Tampilkan postingan dengan label VIVI AMALIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VIVI AMALIA. Tampilkan semua postingan

CINTA SANG SUPIR ANGKOT



BY : VIVI A. & ILHAMZA...
Nampak sesosok pria yang terbaring nyaman diatas ranjang kesayangannya itu, sesosok mahluk yang sangat tampan itu masih tertidur lelap menikmati keindahan dialam mimpinya.
Pria itu masih terlihat muda yang mungkin kini berusia 20 tahun. Dalam tidurnyapun menggambarkan dirinya adalah sesosok pria yang cool dalam kesehariannya.
Kriiiiiingggg ...!!!!
Bunyi alarm membangunkan dirinya dari tidur lelapnya.
“Hooaaaammm.....!!! “ pria itu menguap dan menggeliat seraya mematikan bunyi alarm yang memekik telinganya.
“Mampus gue pake kesiangan lagi. Bisa-bisa gak dapet penumpang nih gue “ gerutu pria itu sesaat melihat jarum panjang dan pendek yang menunjukkan pukul 06:25 .
Pria itu sebut saja alvaro, bergegas beranjak dari ranjangnya. Kamar mandi kini itulah tujuannya.
20 menit waktu yang dibutuhkan oleh Alvaro untuk merapikan dirinya.
Rambutnya dibiarkan acak-acakan namun tetap terlihat keren untuk Alvaro, menambah kesan cool untuknya.
Lantas setelahnya Alvaro mengambil kunci mobil yang terletak diatas meja belajarnya.
“waktunya gue kerja, semoga hari ini banyak penumpang” ujar Alvaro seraya meninggalkan kamarnya.
Alvaro adalah pekerja.
Pekerjaanya adalah sebagai supir angkot, supir angkot yang tampan.
* * *
Disudut lain nampaklah seorang remaja yang duduk gelisah menunggu sang sopir memperbaiki mobil yang ditumpanginya, ternyata mobil tersebut mogok ditengah perjalanan menuju sekolah remaja itu.
“Pak masih lama ya? “tanya remaja tersebut kepada sang supir serasa keluar dari mobilnya yang mogok.
“entahlah den Bapak ndak tahu “ jawab sang sopir dengan logat jawanya.
“ ya sudah pak, adit naik angkot saja deh” ucap remaja itu yang menyebut dirinya adit tak kala melihat angkot akan menuju kearahnya.
“ Tapi den ......” terlambat, sang sopir tak bisa mencegah adit, karena adit telah duduk manis didalam angkot yang akan membawa dirinya kesekolah tempat adit menimba ilmu.
Adit menengok kekanan dan kekirinya, kosong. Ternyata hanya dirinya satu satunya penumpang diangkot itu.
“Turun dimana dek? “ tanya sang sopir angkot yang tak lain adalah Alvaro.
“SMA Bima Bangsa bang” jawab adit.
Diperjalanan tak ada yang terucap.
Avaro sibuk menyetir sedangkan adit gelisah karena kemungkinan besar dirinya akan terlambat kesekolah.
Tak lama angkot pun berhenti didepan gedung sekolah menengah atas.
“makasih bang” ucap adit menyerahkan uang dua puluh ribuan kearah alvaro.
“hey kembaliannya dek....” Alvaro hendak menyerahkan kembalian, namun adit sudah dahulu masuk kedalam gedung sekolah.
Alvaro memandangi adit yang berlari-lari memasuki pelantaran sekolah hingga tubuh adit tak terlihat lagi.
“anak itu? Rasanya gua ingin mandangin dia terus. Gue harap masih bisa ketemu lu lagi” ujar Alvaro.
Seraya tersenyum tipis.
Alvaro kembali mengemudikan mobil angkotnya itu.
Perlahan meninggalkan gedung SMA dan remaja tadi. Pagi ini, Alvaro sangat semangat karena bisa bertemu dengan remaja yang menjadi penumpang pertamanya, Alvaro sadar ia belum mengetahui siapa nama sang remaja tadi namun dihatinya yakin Alvaro aka dipertemukan lagi kepada sosok remaja itu yang sudah menarik perhatiannya.
Entah suatu kebetulan atau memang sudah takdir kuasa Alvaro dan adit kembali bertemu dalam suasana angkot yang cukup ramai dihari selanjutnya.
Angkot yang dikemudikan Alvaro tiba-tiba berhenti disekolah dasar, banyak anak-anak yang berhamburan keluar dan naiklah ibu-ibu menempati tempat yang tadinya ditempati oleh anak-anak yang berhamburan keluar.
Adit merapatkan duduknya yang tepat dibelakang supir karena disamping kirinya seorang ibu yang sedikit tambun akan duduk disebelah kirinya. Kini Alvaro dan adit duduk saling berdekatan walau ada pembatas diantara mereka.
Alvaro dapat mencium harumnya tubuh adit dan begitupun sebaliknya.
Angkot kembali berjalan dan terdengar ucapan Alvaro yang ditujukan untuk adit yang berada dibelakangnya.
