Tampilkan postingan dengan label GAARA NYULNYUL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GAARA NYULNYUL. Tampilkan semua postingan

A Man In My Eyes (CERPEN)


By : Gaara Nyunyul
‪#‎choi‬
“Cerita ini kudedikasikan untuk sahabatku “Kun” yang telah pergi dan tak akan pernah kembali..! Terimakasih atas kehadiranmu di hidupku dan hidup “Pii” selama lima tahun ini, walau hanya sekejap saja.. Pii Loves Kun”
Ada banyak hal yang harus dilakukan di tempat ini, sama dengan sepercik harapan yang muncul terkadang dalam setiap mimpi yang menghantui setiap tidurku. Aku bukan orang yang hebat, yang mampu membawa namaku melambung hingga dikenal jutaan atau bahkan puluhan orang sekalipun. Aku hanya menginginkan tempat sunyi damai, tanpa ada cerita dan masalah rumit yang selalu mampir tanpa izin dalam hidupku. Kurasa aku akan menceritakan banyak hal di sini, bagaimana kehidupanku sejak kecil hingga sekarang, dengan siapa aku tinggal, bagaimana masa kecilku, juga.. bagaimana aku jatuh cinta...
Aku laki-laki. Ya, laki-laki dengan jakun di leherku, tanpa buah dada, tanpa rahim, dan tanpa hal lain yang dimiliki oleh wanita pada umumnya. Tentu, karena aku memang laki-laki. Cowok. Aku bukan lelaki spesial, sekali lagi aku hanyalah laki-laki biasa yang mengidamkan tempat damai dan tenang tanpa masalah. Tapi sepertinya tempat itu sangat mustahil untuk didapat, karena sekarang... saat ini... ada sosok lelaki lain yang sedang duduk di depanku dengan senyum dan seringai iblis khasnya. Cowok yang sangat kutakuti di dunia ini selain Ayahku, cowok yang dengan semena-mena akan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Ya.. dia semacam..... Psikopat!
“Kemarin kamu pergi ke mana?” suaranya bertanya pelan, namun nada tajam itu masih mengusik telingaku. Aku hanya membisu. Bukanya aku takut untuk bersuara namun kalau aku jawab, dia akan semakin memperpanjang masalah ini. Masalah sepele ini!
“Ke ulang tahun Nina,” jawabku cepat. Aku memang pergi ke ulang tahun salah satu temanku. Kemarin malam salah satu teman sekelasku ulang tahun yang ke tujuh belas, tentu saja aku harus menghadirinya karena dia mengundangku.
“Kenapa nggak bilang?” suaranya terdengar tajam lagi-lagi. Aku menghembuskan nafas gusar.
“Kenapa aku harus bilang semua hal yang aku lakukan?,” tanyaku lagi, kesal. “Nina kan temanku..” aku menjawab pelan, nyaris berbisik. Cowok bernama Revo di depanku ini hanya tersenyum, tidak.. dia menyeringai seperti biasanya. Aku begidik ngeri, membayangkan jiwa psikopat dan posesif mutlaknya muncul lagi.
“Kenapa kamu nggak bilang ke aku? Kamu pergi kemana kemarin, Sandy?”
“Aku beneran pergi ke rumah Nina. Dia ulang tahun kemarin. Aku nggak bilang, karena nggak mungkin aku ngajak kamu, kamu kan nggak diundang!” aku nyaris berteriak. Untung saja sekolah sudah mulai sepi, hanya tinggal beberapa siswa yang berseliweran tanpa memperdulikan pertengkaran kami. Dua orang cowok sedang bersitegang di belakang gudang sekolah? Pasti yang mereka pikirkan adalah kami sedang memperebutkan cewek. Haha... sayangnya Revo bukan cowok yang tertarik pada perempuan, bahkan secantik apapun dia.
Revo Vanial Faroshi. Dia adalah teman masa kecilku. Kami tumbuh besar bersama, sejak TK, SD, SMP, bahkan sampai SMA seperti sekarang ini. Dia selalu mengekor kemanapun aku pergi. Sedikitpun dia tak pernah membiarkan aku bebas melakukan hal yang kuinginkan sendirian. Juga, apa yang terjadi sebenarnya aku masih belum paham, mengapa sejak TK hingga sekarang dia selalu ditempatkan dalam kelas yang sama denganku. Itu yang masih jadi pertanyaanku. Apa dia merayu kepala sekolah? Apa dia menyogok kepala sekolah? Tentu saja itu bukan hal yang mustahil, Revo adalah salah satu putra tunggal dari keluarga yang sangat berada, berbeda denganku yang berasal dari keluarga yang sederhana.
“Please deh, Vo... Jangan bahas masalah ini lagi..!” aku mencoba mengakhiri perdebatan ini. Ekspresi Revo masih sama. Seringai tampak jelas di wajahnya. Aku membisu seketika.
Aku tidak tahu sejak kapan teman kecilku ini berubah seperti ini. Awalnya dia adalah anak yang manis, semua orang menyukainya. Dia anak yang baik hati, suka menolong, ramah, dan juga ceria. Sebagai anak tunggal keluarga yang sangat berada, dia pasti mendapatkan semua yang dia inginkan. Wajahnya juga tampan dan manis secara bersamaan. Aku masih belum bisa mengerti, apa yang terjadi sehingga Revo manis yang dulu selalu menjemputku dan mengunjungiku hingga menginap di rumahku berubah menjadi sosok cowok yang sangat posesif seperti ini. Terus terang aku salah paham. Ada apa dengannya? Bukankah ini terlalu berlebihan untuk sekedar sahabat? Sama-sama cowok pula...
“Jangan lakukan itu ke aku lagi...!” tatapan Revo melembut, tangan kanannya mengelus pelan pipiku. Aku beku di tempatku. Entah mengapa perlakuan Revo terkadang membuat jantungku berdegup kencang dan membuat keringat dingin mengucur keras dari keningku. Aku merasa takut pada perasaan ini. Aku hanya terdiam, lalu memalingkan wajahku, menghindari tatapan matanya.
Kami pulang bersama seperti biasanya, dengan mobil Revo tentu saja. Aku masih membisu selama perjalanan. Revo juga membisu, namun aku tahu kalau sesekali dia menoleh ke arahku. Mobil Revo memasuki halaman rumahku. Rumahku memang hanya rumah sederhana yang berada di perumahan biasa. Kakakku keluar dari dalam rumah, menyambutku seperti biasanya.
“Revo nggak mampir dulu?” kak Sany bertanya cepat. Revo tersenyum dan menggeleng pelan.
“Nggak usah, deh kak...! Lain kali aja..” Revo menolak sambil tersenyum manis. Senyuman palsu yang selalu dia tunjukkan ke orang lain, karena sebenarnya dia lebih suka menyeringai di depanku. Seperti seringaian harimau yang kelaparan. Menakutkan.
“Sekalian makan siang, yuk! Atau kamu mulai nggak level, nih makan masakan rumahan? Koki kamu di rumah pasti udah nyiapin makanan mewah..” kak Sany, kakak perempuanku satu-satunya mulai menggoda. Revo menggeleng sambil menggaruk tengkuknya.
“Iya, deh kalau kakak maksa...” Revo cengengesan dan akhirnya masuk ke dalam rumahku. Dia sudah bagaikan keluargaku sendiri. Ibuku meninggal ketika aku TK karena kecelakaan, sedangkan Ayahku sudah lama meninggal ketika aku masih dalam kandungan. Bagaimanapun, hanya kak Sany dan Revo yang kupunya sekarang. Mungkin sifat posesif Revo muncul karena dia merasa kalau aku kesepian. Yah, siapa tahu saja begitu!
Revo sudah duduk manis di meja makan sambil menuangkan nasi dan lauk pauk ke dalam piringnya dengan wajah ceria. Tangan kanannya sibuk dengan nasi di depannya, namun Blegh! Tangan kirinya tiba-tiba menarik tubuhku dan tak dapat dihindari lagi aku jatuh ke pangkuannya. Aku gelagapan, sementara wajah Revo sudah menempel erat di pipiku. Aku bengong, seiring dengan berdegupnya jantungku secara gila-gilaan. Aku sadar dan langsung melompat dari pangkuannya.
“Kamu apa-apaan?” wajahku sudah merah karena malu, namun aku menutupi rasa maluku dengan ekspresi pura-pura kesalku. Revo menyeringai lagi-lagi.
“Dari dulu juga kita sering pangku-pangkuan...!” suaranya berubah menjadi menyebalkan di telingaku. Aku kembali membisu. Aku beranjak ke kursi seberang dan akhirnya sibuk dengan makanan di depanku. Aku masih merasa kikuk untuk sekedar menatap Revo, mengingat masa kecil kami yang sangat yah.. saling peluk, saling cium, bergandengan tangan, bahkan mandi bersama. Itu dulu, ketika kami masih kecil! Untuk sementara, aku akan mencoba menutupi rasa malu ini! Perasaan apa ini? Aku mirip seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Eh, jatuh cinta? Dengan Revo? Ah, tidak!
***
Aku mengerjapkan mataku perlahan saat sinar matahari menyeruak dari sela gorden kamarku. Aku menguap dan akhirnya memaksakan diriku untuk bangkit dari tidurku. Perlahan aku meraih HP di sebelah bantalku dan membuka kunci HPku sampai mataku terbelalak kaget melihat sekitar seratus missed call dan puluhan SMS masuk ke HPku. Dari orang yang sama. Revo! Isinya juga hampir sama. “Dimana? Ngapain? Balas SMSku! Angkat teleponku!” dan SMS-SMS lainnya dengan nada yang sama. Aku mengacak gusar rambutku, sampai HPku berkedap-kedip. Panggilan. Revo.
Dengan wajah masih mengantuk aku segera menekan tombol jawab. Hal pertama yang kudengar saat menempelkan HP di telingaku adalah...
“Kamu kemana aja? Aku telepon berkali-kali, SMS berkali-kali...” suara Revo terdengar kacau di seberang sana. Aku menghembuskan nafasku kesal.
“Kamu gila atau pura-pura bego? Kamu telepon dan SMS jam berapa? Aku udah tidur, tau!” aku berteriak kencang. Suara nafas Revo terdengar gusar.
“Kamu udah bangun?” nada suaranya berubah serak.
“Ini baru aja bangun... Kenapa?”
“Aku di depan rumah kamu sekarang.” Jawaban Revo membuat mataku terbelalak kaget. Dalam sekejap aku melompat dari kasurku dan langsung membuka pintu depan. Revo berdiri di dekat mobilnya dengan wajah kusut. Tampak sekali kalau dia tidak tidur semalaman. Aku menghampirinya dan begitu melihatku berjalan ke arahnya, dia langsung menyambutku dan memelukku spontan.
“Kamu kenapa? Kamu nggak tidur semalaman dan nunggu di sini?” aku bertanya langsung. Revo mengangguk. “Ngapain?,” lanjutku tiba-tiba.
“Aku kangen kamu... Nggak boleh?” wajah Revo memelas. Wajah kusut khas orang begadang terlihat dari wajah tampannya. Bawah matanya menghitam khas orang kurang tidur.
“Kan masih bisa ketemu besoknya...” sebelum aku sempat melanjutkan ucapanku, tubuh Revo sudah ambruk menimpa tubuhku. Aku yang kehilangan kesadaran akhirnya ikut terjatuh dengan posisi badan di bawahnya. Dia menindih tubuh mungilku.
“Aku kangen kamu.. Kangen banget...” Revo mulai meracau tak jelas. Aku meraba keningnya. Panas. Pantas saja, dia demam tinggi!
***
Bayi besar itu sudah bangun dan duduk di atas kasurku sambil berselonjor kaki. Sementara itu aku duduk di sebelahnya dan sibuk menyuapi dia bubur buatanku sendiri. Revo menatapku lembut, sementara aku berkali-kali mendengus kesal.
“Lihat nih hasil ulah kamu sendiri! Sekarang kamu jadi sakit, aku juga yang repot. Bolos sekolah, lagi!” aku berteriak kencang dengan wajah kesal. Revo menatapku datar, lalu dalam sekejap seringai itu muncul lagi.
