Who Says? | 8.2


Author: Otsu Kanzasky
Beberapa hari terlewat dengan hal-hal baru yang tak pernah terpikirkan oleh seorang Kiel jika hidupnya akan di warnai oleh kehadiran Julian yang mendadak muncul di dalamnya. Ia masih dapat mengingat hari pertama mereka bertemu dengan sangat baik, sebaik Julian yang dapat selalu membuanya kesal dan tak berkutik.
Pria itu adalah trouble maker untuknya. Ada atau tidak adanya dia di sekitarnya akan tetap membuatnya tak tenang, baik karena sifat pemaksa dan arogannya, maupun bayang-bayangnya yang selalu menghantui Kiel dimanapun dia berada.
Bahkan semakin hari perasaanya semakin tak menentu jika dirinya melihat Julian berdampingan dengan beberapa wanita disaat-saat tertentu. Pria itu dapat membuatnya melambung tinggi dan dalam sekejab dapat membuatnya marah-marah.
Julian seperti hantu, bisa berada dimanapun, bahkan secara tak terduga muncul di lokasi pemotretannya dan mengawasi semua gerak-geriknya. Dibalik sifat pemaksa dan keras kepalanya, Kiel menemukan kenyamanan disana. Terlepas bagaimana hubungan mereka, yang jelas si perak itu telah berada di dalam hidup Julian, dan seiring berjalannya waktu mengenal lebih tentang pria bermata abu-abu itu.
Mereka tak hanya satukali bercinta, karena pada akhirnya Julian dengan mudah mendapatkan apa yang di inginkannya. Membuat Kiel terikat pada pria itu, suka ataupun tak suka.
Dan satu yang kini di pahami Kiel; jangan pernah membuat Julian marah(dalam hal apapun), karena ia tahu dimana dirinya berakhir. Kalau tidak diatas tempat tidur, pasti di dalam mobil. Hal itulah yang membuat Kiel lebih tenang menghadapi Julian. Kedakatan Kiel dan Julian tentu saja sudah di ketahui banyak orang, apalagi sebelum semua ini mereka berdua pernah menjadi berita ketika kedapatan berduaan di Covent Garden. Dan tidak ada yang mempermasalahkannya, karena Inggris telah melegalkan hubungan sejenis.
Tapi hal itu tentu tidak menyenangkan bagi Bobby yang sudah lama menyukai Kiel, dan tentu saja si perak itu berusaha menjaga sikap dan kata-katanya ketika bertemu dengan Bobby. Selain tak ingin memberi harapan palsu, ia juga tidak mau sampai membangunkan singa tidur.
"Habiskan makan siangmu dengan cepat, sebentar lagi sesi pemotretan terakhir" ujar Kelly, di tenda khusus model.
Kiel yang sedang memakan bekal buatan sang manager pun hanya mengangguk. Dalam kondisi memakai make up lengkap dan gaun rumit yang cukup menyulitkannya, Kiel makan siang selagi menunggu gilirannya.
Siang ini dirinya berada di Istana Windsor untuk pemotretan profesional, membawakan pakaian kotemporer bertema Kerajaan. Ada 4 model yang terlibat, dan ia salah satunya.
Siang ini kesabarannya di uji habis-habisan, di bawah terik matahari, dan fotografer yang sangat idealis. Karena pemotretan ini akan menjadi bagian majalah fashion yang terkenal di Dunia.
Setidaknya Kiel harus bertahan selama 30 menit, membawakan 2 pakaian wanita. Dan entah sang make up artist yang jenius atau memang wajah Kiel yang memenuhi syarat, sesi pemotretannya berjalan lebih cepat beberapa menit daripada rekan-rekan modelnya yang lain.
Wajahnya yang seperti boneka klasik itu di anggap sempurna oleh Foster si fotografer dengan tema kali ini.
"Selesai! Kerja bagus, terima kasih!" ujar Foster, tersenyum puas pada Kiel.
"Terima kasih" balasnya sopan.
Kelly sudah siap menyambut dengan sebotol infuse water dingin saat Kiel berjalan menjauh dari fokus kamera Foster sambil mengangkat setengah gaunnya.
"Kegiatan setelah ini apa?" tanyanya, mengambil botol minumnya dan menegaknya.
"Tidak ada, waktumu sudah di booking oleh seseorang" jawab Kelly. Kiel mengernyit, dan menyudahi minumnya.
"Maksutmu?"
Belum sempat Kelly mengatakan sesuatu, 2 pria berpakaian serba hitam yang cukup familiar berjalan kearah mereka.
"Selamat siang, anda sudah di tunggu oleh Bos" kata pria itu sopan, Kiel mengangkat satu alisnya.
"Bukankah kalian pengawal Julian?" tanyanya bingung. "Kenapa kalian ada disini?" lanjutnya.
"Kami di perintahkan untuk menjemput anda, Bos sudah menunggu di mobil" Keith menjelaskan. Kiel beralih menatap Kelly.