“Lu anak yang kemarin itu kan? “ tanya Alvaro tanpa menoleh kebelakang.
“Eh.... “Pertanyaan Alvaro membuat Adit terkejut karena dirinnya masih terhanyut oleh harum yang tercium oleh tubuh Alvaro.
“”Lu anak yang kemarin turun di SMA Bima Bangsa bukan?” tanya alvaro kembali.
“i-i-ya bang “ jawab adit sedikit gugup.
Sikap gugup adit saat berbicara dengan alvaro membuat dirinya terheran.
“Adit kenapa? Kok jadi gugup gini sih? Batin adit.
“santai aja! Jangan gugup gitu “ ucap alvaro sedikit tersenyum melihat tingkah adit yang gugup dibalik kaca kecil yang bertengger diatas kepalanya atau lebih tepatnya menempel dibadan dalam kepala angkot.
“Oh, Iya nama lu siapa?”
“Adit bang “ ujar adit menjawab tanya Alvaro
“Panggil aja gue al, jangan bang dong ntar gue dikira abang tukang bakso lagi “ kelakar alvaro membuat keduanya tersenyum senang.
Tak terasa tibalah adit turun dari angkot.
Adit hendak menyerahkan uang namun ditahan oleh ucapan alvaro.
“Gak usah bayar, Uang lu masih ada kemaren”
“Makasih bang”
Alvaro kembali memandangi adit memasuki gedung sekolah hingga tak terlihat.
***
Malam telah larut namun mata Alvaro tidak nampak terpejam. Dipikirannya hanya sesosok adit yang tersenyum disaat berbincang dengannya.
Alvaro menerawang sesosok adit, mata adit yang sipit seperti kebanyakan mata orang china, bibir adit yang tipis berwarna merah-kemerahan menunjukkan adit tidak merokok dan semuanya yang ada ditubuh adit membuat alvaro selalu ingin memandang diri adit.
Disentuhnya dada alvaro sendiri.
Jantung itu selalu berdebar-debar saat bersama dengan adit. Entah mengapa rasanya nyaman selalu hadir saat berdekatan dengan adit, semua beban yang ada dibenak alvaro serasa musnah tak kala melihat senyum indah dibibir adit.
“Oh Tuhan!!! Apakah gue jatuh cinta dengan sosok remaja itu? “Tanya alvaro kepada dirinya sendiri.
“ Sepertinya gue memang cinta sama tuh anak”
Alvaro terpejam berharap sosok aditlah yang akan dia temuai dialam mimpinya. Namun siapa sangka? Diseberang jauh sana adit juga merasakan rasa yang sama seperti alvaro.
“Hooaaammm “kembali alvaro menguap tak kala pagi telah menyambutnya.
Bergegas alvaro mandi dan memakai pakaiannya dengan rapi. Lantas ia bercermin merapikan rambutnya seperti biasa.
“semoga gue ketemu lu lagi, adit. Lu membuat hari gue semangat” ucap diri alvaro sendiri.
Kembali alvaro segera menjalankan tugasnya sebagai sopir angkot. Mencari sebanyak-banyaknya penumpang hari ini, walau penumpang yang ia dapat cukup banyak namun alvaro terlihat murung.
“Udah sore gini gue gak ketemu lu. Sebenarnya lu kemana adit?”
Ternyata harapan alvaro hanyalah sebuah harapan yang belum dapat terwujud. Hingga sore menjelang tak terlihat sama sekali sosok adit membuat sang supir tampan alvaro terlihat kecewa.
Hari terus berganti hari, namun tak juga alvaro dapat bertemu dengan sesosok remaja adit.
Rasa rindu sangat menyerang alvaro tak kala sudah seminggu kini dirinya tak melihat remaja yang telah membuatnya jatuh hati. Perlahan rasa semangat alvaro semakin memudar, sumber semangatnya telah hilang entah kemana.
Hari ini pun alvaro tidak bekerja karena ia tidak ingin merasa kecewa lagi mengetahui tak ada sosok adit didalam angkotnya.
Dihabiskan harinya berdiam diri dibukit bintang yang terdapat dikotanya itu. Terlihat suasana bukit bintang cukup ramai disore hari, namun keramaian itu tak lantas membuat alvaro kembali bersemangat.
Alvaro tetap sangat tidak beranjak dari atas bukit walau hari telah berganti malam.
Yang ada dibenaknya sesosok adit akan menghampirinya. Alvaro memandang orang-orang berjalan kesana kemari tanpa menghiraukan sesosok alvaro diatas bukit. Susana sudah semakin sepi karena malam sudah semakin dingin.
Alvaro tetap saja keras kepala tidak ingin beranjak dari atas bukit.
“ Lu kemana adit? Gue kangen lu, jangan menghilang seperti ini “ Ucap alvaro pelan.
Rasa pusing menyerang kepala alvaro, mata alvaro pun semakin lama semakin ingin menutup. Tubuh alvaro semakin pula goyah tak mampu duduk tegak.
