.
Selama ini Shan hidup bersama sepasang kakek dan nenek kaya raya yang tidak memiliki anak. Mereka telah menganggap Shan sebagai cucu mereka sendiri. Kehidupan Shan cukup tak kekurangan suatu apapun,maka dari itu ia ingin Niel ikut bersamanya.
“Jangan tinggalkan aku Niel..aku masih sakit..”kali ini Sei berbohong.
Niel diam sejenak,lalu tersenyum tulus,“Tentu aku akan tetap disini sampai Sei sembuh,aku akan merawatmu Sei.”
“... baiklah,aku pamit pulang. Nenek dan kakek pasti sedang menungguku dirumah. Esok aku akan berkunjung lagi.” Seloroh Shan juga sambil tersenyum setelah sebelumnya sempat terdiam.
“Mmmghh....mmgh..”desah Niel.
Mata Sei terbelalak,ia terpana menyaksikan peristiwa dihadapannya saat ini. Hatinya terbakar,bagaimana tidak?Shan menarik Niel dalam sebuah ciuman. Memainkan lidahnya didalam rongga mulut Niel,membuat Niel kehabisan nafas. Terus dan terus lidah mereka beradu hingga saliva mereka keluar dari sudut bibir masing-masing. Yang lebih tragisnya ketika Niel menekan tengkuk Shan dan mendorongnya pelan untuk lebih memperdalam ciuman mereka. Niel menikmatinya dan itu merupakan derita hebat dihati Sei yang hanya bisa diam membeku.
“Ah..haah..haah..”Niel bersusah payah mengambil nafas setelah pangutan mereka terlepas. Shan mengelap benang saliva yang mereka buat dibibir Niel. Setelah itu kembali mengecup dahi sang kekasih dan pamit pulang.
Pintu tertutup. Shan telah pergi. Niel mulai bisa mengatur nafasnya sementara Sei masih diam menatap wajah Niel tanpa bisa bergerak. Itu sakit sekali. Ia belum pernah merasakan sakit yang lebih parah dari ini. Rasanya lebih sakit dibandingkan ditusuk ribuan sembilu. Sei berjalan perlahan kearah Niel.
“Seei-mphhhhth..lephmmp..ashthh..”pekik Niel berusaha melepaskan ciuman kasar Sei. Ia memukul mukul dada Sei,tapi Sei tak mau melepaskannya. Sei melumat bibir Niel kuat dan menggigit bibir bawahnya. Lidahnya juga bermain dirongga mulutnya mencari lidah Niel,memaksanya untuk bertarung dan membuktikan siapa yang lebih unggul. Kesal karna tak ada perlawanan Sei menghisap lidah Niel,kemudian menghisap bibir atas dan bawah Niel secara bergantian. Ciuman ini berbeda,menyakitkan-karna dilakukan dengan orang yang tidak ia cintai. Tidak sama seperti Shan yang sangat lembut,Sei sungguh kasar ia bahkan menjamah beberapa bagian tubuh Niel dan membuat Niel mendesah tertahan. Niel menangis,airmatanya turun membasahi ciuman mereka. Lagi-lagi Sei melepaskan ciuman itu karna air mata Niel.
“Kau senang Niel?”tanya Sei dingin sembari mengelap salivanya sendiri.
“Ka-kamu jahat sekali Sei..apa salahku?kenapa kamu laukan itu?”
“AKU MENCINTAIMU NIEL!!!KAU MILIKKU!!TAK ADA YANG BOLEH MENYENTUHMU KECUALI AKU!!” Sei berteriak kencang.
Sei menendang meja kecil didekatnya berdiri,dan itu membuat Niel ketakutan. Niel terduduk memeluk lututnya. Tangisnya tak juga reda. Sei menjadi iba. Ia menjadi sangat merasa bersalah. Ia berteriak frustasi dan mengacak-ngacak rambutnya . Ia berlari ke luar rumah,membiarkan Niel yang masih terduduk di sana. Bukan,bukan ini yang Sei mau. Bukan ini. Hatinya terasa lebih sakit ketika menyaksikan butiran airmata yang turun dari mata indah Niel. Hatinya terasa lebih sakit ketika mendapati orang yang ia puja meringkuk ketakutan mendengar teriakannya.
***
Hari telah pagi,Sei pulang. Ia berjalan memasuki rumah. Semalaman ia tidak tidur memikirkan kejadian itu. Sei sungguh merasa bersalah,lihat saja kondisinya sekarang yang begitu mengenaskan itu. Dengan rambut acak-acakan, mata yang sembab,dan sebuah map berwarna coklat yang ia pegang ditangan kanannya yang entah darimana ia dapatkan. Ia mendekati Niel yang sedang terpejam di ruang tengah. Ia mengusap pelan surai emas milik Niel dan menyentuh bibir manis pemuda itu yang semalam ia kecup paksa. Ia melukai Niel,ada sedikit luka dibibirnya. Air matanya mulai turun mengingat kejadian semalam. Mendengar isakan Sei membuat Niel terbangun. Ia bergerak waspada menjauhi Sei.