"Kamu tahu tentang hal ini?" tanyanya memicingkan mata, Kelly hanya mengangkat bahu kecil.
"Sebaiknya kita bergegas, Bos tidak akan suka menunggu lama" Martin menambahi.
"Katakan padanya, jangan datang seenaknya kalau tidak ingin menunggu lama. Aku mau ganti baju" kata Kiel tegas, lalu beranjak menuju tenda.
"Tidak ada waktu Tuan, kita harus cepat" kata Keith, menarik lengan Kiel. Dan seenak hati mengangkat si perak itu di pundaknya.
"Turunkan aku! Kau tidak sopan! Hei" teriak Kiel memukuli punggung Keith yang cuek berjalan menjauh dari lokasi pemotretan.
"Turunkan aku! Aku bisa melaporkanmu ke polisi atas tuduhan penculikan!" ancam Kiel, berusaha berontak.
Makian keluar dari mulutnya karena Keith dan Martin mengabaikan semua yang di katakannya. Untung saja suasana di sekitar Istana Windsor sepi karena tidak sembarang orang yang boleh menginjakkan kaki disana, kecuali telah mendapatkan izin.
Martin membukakan pintu belakang sedan hitam yang terparkir di pinggir jalan, dan Keith menurunkan Kiel di atas kursi. Si perak itu melotot kesal saat Keith menutup pintu mobil, lalu menengok ke sisi kanannya, pada Julian yang duduk santai.
"Apa kamu tidak mengajari mereka sopan santun?" tanyanya kesal, Julian pun menatapnya.
"Aku tidak suka menunggu lama, ganti bajumu" kata Julian sembari meletakkan sebuat paper bag hitam di atas paha Kiel.
"Kenapa kamu selalu memaksakan kehendakmu? Menyebalkan" ketusnya, dengan kasar membuka paper bag tersebut dan mengeluarkan isinya.
Sebuah dress merah darah minimalis, dibagian bahu dan lengan berbahan brokat yang cantik, panjang diatas lutut, terdapat aksen renda di bagian pinggiran roknya.
"Apa ini?" tanyanya menatap Julian bingung.
"Aku tidak tahu selera pakaianmu, kamu sering pakai gaun jadi pakai saja" ujarnya terkesan memerintah.
"Disini?" kerutan di dah Kiel semakin dalam. Julian tak menyahut dan itu artinya ya.
Kiel mendengus kecil, pada akhirnya menurut untuk mengganti baju, toh Keith dan Martin berada diluar. Cepat ia memakai dress merah itu, lalu kedua pengawal diluar pun masuk dan segera menjalankan mobil sedan tersebut.
"Kita mau kemana?" tanya Kiel, memangku gaun pemotretannya agar tak rusak karena harus di kembalikan.
"London Eye" jawab Julian singkat.
"Ada apa disana?"
"Kamu akan tahu nanti"
Kiel memutuskan diam, kalaupun di masih bertanya toh hanya akan membuatnya kesal, karena Julian hanya menyahut seadanya. Tapi saat mobil berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah, Kiel memperhatikan ke sebrang jalan, pada pedestrian yang tak pernah sepi oleh pejalan kaki. Pada anak-anak yang berjalan bergandengan dengan orangtua mereka.
"Orangtuaku dulu sering mengajak kami jalan-jalan seperti itu" ujar Kiel, memaku tatapannya keluar jendela. Ada kerinduan di suara dan sorot matanya. Julian menoleh, memperhatikan si perak itu.
"Hanya jalan-jalan ke taman, tapi kami sangat senang bermain disana, rasanya sudah lama" kenangnya, tersenyum tipis ketika melihat seorang bocah perempuan yang menangis karena permennya jatuh.
Julian tak berkomentar, kembali menatap lurus ke depan. Suasana pun jadi hening, karena Kiel juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Tak lama, mobil yang mereka naiki berhenti tepat di depan taman dimana wahana London Eye yang terkenal berada.
Kiel dibuat takjub oleh area di sekitar wahana yang di sulap menjadi tempat pernikahan bertema garden party. Meja, kursi dan altar, semuanya serba putih, sanpat sederhana jika melihat tamu-tamu yang datang, karena hampir semuanya mengendarai mobil-mobil mahal.
"Siapa yang menikah?" tanya Kiel ketika turun dari mobil, dan berjalan di samping Julian.
"Relasi bisnis" jawabnya singkat. Dan tanpa di sangka jika pria dingin itu menarik tangan Kiel, menggenggamnya.
Si perak terdiam, menatap tangan kanannya yang di genggam. Perlahan bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis, tapi kemudian ia sada dan berusaha untuk tidak tersenyum. Meski ada rasa senang merayapinya.
Ternyata banyak juga dari para tamu yang mengenalinya, ada yang sekedar menyapa bahkan sampai minta berfoto. Tapi Kiel tidak semudah itu meladeni mereka, karena Julian sudah menatapnya tajam.
