Tampilkan postingan dengan label DEWA SA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DEWA SA. Tampilkan semua postingan

Yang Tak Terungkap (Oneshoot)

By. Dewa Sa
‪#‎Choi‬
Like dan Komentnya yah kawan..
“Semua terjadi begitu saja hingga berakhir dengan cepat bak peluru yang melesat menembus jantung”
Aku menyesap sedikit demi sedikit es susu coklat yang lama kelamaan mulai mencair. ‘Gelasnya berkeringat’ itu pikirku. Aku juga membiarkan tiap tetesan keringatnya menuruni permukaan luar gelas dan akhirnya menggenang mengelilingi bagian dasar gelas.
Aku terus mengaduknya meski aku tahu rasanya tak akan berubah seperti dahulu. Manis, dingin yang mengagetkan syaraf, sedikit rangkulan dibahu kecil milikmu, dan tak lupa ditambah nikmatnya mengusap lembut kepalamu.
Aku rasa aku akan segera menyesalinya. Bukan. Tapi aku sedang menyesalinya.
***
Danny Genta Dewandaru. Itulah namaku. Pandai di semua bidang kecuali olahraga. Tak masuk akal jika seorang kapten basket tak pandai berolahraga. Aku tidak hebat, sungguh. Kapten bukanlah seseorang yang paling jago dalam melakukan berbagai tehnik. Tapi justru akulah yang paling lemah dalam team basket. Karena aku hanya mengerti jika aku harus memasukkan bolanya ke-ring sebanyak mungkin. Dan juga karena akulah yang paling banyak membutuhkan bantuan seluruh anggota team. Mengapa? Kau tak akan jadi pemimpin jika kau tak punya seorangpun untuk kau pimpin kan? Nah, sekarang kau mengerti.
Hidup dalam keluarga yang berkecukupan dan memberiku cukup kasih sayang membuatku selalu merasa bersyukur atas keadaanku. Dimanja dan disayang oleh kedua orangtua dan kedua kakak perempuanku membuatku sedikit manja. Tapi jujur, aku orang yang mandiri. Sebisa mungkin aku tidak bergantung kepada mereka. Cukuplah uang jajan saja aku bergantung kepada mereka.
Pacar? Tentu, aku punya. Cantik? Pasti. Namanya Selena Heidy Ramlan. Teman satu sekolahku. Dia adalah salah satu pengisi suara Sophran pada Paduan Suara sekolah kami. Sementara aku menempati posisi sebagai salah satu penyanyi Bass dalam Paduan Suara tersebut. Intinya, kami bertemu karena kami memiliki minat yang sama.
Hubunganku dengan Heidy berjalan baik baik saja. Dalam konteks arti baik baik saja adalah “benar benar baik baik saja” tak ada kecamuk yang menggetarkan hati ketika aku bersamanya, tak ada perasaan takut akan kehilangan dia, tak ada perasaan cinta sedikit saja. Sebenarnya aku menjalaninya karena aku harus menjaga perasaannya. Karena pada dasarnya akulah yang memintanya untuk menjadi kekasihku. Aku bosan, tapi tak ada yang bisa aku lakukan karena ia selalu berkata jika ia teramat menyayangiku. Oh iya, seluruh keluargaku sudah mengenalnya.
***
Seketika suara Bi Mimin menggugah diriku dari lamunan akan kenanganku dahulu.
“Mas Genta, mbok yo udahan itu minum es-nya. Nanti batuk, kan bi Mimin juga yang repot” ucapnya sembari memunguti tiga gelas kosong lain yang sudah ku sedot habis isinya.
“iya bi, ini juga mau langsung berangkat kuliah. Jangan lupa kunci pintu ya bi. Oh iya, kalo ada orang asing, jangan dibukain pintu. Biar aja diluar kepanasan”
Bi mimin terkekeh mendengar celotehku. Oh iya, aku sekarang tinggal bersama nenekku di kota kelahiranku. Kota Jogjakarta. Aku lari dari masalah yang sebelumnya pernah aku buat. Ciuman liar itu.
Aku bergegas dan sebisa mungkin berusaha agar tidak terlambat dalam penutupan acara OSPEK yang melelahkan itu. Menjadi mahasiswa baru membuatku terpaksa mengikuti seluruh kegiatan yang tak aku sukai. ‘Baru satu bulan menjadi mahasiswa baru’ pikirku maklum.
Jogja berbeda sekali dengan Jakarta, kota yang menjadi saksi tumbuh kembangku hingga aku beranjak dewasa ini. Meskipun telah menjadi destinasi wisata semenjak berpuluh puluh tahun lalu, Jogja terasa ramai sekaligus terasa tentram. Entah apa yang membuatnya istimewa.
***
Ia perempuan yang lembut, tutur katanya hingga semua gerak gerik yang ia lakukan. Rambut panjangnya yang selalu dikucir kuda karena ia tak mau melanggar peraturan sekolah dan mata teduh yang mampu mengayomi semua kekanak kanakkanku.
Banyak hal yang tidak aku ketahui. Salah satunya adalah berpindahnya haluanku terhadap Heidy, aku yang semula tak merasa harus menyingkir kini aku sudah berani mengecewakannya. Mengecewakan harapan harapan kecilnya yang sudah ia tanam dan siram setiap hari karena aku sudah tidak lagi bersamanya.