“Kamu udah bisa senyum, tuh.. berarti kamu udah sembuh..! Sana pulang!” aku mengusirnya galak walau sebenarnya aku merasa cemas dengan keadaannya. Revo menggenggam tanganku lalu memelukku erat hingga aku jatuh menimpanya.
“Hangat...” bisiknya perlahan, sebelum akhirnya dia kembali tertidur.
Aku menatap wajah damainya ketika tidur. Perlahan sekelebat rasa bersalah muncul dalam hatiku. Ada rasa ingin berada di sampingnya, walau yang dia lakukan hanya tersenyum saja ketika aku berbicara, atau dia hanya tersenyum ketika aku marah, atau bahkan ketika aku sedang sedih pun dia pasti nekat menyakiti dirinya sendiri agar dia juga ikut merasakan sakit sepertiku. Dia benar-benar seperti psikopat. Ya, psikopat yang sangat kusayangi.
Perlahan tangan Revo bergerak gelisah, namun saat dia sudah membuka matanya hal pertama yang dia lakukan adalah menarik tangaku dan memelukku erat sampai aku kehabisan nafas. Aku hanya bisa membisu melihat tingkahnya.
“Aku sayang banget sama kamu...” itu kata-kata yang muncul untuk kesejuta kalinya dari mulutnya. Aku hanya bisa membisu mendengarkan ucapannya, walau sebenarnya ada perasaan lain yang kurasakan ketika dia mengatakan itu padaku. Ada getaran yang muncul, dan itu sangat menggangguku. Aku menyayanginya, namun aku takut perasaan ini semakin dalam, karena nantinya akan banyak orang yang akan menghina dan menghujat perasaan ini. Aku hanya tidak ingin banyak orang yang menyayangiku menderita karena perasaan ini. Perasaan terlarang kepada seorang cowok sepertiku.
Mata Revo berkedip, lalu menatap mataku. Aku balik menatap matanya. Aku menghembuskan nafas kasar dan langsung berteriak kencang ke arahnya.
“Gara-gara kamu, nih aku bolos sekolah...” aku hanya menatap matanya dengan wajah kesal. Revo berkedip sekali lagi, lalu menyunggingkan bibirnya. Menyeringai. Senyum yang sangat aku benci selama ini.
“Terimakasih...” dia tersenyum sekali lagi. Aku memalingkan wajahku dan langsung melepaskan diri dari pelukannya. Aku pergi sebelum perasaanku semakin kacau. Perasaan terlarang ini muncul lagi!
***
“Kamu ngapain?” suaraku hampir delapan oktaf tingginya saat melihat Revo sedang duduk di atas kasurku sambil membuka-buka album foto masa kecilku. Dia masih belum mengganti seragamnya dengan baju bebas. Asal kalian tahu saja, dia telah memutuskan dengan sepihak kalau dia akan tinggal di sini, di rumahku! Sekamar denganku!
“Kamu dari dulu manis banget, ya?” suaranya terdengar menyebalkan di telingaku. Dia tergelak geli dan bahagia. Aku semakin kesal dengan ekspresi itu. “Balikin!!” aku kembali berteriak, melompat ke atas kasurku dan mencoba merebut album fotoku di tangannya. Namun Revo lebih gesit dariku, dia menjauhkan album fotoku dari jangkauanku.
“Aku cuma pengen mengenang masa lalu kita...” wajahnya kembali memelas, dan jangan lupakan senyum ala seringaian itu!
“Nggak ada yang bagus untuk dikenang. Dari dulu kamu nempel melulu, bosen deh sampe sekarang masih aja nggak bisa berubah..!” wajahku terlipat sempurna, khas wajah orang kesal yang sedang digoda.
“Kamu selalu memesona sejak dulu...” dia tersenyum lalu menjauhkan tanganku. Dia mendudukkan pantatnya kembali di atas kasurku. Mau tak mau aku juga menyerah dan duduk di sebelahnya. Kami menatap foto-foto itu sambil tertawa geli, mengenang masa lalu kami. Hampir semua foto itu penuh dengan foto kami berdua. Mama Revo selalu mengabadikan momen kami berdua saat itu.
“Kalau lihat foto ini, entah kenapa aku jadi mikir kalau separuh hidupku aku habiskan bareng kamu, Re...” aku menoleh, dan mendapati Revo sedang tersenyum menatapku.
“Bahkan aku bisa habisin seluruh hidupku bareng kamu...” suara Revo terdengar berbisik, membuatku merinding.
Aku membeku. Sepertinya ada hal yang perlu kutanyakan padanya. Perlu! Tentang semua perasaan ini, tentang semua kecemburuan Revo selama ini, rasa posesifnya, obsesifnya, juga tentang ucapan manisnya yang... terlalu berlebihan.
“Revo.. aku mau tanya,” ucapku perlahan. Rasa ragu mulai menyelinap dalam hatiku, apalagi saat aku mengutuk rasa gugup dan grogiku yang muncul tiba-tiba ini.
“Hmmm...?” dia tersenyum menatapku. Aku menggaruk tengkukku dan menghembuskan nafas ragu. Revo menatapku intens dan masih terus menampakkan senyumnya di depanku.
“Sebenarnya kenapa kamu harus melakukan ini semua?” aku nyaris berbisik. Aku tahu Revo paham apa yang kumaksudkan. Dia sering mengatakan kalau dia menyayangiku, mencintaiku.
“Aku sayang kamu...”
“Kamu udah sering bilang kayak gitu! Lihat, kita juga sama-sama punya jakun! Dada kita sama-sama datar, kita sama-sama cowok...”
“Lalu?”
Aku bungkam. Aku tahu, pasti begini kalau kami harus bicara serius. Apalagi akulah yang memaksanya untuk berbicara. Revo masih tersenyum di depanku.
“Ini salah...,” lanjutku akhirnya.
“Apa mencintai itu pernah salah? Aku nggak pernah menyesal udah punya rasa cinta ini buat kamu...”
Aku membisu lagi. Revo menatapku, masih dengan senyumnya. Bohong kalau aku tidak merasakan hal yang sama, namun aku berpikiran untuk menghapus perasaan ini. Selama ini hanya dia satu-satunya orang yang mengalihkan pandanganku tentang cinta. Tak pernah ada catatan cinta dalam hidupku selain catatan perjalananku dan Revo. Bahkan kami selalu menghabiskan waktu bersama, seperti pasangan kekasih lain.
Perlahan aku bangkit dari dudukku dan beranjak keluar dari kamarku. Bagaimanapun, walau hatiku juga sangat menyayanginya, namun aku masih mencoba bersikap rasional untuk tidak terjebak dalam perasaan ini. Satu hal yang pasti : Sekarang aku tahu kalau sahabatku menyayangiku lebih dari sekedar sahabat. Baik, itu cukup untuk membuktikan apa alasan di balik sikap posesifnya selama ini!
Lalu sejak hari itupun semuanya seolah berubah. Aku mulai menghindari Revo, tidak ingin berlama-lama dengannya lagi. Aku selalu pergi ketika Revo mengetuk pintu rumahku dan beralasan kalau aku punya urusan. Saat Revo bersikeras untuk ikut, aku selalu beralasan kalau aku ingin sendiri. Begitu seterusnya... hingga hari ini! Aku terlalu takut dan pengecut jika perasaan ini semakin dalam dan aku menyerahkan seluruh hatiku untuknya. Jujur, aku masih belum siap melakukannya!
“Sandy.. Sandy,,,! Kamu kenapa menjauh? Kenapa lari dari aku?” dari jarak satu meter dia berteriak kencang memanggil namaku. Aku menghentikan langkahku dan menoleh cepat.
“Jangan ikuti aku lagi...!” sakit! Sakit sekali hatiku saat mengatakannya, apalagi saat melihat seringai dan senyum yang biasanya muncul di bibir tipisnya itu kini berganti dengan lengkungan ke bawah. Raut sedih yang aku tahu pasti membuatnya menderita, karena aku juga merasakan sakit sama sepertinya!
“Kenapa? Apa kamu menghindar karena perasaanku ke kamu?” dia berteriak.
“Bukan!”
“Apa kamu benci banget ke aku?”
“Bukan!”
“Atau kamu malah jijik?”
“Bukan! Bukan! Bukan! Aku harus hapus perasaan ini ke kamu, karena aku juga ngerasain hal yang sama kayak kamu!” aku berteriak kencang, dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku. Rasa sakit ini sangat menyiksaku!
“Aku sayang banget sama kamu...! Bahkan aku sanggup hidup tanpa apapun, asal ada kamu...”
“Aku bukan siapa-siapa yang harus kamu pertahankan dan kamu kejar..!”
“Tapi kamu udah kayak oksigen dalam hidupku...!”
“Tolong lepaskan aku, Revo... Please..!” entah sejak kapan air mata ini menetes dari pelupuk mataku. Revo menatapku sedih, lalu dia menunduk pelan.
“Aku nggak akan pernah rela lihat kamu sama orang lain..! Bahkan seumur hidupku pun aku nggak akan pernah rela!” sebelum aku sempat membalas ucapannya, Revo sudah berbalik dan pergi dengan langkah lebar. Aku hanya bisa memandang punggungnya yang melangkah menjauh. Setelah kepergiannya, aku masih mematung di tempatku. Perlahan aku melangkah, dan pertahananku jebol seketika. Aku menangis kencang. Ternyata cinta itu sesakit ini. Sakit! Apalagi saat cinta yang indah itu dianggap tabu oleh banyak orang. Semacam cinta yang dilarang...
***
3 tahun kemudian...
Aku masih terdiam di meja makan, sementara kedua orang tua asuhku sudah berangkat bekerja sejak tadi. Mereka sangat menyayangiku seperti anak mereka sendiri. Ya, karena mereka memang sudah menganggapku anak mereka sendiri karena aku mengenal mereka sejak aku masih kecil. Orang tua Revo.
Tanganku meraih koran pagi yang biasanya diletakkan di meja makan. Aku membuka halaman pertama, dan ada foto Ayah angkatku di sana. Tersenyum. Sama dengan senyum Revo. Aku tersenyum miris, apalagi saat melihat sebuah berita di potongan koran yang telah digantung pada sebuah pigura di kamar Revo, ah.. tidak.. kamarku.
“Siswa SMA kelas 2 berinisial R putra tunggal dari pengusaha terkenal di Indonesia ditemukan tewas di kamar mandinya sekitar pukul 3 sore hari. Diduga kematiannya karena bunuh diri. Korban mengiris urat nadinya sendiri hingga kehabisan banyak darah. Di samping korban telah ditemukan selembar surat tulisan tangan korban pribadi. Motif kasus ini akan diselidiki lebih lanjut lagi.”
Aku tersenyum miris, apalagi saat melihat sebuah kertas yang berlumuran darah yang telah kering dan menghitam juga tertempel di sana. Tulisan tangan yang sangat kukagumi karena begitu indah, mirip tulisan seorang wanita tercetak jelas di sana...
“Maaf.. Maaf.. Aku terlalu egois untuk membiarkan kamu meninggalkanku... Maaf.. Maaf... Aku terlalu egois untuk membiarkan kamu memilih jalanmu sendiri... Maaf.. Maaf... Aku terlalu egois untuk membiarkan kamu tetap bertahan di sisiku.. Maaf.. Maaf... Aku telah membuatmu menangis.. Karena itulah, sayang... aku akan pergi.. meninggalkan keegoisanku untuk melihatmu menderita karena aku...”
Entah berapa kali aku membaca surat itu. Terkadang ada rasa sakit, marah, kesal, benci.. tapi entah kenapa seiring waktu aku mulai menyadari kalau Revo sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena aku. Memang berat untuk melupakannya, walau hanya sekedar mencoba. Kenyataanya, hingga saat ini cowok itu masih terlihat dalam mataku. Hanya satu orang cowok yang akan mengalihkan pandanganku dulu, sekarang, dan mungkin nanti... Seterusnya! Dan sekali lagi... Aku bukan orang hebat! Aku masih diliputi rasa bersalah itu, mungkin hingga aku menyusulnya nanti...
END