Kiel dibuat tak mengerti oleh sikap Julian, pria itu sangat sulit di tebak. Dan dirinya dibuat terheran-heran saat mereka hanya datang untuk sekedar menampakkan diri pada pengantin, setelah itu Julian menariknya kembali.
"Hanya begini saja? Kita harus mencoba London Eye" ujar Kiel, agak kecewa. Dengan bibir merengut, mengikuti langkah Julian.
"Itu permainan anak-anak, jangan harap" ucapnya dingin.
"Setidaknya biarkan aku naik, sebentar saja aku ingin mengenang Ayahku" pinta Kiel.
Sepertinya hal itu berhasil karena Julian berhenti berjalan, dan kini menoleh padanya. Dan Kiel tidak dapat melihat persetujuan di tatapan matanya yang selalu tajam itu, tapi siapa yang menyangka jika pria tampan itu membelokkan langkah kakinya menggandeng Kiel kearah London Eye.
Kiel tampak senang, ia sudah tak sabar naik wahana terkenal itu. Sebuah kincir raksasa dan terbesar nomor 2 di Dunia, terlebih dirinya dapat naik secara cuma-cuma, tanpa harus antri panjang, seperti pemandangan setiap harinya.
Si perak itu sangat antusias, karena sudah lama ia ingin naik ke wahana itu sejak pertama kali menginjakkan kaki di London--1 tahun yang lalu, dan baru kali ini ada kesempatan. Kiel dan Julian naik di salah satu bilik bianglala yang dapat diisi 4 orang sekaligus, tapi kali ini hanya diisi oleh mereka berdua.
Kiel mengambil tempat duduk memojok ke jendela wahana, memperhatikan pemandangan diluar dengan wajah berseri, sementara Julian duduk di sisi yang lain agar bilik tersebut seimbang.
"Apa yang membuatmu mengenang Ayahmu?" tanya Julian tiba-tiba, membuat Kiel harus mengalihkan pandangannya. Beruntung wahana itu berputar cukup lama mengingat ukurannya yang amat sangat besar, jadi ia tidak akan melewatkan pemandangan cantik di puncak wahana nanti.
"Dia sering mengajak ku dan kakak perempuan ku naik bianglala, ada taman bermain di dekat rumah kami. Bianglalanya sangat kecil, tapi kami menyukainya" Kiel tersenyum samar, mengenang masa kecilnya.
"Kami tinggal di kota kecil di Irlandia, dan tidak banyak hiburan disana. Setiap akhir pekan orangtua ku akan mengajak kami jalan-jalan" Kiel melanjutkan ceritanya, dan Julian diam menyimak. Tak lepas menatap si perak yang duduk berhadapan dengannya.
"Hanya sampai aku berusia 7 tahun, karena dua kakak ku sudah besar dan dia sibuk bekerja..." Kiel diam sejenak. "Hubungan kami tetap harmonis, Ayah ku bekerja sebagai kepala polisi di kota kami..."
"Lalu apa yang terjadi?" Julian menunggu, suaranya terdengar peduli. Sepasang mata biru itu berubah sendu.
"Dia tertembak saat terjadi perampokan di sebuah rumah dan tewas seketika dengan 2 luka tembak" jawab Kiel tenang. Sebagai pelaku entertaint, ia sangat pintar mengendalikan mimik wajahnya.
Sejenak hening menyeruak di antara mereka, Kiel berusaha mencairkan suasana dengan tersenyum tipis, dan beralih menatap keluar jendela. Menikmati pemandangan dari ketinggian, sementara Julian masih memaku tatapannya pada sosok berambut perak itu.
"Lihat lihat! Itu Istana Buckingham!" seru Kiel antusias, matanya berbinar indah memandang jauh keluar, padahal biliknya baru setengah perjalanan.
Julian memutar kepalanya, menatap keluar jendela. Wajahnya tetap saja dingin, karena memang seperti itu wajahnya sejak lahir.
"Bagaimana denganmu? Kenangan apa yang berharga?" tanya Kiel, kembali menatap Julian. Pria itu meliriknya.
"Ayahku sering mengajak ku ke casino, club malam, dan tempat-tempat yang tidak seharusnya di datangi anak berusia 5 tahun" Julian mulai bercerita, Kiel melongo mendengarnya.
"Sungguh?" tampaknya ia tak percaya.
"Saat usiaku 10 tahun, dia sudah menyuruhku bertaruh dengan teman-temannya. Bermain kartu dengan taruhan segelas bir, tahun berikutnya aku memenangkan poker dengan jumlah taruhan 10.000 dollar"
"Itu gila" celetuk Kiel heran. "Kamu benar-benar melakukan semua yang di lakukan Ayahmu?" tanyanya tak percaya.
"Di usiaku ke 17 dia sudah menyerahkan bisnis senjatanya padaku"
Kiel spechless, ia sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sungguh jalan hidup yang tak di mengertinya.