Arsenio Lintang Wijayandaru. Laki laki yang memastikan aku (sebagai laki laki lain) yang jatuh padanya dan berharap hanya dialah satu satunya orang yang mampu menangkapku. Aku bahkan tak mengerti mengapa dan bagaimana bisa lelaki cupu seperti dia berhasil membuatku berpindah haluan hingga 360° besarnya.
Ia pencinta manga dan anime yang tak terlihat fanatik dari tampilan luarnya. Saat aku didaulat agar menjadi teman barunya aku sempat ragu dan pupus harapan karena ia begitu tertutup hingga ia menciptakan batasan batasan tak kasat mata dengan dunia luarnya. Tapi, apa boleh buat? Untuk teman seperjuangan dan juga untuk keutuhan kelas XI-IPA-6 ku tercinta.
Rasa itu tak muncul seketika itu juga. Tepatnya saat aku berusaha mencintai anime dan manga seperti dirinya. Aku tak ingin jika pekerjaanku ini setengah setengah, maksudku ‘mengapa aku tidak berteman sungguhan dengan dirinya?’ maka dari itu aku mulai belajar mengerti dunia yang membuatnya tertarik. Tapi justru akulah yang malah tersedot kedalam dunia lain miliknya.
Ia merekomendasikan anime Guilty Crown. Anime yang aku rasa sangat ia sukai. Pada awalnya, aku hanya menganggap remeh anime tersebut. Bercerita tentang ahh sudahlah aku tak pandai bercerita. Intinya, persahabatan, cinta, pengorbanan, keserakahan, dan ketulusan hati. Bahkan aku hendak menitihkan airmata saat menontonnya. Yang membuatnya semakin menyayat nyayat hati adalah jika kau mendalami animenya kau akan merasa bahwa semua lirik lagunya ditulis langsung oleh sang tokoh utama yang merasakan semua penderitaan dan cinta.
Aku rasa aku mulai tertarik dengan Io ketika aku mulai mendalami seberapa dalam anime yang sangat ia sukai.
Semenjak saat itu hubunganku dengan Heidy mulai merenggang, hingga akhirnya Heidy menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi denganku. Sehari sebelum laga final futsal antar kelas, aku mendapati Heidy sedang menangis di pelukan mama. Ia tersedu saat melihatku, tatapannya nanar, tapi aku masih bisa melihat serpihan sisa ketegaran yang aku pecahkan berkeping keping itu. Aku menangkap tatapan mama yang menaruh iba dengan Heidy dan menaruh kecurigaan terhadapku.
Aku tak ambil pusing atas hal itu, aku langsung naik kekamar lalu menekan beberapa nomor yang sengaja aku hafal dan sengaja tak aku simpan. Nada dering berbunyi sekali, duakali, tigakali, dan ‘halo Dan, kenapa?’
‘halo, Io? gua udah hafal lirik sekaligus chord lagunya,’ ucapku
‘lagu apa?’
‘My Dearest, jujur ya gua awalnya emang ga ngerti itu apa, tapi untung gua pinter. Haha, gua pake lyrics translate. Hhahahahah’ jawabku
‘hmm… ya udah nyanyi gih,, pake gitar ya.’ Pintanya.
‘oke, bentar ya..’
Aku menyanyikannya, untuknya. Dari hatiku yang terdalam, untuknya. Tak terbesit sedikitpun aku akan perasaan Heidy. Itulah sisi kekanakkanku. Tidak, bukan, aku hanya ingin hidup dengan kejujuran dan apa adanya. Seperti sekarang ini.
Selesai.
‘….’
‘Io, lu kaga dengerin gua ya?’ jawabku pelan.
‘hmm?’
‘kok hmm??’
‘eh iya maaf dengerin kok, maaf Dan.’ Jawabnya diiringi suara nasalnya yang menyerot ingus ingusnya.
‘hahha lu nagis ya??’ jawabku riang. Aku sudah berhasil menyanyikannya untuk dia, untuk Arsenio-ku, untuk Io-ku.
Setelah itu, obrolan kami berlanjut hingga aku tak sadar mama sudah menunggu diluar kamar. Mama bertanya sebenarnya apa yang telah terjadi dengan ku dan Heidy. Aku menjawab seadanya sementara mama terus menyodorkan bukti bukti yang dituduhkan Heidy. Aku bisa mengelak, aku pandai berbohong. Tapi tiba tiba mama menyodorkan sebuah foto.
‘siapa itu?’
‘temen ma’
‘kok mesra?’ deg..
‘…’
‘hmm..?’
Aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan sedikit menutupi fakta tentang perasaanku. Untung saja mama mau mengerti dan menganggap semua yang dituduhkan oleh Heidy adalah sebuah kesalahan. Bahwa aku adalah seorang yang menyukai sesamanya.
***
Aku semakin kencang memacu Jazz merahku, aku tahu sekitar sepuluh menit lagi aku akan terlambat. Dan saat itu aku baru saja keluar dari gerbang komplek perumahan milik nenek.