JUST YOU AND ME



By.Gaara Nyunyul
Like yang banyak yah Meembs, hargai Authornya dong .
Ada kalanya kita harus berpikir untuk dicintai...
Namun percayalah, cinta itu tak perlu mengenal siapa kamu...
Sebuah tangan menyentuh barisan buku yang terjejer rapi di rak perpustakaan. Jari-jemarinya menelusuri buku demi buku yang terjejer memanjang dalam satu barisan rak. Kening pemilik jari itu berkerut, namun seketika raut wajahnya kembali cerah saat dia telah menemukan sesuatu di sana. Buku yang dia cari! Jari telunjuknya menyentuh sudut buku tersebut namun sebelum sempat menariknya, telapak tangan lain telah merampas buku itu dari seberang rak.
“Hei..!” cowok yang merasa telah mengambilnya lebih dulu berteriak kencang ke seberang rak. Dia bergegas menuju tempat di mana orang itu merampas buku yang telah dia cari. “Aku yang lebih dulu dapat buku itu!” dia berteriak pada pelaku yang sedang memegang buku incarannya. Dia langsung bungkam seketika melihat orang yang sedang berdiri di depannya. Cowok dengan tatapan hangat, dengan alis tebal, bibir tipis, tubuh tinggi dan sosok yang sangat dikagumi di sekolah ini. Adik kelasnya!
“Tapi aku yang ambil buku ini lebih dulu. Maaf, deh!” cowok itu berucap sambil terkekeh riang. Kenavi Reanda Putra. Kalau tidak salah itu namanya. Dia begitu dipuja di sekolah ini sejak pertama kali dia memasuki lingkungan sekolah. Adik kelasnya yang sangat cuek, tapi sangat cerewet dan cerah seperti mentari karena kepribadian hangatnya.
“Nggak bisa gitu!” Kiyo berteriak kesal. “Aku udah cari buku itu dari kemaren-kemaren..! Nggak bisa! Tadi aku dulu yang pegang!” dia masih berteriak protes, sementara Avi begitulah sapaannya hanya menatapnya bingung.
“Kamu butuh banget, ya?” Avi bertanya cepat. Kiyo hanya melengos kesal. Mata sipitnya bergerak menatap wajah Avi. Entah kenapa dia merasa jantungnya berdegup kencang saat ini. Padahal baru kemarin dia putus dengan pacarnya. Cowok. Ya, dia adalah salah satu dari kaum pelangi!
“Aku udah dari kemaren-kemaren cari buku itu..!” Kiyo mendengus. Avi masih menatapnya lalu tersenyum.
“Gimana kalau kita bagi buku ini aja?”
“Maksud kamu?”
“Kita pake jadwal baca aja..! Waktu peminjaman kan enam hari, jadi kamu bawa tiga hari, aku tiga hari..”
Kiyo menggeleng. Wajah khasnya itu mendecih sebal. Ibunya adalah orang jepang, sedangkan ayahnya adalah orang indonesia asli, jadi wajah blasteran yang dominan ibunya itu menggeleng lucu.
“Bukunya tebel kayak gitu, mana bisa kalo baca cuma tiga hari! Aku juga kan sibuk!”
Avi menimang-nimang buku di tangannya sambil berpikir. Dia balas menatap Kiyo. Kiyo meliriknya dengan pandangan mengintimidasi.
“Ya udah, kamu bawa dulu aja, deh! Kalo mau dibalikin ntar kasih tahu aku, ya...! Aku jadi list readernya...” Kiyo mengangguk paham, lalu mengulurkan buku itu pada Kiyo. Kiyo menerimanya.
“Thanks!” Dia berbalik lalu melangkah ke tempat peminjaman. Sebenarnya Kiyo malu, tapi dia menutupi rasa malunya dengan ekspresi ketusnya. Kiyo bukan anak ketus dan pemarah, namun justru dia adalah cowok yang sangat manja. Di rumah saja dia selalu menempel pada Ibunya , atau yang biasa dia panggil dengan Haha-chan. Kiyo melangkah keluar perpustakaan sambil membawa bukunya, novel yang dia cari selama ini. Dia tersenyum senang lalu melangkah riang menuju kelas, berbeda dengan ekspresi galaknya tadi saat bertemu dengan Avi.
“Tunggu!” tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya. Suara itu semakin mendekat karena pemiliknya berlari ke arah Kiyo. Kiyo menoleh dan mendapati Avi sedang terengah-engah karena acara larinya. Dia menatap bingung Avi lalu bertanya dengan nada yang berbeda dengan saat tadi di perpustakaan.
“Kamu manggil aku?” Kiyo bertanya cepat. Avi bengong seketika mendengar nada bicara Kiyo yang berbeda dengan tadi saat di perpustakaan, namun kemudian dia tersenyum.
“Aku boleh minta nomor hape kamu, nggak? Biar aku bisa tahu kalau kamu mau balikin bukunya..” suara Avi terdengar berharap. Kiyo balas menatapnya. Apakah dia salah dengar? Kenapa ekspresi Avi sepertinya berharap sekali? Apakah dia juga sama sepertinya? Lebih tertarik pada makhluk yang memiliki jakun di lehernya, sama-sama tidak memiliki payudara, sama-sama memiliki hal-hal lain dalam tubuh seorang pria?
“Hm... oke, deh!” Kiyo menampakkan senyum yang membuat mata sipitnya terlihat semakin sipit. Dia menyebutkan nomor HPnya lalu berpesan singkat, “SMS aja dulu, aku sering dikerjain orang iseng...!” dia tersenyum. Avi terpaku menatap senyum Kiyo lalu mengangguk.
“Eh.. nama kamu siapa?” dia tersadar lalu bertanya gugup.
“Kiyo! Namaku Kiyo..”
“Oh, Kiyo ya...! Namaku...”
“Avi, kan? Aku udah tahu..”
“Kenapa kamu bisa tahu?”
“Karena kamu terkenal di sekolah ini. Adek kelas yang udah menarik perhatian sekolah sejak pertama kali masuk...! Aku bener, kan?”
“Eh..? Itu... Itu...” Avi menggaruk tengkuknya. “Eh? Adek kelas...??” wajah Avi perlahan bengong seketika.
“Aku kan kakak tingkat kamu...” Kiyo terkekeh geli. Dalam sekejap Avi mengubah ekspresi bengongnya menjadi salah tingkah.
“Maaf, kak.. Aku kira... kakak sama-sama kelas satu...! Maaf, habisnya wajah kakak baby face, sih...!” Avi masih menggaruk tengkuknya malu-malu. Perlahan dia menatap wajah Kiyo yang saat ini sedang tertawa terbahak-bahak. Ekspresi imut dan lucu, yang membuat Avi mau tak mau juga ikut tersenyum.
“Nggak apa-apa, kok...! Jadi tadi kamu anggap aku seangkatan? Hehe.. jadi salting sendiri, nih! Oke, deh.. ntar aku SMS deh kalau udah selesai...” Kiyo mengangguk cepat.
“Eh itu... bisa SMS sekarang, nggak kak? Soalnya takut kakak lupa..” Avi bertanya cepat. Kiyo terkekeh lagi-lagi.
“Oke, oke..! Lagian aku juga nggak pikun, kok!” Kiyo mengeluarkan HP dari sakunya dan langsung mengirim SMS kosong pada Avi. Avi merogoh saku celananya dan mengeluarkan HPnya.
“Kok SMS kosong?” wajahnya berkerut.
“Emang aku harus SMS apa?” Kiyo balik bertanya heran.
“Kakak kan bisa SMS ‘Hai, Avi..! Ini Kiyo, disimpan ya nomer ini! Muach..!’ gitu...”
“Apa-apaan itu..?” Kiyo tergelak lagi-lagi. “Emangnya ngapain aku pake muach-muach segala? Kamu kan bukan pacarku...!”
“Eh, maaf...! Bukan gitu maksudku, kak..! Aku nggak bermaksud buat...” wajah Avi merah. Kiyo menyadari ucapannya, lalu langsung berdehem. Jangan sampai Avi tahu kalau Kiyo sebenarnya “berbeda”.
“Aku cuma bercanda, kok..! Tenang aja..!” Kiyo tersenyum canggung. Avi mengangguk, lalu berpamitan untuk kembali ke kelasnya. Kiyo masih mematung, menatap punggung Avi yang meninggalkannya. Tiba-tiba Avi berbalik dan menoleh ke arahnya, dengan ekspresi kaget dan senyum yang perlahan tercipta di bibirnya. Kiyo balas tersenyum lalu melambai riang. Avi balas melambai dengan ekspresi kikuk. Kiyo mengernyitkan keningnya lalu menepuk dahinya sendiri. Dia pasti sudah gila, Avi kan tidak mungkin sepertinya!
Kiyo mengerucutkan bibirnya lalu masuk ke kelasnya.
***
Kiyo yang baru datang dari sekolah sempat bingung dengan kerumunan di depan rumahnya. Rumah yang biasanya kosong itu sepertinya telah memiliki penghuni baru. Kiyo manggut-manggut, lalu memarkir motornya di garasi rumah. Kiyo masuk ke dalam rumahnya dan mendapati ibunya yang biasa disapa dengan Haha-chan sedang memasak di dapur.
“Haha-chan, itu apa? Kenapa masak banyak banget?” Kiyo memeluk Ibunya dari belakang. Ibunya tersenyum lalu mengelus kepala anaknya.