"Lalu bagaimana Vanessa?" tanyanya penasaran.
"Dia sama sepertiku, tapi bagaimanapun dia perempuan. Vanessa memegang bisnis properti, meskipun begitu dia kuat"
"Sekuat apa?"
"Dia pernah menghajar perampok dijalan karena melukai seorang nenek tua, pernah membuat pesta pernikahan kerabat kacau karena menghajar pria hidung belang yang melecehkannya"
"Apa yang terjadi pada pria itu?"
"Tangannya patah, hidungnya bengkok, siapa yang peduli"
"Benarkah?" Kiel tergelak.
"Dia tak berhenti mengamuk sampai Ayah menyuruh pengawalnya untuk menyeret Vanessa keluar ruangan"
Kiel tertawa, membayangkan jika Vanessa yang cantik itu dapat menghajar pria yang tenaganya lebih besar. Dan Julian menikmati pemandangan itu, ada kelegaan di sorot matanya memperhatikan Kiel yang masih tertawa.
"Lalu apa lagi?" tanya Kiel, berusaha menyudahi tawanya.
"...dia pernah membuatku kalah di kasino karena terlalu berisik, sejak saat itu aku tidak pernah mengijinkannya ikut"
Kiel tertawa kecil, sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya pelan, dan tawanya pun berhenti ketika ekor matanya menangkap pemandangan indah diluar kincir. Otomatis perhatiannya pun beralih pada pemandangan diluar.
Kiel nyaris menempelkan wajahnya pada kaca kincir, menyaksikan pemandangan indah sungai Thames yang tersuguh sempurna dibawah sana. Tampaknya mereka sudah berada di puncak wahana, si perak itu jelas sekali terpesona oleh pemandangan yang tersuguh di depan matanya.
Tidak hanya sungai Thames, dari puncak London Eye ia dapat melihat hampir sebagian wilayah London. Sangat indah, tapi tidak sedikitpun menarik perhatian Julian untuk menikmati pemandangan yang ada. Pria berahang tegas itu lebih tertarik memperhatikan Kiel yang antusias memandang keluar, ia memutuskan untuk pindah tempat duduk di samping pria cantik itu dan membuat bilik mereka bergoyang kecil dan agak miring karena tidak seimbang.
Kiel otomatis menengok ke belakang saat Julian mengulurkan tangannya dan menempatkannya tepat di dekat kepala Kiel, dan saat si perak itu menatap Julian, bibir merahnya segera disambut oleh bibir pria itu.
Kiel terkejut, tak menduga akan hal ini. Tapi dirinya tak menolak, dan membalas ciuman Julian. Hanya sejenak, karena ia melepas bibirnya.
"Kamu membuatku melewati menikmati pemandangan dari atas sini" ujarnya tak benar-benar kesal, dan kembali memandang keluar.
"Aku tidak suka di acuhkan" kata Julian. Tangannya yang lain memegang pipi Kiel dan membuat si perak itu menoleh padanya.
Julian kembali melahap bibir Kiel dan mendorong bagian belakang kepalanya, memperdalam ciuman mereka. Kiel terhanyut, keinginannya untuk menikmati pemandangan dari ketinggian pun terlupakan karena lumatan lembut di bibirnya membuatnya meleleh.
Bilik itu bergoyang kecil ketika Julian menyandarkan Kiel ke bilik, dan memperdalam ciumannya. Kini lidah mereka saling bergulat, membuat suasana memanas, dan untung saja wahana itu sangat besar dan membutuhkan waktu cukup lama untuk bilik mereka berada di bawah.
Julian menyesap bibir kenyal Kiel lembut lalu melepasnya, dan mendaratkan ciuman singkat di leher halusnya. Kiel memejamkan mata, pipinya merona, bibirnya masih terbuka untuk menghirup oksigen, dan menikmati debaran dadanya. Ia merasa ada sekelompok kupu-kupu yang belajar terbang di perutnya hingga naik ke dada, membuat perasaannya meluap.
"Kamu pernah melakukan hal ini sebelumnya? Dengan pria?" tanya Kiel, menjauhkan kepala Julian dari lehernya. Mata abu-abu itu seolah dapat menembus jiwanya.
"Tidak, aku sering lupa kalau kamu laki-laki" jawabnya tak berdosa.
"Lalu kenapa sekarang kamu melakukannya?"
"Apa harus ada alasan untuk menganggap seseorang penting bagiku? Kenapa harus berpikir kalau menyukai seseorang?"
Kiel terdiam, pernyataan Julian menyadarkannya akan suatu hal yang tak di sadarinya. Sorot mata tajam itu tak pernah berbohong, ketegasan, arogansinya, sifat pemaksanya bentuk dari apa yang di yakininya.
Julian membuatnya mengerti, jika menyukai ataupun mencintai seseorang tak harus mengenali orang itu luar dan dalam. Cinta bisa saja muncul dimana saja, dan kenapa selama ini dirinya dibuat gelisah karena hal ini?