“Maafkan aku..Niel..aku sungguh sungguh mencintaimu..maafkan aku..”
Niel memicingkan telinganya mendengar isakan halus Sei,ia tak tega mendengarnya, “Sei..jangan menangis..” Niel bergerak-gerak mencari Sei. Ia menyentuh wajah Sei,dan menghapus butiran air yang turun itu.
“Maaf Niel..maafkan aku..aku mencintaimu..sangat mencintaimu. Pilih aku,Niel. Aku berjanji akan membahagiakanmu. Bahkan jika kamu mau,aku bisa membuatmu kembali melihat. Aku akan membuatmu bahagia Niel..aku akan melindungimu. Aku akan menjagamu. Aku bisa membuatmu bahagia Niel.” Janji Sei seraya menggenggam tangan Niel. Niel melepaskan tangannya kemudian menggelengkan kepala seraya tersenyum.
“Bagaimana bisa kamu membuatku bahagia,sementara kebahagianku adalah bersama dengan Shan? Sei.. entah kemarin,sekarang,atau bahkan nanti ketika aku dilahirkan kembali. Percaya atau tidak aku..aku akan tetap memilih Shan. Aku memang ingin melihat dunia. Tapi aku lebih baik kembali buta jika tidak ada Shan disisiku. Kau sahabat terbaikku Sei. Sahabat terbaik yang pernah aku miliki.”
“Permisi!!” teriak Shan dari luar.
Niel berdiri,melangkah ke arah pintu dengan senyuman yang begitu cerah. Senyuman yang hanya untuk Shan,bahkan ketika turnament basket tempo hari bukan senyum itu yang diberikan Niel untuk Sei. Sei menarik lengan Niel,langkahnya terhenti. Sei menatap Niel penuh harap. Namun apa?Niel menarik tangannya dan kembali berjalan membuka pintu untuk Shan.
***
“Apa kau benar-benar mencintainya Shan?”
“Tentu saja aku sangat mencintainya,Sei.”
“Lalu apa kau rela mengorbankan nyawamu untuk kebahagiannya?”
“Apapun akan kulakukan untuk Niel.”jawab Shan mantap.
“Apapun?termasuk memberikan kedua matamu itu untuk Niel?”
Shan tertegun mendengar pertanyaan Sei,“Maksudmu?”tanyanya tak mengerti.
“Bukankah ia sangat ingin melihat dunia?Niel pasti akan sangat bahagia jika itu terkabul. Nah,cara satu-satunya ialah mendonorkan mata untuknya. Bagaimana?apa kau bersedia Shan?”
Shan kembali tertegun mendengar pertanyaan yang Sei ajukan, ia berfikir sejenak,“Tentu-tentu. Tentu aku bersedia. Tapi aku tidak mengetahui bagaimana caranya.”
Sei tersenyum penuh kemenangan,“Ah,itu mudah Shan. Aku telah mengurusnya. Kau terima beresnya saja. Tapi..masalahnya,pihak rumah sakit tidak mau menerima jika sang pendonor masih hidup.”
“Jadi?Jadi apa yang harus aku lakukan?”
“Kau harus mati untuknya Shan,bagaimana?”
Shan kembali terdiam,ia terlihat berfikir begitu keras “Aku harus mati?” ia bertanya penuh keraguan. Sei diam tak menjawab,ia hanya mengangguk angkuh.
“Baiklah..tapi.. berjanji lah padaku Sei..” lirih Shan nyaris tidak bersuara.
Sei tersenyum penuh kemenangan “Apa itu? Ah,cepat pakai identitas pendonor ini. Jadi jika kau mati,pihak rumah sakit akan segera mengetahui bahwa kau adalah seorang pendonor.” Ujar Sei sembari menyerahkan kertas bertali,tanpa ragu Shan segera mengalungkan ke lehernya.“Lebih cepat lebih baik mengerti?” ujar Sei lagi.
“Aku mengerti,berjanjilah padaku jaga dia selama kau hidup Sei,pertaruhkan nyawamu untuknya.”
Sei mengangguk tanda setuju,itu syarat yang sangat mudah baginya.”Ya..aku..”
Pembicaraan terhenti saat Niel berjalan menghampiri mereka. Ia telah selesai mandi. Hari ini Niel dan Shan akan berjalan-jalan ke taman hiburan. Shan menyambut Niel lalu menggenggam jemarinya hangat. Ia tersenyum memandang Irish Biru Niel yang selalu kosong itu. Ia benar-benar merindukan Niel. Mereka segera berangkat setelah berpamitan dengan Sei. Sei juga bergegas ke kamarnya begitu ia selesai menutup pintu. Tidak berapa lama Sei keluar membawa sebuah map berwarna coklat muda.