“Kiyo tahu nggak siapa yang pindah ke rumah depan itu?” Ibunya menoleh, mendapati wajah manis anaknya yang sedang memasang wajah manja seperti biasanya.
“Siapa? Siapa?” Kiyo penasaran. Ibunya tersenyum lalu menepuk kepala anaknya pelan.
“Om Rean! Kiyo masih ingat dia, nggak?”
“Huaaaa??? Om Rean? Beneran?! Om Rean pindah di rumah depan kita itu?? Beneraaaaannnn...??” Kiyo berteriak histeris. Wajah senang dan antusias langsung muncul saat mendengar nama om Rean. Om Rean adalah teman kerja Ayahnya yang dulu sering mampir di rumah Kiyo setelah pulang kerja. Om Rean pernah bercerita kalau dia juga memiliki anak yang usianya setahun lebih mudah darinya. Suatu saat nanti mereka akan bertemu, itu janji om Rean. Tapi sayangnya setelah itu om Rean dipindahtugaskan ke luar kota, dan itu artinya Kiyo harus berpisah dengan om Rean sebelum sempat bertemu dengan anaknya. Setiap kali om Rean mampir pun hanya dengan istrinya, jadi hingga saat ini Kiyo tidak pernah bertemu dengannya.
“Kamu mau ke sana? Sekalian anterin ini, gih!” Ibunya memberikan rantang berisi makanan pada Kiyo. Kiyo mengangguk semangat, lalu meraih rantang itu. Namun tiba-tiba Ibunya menarik rantang itu kembali.
“Kiyo ganti baju dulu!” ucap Ibunya tegas. Kiyo mengerucutkan bibirnya.
“Tapi... tapi... Kiyo maunya sekarang...!” sifat manja anaknya muncul lagi. Ibunya menggeleng geli.
“Ini...! Tapi jangan lama-lama, ya maen di sana! Om Rean dan keluarganya lagi sibuk beres-beres pastinya...” Ibunya mengangguk cepat. Kiyo berteriak girang dan langsung memeluk Ibunya dengan sayang.
Akhirnya di sinilah dia sekarang! Di depan rumah baru om Rean yang berada tepat di depan rumahnya. Dia terus tersenyum riang lalu melangkah masuk ke dalam rumah om Rean yang sedang dipenuhi orang dari jasa pindah rumah. Kiyo melangkah masuk dan tersenyum begitu melihat om Rean sedang berbicara dengan istrinya di dalam rumah.
“Permisi, Om...!” suara Kiyo menginterupsi, mereka berdua menoleh ke arah Kiyo dan langsung tersenyum kaget.
“Kiyo...??!” mereka berteriak bersamaan. Kiyo tertawa dan langsung memeluk mereka. Rantang makanannya dia letakkan begitu saja di lantai.
“Ya ampun, kamu udah gedhe sekarang...! Jadi tambah manis, ya Pa..! Padahal dulu masih kecil aja udah manis, eh sekarang malah jadi tambah manis..! Kamu awet muda banget, sih Kiyo..!” tante Anda, istri om Rean tersenyum.
“Kiyo tetep manja, ya?” Om Rean tersenyum geli. Kiyo mengerucutkan bibirnya kesal.
“Biar aja Kiyo manja! Kan Kiyo nggak punya adek!”
“Lho, Ken juga nggak punya adek, tapi nggak manja kayak Kiyo...!” om Rean menyentil hidung Kiyo. Kiyo mengusap hidungnya dan kemudian menatap wajah mereka.
“Dia dimana sekarang?” Kiyo masih penasaran. Tak lama kemudian suara motor terdengar. Spontan mereka menoleh ke arah pintu saat sebuah suara muncul. Saat itulah wajah Kiyo melongo. Hari yang aneh, semua serba kebetulan! Itu Avi! Jadi anak om Rean itu Avi?
“Kok ada kak Kiyo di sini?” Avi tak kalah kagetnya dengan Kiyo. Kiyo menoleh ke arah om Rean dan tante Anda yang sedang menahan tawa.
“Jadi kalian saling kenal, ya?” mereka mengangguk-angguk mengerti. Avi terkekeh ringan lalu menoleh ke arahnya.
“Kak Kiyo kan kakak kelas Avi! Baru aja tadi siang kenalnya...”
“Iya...!” Kiyo mengangguk mengiyakan. Om Rean menepuk-nepuk kepala Kiyo. Tante Anda mencubit gemas pipi Kiyo. Inilah sikap mereka sejak dulu. Dulu saat Kiyo masih kecil mereka suka sekali mencubit pipi Kiyo, dan sekarang sepetinya masih belum berubah. Tapi anehnya Kiyo sama sekali tidak terganggu dan malah tersenyum senang.
“Mama sama Papa kok malah godain kak Kiyo, sih?” suara Avi menginterupsi kegiatan mereka.
“Biar aja, Mama suka sama dia! Unyu-unyu, tau!” tante Anda tersenyum lalu menjawil hidung Kiyo. Kiyo menatap Avi dengan pandangan tidak enak.
Akhirnya setelah acara pencubitan itu Kiyo sengaja menemui Avi yang sedang berada di kamar barunya. Kiyo hanya berdiri di depan pintu dan menggaruk tengkuknya.
“Maafin aku, ya..! Aku nggak berniat buat cari perhatian orang tua kamu..” suara Kiyo bergetar. Dia ingin menangis tiba-tiba. Avi menoleh ke arahnya, dan sedikit kaget melihat ekspresi Kiyo yang sepertinya siap untuk menangis itu. Avi berdiri, menarik tangan Kiyo masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintu kamarnya.
“Kak Kiyo, jawab pertanyaanku, ya...! Aku mau kak Kiyo jujur sama aku..!” Avi menatap wajah Kiyo yang sedang menunduk. Tangannya menyentuh pundak Kiyo. Kiyo mendongak, dan menampakkan wajahnya yang sudah berkaca-kaca. Dia terdiam lalu memalingkan wajahnya. Dia mengangguk pelan.
“Vendy Atma Brifandi itu mantan pacar kakak, kan?” suara Avi bergetar.
Deg! Wajah Kiyo pucat seketika. Dia mengangkat wajahnya menatap mata Avi.
“Ke..kenapa kamu bisa tahu..?”
“Aku tahu, karena dia sahabatku! Dia selingkuh, dia udah nyakitin pacarnya..! Aku nggak suka perbuatan dia, karena itu aku nyoba buat selidiki siapa pacarnya, dan aku tahu kalau itu kakak..! Untuk pertama kalinya aku merasa ada sesuatu di dalam sini yang memaksaku untuk melindungi kakak...” Avi menyentuh dadanya. “Saat itu aku baru menyadari kalau aku benar-benar sayang kakak! Aku memutuskan untuk masuk sekolah yang sama, dan aku dukung Papa untuk pindah rumah ke sini. Selain itu, kejadian di perpustakaan itu emang aku sengaja buat deket sama kak Kiyo..! Aku sayang kakak...! Aku cinta kak Kiyo..!”
Kiyo menatap wajah Avi, namun perlahan air mata telah menetes di pipinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup ini dia merasa begitu dicintai. Walaupun dia telah berganti-ganti pacar, namun selama ini dia tak pernah merasakan perasaan ini. Perasaan seolah-olah dia dianggap sebagai barang berharga dan langka di dunia ini!
“Aku cuma cowok manja...” Kiyo menunduk. Dia merasa tak pantas untuk dicintai seperti ini.
“Aku tahu! Tapi aku suka kalau kakak manjanya ke aku!”
“Aku cengeng...”
“Aku bakalan minjemin dadaku buat kakak kalau lagi nangis...”
“Aku egois...”
“Aku bakalan kabulin semua yang kak Kiyo minta...”
“Aku...”
“Aku sayang kak Kiyo.. eh, salah... aku sayang Kiyo...”
“Aku... nggak pantas dicintai kayak gini...”
“Nggak pantas untuk orang lain, tapi hanya aku yang pantas untuk mencintai dan dicintai Kiyo! Apa itu cukup?”
Kiyo mendongak, menatap mata Avi yang sedang menatapnya lembut. Dia mengangguk pelan, dan Avi langsung mengecup keningnya sayang. Kiyo tersenyum manis. Avi menghapus air mata di pipi Kiyo dan balas tersenyum. Mereka berpelukan sayang.
“Keeeennn....? Kiyo manaaa...?? Dia dicari Ibunya, nih..!” suara tante Anda menginterupsi. Kiyo langsung melepas pelukannya dan membuka pintu kamar Avi. Namun sebelum kaki Kiyo melangkah pergi, Avi berbisik di belakangnya.
“Mulai sekarang dan seterusnya kamu harus ingat kalau ada cowok brondong yang jadi pacar kamu, lho...!”
Kiyo menoleh ke arahnya, mencubit hidungnya, lalu menjulurkan lidahnya mengejek.
“Tunggu sampe aku selesai baca novel, aku pertimbangkan!” Kiyo berlari ke ruang tamu, menemui Ibunya. Mereka pulang, namun sesaat Kiyo menoleh ke arah Avi yang sedang berdiri di pintu kamarnya. Avi tersenyum lembut dan membuat tanda hati dengan tangannya. Kiyo berdecih sebal, namun semburat merah menghiasi pipinya. Malu.
“Cih! Dasar kekanakan!” dia bersungut-sungut sambil menahan tawa. Tawa bahagia. Saat ini di dunianya hanya terlihat Avi dan dirinya! Hanya mereka!
END.