Dirinya sadar jika tertarik pada Julian, perasaan suka itu ada, tapi karena dirinya terlalu memikirkan `tidak mengenalnya secara utuh', maka hal itu membelenggu perasaannya. Karena pada dasarnya tidak perlu ada alasan apapun untuk menyukai seseorang.
"Aku hanya ingin dengar kamu menginginkan ku" ucap Julian, merendahkan suaranya. Kiel mengangguk samar.
"Aku menginginkan mu Julian" ujarnya lugas. Menahan rasa panas di wajahnya dan jantungnya yang berdetak lebih cepat.
Cinta itu aneh bukan?
"Kenapa kamu menginginkan ku?"
"Aku tidak tahu. Aku senang kamu selalu muncul disaat yang tepat, kamu memperhatikan ku dengan caramu, meski aku kesal dengan sikap pemaksamu, tapi aku menikmatinya. Intinya kamu membuat perasaan ku kacau"
"Sudah jelas kamu terlalu banyak berpikir"
"Aku tahu"
"Bertindaklah dengan tubuhmu, rasakanlah dengan hatimu, dan katakan dengan mulutmu"
"Aku mengerti"
"Even if the world turns their back on me, i wouldn't give up for you" ujar Julian. Tanpa sadar Kiel menahan nafas.
Si perak itu menutup matanya ketika Julian kembali mendekatkan wajahnya, dan sentuhan lembut mendarat di bibirnya. Ciuman hangat yang kali ini dapat melegakan perasaannya.
Benar kata Julian jika dirinya terlalu banyak berpikir, yang membuat semuanya jadi membingungkan.
"Tunggu dulu" Kiel melepaskan bibirnya tiba-tiba. "Saat peristiwa di Hyde Park waktu itu ada dua pria yang mencoba menolong ku, siapa mereka?" tanyanya, membuat mood Julian berubah.
"Mereka bawahanku"
"Jadi mereka mengikutiku selama ini?"
"Sejak peristiwa di John Lewis"
Kiel terdiam, menatap Julian tak percaya. Tak percaya jika pria itu sudah melindunginya sejak awal. Dan dirinyaa tak mengetahu itu. Sepenting itukah dirinya bagi seorang Julian?
Hal itu membuatnya merasa sangat di inginkan.
Siapa bilang cinta itu rumit? Cinta hanya perlu di rasakan, bukan untuk di pikirkan. Karena saat kita menyukai seseorang, maka itu artinya kita elah mengenal siapa dia yang telah membuat kita menyukainya.
Karena cukup satu dari seribu alasan dapat membuat kita menyukai seseorang yang bahkan tak pernah terpikirkan sedikitpun. Mencintai seseorang tanpa syarat, itulah true love.
~Continued.......

Who Says? | 8.1


Author: Otsu Kanzasky
ps: mengambil tokoh Monster, Julian and Kiel, cerita, alur, dan karakter individu yang berbeda.
***
Ada yang berbeda di pagi hari ini di kamar apartement bernomor 12 atas nama Kiel Beudelaire. Tempatnya memang sederhana namun sangat nyaman, terlebih pagi ini.
Disaat si perak itu membuka mata, jernihnya kilau indah itu memantulkan wajah tampan Julian yang membuka mata, mengunci tatapan tajamnya pada dirinya. Entah sejak kapan pria itu terjaga, Kiel tidak sempat memikirkannya karena wajahnya sudah lebih dulu terasa hangat disaat apa yang telah terjadi semalam kembali teringat di kepalanya.
Kiel buru-buru merubah posisi tidurnya, tapi baru saja ia bergerak, rasa nyeri bersarang di bagian lubang pantatnya membuatnya seketika merintih.
"Ah..perih..." rintihnya sambil memegangi pantatnya. Wajahnya meringis menahan rasa sakit itu.
"Kalau aku tidak bisa berjalan hari ini itu gara-gara kau" ujarnya kesal, kini menatap Julian.
"Seharusnya kamu berterima kasih padaku" kata pria itu tenang. Kiel mengernyit.
"Terima kasih karena sudah mengambil keperjakaanku?" ia mendengus.
Julian bangkit duduk seraya menyibakkan selimut, lalu duduk di bibir ranjang meraih celana yang tergeletak di lantai dan memakainya. Kiel masih mengusap-ngusap pantatnya dengan wajah di tekuk ketika Julian beranjak ke kamar mandi.
Dengan susah payah si perak bermata biru itu menggerakkan tubuhnya untuk duduk bersandar di ranjang, walau harus menahan perih.
Meski kekesalan tampak di wajah cantik itu, sesungguhnya toh dirinya tak marah meski Julian telah merenggut keperjakaannya. Semalam, dirinya dalam keadaan sadar dan dapat melawan, tapi tidak di lakukannya. Karena perasaan senang dan berdebar saat itu sangat di nikmatinya, dan di lubuk hatinya ia tidak menolak.