Tak lucu jika ketua grup seperti aku ini malah terlambat. Bisa jadi apa teman temanku yang lain? Hahah aku tepiskan perasaan resah yang mulai menggelendoti hatiku. Memikirkan waktu yang sudah terbuang, setahun yang aku buang demi menghindar dari kenyataan.
Mungkin sekarang ini aku malah menjadi adik tingkatnya Io.
***
Aku juga teringat akan malam itu. Malam dimana Heidy memintaku untuk menemuinya di tempat makan seperti biasa. Restoran Jepang seperti yang ia pinta tak jauh dari rumahku, aku langsung melesat karena aku tak tega mendengar Heidy menangis tersedu sedu.
‘kenapa kamu lebih milih Arsen?’ tuntutnya.
‘…’
‘Dan, aku bukan cewek goblok dan. Aku bisa tau mana yang namanya temen, mana yang namanya cinta Dan, kamu suka kan sama Arsen? Ha’
Aku tak bisa menjawab apa apa, semua yang ia tuduhkan sudah jelas terbukti dan aku tak bisa mengelaknya. Aku terdiam. Tak kuasa aku memandangi mata sembabnya, aku malah memalingkan pandangan kearah lain.
‘Dan, plis.. jujur sama aku. Aku kurang apa dan? Kurang apa sampe kamu tega punya perasaan itu sama Arsen?’
‘iya, itu semua bener.’
‘tapi..’ saat Heidy hendak memotong omonganku, lekas saja aku menghentikannya.
‘Stop, plis, jangan potong dulu. Ya..’
Ia menunduk, malu aku rasa.
‘Iya itu semua bener, maaf ya Dy. Masalah kamu kurang apa, kamu sempurna banget di, kamu berani, kamu pinter, kamu cantik Dy. Tapi jujur, dari awal aku juga memang ga srek sama kamu, aku ngerasa hubungan kita itu selalu baik baik aja karena kesempurnaanmu itu Dy. Tapi justru itulah yang ngebuat aku bosan. Coba kamu di posisi aku Dy, cinta ga tau mau nempel siapa aja’
Ia menangis semakin jadi dan pelupuknya kini sudah dibanjiri airmata lagi. Kini aku menggenggam tangannya.
‘Dy, aku suka mata kamu. Mata kamu itu sayu, teduh, tapi penuh kekuatan Dy. Mata itu yang selalu nenangin aku Dy. Aku jujur, maaf Dy. Tapi mata Arsen, teduh seperti mata kamu, sayu seperti mata kamu, tidak jauh lebih indah Dy. Tapi yang membuat perasaan ini muncul adalah, ketika matanya itu selalu kehilangan semangat Dy, mata yang menyorotkan kelemahan. Mata yang selalu meminta dilindungi. Aku sayang dia karena dia lemah.’
Tangisannya tersendat sendat karena ia mulai terbatuk. Napasnya juga tersengal sengal. Aku genggam tangannya lebih kuat, seketika itu ia mengondak menatapku.
‘Dy, liat mata aku Dy. Mata aku kaya matanya Arsen. Aku lemah, pengen dilindungi Dy. Bukan masalah kamu ga bisa lindungin aku, tapi aku tahu rasanya jadi Arsen. Maaf ya di aku ga tau harus bilang gimana lagi, kamu ngertiin aku ya.’
Ia mengangguk pelan seraya menahan isaknya dan menghapus air matanya sendiri. Aku tepis dengan lembut tangannya itu. ‘biar aku aja Dy’
Aku usap pelan airmata yang mulai menuruni mulusnya pipi Heidy. ‘Maafin aku ya Dy, dan masalah mama. Aku harap kamu ga ungkit itu lagi. Aku percaya kamu Dy. Maaf ya.’
‘Iya Dann, aku sayang kamu. Kalo kamu berubah pikiran, kamu tau bakal pulang kesiapa ya? Maafin aku masalah mama, dan jangan sampai kamu kecewain Arsen ya. Titip Arsen.’
‘Iya, aku anter pulang ya’
.Setelah masalah itu selesai, Heidy tidak pernah menghubungiku lagi, ia seperti menghilang dari hidupku.
Aku memilih Arsen, akan aku jaga dia dengan sepenuh hati. Akan aku sayangi dia layaknya tulang rusukku sendiri. Semoga aku tidak menyesal.
***
Beberapa bulan setelahnya, aku memutuskan untuk mengambil Student Exchange ke Australia setelah skandalku diketahui mama. Mama berjanji tidak akan memberitahukan hal itu kepada siapapun termasuk papa asal aku mau menjau dari Arsen. Semua sudah aku lakukan.
Aku bahkan tega menyakiti hati Arsen, aku menghinanya, aku tak menepati janjiku terhadap dirinya. Aku harus melakukannya agar ia terbiasa dengan semua ini. Aku tahu ia terluka, sama halnya dengan diriku. Hatiku teriris iris karenanya.
Aku pergi secara diam diam dari dirinya. Aku seperti menghilang. Banyak sekali pesan yang aku dapat dari dirinya. Facebook dan Twitter. Kesemuanya menanyakan dimanakah aku berada. Setiap harinya ia mengirimi aku pesan namun tak ada satupun yang aku balas. Hingga pada suatu hari ia berhenti mengirimnya. Mungkin ia lelah.