Separuh Sayap



by. Gaara Nyunyul

Another Sequel from "Sayap-Sayap yang hilang"
Hancur adalah nama lain dari sebuah kelahiran kembali..
Ya, terlahir kembali sebagai sebuah kehancuran..
Wilga menarik kopernya memasuki sebuah apartemen mewah di sebuah kota sibuk di Inggris. London. Hari pertamanya menapaki sebuah kehidupan baru, tanpa asrama, tanpa cowok-cowok berkulit sawo matang, dan makanan khas Indonesia lagi. Wilga membuka lemari bajunya dan terdiam. Dia memasukkan baju-bajunya dalam lemari, kemudian menutupnya. Setelah merapikan bajunya, dia menata buku di sebuah meja belajar di samping tempat tidur king size-nya. Perlahan dia beringsut masuk ke dalam selimut dan mencoba memejamkan mata. Namun, belum lama matanya terpejam sebuah email masuk ke ponsel smartnya.
“Aku nggak sanggup kalau harus meneruskan hubungan ini bersama dengan cowok yang bahkan belum bisa melupakan cinta pertamanya yang udah meninggal. Wilga, ayo kita putus!”
Wilga menatap datar layar ponselnya. Dia menghembuskan nafas gusar, lalu meletakkan ponsel itu begitu saja. Perlahan dia meraih ponselnya kembali dan mengetik balasan untuk si pengirim email.
“Oke, kita putus!”
Selesai! Sama seperti kisah cintanya kemarin-kemarin. Kisah cinta yang sangat hambar, karena Wilga tak pernah menghendakinya. Kisah cinta bersama dengan cowok-cowok yang bahkan tak pernah Wilga cintai. Sudah belasan cowok yang dia kencani setelah kepergian “dia” dalam hidupnya. Cowok satu-satunya yang membuat jantungnya berdegup kencang, cowok satu-satunya yang membuat jantungnya seakan berhenti, dan cowok satu-satunya yang membuat hatinya seakan mati. Hatinya telah hancur bersama puing-puing kisah penuh tangis bersama cinta pertamanya itu. Bahkan hingga saat ini, dia tak akan pernah mampu mencari pengganti “dia” di hatinya, di ingatannya, maupun di hidupnya.
Tingtong!
Wilga mengumpat sebal. Baru hari pertama saja sudah ada tamu. Dia melipat wajahnya dan beranjak membuka pintu apartemennya tanpa mengintip siapa yang datang dari aplikasi DoorBot di ponsel smartnya.
“Hi, hello...!” seraut wajah asing dengan mata biru dan rambut pirang langsung menyambutnya di depan pintu.
“May I help you?” suara Wilga terdengar malas. Malas untuk berbasa-basi.
“I just... errrr... want to introduce my self to new neighbour...”
“It’s okay! Don’t mention it!” suara Wilga terdengar malas.
Basa-basi yang tidak perlu itu sudah cukup membuat Wilga badmood saat ini. Cowok bule dengan rambut pirang dan mata biru itu mengangkat bibirnya, tersenyum. Tidak biasanya orang asing menyapa tetangga baru seperti itu, kecuali memang dia adalah ibu-ibu tukang gosip di perumahan elite!
“Hi, I’m Cavin Corner. Call me Cave..!”
“Wilga!” Wilga menyambut ogah-ogahan uluran tangannya. Bahkan Wilga masih enggan mempersilakan tamu itu masuk ke dalam apartemennya. Hati-hati terhadap orang asing, Wilga! Lagipula dia tak akan mempermasalahkan orang asing yang akan menggunjingnya karena mereka tak akan melakukannya.
“From Indonesia, right?”
“Right..” Wilga hanya menjawab seadanya. Saat cowok bule itu ingin meneruskan ucapannya, sebuah suara terdengar dari pintu apartemen di depan kamarnya. Suaranya kecil, mirip seperti suara anak SMP yang masih belum mengalami masa pubertas.
“Ion nggak mau pulang, ah! Nggak mau pokoknya!” suara itu terdengar kencang, merajuk. Wilga yang merasa masa bodoh dengan semua itu mau tak mau ikut menoleh saat mendengar ada orang Indonesia juga yang tinggal di apartemen ini.
Seorang cowok berdiri di depannya. Wajahnya khas orang Indonesia dengan mata hitam legam, kulit putih kecoklatan, dan juga rambut lurus pendeknya. Hidungnya sedikit mancung dengan alis hitam tebal dan jangan lupa lesung pipi itu! Membuatnya tampak seperti anak SD.
“Nggak mau! Ion udah berhasil jadi murid SMA di sini! Tesnya susah, masa harus balik lagi ke Indonesia? Nggak mau, ah!” cowok itu menggeleng kencang. Wilga menatap tetangga barunya itu dengan tatapan aneh. Baru kali ini dia melihat seorang anak SMA dalam tubuh seorang cowok SMP.
Cowok itu memasukkan HPnya ke dalam saku saat dia telah selesai berbicara dengan seseorang di telepon. Sesaat dia menoleh ke arah Wilga dan Cave lalu tersenyum ceria ke arah Cave.
“Cave...!” dia melambai riang seperti seorang anak SD yang tak sengaja bertemu temannya di jalan.
“Hi, Honey...! I miss you..” Cave melangkah ke arahnya, lalu mencium pipinya mesra. Wilga menatap mereka keki. Jadi, cowok SMP itu pacarnya. Bagaimana bisa seorang Cavin Corner yang keren itu bisa jatuh cinta dengan cowok berbadan SMP, usia SMA, dan berkelakuan mirip anak SD?
“Don’t call me like that!” cowok imut itu mendorong wajah Cave yang sudah mupeng ingin mencium bibirnya.
“I’m your bee. Because you are honey...”
“Nooo...!” suara cemprengnya kembali menusuk telinga Wilga. Dia memutar bola matanya malas dan beranjak masuk ke dalam apartemennya. Namun sebelum sempat menutup pintu, sebuah tangan menahan pintu itu. Wilga menoleh dan mendapati wajah cowok imut itu di depan wajahnya.
“Orang Indonesia juga, ya?” dia mengerjap lucu.
“Iya...”
“Oh, ya? Dari kota mana? Trus, ke sini buat apa? Kerja? Kuliah?”
“Aku masih SMA..”
“Iya? Wah, sama, dong...! Namaku Leon, panggil Ion aja, ya! Nama kamu siapa?” dia tersenyum manis dengan wajah ingin tahu. Dia mengulurkan tangan kecilnya di depan Wilga.
“Wilga!” Wilga menyambut uluran tangannya dan kemudian menarik lagi. Dia hanya menjabat, tidak.. hanya menyentuh tangannya sekilas.
“Wilga juga masih SMA, kan ya? Boleh aku panggil Wilga aja?” dia berteriak antusias.
“Terserah!”
“Oke, Wilga..! Selamat datang di London! Oh, ya ngomong-ngomong kenapa Wilga sekolah di sini?” Ion bertanya cepat. Wilga menghembuskan nafasnya kasar. Cowok ini benar-benar orang yang berisik!
“Cowok kamu?” Wilga ogah menjawab pertanyaan Ion dan menunjuk Cave untuk mengalihkan pertanyaannya. Kalau dia jawab bisa-bisa dia akan terus bertanya.
“Bukan, ah! Dia aja yang ngaku-ngaku! Dia bilang suka sama aku!” Ion tersenyum manis. Cave yang sedari tadi mengernyit bingung karena tak mengerti obrolan mereka tiba-tiba langsung menarik lengan Ion dan merengkuh tubuh kecilnya dalam pelukan.
“Cave..! What are you doing? Let me go!!” cowok imut itu ngamuk-ngamuk. Sebenarnya dari tadi Wilga ingin sekali menjitak kepalanya dan menjahit mulut kecil bawelnya itu. Namun dia menahan diri untuk tidak berulah di hari pertamanya.
Cave melepas pelukannya dan menghadapkan wajah si imut di depannya. Dia menatap Ion seolah Ion adalah miliknya.
“I never let you go..! Until you find a good boyfriend...” Cave menatap Ion dengan tatapan sayang.
“I got it...! I got it...!” Ion menarik tangan Cave dan mengusap-usap pipinya. Wilga memicingkan matanya dan berniat untuk menutup pintu, namun si imut sudah berhasil menerobos masuk ke dalam apartemennya.
“Cave bukan cowokku, kok Ga..! Dia sahabatku! Dia Cuma protektif aja, soalnya kemaren itu aku udah dimanfaatin sama cowok-cowok jahat, jadi dia berusaha buat nahan aku biar nggak sama cowok-cowok nyebelin lagi.. terus...”
“Aku nggak tanya!” Wilga memotong ucapan Ion dengan ketus. Bukannya marah, Ion malah balik terkekeh. Ion terus saja bercerita dengan ceriwis, sementara Wilga hanya memijat pelipisnya pusing. Dia sudah lelah dengan perjalanan dalam pesawat tadi, sekarang malah harus mendengar celoteh cowok imut ini. Suara berisiknya saja sudah mengalahkan suara mesin pesawat! Cih!
Ion terus-terusan bercerita dan berceloteh sementara Wilga menanggapi dalam diam. Dia melanjutkan aktivitasnya yang terbengkalai sejak tadi. Menata bukunya, merapikan bajunya, menata alat makan, memasak mie instan... sampai Ion ikut duduk di depannya dan menelan air liurnya menatap mie instan buatan Wilga.
“Kamu mau?” awalnya Wilga hanya basa-basi, namun Ion mengangguk dengan semagat dan langsung menarik mangkuk di depan Wilga. Ingin rasanya dia mengumpat kesal dengan kelakuan cowok labil di depannya ini!