Ini aneh, Kiel sadar betul akan hal itu. Sampai detik ini ia masih dibuat bingung oleh perasaannya. Memang ia tidak mengenal Julian secara utuh, tapi kenapa dirinya tak menolak ketika pria itu menidurinya semalam? Ah tidak, bukan meniduri, tapi mereka bercinta semalam.
Tentu saja. Kiel menikmati dan melakukan apa yang harus di lakukan saat bercinta, terlebih ia melakukannya dengan sadar.
Semurahan itukah dirinya? Bahkan dirinya belum mendapatkan jawaban atas kegelisahannya, tapi sudah berhubungan badan dengan pria yang membuat pikiran dan hatinya kacau. Baik karena sikapnya maupun perilakunya yang pemaksa.
Kiel menghela nafas panjang, tak tahu lagi harus melakukan apa untuk menyudahi kelabilannya ini. Dan selagi sosok indah itu sibuk dengan pikirannya, Julian baru keluar dari kamar mandi dan memaku tatapannya pada Kiel.
Tubuh rampingnya terekspos hingga ke pinggang, rambut peraknya terurai indah, serta wajah bonekanya yang memikat membuat Julian tak bosan memandangnya terus menerus.
Tapi suara dering telepon memecah keheningan kamar itu. Kiel tersadar jika Julian telah keluar dari kamar mandi, memperhatikan pria itu yang tengah mengangkat panggilan telepon.
"Kau buat masalah apa pagi-pagi?" tanyanya menuduh pada orang di sebrang line telepon.
"Bisa ku atur,
katakan dimana tempatnya"
Tiba-tiba Julian berjalan mendekat ke tempat tidur dan mengarahkan Blacberrynya pada Kiel. Si perak itu menatap bingung.
"Vanessa" kata Julian. Kiel mengangkat satu alisnya, lalu mengambil gadget tersebut.
"Hallo?" sapanya.
("......?")
"Ya, dia ada disini sejak semalam"
("......")
"Eh? Tidak, tidak terjadi apapun" pipi Kiel memerah ketika mengatakannya.
("......")
"Uhm, kurasa bisa. Aku tidak ada jadwal sampai nanti siang, tapi akan ku tanyakan pada Kelly dulu"
("......")
"Ya, ku lihat nanti aku bisa jalan atau tidak"
("......!")
Entah apa yang di katakan Vanessa yang jelas dapat membuat wajah Kiel berubah warna seperti tomat. Tanpa mengatakan apap-apa lagi ia langsung menyodorkan gadget itu pada Julian. Dan pria tampan itu segera memutuskan hubungan telepon.
"Gara-gara kamu aku tidak bisa berdiri" kata Kiel memanyunkan bibirnya. Julian melemparkan Blackberrnya ke tempat tidur.
"Ratatouille cukup jauh darisini, dan pantatmu tidak akan membaik dalam waktu beberapa jam" kata Julian, membuat Kiel semakin kesal.
"Kamu pikir gara-gara siapa aku jadi begini huh?" tudingnya.
"Kalau begitu biar aku bertanggung jawab" ucap Julian, seketika membuat Kiel bingung.
Tapi kebingungan itu sirna sudah ketika tiba-tiba Julian mengangkat tubuhnya dan membuatnya memekik kaget. Ala bridal style pria tampan itu membawa Kiel ke kamar mandi, dan saat itu juga Kiel sadar akan maksut dari kalimat aneh Julian.
"Turunkan aku! Aku bisa mandi sendiri!" ucapnya meronta. Ia ngeri memikirkan apa yang akan di lakukan pria itu padanya di kamar mandi.
Julian menulikan telinganya seperti biasa, membopong Kiel dengan sukarela ke kamar mandi. Kapan lagi mereka bisa mandi bersama kalau tidak sekarang.
~
Ratatouille adalah sebuah restoran Perancis yang letaknya di utara London. Vanessa sengaja mengundang Kiel sarapan disana karena suaminya, Adrien, adalah orang Perancis.
Entah masih dapat di katakan sarapan atau tidak, karena saat keempat orang itu menerima hidangan waktu sudah menunjukkan pukul 9. Dan
di jam seperti ini tentu saja restoran masih dalam keadaan sepi, atau mungkin bahkan hanya orang yang ingin buang-buang uang saja yang akan sarapan di restoran seperti ini.
Seperti Julian, Vanessa dan Adrien. Mereka menganggap restoran Perancis ini seperti makan di restoran biasa. Sekaya apa mereka sebenarnya?
"Jadi kau baru datang dari Australia semalam?" tanya Kiel, melahap makanannya lalu menatap Adrien yang duduk bersebrangan di meja tersebut.
"Ya, Nes banyak bercerita tentangmu sejak pertama kali dia bertemu denganmu" ujar Adrien sibuk mengunyah makanannya. Julian yang duduk di samping Kiel, tetap acuh sambil menikmati croissant dan kopinya.