**
Satu tahun bukan waktu yang lama, aku kembali ke Jakarta setelah masa pertukaranku habis. Aku harus menyelesaikan studiku di Indonesia yang tertunda karena aku mengikuti Student Exchage itu, sehingga aku diharuskan kembali ke kelas yang aku tinggalkan. Kelas XII.
***
Disinilah aku sekarang. Tergesa gesa sembari membawa perlengkapan OSPEKku dari parkiran hingga kelapangan. Sesekali aku terengah engah dan memikirkan hal yang sama dan berulang ulang. ‘UGM gede buangeeeeet, ahhaha’
Aku melihat teman teman sekelompokku sedang dihukum ditengah panasnya lapangan UGM. Sesegera mungkin aku bergabung dengan mereka.
‘Kak, izin bicara. Semua ini salah saya, jadi biar saya saja yang dihukum.’ Ucapku penuh percaya diri.
‘siapa yang nyuruh kamu …………’ yah kakak kakak itu terus mengomel kepadaku dan berkeras jika seluruh anggotaku juga harus mendapatkan hukuman atas kesalahan pemimpinnya.
Dan intinya adalah seluruh peserta OSPEK digojlok habis habisan. Dan, oh ya khusus untuk peserta OSPEK yang melanggar peraturan hari ini mereka akan mendapat keberuntungan dengan dipertemukannya mereka dengan para dewan OSPEK yang dianggap maha pentingnya. Ah melelahkan.
*
Pukul 18.00 kami dikumpulkan ditengah lapangan dengan penutup mata yang menutupi pandangan mata kami.
‘setelah hitungan ketiga, buka penutup mata kalian ya dek. Satu.. dua.. tiga..’ pengumuman itu di serukan lantang oleh salah satu panitia.
Aku buka penutup mata milikku, awalnya mataku belum bisa menyesuaikan dengan keadaan cahaya yang begitu kontras. Setelah mataku berhasil menyesuaikan dengan pencahayaan yang ada, aku melihat jajaran manusia manusia yang akan menentukan nasibku malam ini. Satu persatu dari mereka mendatangi para pelanggar pelanggar untuk bicara dari hati ke hati aku rasa. Karena terlihat sangat intim sekali. Berdua di tempat gelap. Sangat intim bukan? Aahahah.
Tapi tiba tiba saatnya tiba. Salah satu dari mereka mendatangaiku dan menyuruhku duduk diatas lapangan yang luas ini. Sosoknya kecil namun sedikit jangkung.
‘apa kesalahan terbesar kamu?’
‘mm anu kak. Maaf’ ucapku terbata bata.
‘kita disini santai aja, sharing sharing biasa ga usah tegang. Aku ulang ya, apa kesalahan kamu?’ ucapnya sembari memandangi clipboard yang ada di dekapannya.
‘jawab deek, yaelah’ ucapnya yang kini mulai memandang mataku.
‘iya kak, kesalahan aku, kesalahan terbesar aku itu ninggalin kamu kak.’
Jawabku seadanya, airmataku mulai menetes. Aku takut melihat dewan atau apalah OSPEK ini. Aku yakin aku sedang ketakutan. Ketakutan dalam gelap. Ketakutan akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku bisa melihat co-Card miliknya meski dalam gelap. Perlahan aku membacanya. Tengkukku terasa dingin dan aku sudah tak bisa menahannya lagi. Co-Cardnya bertuliskan.
“ARSENIO LINTANG WIJAYANDARU”
“Meski peluru itu menembus jantun tak ada satupun yang memberikan luka sedalam kamu.”

Melawan Dunia -Oneshoot-


By. Dewa Sa
‪#‎adminChoi‬ selamat membaca yah ksh Like and Komentnya.. Salam hangat dan tetap semangat ‪#‎choi‬
“Aku tak tahu sejak kapan kamu sudah berdiam diri dalam hatiku, meski aku sendiri tak menyiapkan pintu untuk siapapun.”
Aku sangat menyukai manga dan anime. Tergabung dalam kelompok kecil pecinta manga dan anime di sekolah tidak membuatku mempunyai banyak teman. Aku hanya bingung. Maksudku aku tak tahu apa yang salah dengan diriku ini. Aku sudah menjadi diriku sendiri yang memang sudah belasan tahun aku tekuni. Tapi mengapa? Tak seorangpun dapat menerima diriku.
Meskipun dalam keadaan “begini” aku tak menyukai beberapa manga atau anime yang bergenre “yaoi”. Aku tak merasakan getar apapun saat menyaksikannya. Pada dasarnya Aku hanya menyukai manga atau anime yang bergenre “fantasy” dan “sci-fict”. Bleach, One Piece, Fairy Tail, dan banyak lagi. Oh iya, jika kamu juga menyukai manga atau anime seperti diriku, aku merekomendasikan “Guilty Crown”. Yah, aku tak bisa memberikan apa yang menarik dengan anime yang berakhir pada episode 22 itu. Aku hanya menyukainya saja.
***
Aku sedang asyik membaca manga yang aku akses secara online malalui hape milikku. Setiap panelnya kau perhatikan hingga kedua kelopak mataku menyipit seperti sedang mengamati epidermis bawang merah.