***
Matahari sudah hampir terbenam. Shan dan Niel terlihat sedang duduk di paviliun kecil yang berada di taman hiburan itu. Shan mendekati Niel,dan membawa Niel ke pelukan hangatnya. Niel membalasnya lebih hangat.
“Ada apa Shan?”tanya Niel ditengah kesunyian diantara pelukan mereka.
“Tidak..aku..hanya merindukanmu Niel.” parau Shan.
“Aku tak akan meninggalkanmu Shan.”
“Sungguh?” tanya Shan seraya melepas pelukan mereka.
“Iya. Aku berjanji.”
“Terimakasih Niel..aku sungguh mencintaimu.” Shan memegang wajah Niel lalu melumat bibirnya. Nielpun begitu,ia mencengkram kuat kemeja Shan. Seperti tak mau melepaskannya barang sedetik pun. Hingga bibir keduanya terasa ngilu barulah ciuman itu berakhir.
“Aku..beli minuman dulu ya Niel..”pamit Shan sambil mengecup dahi kekasihnya itu.
Shan berbohong,ia pergi bukan untuk membeli minuman seperti yang ia katakan. Shan pergi menuju jalan raya besar disamping taman hiburan itu untuk menabrakkan dirinya sendiri. Ia berjalan tanpa ragu ke arah mobil-mobil yang melaju kencang. Shan memejamkan kedua matanya saat sebuah mobil minibus sedang melaju kearahnya. Terdengar suara klakson dan teriakan seorang wanita menyuruhnya untuh menyingkir. Namun tak ia pedulikan,Shan terus berdiri dengan kokoh menantang minibus itu. Lalu terdengar suara rem,dentuman keras dan wanita menjerit histeris yang memekakan telinga setelahnya.
***
Seminggu berlalu,Niel masih terbaring diatas tempat tidur sebuah bangsal kelas satu rumah sakit dengan perban yang menyelimuti area matanya. Ia telah dioperasi. Dan hari ini adalah,saatnya Niel membuka perbannya untuk memastikan bahwa ia sudah bisa melihat. Seorang dokter dengan hati-hati menggunting kain kassa yang menyelimuti matanya itu,membuka kapas yang menutupinya lalu dengan sabar menunggu Niel membuka matanya. Perlahan Niel mulai membuka kelopak matanya. Ia bisa melihat sekarang. Dan orang yang pertama ia lihat adalah,
“Shan..Shan..aku bisa melihatmu..” Niel menangis karna rasa senangnya. Ia sungguh merasa sangat bahagia dapat melihat wajah kekasihnya itu. Ia tak berhenti memandang warna Irish-nya yang kini berganti menjadi coklat muda. Warna itu..mengingatkannya dengan seseorang.
“Dimana Sei?”
Shan memejamkan kedua matanya saat sebuah mobil minibus sedang melaju kearahnya. Terdengar suara klakson dan teriakan seorang wanita menyuruhnya untuh menyingkir. Namun ia tak memedulikannya,Shan terus berdiri dengan kokoh menantang minibus itu. Ia telah siap dengan pengorbanan yang akan dilakukannya. Tetapi ada sebuah tangan yang menarik bahunya ke tepian jalan, membuatnya terhempas ke trotoar. Ia membuka mata melihat sang penolong.
“S...Sei..?SEEEEIIIIIIII” teriak Shan ketika minibus itu menerjang tubuh Sei. Ia berlari menghampiri Sei yang tengah sekarat bersimbah darah. Ia memandang penuh tanya tentang apa maksud Sei yang menyelamatkan nyawanya itu.
“Be...rikha..anh..mataku..untuknyaa..katakhan..katakhan..aku..aku..menchintainya katakan aku..menyayanginyaa...kathakan dia.. hidupku..dhiaa..dhiaa..nafasku..katakhan.. aku sungguh..sungguh..padanya..khatakhan jugha..aku.. lebhih bhaik darimhu.. harushnya.. aku..yhang..Niel pilih..katakhan padanya Shan..berjhanjilah..” lirih Sei susah payah.
“Aku berjanji. Demi Osiris aku berjanji padamu Sei...”
“Bhaikh..bhaikh...jagha dhia Shan..Phertaruhkan denghan nyawa---”
Irish berwarna coklat muda itu kosong memandang langit. Kata-katanya tak sempat ia selesaikan. Seperti yang ia ucapkan. Ia bersungguh-sungguh mencintai Niel. Yang ia lakukan tadi pagi hanyalah menguji kesungguhan hati Shan. Tak pernah lagi terbesit difikirannya untuk merebut Niel dari Shan sejak ia membuat pujaannya itu menangis. Ia benar-benar mencintai Niel.
~~~~
Sementara Nut Ahun Ra di bawah tempat tidur Sei mulai kembali mengeluarkan asap putih.
TAMAT