Perlu di garis bawahi. Julian tidak suka makanan Perancis. Karena menurutnya aneh dan tidak meyakinkan.
"Kamu pasti setuju dengan ku `kan sayang?" Vanessa mengalihkan tatapannya pada suaminya itu.
Adrien melap bibirnya sejenak sambil mengangguk. "Tidakkah kamu berpikir untuk operasi kelamin?" tanyanya polos. Kiel yang sedang menegak minum pun sampai tersedak.
Vanessa sampai melotot pada Adrien, karena pertanyaan yang di lontarkan suaminya itu cukup tabu di utarkan. Sementara Julian masih tetap cuek. Kiel terbatuk kecil dan akhirnya dapat menguasai diri.
"Kenapa? Aku hanya penasaran" Adrien membela diri. Vanessa melotot lagi.
"Tidak apa Nes, aku cuma kaget. Itu pertanyaan yang sering ku dengar tenang saja" kata Kiel cukup tenang, agar sepasang suami istri itu tak saling melotot. "Aku tidak pernah berpikir untuk melakukan itu, dan aku juga tidak mau" ujarnya kemudian.
"Yah, itu pilihan tepat" Adrien tampak sangat setuju.
"Oh, ku dengar Kelly sakit, tadi aku sempat mengiriminya pesan" Vanessa telah menghabiskan sarapannya.
"Ya, tadi aku dapat pesan kalau dia flu. Pasti Kelly stres karena akhir-akhir ini banyak hal yang sudah terjadi" sambil mengatakannya Kiel melirik pada Julian.
"Hanya orang bodoh yang terkena flu saat musim panas" ucap Adrien.
"Dia penting untukku"
"Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu memakai manajer?"
"Aku payah mengatur jadwal, lagipula Kelly masih kerabatku, dia anak dari adik Ayahku di Belanda"
Obrolan di antara mereka terus berlanjut. Dan Kiel merasakan perbedaan itu, jika membandingkan dengan lingkungan modelnya yang penuh akan orang yang hobi melakukan merde--omong kosong.
Julian, Vanessa, dan Adrien adalah orang yang berkata apa adanya, bahkan terkadang menyakitkan dan terlalu jujur. Tapi itu yang di sukai Kiel, mungkin karena lingkungan mereka yang tidak di ajarkan bagaimana menjilat seseorang.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Jadwalmu kosong sampai nanti siang `kan?" Vanessa menatap penuh harap pada Kiel.
"Boleh, aku bisa jadi pemandu kalian" ucap Kiel setuju.
"Perfect!"
"Tapi aku ada pemotretan nanti pukul satu"
"Waktunya masih panjang, tenang saja Kiel. Pemotretanmu untuk produk perhiasan `kan?
"Iya, bagaimana kamu bisa tahu?" Kiel menautkan alisnya.
"Pemilik perusahaan berlian itu duduk di sebelahmu, bagaimana mungkin aku tidak tahu" kata Vanessa, membuat Kiel mengerutkan keningnya dalam.
Pemiliknya duduk di sebelahku? pikirnya. Kiel menoleh ke samping kanannya, menatap Julian yang sibuk dengan Blackberrynya. Dan sedetik kemudian pupil matanya melebar menyadari kalimat Vanessa.
"Eh?!" hanya itu reaksi yang di lontarkannya karena terlalu kaget.
Julian beralih menatapnya, mimik wajahnya seperti mengatakan `biasa saja, memangnya itu hal yang luar biasa?'
Demi Tuhan. Kiel baru menyadari jika adik kakak itu pintar membuat seseorang mendapat serangan jantung mendadak.

Who Says? | 7.2

‬ AUTHOR: Otsu Kanzasky

PS: aahhkk males ngetiknya hahaha.
kalau postingan ini gak sampai 80 yg nge-LIKE, postingan berikut akan muncul 4 hari lagi. hargai dong Writernya
Malam tiba menambah suasana riang di London saat musim panas. Cantiknya ibukota Inggris ini tak lekang oleh waktu, kota yang penuh akan bangunan penting bagi Britania Raya.
Tak kalah pentingnya dengan pargelaran London Fashion Week yang berlangsung meriah dan penuh tamu-tamu penting pelaku Dunia Fashion. Desainer-desainer kenamaan menampakan diri dengan pakaian terbaik mereka, selebritis, pelaku bisnis, model, dan dari pihak-pihak yang tak kalah penting.
Sebuah moment penting bagi Desainer yang ikut serta dalam LFW tahun ini. Dan dari sekian banyak tamu dan penonton yang datang, serta berbagai media yang meliput akan melancarkan jalan para Desainer.
Semua orang sangat antusias, termasuk Vanessa yang datang seorang diri dan kedua pengawalnya. Wanita cantik itu tampil anggun dengan gaun putih panjang karya desainer terkenal, terdapat belahan hingga ke paha, tubuh langsingnya tercetak jelas, potongan leher V mempertegas leher indahnya yang di hiasi kalung berlian hitam.