“Lu nonton bokep sampe segitunya ya?” suara itu mengagetkanku hingga bahuku sedikit terlonjak. Dia teman satu kelasku.
“hmm.. bokep.” Jawabku singkat.
Ia terdiam dan segera beranjak, aku kira ia akan meninggalkanku sendiri. Tapi tidak, ia justru duduk diatas birai meja dibalik punggungku. Hal tersebut malah membuatnya leluasa mengintip apa yang sedang aku baca. Sebenarnya aku merasa tak nyaman dengan sikapnya yang sok “spy-ing”.
“gua tau lu masih liatin gua, gih pergi..” akhirnya ucapku saat merasakan nafasnya sampai ke tengkukku.
“idiiih… gua lagi liatin hape lu nooh. Serius amat bacanya. Bagi dong” jawabnya seraya beralih dari meja ke bangku kosong yang ada disampingku.
Tak sampai disitu, ia berusaha untuk melihat apa yang sedang aku baca. Ia mulai menggeser tubuhnya inci demi inci untuk mendekat kearahku. Aku mengetahui gelagat itu dan buru buru aku menekan tombol power yang juga berfungsi sebagai tombol lock screen. Blam.. layar padam. Segera saja aku berpaling kearahnya dan bermaksud untuk menyunggingkan senyum jail karena sudah berhasil mencegah niatnya. Tapi, tak disangka sangka bibirku malah, ehem aku ulang, ujung bibirku malah menyerempet tipis pipi mulusnya yang berlesung. Tidak. Aku hancur pikirku.
“eits, lu maho ya???” bentaknya, secepat kilat seluruh pasang mata menatap kami heran. Membuatku menjadi pemeran utama yang diperhatikan oleh setiap orang. Bego, dia bego.
“apaan? Elu yang dari tadi ngotot pengen liat hape gua terus lu mepet mepet ke gua. Emang gua suka apa dempet dempetan sama lu? Ha? Lu pikir gua lagi naik angkot!” mungkin aku “sedikit” pendiam. Haha.
“ih, najis ya! Ga sudi gua. Homo najis lu.” Deg. Kalimat itu melukai perasaanku. Bak ratusan peluru yang berdesingan kearahku, namun hanya ada satu yang mengenai maksudku hanya satu yang tepat mengenai jantungku.
Aku malu. Aku memang terlahir seperti ini, tapi tidakkah aku juga punya harga diri? Sama seperti kalian yang tak memiliki kekurangan seperti aku? Rasa rasanya aku menciut hingga ukuranku seperti biji kacang hijau. Sungguh aku memang biasa dihina, di ejek, bahkan dilecehkan tapi kan… arrggghhhh. Aku mebisu, diam, dan tak mengatakan apapun kecuali “maaf, aku gak sengaja” dan langsung berlalu menghambur keluar kelas. Tak jelas akan kubawa kemana langkah kakiku saat itu.
***
Keesokan harinya ia kembali lagi. Kali ini berbeda, ia tak mengenakan tatapan mata penasarannya yang ia gunakan sehari lalu. Ia justru terlihat ‘merasa bersalah’ aku bisa melihat matanya yang memancarka ketulusan seperti itu. Mata coklat yang ber’outline’ hitam kelam tetapi memiliki iris berwarna coklat biji kopi. Bagus sebenarnya.
“gua mau minta maaf, ga seharusnya gua ngebentak elu. Gua yang salah.” Didengar dari nadanya, aku rasa ia memang benar benar tulus. Tapi yah… tapi tetap saja aku masih belum bisa menerima perlakuannya.
“hmmm…”
“hmm..”
“….”
“hhhhh….. woi jawab gua,elu budeg apa bisu sih? Elu mau kemampuan bicara lu diambil sama Tuhan gara gara semua orang gedeg denger jawaban ‘hmm’ elu! Baru tau rasa lu. Jawab selain
‘hmm’” rajuknya, ia sedikit membentak sama seperti kemarin. Aku malas berurusan dengan orang yang seperti dia.
“ohh..” jawabku, tapi aku tak melepaskan pandangan dari hapeku sedikitpun.
Aku melihat gerakan tangannya yang secepat kilat bak copet copet dipasar pasar tradisional. Dengan cepat aku mengelak agar tujuannya tak tercapai yakni mengambil paksa hapeku. Namun aku kalah cepat dengan copet ulung itu.
“nah, lu ga boleh ngacangin orang yang tulus minta maaf kaya gua. Sekarang, maafin gua yak?” ia menyunggingkan senyum dan mengulurkan tangannya.
“deg deg deg deg deg…” bukan itu bukan dialog gua kedia.
“ya,” aku raih tangannya yang masih mengudara menunggu uluran tanganku lalu aku ayun tangannya sebanyak tiga kali.
“senyumnya mana? Gua udah senyum sampe kering ini gigi gigi gua” aku menyunggingkan senyum karena ingin dan karena menahan tawa.
“udah kan? Balikin hape gua” tanpa mendapat persetujan darinya pun aku langsung merabut hapeku yang ia pegang menggunakan tangan kirinya. Tunggu tunggu tunggu. Apa aku sudah menyebutkan tanganku masih ditahan oleh dirinya. Oh shit.
Sebenarnya ini adegan romantis.