“aargh sakit” rintih alvaro memegang kepalanya yang terasa sakit, kini alvaro sudah bergeletak diatas perumpukan tak berdaya. Namun tanpa alvaro sadari kepalanya diatas pangkuan seseorang. Suara seseorang itu membuat mata alvaro kembali terbuka.
“Kak Al kenapa? “ alvaro senang dan memaksakan senyum tak kala mengetahui suara itu ialah sesosok adit, remaja yang sangat alvaro rindukan.
“ Gue kangen lu adit “ ucap alvaro pelan tanpa menghiraukan sakit kepalanya.
“Badan kak al panas. Ayo kak kita kerumah sakit “ ujar adit seraya ingin menopang tubuh tubuh alvaro namun ditahan oleh ucapan alvaro.
“ Gue ingin lu. Gue gak peduli kepala gue sakit ataupun badan gue panas karena yang gue ingin lu adit” bisik alvaro tepat ditelinga kiri adit dan membuat kedua pipi adit memerah, untungnya malam yang gelap membuat pipi merahnya tidak terlihat.
“Maksud kak Al? “ Tanya adit
“Gue cinta lu adit. Sungguh gue sangat mencintai lu walau gue tahu kita sesama lelaki, namun rasa ini gak bisa gue paksain karena hati ini benar-benar mencintai diri lu adit” keduanya saling bertatap mata dan jari-jari tangan mereka terpaut saling menggenggam.
“ adit juga cinta kak al “ kalimat adit membuat alvaro tersenyum bahagia namun tiba-tiba semuanya pun menjadi sangat gelap.
***
“ Nak Alvaro sudah bangun “ Ucap suara serak khas Bapak-bapak mengiringi mata alvaro terbuka.
Alvaro menatap sekelilingnya dan nampaknya seorang pria paruh baya disamping kirinya, seseorang wanita paruh baya disebelah pria itu, dan adit yang tertunduk disamping kanannya.
“ sudah baikan nak?” tanya sang wanita paruh baya itu, seraya memegang kening alvaro.
“tante dan om ini siapa ya? “ alvaro menghiraukan pertanyaan wanita itu dan lantas berbalik bertanya
“ ini tante Ira dan Om sendiri Ferdi, kami orang tua adit “ ucap pria ini yang mengaku dirinya Ferdi”
“ Oh kalian ....” ucap alvaro seraya ingin beranjak dari tidurnya.
“ sudah berbaring saja nak “ Perintah wanita itu, tante ira
“ Ya sudah kami tinggal ya sepertinya ada sesuatu yang harus kalian bicarakan berdua “ ucap Om Ferdi seraya beranjak pergi meninggalkan alvaro dan adit berdua dan dibelakangnya tante ira mengikuti.
“ Itu orang tua mu ternyata ? “ ujar alvaro setelah pria dan wanita paruh baya itu pergi.
“Iya Kak “
“ Ehm...”
“ ada yang ingin adit tanyakan?”
“ apa? “
“ kenapa kaka tidak bercerita kepada adit tentang keluarga kakak yang mengusir kak al karena kakak itu gay? “
Deg” jantung alvaro berdetak kencang tak kala pertanyaan itu yang terlontar dari bibir adit.
“ adit sudah tahu kak semuanya”
Adit menceritakan semua yang telah ia ketahui dari papanya, tentang asal-usul alvaro, tentang keluarganya yang mengusir alvaro dikarenakan ia adalah gay, semua hingga tuntas. Alvaro terdiam mendengar semua kalimat-kalimat panjang adit, ini semua telah terungka.
“ Kak ku mohon kita temui keluarga kakak untuk menyelesaikan masalah ini” pinta adit setelah menceritakannya.
“ Bagaimana Om Ferdi tahu tentang ini? “ tanya alvaro
“Karena papa adit itu sahabat papa kak al sehingga papa adit tahu tentang masalah papa kak al dan kak al”
“ Jadi begitu, Pantas saja “
“ Kak sudah saatnya kita selesaikan masalah ini. Adit ingin keluarga kakak bisa menerima kakak seperti keluarga adit menerima diri adit yang sebenarnya”.
“Tapi dit....”
“Percaya sama adit ya kak”
Entah mengapa keraguan alvaro hilang seketika melihat menik mata adit yang sangat yakin kelaurganya bisa menerima dirinya kembali.
***
Semuanya telah berlalu....
Kini kebahagiaan yang terasa
Cinta mereka telah bersatu
Restu pun telah mengiringi kebahagiaan mereka
Kedua keluarga telah saling bersatu
Saling terikat dan saling membutuhkan
Tak ada yang terpisah
Alvaro telah kembali dalam kehangatan keluarganya....
Alvaro sendiri telah musnah
Alvaro sudah mendapatkan cintanya,
Telah mendapatkan kasih dan sayang, dan
Kelak mendapatkan kebahagiaan....
Itu semua karena cintanya
Pujaan hatinya dan belahan jiwanya
Semua karena ADIT ALBY RAHESSA ...
TAMAT~