***
Hari-hari Wilga masih diisi oleh celoteh dan kehadiran Ion di apartemennya. Setiap hari cowok imut itu selalu mengunjungi apartemennya dengan alasan beragam. Mulai dari alasan dia takut petir, kamar mandinya tidak ada bathupnya, dia kesepian tanpa rival main game, ada suara aneh di kamarnya, dan lain sebagainya. Sesekali Ion menginap di kamarnya dan tidur berdua dengannya. Gaya tidur Ion yang dibilang hiperaktif itu cukup merepotkan Wilga. Dia memeluk Wilga dengan kaki mungilnya dan mengusap-usap ujung hidungnya di punggung Wilga.
“Wilga...” suara Ion memanggil parau saat itu. Wilga enggan menjawab. Matanya yang mulai mengantuk perlahan terbuka.
“Hmmm...”
“Kamu tahu, kan kalau aku sukanya sama cowok...?”
“Udah dari awal ketemu juga ketahuan!”
“Kamu nggak benci aku, kan?”
“Kenapa?”
Ion terdiam tak menjawab pertanyaan Wilga. Tak lama kemudian dengkuran halus terdengar dari belakang tubuh Wilga. Wilga menoleh ke belakang dan melihat Ion telah terlelap. Dia menghembuskan nafas kasar dan melepaskan kaki Ion dari perutnya.
Mata Wilga terpejam sesaat, namun tiba-tiba sebuah nafas keras terdengar. Ion sedang gusar dalam tidurnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tubuhnya mengejang dalam tidurnya. Nafasnya terus memburu, bibirnya meracau tak jelas. Wilga bangkit dari tidurnya dan menyentuh pundak Ion, namun Ion masih sibuk dengan mimpi buruknya.
“Woi..! Bangun...!” Wilga mengguncang bahu Ion. Ion tersentak dan membuka matanya. Air mata telah menetes lewat sudut matanya. Dia bangkit dan langsung memeluk Wilga erat dengan tubuh gemetar. Awalnya Wilga ingin menolak, namun melihat kondisi Ion seperti itu, dia merasa tak tega. Dia menepuk-nepuk kepala Ion lembut.
“Mimpi apa?” Wilga bertanya pelan.
Ion mengangkat wajahnya dari dada Wilga dan mengerucutkan bibirnya.
“Aku mimpi ada sosis besar yang jatuh di depanku. Trus sosis itu bilang ‘makan aku.. makan aku...’ trus dia ngejar aku...! Aku kan nggak suka sosis!”
Wilga menatap keki wajah Ion. Jadi karena itu? Hahaha...! Dia merasa Ion sudah membodohinya. Harusnya dia tahu kalau Ion adalah cowok kekanakan yang membuat harinya berisik! Kenapa dia masih bisa dibodohi olehnya? Hah...! Wilga hanya bisa menelan air liurnya paksa dan memijat pelipisnya.
“Udah selesai, kan? Sana tidur!” Wilga mendorong dahi Ion. Namun Ion masih keukeh berpegangan pada lengan Wilga, tetap memeluknya.
“Kalau sosis itu datang lagi, gimana?” tanyanya cemas.
“Aiish..!” Wilga masih berusaha mendorong dahi Ion agar jatuh ke kasurnya, namun Ion kembali merengkuh tubuhnya dan kemudian dia telah terlelap kembali dalam pelukan Wilga. Anak ini memang benar-benar merepotkan!
***
Wilga baru pulang dari sekolahnya dengan wajah lelah. Hari ini hari yang cukup menyita tenaganya. Tugasnya menumpuk tak terurus, belum lagi kegiatan yang wajib dia ikuti di sekolah, juga segala macam urusan membuatnya merasa lelah hari ini. Dia ingin tidur sejenak di apartemennya yang nyaman. Namun sepertinya dia tidak bisa melakukannya, karena si bule pirang tetangganya itu sedang berdiri di depan pintunya, menghadangnya.
“What happend?” Wilga bertanya malas.
“Just wanna make a little chat..” Cave mengangkat bahunya.
“I’m busy now..!”
“This is about Ion..!”
“What the hell about him? I never really care about him! He just a little shit of my life! Annoying!” emosi Wilga meledak seketika. Dia sudah cukup lelah dengan semua kegiatan hari ini, dan sekarang ada orang yang memancingnya dengan percakapan interogasi serupa. Ayolah, nanti saja! Saat ini dia hanya ingin tidur di kasurnya yang empuk!
“Jadi selama ini aku mengganggu hidup kamu, ya Ga? Maafin aku...! Selama ini aku nggak pernah sadar kalau keberadaanku di sekitar kamu udah mengganggu.. Maaf...! Aku nggak bakalan ganggu kamu lagi! Aku janji...” suara cempreng yang biasanya berisik itu berubah menjadi sedih. Ion sedang berdiri di belakangnya dan mendengar ucapannya barusan! Wilga menatap wajah Ion, dan perlahan hatinya berkedut sakit melihat ekspresi yang tidak pernah Ion tunjukkan di depannya itu.
“Aku nggak bermaksud... Kamu salah paham, Yon...” suara Wilga terdengar bergetar saat memanggil namanya. Selama ini dia tak pernah memanggil nama Ion. Dia hanya berkata “Heh!”, “Hoi!”, “Kamu!” dan tidak pernah sekalipun menyebut nama Ion saat memanggilnya ataupun saat berbicara dengannya.
“Nggak apa-apa...! Aku ngerti...!” Ion berbalik dan pergi dari tempat itu. Saat kaki Wilga melangkah hendak menyusulnya, tangan Cave mencegahnya. Dia menarik lengan Wilga dan mengatakan kalau mereka harus bicara berdua.
***
Ion menunduk di sebuah halte bis dengan wajah sedih. Air mata sudah jatuh dan mengalir di pipinya sejak tadi. Orang-orang di sana masa bodoh dengan keadaan Ion yang sedang menangis itu. Dia berjongkok di sudut halte dan mengucek matanya seperti anak kecil yang sedang tersesat. Perlahan tangannya dingin. Dia gemetar seketika. Kenangan masa lalunya yang pahit mulai terekam jelas di ingatannya. Dia menutup telinganya panik. Dalam sekejap dia berdiri. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Dia berlari dari tempat itu, berlari tanpa tujuan yang jelas.
Sementara itu, Wilga dan Cave juga ikut mencarinya. Mereka berlari mencari keberadaan Ion. Wilga mengutuk semua ucapan dan sikapnya selama ini pada Ion. Mengapa? Karena dia baru tahu kenyataan pahit tentang masa lalu Ion dari Cave tadi. Cave sengaja menceritakan semuanya pada Wilga, karena untuk pertama kalinya Ion percaya pada orang lain, yaitu Wilga.
Ion bukan cowok lemah seperti ini sebelumnya. Dia sangat kuat, selalu berusaha keras untuk mandiri di negeri orang. Walaupun keluarganya termasuk keluarga yang berada, namun dia tidak ingin memanfaatkan semua fasilitas dari orang tuanya. Dia ingin mewujudkan mimpinya dengan kerja kerasnya sendiri. Walaupun tubuhnya kecil, namun semua orang menghormatinya karena sikapnya yang tegas dan juga baik hati. Namun, sifat seperti itu bukan jaminan semua orang menyukainya. Ada saja orang yang merasa iri dengannya dan akhirnya merencanakan perbuatan jahat pada Ion. Ion dicegat dan lima orang cowok melakukan perbuatan asusila padanya secara bergantian. Tubuhnya dijamah dan diperlakukan keji. Ion menjerit, menangis, sampai akhirnya pingsan. Untung saja waktu itu Cave datang menolongnya.
Tubuh Ion sangat lemah waktu itu. Dia hampir kehilangan darah karena pendarahan dari lubang anusnya. Tentu saja yang paling menyakitkan adalah trauma yang dideritanya. Sejak saat itu juga Ion berubah. Berubah menjadi sosok yang penakut, ceriwis, dan takut dengan orang asing. Dia pindah sekolah dan apartemen setelah itu, memutus semua kontaknya dengan orang-orang yang pernah dia kenal sebelumnya.
Tubuh Wilga menegang seketika mendengar cerita Cave. Dia masih belum bisa percaya bagaimana perasaan sakit dan takut yang ada dalam diri Ion sebenarnya. Ion sangat pintar menutupi itu semua dengan sikap ceriwis dan cerianya. Perlahan hati Wilga seperti diiris-iris oleh pisau. Entah bagaimana dalam hatinya muncul sebuah rasa ingin melindungi Ion. Tak akan dia biarkan seorang pun menyakitinya. Atau bahkan... sekedar menyentuhnya!!
Wilga terus berlari. Dia berpencar sesuai dengan instruksi Cave tadi. Dia terus berlari sampai dia sampai di sebuah lorong gelap. Terdengar isakan dari lorong itu. Dia hafal suara siapa itu!
Perlahan Wilga mendekati tempat itu. Sesosok tubuh mungil meringkuk di sudut lorong. Tubuhnya bergetar, sementara tangannya menutup telinganya. Wilga mendekatinya, menyentuh pundaknya. Ion menegang dan menepis tangan Wilga. Dia beringsut ketakutan ke depan. Wilga semakin mendekat ke arahnya dan berbisik.
“Ini aku...! Maafin aku...! Aku janji bakalan lindungi kamu, dengan nyawaku sekalipun...” Wilga merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya. Ion berbalik dan langsung memeluk leher Wilga dan menangis kencang. Wilga menepuk punggung Ion lembut dan kemudian menggendong tubuhnya ala bridal style. Perasaannya menghangat seketika.
Sepertinya dia sudah menemukan siapa yang harus dia lindungi kali ini! Untuk pertama kalinya setelah kepergian “dia”, Wilga menemukan alasannya hidup. Dia tahu ini salah, namun dia juga tahu kalau separuh sayap dalam pelukannya inilah yang dia cari selama ini setelah kepergian cinta pertamanya..
Separuh sayap yang akan mengubah hidupnya mulai hari ini...!
~END~