“temenan yuk,” aku tak bisa berkata apa apa saat mendengarnya.
Kalimat itu menggantung begitu saja diudara tanpa ada yang hendak menggapainya.
“ngapain? Gak” jawabku.
“tapi gua pengen temenan sama lu,” balasnya, matanya menatap mataku. Tatapan tulus itu lagi, akh… aku kalah. Sambil menghela nafas panjang karena kesal, aku meng-iyakan permintaannya.
Terkadang ia malah seperti anak kecil. Itu hanya pendapat pribadiku.
***
“lu ga malu apa temenan sama gua?”
“emm.. maksudnya?” ia menjawab sembari menyeruput gelas berisi es susu coklat yang barusan saja aku belikan untuknya. Ia berdalih agar pertemanan kami harus dirayakan dan akulah yang harus membayar segala pengeluarannya. Sial, benar benar seperti adikku sendiri.
“emm, gua aja malu sama diri gua sendiri. Maksud gua, elu ga malu punya temen yang di bilang ‘banci’ sama satu sekolah?”
“engg… gak, sama sekali enggak kok.” Tangan kirinya merangkul pundakku yang kemudian aku merasa jika ia juga mengusap usap rambutku lembut.
“kalo lu dikatain maho gara gara deket sama gua gimana?”
“udahlah, ga usah mikirin hal kayak gitu ah. Gua ga suka. Kalo dikatain yaudah di-iya-in aja, apa susahnya? Lagi pula lu juga baik, mau gua porotin pula. Kurang apa?” ia menghiasi wajahnya dengan cengiran khasnya dan tetap menyeruput minumannya tanpa dosa.
“kerongkongan lu pernah keselek kulit duren?”
“idiih, attuut” jawabnya sesukanya.
***
“lu gak join futsalnya? Di lapangan Futsal Satria deket rumah gua. Join yuk, kelas kita masuk final lawan kelas XI IPA 5” oh iya, dia Danny. Orang yang tempo lalu minta ditraktir es susu coklat.
Bulan Februari adalah bulan lomba di sekolahku. Banyak sekali lomba yang diadakan, baik ekstern ataupun intern seperti lomba futsal antar kelas. Tentu saja kelasku berpartisipasi, namun tanpa diriku. Maksudku, mereka membiarkan aku tak mengetahui hal sepenting itu. Aku sempat bingung dengan apa yang ia bicarakan. Maksudku, aku ‘saat itu’ tak mengetahui jika kelasku berpartisipasi dalam futsal tersebut. Aku merasa di khianati oleh ‘teman’ satu kelasku. Untuk alasan apa mereka tak membiarkan aku tahu masalah itu? Rasa panas mulai membakar hatiku, rasa yang kebanyakan adalah rasa tak dihargai. Aku memang menyukai jika aku sendirian, tapi tak dapat dipungkiri jika aku juga ingin dianggap oleh teman temanku. Aku juga mempunyai hati yang menginginkan pertemanan sebagai ornamen ornamennya. Aku rasa aku sakit hati.
Menjadi tak dianggap itu tidak menyenangkan ternyata.
“woi, kok diem aja? Mau gak?”
“emmm, gak ah gua ga ada motor” aku berdalih untuk menyembunyikan fakta bahwa aku tak mengetahui masalah apapun tentang hal itu. Kecewa, rasa itu mulai menyeruak kepermukaan. Aku harus mengakui bahwa aku tak memiliki seorang teman
“ga ada motor? apa elunya aja yang ga dikasih tau?” deg.
Pas, rasanya seperti akulah sasaran utama dalam permainan dart.
Kata kata itulah yang menembus jantungku hingga sesak rasanya bahwa ia mengetahui kenyataan apa yang sedang aku rasakan..
“udah ayok, jangan ngambeg gitu ah. Elu kan punya gua, gua siap kok ngenterin lu kemana aja. Tapi kalo kena tilang yah kita patungan aja. Soalnya gua Cuma bawa satu helm”
Aku masih diam merenungi betapa aku sangat terasing dan sangat kesepian. Saat saat seperti inilah dimana aku membutuhkan teman.
Aku benar benar merindukan sosok teman.
***
Pertandingan berakhir dengan hasil 6-3. Kemenangan ada di pihak kelasku. Tubuh Danny yang di banjiri keringat melambai ringan dan tersenyum kearahku.
“gimana serukan? Makanya, kurangin tuh baca baca kaya gitu.
Cobain temenan sama orang bukan sama panel panel kartunmu itu.” Sebenarnya itu bukan kartun.
Aku masih terdiam memikirkan percakapanku dengannya saat masih berada di atas motor tadi. ‘elu ga bisalah hidup sendiri. Lu pasti sakit hatikan ga dianggep sama satu kelas lu sendiri? Mungkin lu punya alasan buat ga terhubung sama mereka, tapi pada akhirnya lu juga butuh pengakuan dari mereka.” Huhu, sepertinya aku sudah ditakdirkan untuk terkena hujaman kata katanya.
“Nah serukan temenan sama gua?’ aku dapat merasakan ia menyunggingkan senyuman sintingnya dari balik helm. Dia benar, aku harus mempunyai teman.
Setelah itu, kami berjalan menuju kearah parkiran. Sesuai janjinya, dia akan mengantarku pulang.