Suatu HARI


By : Vivi Amalia

Sakit ...
Sakit yang kurasa dalam hatiku
Apakah kau merasakan ?
Sakit yang aku rasakan

“ Heh maho “

Tara , cowok yang berpenampilan biasa dengan kacamata minus yang selalu bertengger manis di depan matanya itu tidak perlu repot-repot menoleh ke belakang untuk mengetahui sapa yang dimaksut ‘ maho ‘ dan siapa yang menyuarakan kalimat itu .tara sudah tau yang di maksut maho adalah dirinya ,sedangkan yang menyuarakan kalimat itu adalah Gabriel , preman di sekolahnya.

Gabriel adalah ketua preman sekolah yang berperawakan tinggi , lengan berotot ,kulit kuning langsat ,dan memiliki tatapan mata tajam seperti elang yang membuatnya ditakuti oleh siswa-siswi disekolah nya.

Gabriel dan teman-temanya dijuluki ‘ troulde maker ’ karena memang selalu membuat onar , seperti sekarang ini.

“heh budek lu ya ,nengok kek lok di panggil “ suara lain itu suara andre , andre sohib gabriel yang yang memiliki badan besar.

Tara pun menoleh kebelakang memandang gabriel dengan tatapan tak mengerti.
“ ada apa ? tanya tara memandang sayu manik mata Gabriel.

“ gua punya hadiah buat lu maho “ Ucapan Gabriel dengan senyuman sinis

Tara terdiam , dia tahu pasti bahwa yang di maksut hadiah oleh Gabriel dan adalah sesuatu yang tak menyenangkan untuknya .

Tara sudah terbiasa diperlukan seperti ini oleh Gabriel dan teman-temanya . dikarenakan tara adalah cowok yang mencintai sesama jenis.
Kata maho – lah yang yang selalu mengikutinya kemana – mana.

“ seharusnya lu berterima kasih karena Gabriel berbaik hati ngasih lu hadiah “ Ujar suara lain yang tara tidak tahu siapa namanya.

“ nih ambil “ ucap gabriel seraya menyerahkan kotak berukuran sedang ke arah tara . tara sebenarnya ragu menerimanya namun melihat tatapan tajam Gabriel membuatnya terpaksa mengambil kotak itu.

“ terima kasih “ ucap tara seraya ingin meninggalkan Gabriel dan menuju kursinya

“ eits buka dulu gong baru deh lu boleh duduk “ perintah Gabriel

Dengan tangan gemetar tara membuka kotak itu.
Kemudian satu per satu isi didalam kotak itu keluar.
Tak perlu banyak berpikir untuk tahu apa yang keluar darikotak itu , bahkan seandainya pun tara tidak melihat apa yang keluar dari kotak itu , teriakan semua anak perempuan di kelasnya cukup membuatnya tahu bahwa mahkluk itu adalah
“ TIIKUUS!!”