Sayap-Sayap yang Hilang


By : Gaara Nyunyul

Wajah itu meringis, sesekali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebuah cengiran khas anak nakal terukir di bibir tipis dan merahnya. Sekali lagi cengiran itu berganti dengan sebuah senyuman kaku, sementara seorang guru sedang menatapnya dan menceramahinya panjang lebar bersama barisan anak-anak cowok lainnya. Alisnya menyatu dengan sebuah desahan lega, karena tiba juga saatnya dia harus menerima sebuah hukuman yang rutin dia lakukan setiap pagi.

“Setiap hari kalian terlambat terus! Mau jadi apa kamu kalau masih kecil saja sudah berani datang jam segini ke sekolah..!” guru itu kembali membentak. Teman-teman senasibnya yang lain hanya terdiam sementara dia masih meringis. Lelah dan hafal dengan omelan yang selalu sama setiap harinya itu. Hampir setiap hari dia terlambat datang ke sekolah dan omelan guru BPnya juga selalu sama, hukuman yang sama, poin pelanggaran yang sama dan sekali lagi teman-teman yang sama.

“Vano Arizal Fahmi. Dalam seminggu ini kamu sudah terlambat hampir lima kali! Kamu tahu apa hukuman kalau sampai kamu terlambat lagi besok? Skorsing!” guru BPnya kembali berucap dengan nada tegas. Vano hanya terdiam sambil sesekali melirik gerombolan siswa cowok lainnya. Vano bersekolah di salah satu sekolah khusus anak laki-laki. Selama ini dia tinggal di asrama putra yang ada di dekat sekolahnya, namun sayangnya walaupun sekolah itu dekat dengan asramanya Vano masih sering terlambat akhir-akhir ini. Alasannya hanya satu : Dia harus bekerja sebagai pelayan bar pada malam hari. Tidak ada yang tahu rahasia ini, bahkan pihak sekolah sekalipun. Hanya dua orang yang mengetahui hal ini, yaitu sahabatnya Egi dan juga Wilga, cowok yang akhir-akhir ini bermasalah dengannya.

Wilga adalah cowok kebanggaan sekolahnya, karena pintar, rajin, sering menang dalam olimpiade, berbakat dalam olahraga, cakep, kaya, pula! Sepertinya Tuhan khilaf saat menciptakannya, dan lupa memberikan sedikit cacat pada diri Wilga. Wilga memergokinya dan mengancam akan melaporkannya ke sekolah, namun dengan wajah melas ala Vano, Wilga menuruti keinginannya. Vano harus mencuci bajunya selama Vano masih bekerja di tempat itu. Jadilah Vano kelabakan karena harus mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Belum lagi tugas sekolahnya. Memang, dia bukan anak pintar yang selalu jadi juara, tapi nilai-nilainya kini mulai merosot dan itu menjadi ancaman besar baginya. Jangan sampai Ayahnya tahu hal ini! Bisa-bisa dia diusir dari rumah!

Vano menghela nafasnya dan melangkah melewati lorong-lorong kelas. Semua kelas sedang mengadakan kegiatan pembelajaran, dan dia yakin kalau dia pasti tidak akan sempat ikut pelajaran jam pertama dan kedua. Dan tepat! Dia langsung mendapatkan ceramah panjang lebar dari guru mata pelajaran Matematika yang saat itu ada di kelasnya. Belum cukupkah hari ini untuk mendengarkan ceramah dari guru BP? Kenapa harus diceramahi lagi oleh guru kelasnya?

Vano mengernyit kesal. Begitu bel istirahat berbunyi, dia langsung menjatuhkan kepalanya di meja. Sebuah suara mengusik niatnya untuk tertidur sejenak. Semalam dia baru pulang jam tiga pagi, lalu melompati gerbang belakang asramanya dan mengendap-endap ke kamarnya lewat jendela.

“Kamu telat lagi?” Egi menepuk pundaknya. Vano mengangkat wajahnya dan mendengus kesal.

“Iya, dan biarin aku tidur sebentar...! Aku capek!”

“Kamu kenapa masih ngotot kerja jadi pelayan bar segala, sih? Kan Ayah kamu udah tajir, kenapa nggak minta aja?”

Vano menegakkan kepalanya, merentangkan tangannya dan menguap. Matanya kembali mengerjap menahan kantuk. Egi hanya terdiam menatap wajah sahabatnya yang terlihat sedikit pucat. Vano yang dulu dan sekarang memang berubah. Dulu Vano masih sempat tertawa kencang dan menciptakan lelucon konyolnya, namun sekarang hanya wajah penuh masalah yang selalu terlukis di wajahnya.

“Aku kan mau mandiri, Gi...!” Vano menjawab pelan. “Kalo aku lagi butuh duit banyak kan nggak mungkin aku minta gitu aja ke Bokap! Bokap pasti bakalan curiga duitnya buat apaan..”

“Emang duitnya buat apaan? Kamu nggak lagi ikutan kegiatan dan organisasi yang macem-macem, kan?” Egi menyipitkan matanya. Vano menoleh dan menyunggingkan senyum sinis ke arahnya.

“Aku emang gila, tapi aku masih tahu mana yang baik dan yang nggak!”

“Syukurlah kalo gitu! Tapi balik lagi ke pertanyaanku tadi, duit kamu buat apaan? Kenapa kamu mati-matian kerja buat cari duit kayak gitu?”

Vano bungkam, lalu tertawa sumbang. Egi merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya. Akhir-akhir ini wajah sahabatnya itu juga semakin pucat. Pasti Vano sudah terlalu keras bekerja.

“Jangan kebanyakan kerja dan jaga kondisi tubuh kamu...!” Egi menempelkan punggung tangannya di dahi Vano. Memang sedikit panas. “Tuh, kamu demam..”

“Iya, makasih...” sebuah senyuman tulus lolos dari bibir Vano. Untuk pertama kalinya senyuman itu kembali muncul pada bibir Vano. Egi sedikit kaget dan terpaku dengan ekspresi itu. Dalam hidup Egi, ada dua orang yang begitu dia cintai. Ibunya dan Vano. Ayahnya sudah lama meninggal dunia, dan ketika ayahnya meninggal itulah Vano seolah menjadi obat tersendiri bagi Egi. Perasaannya yang awalnya hanya sebatas sahabat, kini berubah menjadi rasa terlarang yang tak mampu lagi dia bendung.

Tapi Egi tak bisa melakukan apapun. Bagaimana mungkin dia mengatakan pada Vano kalau dia punya rasa itu, sementara Vano hanya menganggapnya sahabat?

“Aku maunya kamu berhenti dari sana..! Coba aja cari kerja di tempat lain..!” suara Egi terdengar lirih. Vano diam tak bergeming. Matanya tertutup perlahan, disertai dengan tubuhnya yang limbung. Vano pingsan.

***

Vano terbaring lemah di UKS. Dia tersadar dan menyadari ada Egi sahabatnya sedang menatapnya cemas. Dia bangun dari posisi tidurnya dan berucap pelan.

“Aku lapar...”

Egi menghela nafas lega dan kemudian beranjak keluar dari UKS menuju ke arah kantin. Vano hanya menatap kepergian Egi dengan tatapan getir. Serasa ada ribuan jarum yang menusuk tepat di hatinya saat itu, dan Vano hanya sanggup menangis dalam diam.

Tiba-tiba sepasang kaki masuk ke dalam ruang UKS beserta tumpukan buku di tangannya. Sepasang kaki milik... Wilga. Vano kembali mendongak setelah menghapus air mata di pipinya.

“Ada apa?” Vano balas bertanya pada cowok itu.

“Aku punya tugas merepotkan kali ini!”

“Lalu? Apa urusannya sama aku?”