“lu kerumah gua bentar ya? Gua mau mandi dulu. Ga enaklah kalo gua ngebalikin elu ke bonyok lu tapi guanya malah kaya gelandangan gini. Oke oke oke??” katanya sambil menaik turunkan alisnya.
“baru sadar mirip gelandangan?”
“ehhh.. ngelunjak lu yaa” dengan cepat ia merangkul ku dan menjitak jitak kecil kepalaku. Aku tertawa renyah seraya meninta ampun padanya. Ini ya rasanya mempunyai teman?
Lengannya yang super basah karena keringat rasanya sampai tembus kebalik seragam osisku. Tak dapat dipungkiri, sebagai kaum ‘belok’ aku merasa sedikit terangsang oleh bau kejantanannya. Buru buru aku melepaskan diri dari rangkulannya dan memintanya bergegas karena hari sudah makin gelap.
***
Sekitar pukul 6 sore kami sampai dirumah mewah milik Keluarga Danny, baru aku tahu jika Danny adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Kesemua kakaknya adalah perempuan yang sudah bersuami. Tak ayal jika Danny terkadang berlaku seperti anak kecil. Karena ia sudah terbiasa dimanja oleh kakak kakaknya dan tentu saja oleh keluarganya.
“Lu naik keatas trus belok kiri, cari aja pintu yang ada gantungan nama gua, itu berarti kamar gua. Lu nunggu disana aja ya, gua ada urusan bentar. Oh ya lu masuk aja, gapapa kok”
Aku mengangguk samar dan langsung mlipir ketempat yang di maksud oleh Danny. Tak sulit mencari kamarnya. Pikirku, jika tinggal dirumah mewah seperti ini hidupku akan dipenuhi oleh hal hal rumit seperti ‘letak kamar’ yang acak.
Kamar Danny besaaaar. Mungkin ukurannya tiga kali ukuran kamarku, dengan kamar mandi dalam, game konsol, satu set PC lengkap, AC, dan kasur yang luasnya mungkin bisa dipakai untuk lima orang jika kepepet. Tak lama Danny masuk hanya menggunakan handuk yang menutupi daerah pusar kebawah hingga lututnya saja. Jujur, dia sangat seksi. Tak banyak rambut di tubuhnya, hanya rambut tipis yang tumbuh menghiasi perut dan ketiaknya.
“ape lu ngeliatin gua sampe segitunya?” liriknya dengan mata nakal.
“lu naksir gua ya?”
“haaa….ph”
Aku mulai tergagap gagap dan memilih untuk menyembunyikan wajahku. Tiba tiba ia menyerangku dengan liarnya. Menahan kedua tanganku dengan pahanya, dan pantatnya yang menduduki dadaku.
“udahlah, jangan ngelak. Gua udah tau”
“Dan, udah dan, gua capek. Gua pengen pulang. Jangan kurang ajar sama gua. Gua teriak lho” aku mencoba meronta dan terus meronta hingga akhirnya Danny-lah yang membebaskanku. Aku kalah tenaga karena aku berpostur lebih kecil dari dirinya. Aku megap megap kehabisan nafas dan dia terduduk diatas ranjang miliknya.
“maafin gua, gua Cuma udah sayang sama lu. Gau bingung sama perasaan ini. Gua akuin awalnya gua Cuma disuruh temen temen kelas buat ngedeketin lu. Biar lu ga sendirian terus.”
“jadi lu selama ini kepaksa temanan sama gua? lu ga tulus?” bentakku kearahnya, aku mengampil tasku yang terjatuh dilantai dan sesegera mungkin ingin kelur dari sini. Saat sampai di tepi pintu, aku mempercepat langkahku dan sudah tak menaruh peduli lagi dengan dirinya. Aku pikir ia tulus, aku hanya tak menyangka jika orang sebaik dirinya tega melakukan hal semacam itu. Aku pikir, aku sudah mempunyai teman. Nyatanya, belum.
Seketika itu tubuhku ditarik dan didesak kearah tempok sudut kamar.
“Dan, lepasin!! Gua mau pul…” seketika Danny melumat lembut bibirku, nafasnya terengah engah karena lelahnya yang belum hilang sehabis futsal tadi. Matanya terpejam menikmati momen momen itu. Aku juga akan berusaha menikmatinya dan merasakan kelembuatan yang semakin liar. Cumbuan itu, mebuatku semakin terdesak kesudut ruangan dan membuat bahuku yang terpepet tembok terasa sakit. Aku mengerang kecil karenanya.
“eh, sakit ya? Maaf ya” tuturnya seraya menatapku lekat lekat.
Matanya yang terus sejajar oleh mataku kini mulai menghipnotisku. Jarinya mulai mengusap kecil ujung bibir mungilku hingga keujung yang satunya.
“aku sayang sama kamu, jujur dari dalam hati. Aku sayang kamu.” Ia mulai menangkup wajahku dan mengecup kecil puncak kepalaku.
“kamu mau jadi pacar aku kan? Gua pengen pacaran sama lu, gua sayang elu”
Aku yang sedari tadi pasif kini merasakan getaran yang begitu hebatnya. Perasaan apa ini? Aku tidak seharusnya seperti ini. Ini jauh diluar prinsipku yang menghindari berinteraksi dengan kaum ‘belok’ lain meski Danny sekalipun yang entah bagaimana menjadi
“belok” dan sejak kapan aku sudah menaruh perhatian khusus padanya?.