Tara yang sangat membenci binatang itu langsung melemparkan kotak yang diberikan Gabriel ke sembarang arah . kelas pun menjadi riuh dan ribut seperti di pasar . di tengah keributan itu hanya genk Gabriel yang tertawa terbahak bahak karena rencana mereka berhasil.

“ ADA APA INI ? KENAPA KALIAN RIBUT ? “ suara cempreng seorang perempuan tak mampu meredang keributan itu , tak ada yang memperdulikan kehadiran buk winda terkecuali Gabriel
Entah apa yang di katakan Gabriel kepada buk winda sehingga mata bu winda menatap tajam ke arah tara .

Tara menelan salivanya sendiri , tahu bahwa hal yang lebih buruk akan menimpahnya
“ tuhan , sampai kapan akan begini terus “ keluh tara

Tara memandangi pria yang ada diatas kasur-nya itu dengan tatapan sayu .
Entah apa yang membuat pria itu datang ke kost tara ,namun karna tak memperdulikan hal itu yang terpenting pria itu mau datang ke kostnya lagi tara sudah sangat bersukur.

“hahaha lucu banget sumpah ! ngeliat lu tadi dihukum tadi sama bu winda “
Twa itu membuat bibir tara terangkat keatas . ya tara tersenyum .
Walau dia tahu dirinya lah yang menjadi bahan tawaan oleh pria itu .

“tertawalah sepuasmu ,Gabriel aditnya “ ucap tara pelan .
Pria itu yang tak lain adalah gabriel sang ketua preman sekolah berhenti tertawa mendengar ucapan tara.

“ Gabriel ! tahukah sakit yang aku rasa saat kamu dan teman-temanmu membullyku ?apakah kamu tahu ? rasanya aku ingin menangis teriak takkala kekasihku sendirilah yang selalu membuat ku menderita . Gabriel jawab aku ! sebenarnya aku ini kekasihmu atau mainan yang bisa kamu permainkan seenak hatimu ? “

Gabriel terdiam kaku mendengar kalimat panjang yang terlontar dari bibir kecil tara ,baru kali ini Gabriel mendengar tara berkata sepanjang itu.
“ Gabriel kenapa kamu tega memperlakukanku terus menerus seperti ini ? aku ini kekasihmu bukan ? “ tara mendekat Gabriel dan duduk tepat di depan Gabriel yang tak lain adalah kekasihnya sendiri .

“Gue mau jalan sama temen-temen “ ucap Gabriel dingin dan berlalu pergi tanpa menghiraukan tetesan bening kristal putih yang menetes dari kedua kelopak tara .

“ selalu seperti ini ! kamu lebih mementingkan temen-temenmu daripada aku , Gabriel . sampai kapan kamu akan menyembunyikan ini semua ? “ucap tara pelan mengiringi langkah Gabriel pergi berlalu

Perih ...
Perih yang kau berikan dalam hidupku
Tak sanggup aku menahan
Perih yang ku rasakan

Pagi telah tiba .
Hari yang cerah namun tak secerah rautwajah tara .
Lelah mungkin itu yang kini dirasakan tara .
Perlahan tara berjalan menyusuri koridor sekolah tanpa memerdulikan tatapan para siswa-siswi terhadapnya .
Namun raut wajah tara yang tadi tak cerah kini sirna sudah takkala melihat kekasih hatinya ,Gabriel .
Gabriel terlihat sendiri tanpa teman-temannya menghampiri tara .
Tara tersenyum senang Gabriel menghampirinya .

Namun senyum tara menghilang saat tersadar tatapan tajam dan raut wajah Gabriel yang menahan marah .
“ ada apa lagi ini ? “batin tara .

“ hai “ sapa tara kikuk saat Gabriel sudah di depannya .bukannya menjawab sapaan tara Gabriel menarik tangan tara dengan kasar dan membawanya pergi dari keramaian siswa.
“ puas lu ! sekarang lu udah puas kan buat gue kayak gini “ ucap Gabriel marah setibanya di belakang sekolah .

“maksut mu apa Gabriel ?tanya tara tak mengerti

“seluruh sekolah udah tau gue gay karena ulah lu kan ! “ bentak Gabriel

“ bu-bu-kan bantah tara karena memang bukan dialah yang membongkar rahasia Gabriel.