“Karena kamu objek yang akan merepotkan itu!” Wilga melempar tumpukan buku di tangannya ke arah Vano. Vano mengernyit heran. “Aku disuruh ngajarin kamu! Aish...! Menyebalkan!” Wilga mengacak rambutnya gusar. Vano hanya menatap datar cowok dingin di depannya itu.

“Aku nggak mau! Siapapun guru atau orang yang nyuruh kamu aku nggak peduli! Kamu juga bilang kalo ini bakalan merepotkan, kan?” Vano angkat bahu.

“Nilai dan namaku dipertaruhkan di sini! Akan aku buktikan kalau aku bisa bikin cowok yang suka bikin onar di sekolah mendapatkan nilai bagus! Simple, kan?” suara Wilga masih menyebalkan di telinganya. Vano mendengus.

“Aku nggak punya waktu untuk belajar dalam hidupku!”

“Cih, sok sibuk banget, ya kamu...! Nggak usah mempersulit tugasku!”

“Aku nggak peduli!” Vano melempar buku di depannya dan sukses mengenai wajah cakep Wilga. Dia menyibakkan selimutnya dan bangkit dari kasur UKS. Dia langsung melangkah keluar dari UKS, sampai tangan Wilga menarik tangannya hingga dia terhuyung ke belakang dan jatuh menubruk dada bidang Wilga.

“Kamu turuti atau aku bakalan ngasih tahu pihak sekolah kalau kamu kerja di bar..!”

“Kamu ngancam aku?” nada tak suka muncul saat Vano menjawab ancaman Wilga.

“Terserah bagaimana kamu mengartikannya!”

“Aku udah bilang kan sama kamu! Aku nggak punya waktu untuk acara belajarmu itu! Waktuku cukup berharga daripada hanya dibuat belajar!”

Wajah Wilga mengeras dan dalam sekejap dia membalik tubuh Vano dan membenturkannya di tembok sekolah. Vano meringis kesakitan dan balik menatap wajah Wilga. Jantungnya berdetak kencang. Perlahan cengkeraman tangan Wilga mengendur dan kesempatan itu dipergunakan oleh Vano untuk melarikan diri dari cengkeraman Wilga.

“Urus aja urusanmu sendiri!!” Vano mengumpat, dan begitu Egi muncul dengan kantong berisi makanan di tangannya Vano langsung menariknya pergi dari tempat itu. Mereka pergi ke belakang gudang sekolah, basecamp favoritnya selama ini. Tempat itu agak sepi dan juga sejuk. Vano sering sekali tertidur di sana.

“Heh? Ngapain dia pake acara sok-sok mau ngajarin kamu?” Egi berteriak kaget begitu Vano menceritakan apa yang terjadi di ruang UKS tadi. Vano angkat bahu sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

“Gue pikir tuh anak udah mulai gila! Kemaren dia ngikutin gue di bar...” Vano mengingat-ingat kembali saat Wilga membuntutinya kemarin malam.

“Serius? Anak kutu buku penjilat guru sok cakep macem dia pergi ke bar? Nggak bisa dipercaya...” Egi hanya geleng-geleng kepala. Vano hanya terdiam. Rasa sakit itu kembali menyerang hatinya. Rasanya seperti hujaman pisau mengenai hatinya. Sakit dalam arti yang sebenarnya. Dia meringis kesakitan dan mencoba menghalangi pandangan Wilga dari rasa sakitnya dengan tersenyum hambar.

“Eh, Gi... ntar pulang sekolah aku nggak bisa pulang dulu..! Aku mau ke suatu tempat..” Vano berkata pelan.

“Kemana?”

“Eh... itu... aku.. mau.. cari kerja yang lain....”

“Beneran? Gimana kalau aku juga ikutan bantu nyarinya?” Egi menawarkan dengan antusias. Namun, lagi-lagi wajah Vano terlihat murung. Dia menggeleng pelan.

“Jangan..! Aku pengen nyari sendiri... please.. aku mohon kamu ngerti...” Vano menatap wajah Egi dengan raut pias. Egi menghembuskan nafasnya kasar dan kemudian mengangguk pasrah.

“Kalau ada apa-apa telepon aku!”

“Sip!” Vano menjentikkan jarinya. Dia tersenyum menatap Egi. Egi balas menatapnya. Padangan mata mereka bertemu, saling bertatapan dalam diam beberapa saat dan entah bagaimana caranya tiba-tiba bibir Egi sudah menempel pada bibir Vano. Sesaat aliran listrik tak kasat mata tercipta diantara mereka. Vano hanya bisa bengong dengan perlakuan Egi, sampai akhirnya Vano sadar ada sepasang mata yang menatap kejadian itu. Sepasang mata milik Wilga! Gotcha! Dia selalu datang di saat yang pas!!

Vano menjauhkan tubuh Egi dan menunduk. Egi yang baru sadar dengan apa yang dilakukannya ikut menunduk dengan wajah memerah sempurna. Dia berkata lirih hingga terdengar seperti berbisik.

“Maaf...! Tapi... aku Cuma pengen kamu tahu, aku... aku cinta sama kamu.. sejak dulu...! Aku tahu ini salah.. tapi...”

“Maafin aku, Gi..” Vano memotong ucapan Egi. “Aku nggak akan bisa balas perasaan kamu sampai kapanpun. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kupunya...”

Penolakan itu membuat wajah Egi pucat seketika. Dia tahu, perasaannya pada Vano memang salah. Tapi dia tak menyangka kalau penolakan langsung dari Vano terasa begitu sakit. Vano beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Egi hanya menatap kepergian Vano dengan wajah sedih, sementara sebuah tangan telah menarik Vano ke dalam salah satu bilik toilet. Tangan milik Wilga.

“Apa?” ekspresi datar Vano menatap wajah marah Wilga.

“Kamu ada hubungan apa sama cowok itu?!”

“Udah berapa kali aku bilang, itu bukan urusan kamu, Ga...!”

“Tentu aja itu urusanku! Karena... karena... karena... kamu harusnya jadi milikku...” suara Wilga terdengar seperti berbisik. Dia menunduk malu. Vano tergelak geli. Bagaimana bisa pangeran sekolah yang biasanya dingin itu menunduk malu seperti itu. Vano meringis.

“Maaf.. sama seperti yang aku bilang ke Egi.. aku nggak bisa...”

Dua kali penolakan diucapkan Vano hari ini. Wilga menatap wajah Vano lalu memalingkan wajahnya begitu mata Vano menatapnya.

“Maaf...” lalu Wilga pun pergi.

Vano terdiam dan perlahan tubuhnya terduduk, air mata mengalir dari kedua matanya. Dia terisak dan tubuhnya bergetar. Tangannya menggenggam erat sebuah kertas di dalam sakunya. Kertas itulah alasan kenapa dia harus menangis sekarang. Sebuah kertas dari sebuah rumah sakit bertulisan : Positif Kanker Hati.

Itulah alasan kenapa dia harus bekerja, kenapa dia harus menolak kedua orang itu. Jujur, dia juga memiliki perasaan sama terhadap keduanya, tapi sayangnya kertas itu seolah mengingatkannya dan menegurnya untuk menjadi orang yang tahu diri. Hidupnya tak akan lama lagi. Alasan mencari kerja sepulang sekolah hari ini sebenarnya juga hanyalah kamuflase. Dia harus pergi untuk check up ke rumah sakit. Vano terdiam, mengusap air matanya kasar dan pergi dari sekolah. Dia mulai merasakan nyeri di hatinya. Penyakit itu telah berkembang semakin parah dari hari ke hari. Vano mencoba menghentikan taksi yang sedang melaju di jalan raya depan sekolahnya sambil menekan hatinya karena menahan sakit. Tapi sayangnya, sebuah takdir baru terukir sempurna hari ini. Dia dihukum untuk yang terakhir kalinya karena terlambat, Wilga memaksanya untuk belajar, Egi menyatakan perasaan yang selama ini telah diketahui oleh Vano, Wilga yang juga menyatakan cinta, dan juga takdir akhir semuanya... Vano harus terkapar di sini saat ini juga. Tubuhnya roboh di tepi jalan dan perlahan kesadarannya hilang. Dia merasa tubuhnya terbang melayang...

***

Pemakaman Vano dibanjiri oleh banyak orang. Kedua orangtuanya, guru-gurunya, teman-teman, termasuk Egi dan Wilga tak mampu menahan tangis. Kedua cowok itu begitu kacau, mencoba bangun dari kenyataan pahit itu. Namun kenyataan adalah kenyataan. Sepahit apapun kenyataan itu, itu adalah kenyataan.

Sebuah buku tergeletak di bawah bantal kamar asrama Vano. Sebuah buku dengan sampul hitam, berisi catatan pemasukan dan pengeluaran keuangan Vano selama ini. Termasuk biaya check up rumah sakit. Dalam setiap halaman dia menuliskan kalimat, “Vano harus kuat! Harus tetap berusaha untuk hidup!”. Egi dan Wilga hanya terdiam dalam tangis saat membaca tulisan-tulisan itu. Apalagi saat sebuah gambar hasil karya Vano juga ada di situ. Gambar chibi Egi dan Wilga dengan sebuah tulisan manis di bawahnya. “Kalau aku disuruh memilih diantara mereka, aku akan memilih diriku sendiri yang pergi...! Ah, aku sayang mereka!”

Pada halaman terakhir itu terdapat sebuah tulisan yang sepertinya baru ditulis beberapa hari yang lalu :

Kalau aku punya sayap, aku akan terbang tinggi menuju awan...

Kalau aku punya sayap, aku akan terbang tinggi mengelilingi dunia..

Kalau aku punya sayap, akan kukepakkan sayapku dengan bangga dan menjalani hidup ini...

Tapi sayangnya, sayap yang kupunya bukan untuk terbang tinggi menuju awan...

Sayap yang kupunya bukan untuk mengelilingi dunia...

Dan sayap yang kupunya perlahan telah hilang, dan itu artinya aku tak bisa mengepakkannya...

Sayap-sayap yang hilang berganti jadi kenangan...

END