“emmm ..” saat aku hendak menjawab, Danny malah menghentikanku.
“ga usah dijawab, aku udah tahu jawabannya sayang.” Setelah itu ia menciumi bibir, leher, bahkan tangannya mulai bergerilnya dibalik seragam osisku yang mulai basah karena keringat kami. Tangannya yang menelusup kini sudah memilin milin putingku. Aku merasakan sensasinya, sungguh luar biasa rasanya. Terus, terusa Dan, jangan berhenti. Di terus melakukannya hingga napasnya mulai memburu dan tiba tiba..
JEGLEEK
“ASTAGFIRULLAH DANNY!!!” seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu. Rautnya terlihat kaget dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Benar, wanita tersebut ibu Danny.
***
Setelah kejadian itu, hubunganku dengan Danny semakin memburuk. Tak ada lagi orang yang memaksaku untuk nongkrong nongkrong di kantin bersama teman teman lain. Tak ada lagi orang yang dengan seenaknya merebut Hapeku ketika aku tertangkap basah keasyikan membaca manga. Tak ada lagi orang yang merangkul bahuku sembari mengoceh ngoceh tak karuan. Dan tak adalagi orang yang tak segan merengek demi segelas es susu coklat kepadaku.
Kami sempat bertemu meski hanya berpapasan, aku dapat merasakan semua sikapnya yang sangat berbeda dengan dia yang beberapa hari lalu masih memboncengku. Kami satu kelas, tapi tak banyak interaksi yang terjadi. Karenanya aku juga sudah mempunyai beberapa teman yang layak. Mereka selalu bertanya apa yang terjadi antara kami, tapi aku hanya tersenyum dan tak menggubrisnya. Tak mungkinkan aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi?.
Pernah sekali kami berpapasan saat ia bersama temannya yang lain. Canggung memang. Aku memilih untuk menundukan kepala agar aku tak repot repot melihat mata coklat kopinya. Saat mereka sudah berlalu, aku merasa kelegaan yang begitu meringankan hatiku.
“eh, ada maho-an lu tuh? Kaga lu sapa? Udah putus ya?” kata salah seorang teman Danny dari balik bahuku. Mungkin ia hanya menggoda Danny.
“pacaran aja belum, eh malah dikira putus. Bego.” Batinku.
“enggalah, jijik gua sama orang model kayak dia, gayanya ngondek gitu. Nyesel gua pernah kenal sama dia.” Deg deg..
Aku tak menyangka jika Danny bisa bisanya mengucapkan hal itu. Aku menggenggam kedua tanganku hingga kuku jariku memutih. Rasa tak percaya dan kecewa memenuhi sanubariku. Padahal aku mengharapkan jawaban yang ia janjikan sewaktu dulu. Tak menggubris apa kata orang dan menjalaninya seakan tak terjadi apapun.
Benar, aku sudah terbiasa dengan semua cemoohan yang sudah pernah aku dapat. Aku sudah tahu seluk beluk rasa sakit ynag ditimbulkannya. Tapi, tapi ini berbeda. Bagaimana rasanya dilukai oleh seseorang yang bahkan kau anggap tak sanggup untuk melukaimu? Dan kenyataanya? Mereka melakukannya seperti tak pernah ada yang terjadi antara kalian. Aku tak tahan dan memilih untuk mengambil langkah langkah kecil dan mempercepatnya hingga aku terlihat seperti berlari.
***
Benar, memang Danny menjalani harinya yang berat saat bersamaku. Ia berusaha melawan kodratnya yang tak pernah bisa menjadi kaum seperti aku, aku tahu dia berusa melawan semua perasaanya. Mungkin ia merasakan hal aneh ketika ia menyadari jika ia mulai tertarik denganku. Aku tahu rasanya, rasanya seperti ada sesuatau yang salah denagn diriku tetapi ketika aku mencari apa yang salah, aku tak menemukan jawaban apapun. Mungkin dia juga bingung.
Tak apa, ia tak perlu masuk keduniaku jauh lebih dalam dan lebih dalam lagi. Semua ini sudah terlalu jauh untukku. Aku harap ia memang tak benar benar menyayangiku. Karena kau tahu rasanya menyayangi seseorang yang memang benar benar tak bisa kau sentuh. Cukup aku saja yang menjadi ‘pencinta tunggal’ yang selalu mengamatinya dari kejauhan.
Meski begitu, aku menginginkan dia ada di sampingku, merangkulku, bahkan aku juga ingin membelikannya es susu coklat kesukaannya lagi, mendengar ocehan ocehan bodohnya, menuruti rengekannya, dan mejadi temanku lagi yang rela melawan dunia straight-nya untuk menyangi aku yang seperti ini. Terimakasih. Mungkin hanya itu yang bisa aku beri.
Dan kenyataan pahit lainnya adalah, Aku juga ingin menjadi pacarmu.
“Ruang kosong yang dulu kau diami kini hancur, entah bagaimana rasanya kau telah memaksa dirimu keluar dan menghancurkannya”