“ halah muna tau lu ! gue benci banget ma lu ! “kalimat itu terus menerus terngiang di pikiran tara kepala tara pusing , tak tahan menahan pusing yang tara rasa semuanya pun menjadi gelap.

Suatu hari nanti ...
Kau akan mengerti saat aku pergi
Suatu saat nanti
Saat ku pergi dan tak akan kembali
Suatu hari nanti
Kau akan mengerti saat ku tak disini
Saat tubuhku mulai terbaring mati
Dan engkau menangis
Di balik gundukan tanah merah yang masih basah itu ,Raga tara dikebumikan .

Suasana di pemakaman penuh isak tangis keluarga yang kehilangan tara , namun sia – sia tangis tak akan dapat mengembalikan tara ke dunia ini .

Tak jauh dari pemakaman tara terlihat Gabriel, Gabriel terlihat kacau dan penanpilannya bukanlah Gabriel yang seperti biasa .

Kini Gabriel terlihat rapuh walau tak ada air mata yang menetes
“ kenapa lu lakuin ini tara ? kenapa lu ninggalin gue ?
Tara gue nyesel banget ! maafin gue “

Flassback on
Tara tak memperdulikan kepalanya yang masih terasa sakit , tersadar dari pingsan nya tara bergegas kerumah Gabriel .disosoknya hanya Gabriel sekarang .masih teringat alimat terakhir Gabriel yang lontarkan untuknya sesaat sebelum tara pingsan .

“ gue benci banget sama lu “
Kalimat itu sangat memohok hati tara . bagaimana rasamu jikalau seseorang yang engkau cintai mengatakan benci terhadap dirimu ? hancur itu yangt tara rasakan.

“ Gabriel “ panggil tara takkala Gabriel sudah membukakan pintu untuknya.

“ mau apa lagi lu kesini ? “tanya Gabriel dingin tanpa menatap tara

“ aku hanya ingin kamu tahu, bukan aku yang membongkar rahasiamu “ucap tara

“ gak usah bohong lu , Cuma lu yang tahu gue gay disekolah !terus siapa lagi? Kalau bukan lu !” ucap Gabriel tersulut emosi .

“ ta-ta-pi i-tu “

“ pergi lu dari sini ! gue muak liat muka lu itu ! gue benci lu . jangan pernah lu tunjukin mika lu itu di depan gue selamanya “

Braak ! pintu di tutup setelah Gabriel mengucap kalimat itu .tara hanya terdiam . tak ada air mata yang menetes di kedua matanya . bukan! Bukan karena tara tak merasa sakit hati akan ucapan Gabriel , tapi karena hati nya udah hancur berkeping –keping mendengar kalimat Gabriel . air matanya bahkan sudah tak lagi mengalir untuk menangisi Gabriel .
Hati dan matanya telah mati !
Hati dan matanya telah tak sanggup lagi menahan semuanya ,tara sudah tak kuat lagi menghadapi takdir cintanya

“ jangan pernah lagi lu tunjukin muka lu itu di depan gue selamanya “ hanya itu yang ada dipikiran tara kini .

“ jika kamu menginginkan itu Gabriel , maka aku akan pergi selamanya darimu . agar kamu senang semuanya akan ku lakukan untukmu “ ucapan tara pelan

Flassback off

Tara pergi !
Pinta Gabriel benar-benar tara lakukan . tara tak akan lagi menunjukkan wajahnya di depan Gabriel , tak kan lagi membuat Gabriel marah , dan tak akan lagi merasa sakit hati akan perlakuan Gabriel kepada dirinya selamanya .karena tara telah pergi , pergi meninggalkan dunia ini untuk selama - lamanya . tara mengakhiri hidupnya dengan meminum racun .racunlah yang telah merenggutnya nyawanya.

Tara pergi dengan sejuta luka di hatinya, tara pergi karena tak sanggup lagi menahan sakit yang dia rasa , tara pergi tanpa tahu penyesalan Gabriel , dan tara pergi meninggalkan Gabriel yang terpuruk karna ditinggalkannya.

Tara pergi dan tak akan pernah mungkin dapat kembali . karena tara pergi untuk selamanya.

Ini cerpen yang aku post karena permintaan ILHAMZA INSAMI,tadinya tak ada niat aku post karena menurut cerpen ini sangat tak menarik untuk di baca
Tapi karena ilhamza akhirnya aku post deh ,terimakasih untuk ilhamzah dan terimakasih untuk semua member yang mau membaca cerpenku ini.....

TAMAAAT

Luka


by. Vivi amalia fujo

Baru dua bulan aku menjalin hubungan bersama fandy, tapi ternyata hubungan itu meninggalkan sakit yang teramat sangat dihatiku.
Awalnya aku mengenal fandy dari teman sekolahku, dia juga gay sama sepertiku.
Saat itu pula aku mulai mengenal fandy lebih jauh.
Hingga akhirnya fandy mengatakan kalau dia mencintaiku dan mengharap aku menjadi kekasihnya.
"jujur, dari pertama aku mengenalmu aku sudah jatuh hati padamu! Aku mencintaimu,alvin, maukah kamu menjadi kekasihku?"
aku pun menerimanya karena hati ini juga menyimpan rasa cinta untuk fandy.
Selama menjalin hubungan bersama fandy, aku sering menghabisakan waktu bersamanya, kita pun menjadi sangat dekat!
Aku tahu hal yang fandy suka dan yang tidak fandy sukai.
Sungguh! Aku sudah teramat mencintainya.
Fandy pria yang sangat perhatian kepadaku, selalu mengkhawatirkanku, dan selalu memperlakukanku istimewa.
Fandy juga selalu menuruti apa yang kuminta, dia mengangap aku adalah raja yang akan selalu dipenuhi permintaan.
"fandy, aku mau ini"
"fandy, aku mau itu"
"fandy, ajari aku ini"
"fandy, ajari aku itu" bla bla bla
semua mauku selalu dia turuti dengan senyuman yang terlukis di bibir indahnya.
Dan yang akan selalu kuingat ! Pada saat aku ulang tahun yang ke 16, fandy memberikan kado special untukku.
Bola kristal yang di dalamnya terdapat angsa dengan ukiran namaku, itulah kado terindah dari fandy.
Angsa adalah binatang kesukaanku! Fandy pun tahu itu
detik berganti menit
menit berganti jam
jam pun berganti hari
kebahagiaan cintaku berubah menjadi kenyataan yang teramat sakit untukku, suatu ketika saat aku mengunjungi rumah fandy dan melangkahkan kakiku menuju kamarnya.
Aku mendengar dengan telingaku sendiri fandy sedang berbicara dengan temen-temannya, mereka membicarakanku!
"gila lu fan, baru juga 2 bulan lu udah naklukin tuh alvin !" entah siapa itu yang berucap
aku tak berniat menguping namun karena namaku di bawa-bawa akhirnya aku pun mendengarkan pembicaraan mereka.
" siapa dulu! Fandy gitu" itu suara fandy. Aku tak bisa melihat mereka karena pintu tertutup rapat
"oke, kita akuin kalau lu memang hebat!"
"selamat fan, lu udah dapetin alvin dan menang taruhan!"
sakit! Itu yang kurasakan saat tahu bahwa aku hanya menjadi bahan taruhan mereka.
Fandy ternyata kamu tak tulus mencintaiku, cintamu palsu!
Aku menderita teramat! Selama beberapa hari aku hanya menyendiri dan melamun.
Yang ada di benakku hanyalah rasa sakit, kecewa, perih, amarah, benci, dan semua berkecambuk di hatiku.
Aku hanya diam tanpa melakukan apapun.
Aku sangat mencintai fandy tetapi ternyata cintaku hanya dianggap permainan saja olehnya.
Akhirnya fandy menemuiku di rumah dan mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tak terkejut karena memang sudah mengetahuinya terlebih dulu.
"aku minta maaf padamu vin, jujur selama ini kamu hanya menjadi bahan taruhanku saja dan semua kata-kata cintaku itu hanyalah palsu belaka!"
semudah itu fandy mengucap maaf tanpa mengetahui sakit yang kurasa!
Namun biarlah, mungkin ini memang takdir cintaku.
Aku tak ingin menyimpan rasa dendam, aku tak mau membuat diriku lebih tersiksa karena menyimpan rasa benci.
Yang sudah terjadi biarlah berlalu.
Mungkin fandy bukanlah cintaku, namun aku sungguh berterima kasih sudah memberiku kebahagiaan selama 2 bulan ini.
Dan satu kalimat untukmu, fandy
" aku sungguh MENCINTAImu walau LUKA yang kau beri!"