Sedikit banyaknya sosok itu dapat menarik perhatian tamu-tamu lain, sementara Vanessa sendiri tampak sibuk dengan iPhonenya.
"Memangnya Julian ada pertemuan malam ini?" tanyanya, menengok pada Pedro.
"Saya tidak tahu Nona" jawab pria berusia 30 tahun itu.
"Kenapa sih dia, atau jangan-jangan ada masalah?" Vanessa beralih menengok pada Jack.
"Saya--"
"Ah sudahlah, kau juga pasti tidak tahu" sela Vanessa kesal.
"Maaf Nona"
Vanessa berlalu, melanjutkan langkahnya menuju ruangan pargelaran busana tahunan ini di gelar. Dan orang yang di kenalinya saat masuk ke dalam adalah sosok Kelly yang berdiri di salah sisi ruangan yang lain mengenakkan dress selutut berwarna peach yang segar.
"Hai, mana Kiel?" sapa Vanessa ramah, Kelly pun mengalihkan tatapannya.
"Oh hai, dia ambil bagian di peragaan ini. Datang sendirian?" Kelly melirik pada Jack dan Pedro yang berada di belakang Vanessa.
"Seperti yang kamu lihat, Julian sudah kabur sebelum aku mengajaknya tadi" ucapnya mengangkat bahu kecil.
"Ah ya, apa kamu tahu sesuatu tentang Kiel dan adikmu?"
"Sesuatu?" ulang Vanessa dengan menyipitkan mata.
"Siang tadi saat aku kembali ke apartment Kiel, suasananya sangat tidak enak. Mereka berdua tidak mengatakan apapun"
Vanessa mengernyit mendengarnya. "Aku tidak tahu, tapi nanti akan ku cari tahu" ucapnya.
"Baiklah, karena Kiel tidak menceritakan apapun padaku, tidak biasanya"
"Tenang saja, mau duduk?"
Kedua wanita itu pun memisah karena tempat duduk mereka yang berjauhan. Dan 10 menit kemudian pargelaran busana itupun di mulai.
Suasana terasa hening, musik pengiring mulai mengalun, dan pembukaan LFW tahun ini dibuka oleh desainer wanita bernama Anne Orchie. Vanessa yang duduk disisi kiri catwalk tampak serius memperhatikan para model yang melenggang cantik memperagakan busana. Dan sekitar 15 menit kemudian sosok cantik Kiel yang memperagakan gaun malam berwarna hitam muncul,langkahnya tak kalah anggun dengan model wanita.
Pargelaran berjalan lancar, sekitar sejam lamanya dan mendapat applause yang meriah di akhir pargelaran. Dan seperti biasa, para model dan desainer yang terlibat melakukan pesta kecil untuk merayakan kesuksesan mereka.
Suasana di backstage pun jadi meriah, celotehan dan tawa terdengar di ruangan tersebut. Tapi rona bahagia tak tampak di wajah cantik Kiel yang masih terduduk di depan meja rias yang telah berganti baju.
Sorot mata biru jernih itu tampak redup, dan jelas jika dirinya tidak sedang baik-baik saja sejak apa yang telah terjadi diantara dirinya dan Julian ketika di apartment. Sampai detik ini hal itu mengusik pikiran dan hatinya. Bahkan dirinya yang paling exicted saat Veuve Clicquot(minuman yang di sajikan setelah peragaan) mulai di tuangkan pun ia diam saja.
"Ini gelasmu Kiel" ucap Angel, menyodorkan gelas berisi cairan bening. Kiel menoleh, tersenyum singkat dan tak lupa mengucapkan `terima kasih' saat mengambil gelasnya.
"Setelah ini kita mau melanjutkan party di Rainbows Night, kau ikut?" tanya model berambut ikal itu. Kiel menegak minumannya sejenak.
"Semuanya ikut?" tanyanya balik.
"Tentu saja, para pria juga"
"Kau lupa kalau aku juga pria huh?" Kiel menyipitkan mata.
"Oh God, sungguh aku lupa, untung kau mengingatkanku lagi" Angel memegangi keningnya tampak kaget. Sepertinya wanita muda itu benar-benar lupa jika teman seprofesinya itu adalah laki-laki tulen.
"Sudahlah, kapan kita berangkat?" Kiel telah menghabiskan minumannya, lalu mengemasi barang-barangnya.
"Setelah ini, kita berangkat menggunakan limo milik Christopher. Cool huh?"
"Dia pasti puas dengan hari ini"
"Pastinya, aku siap-siap dulu"
Angel pun beranjak dari meja rias Kiel, karena model-model yang lain telah bersiap. Dan Kiel bergabung dengan para model pria yang berkumpul di sudut ruangan membicarakan hal seru lainnya.
Dan seperti yang di katakan Angel, mereka berangkat menuju ke sebuah club malam yang cukup terkenal. Ya, Kiel memang ikut bersenang-senang karena pikirnya, dirinya harus melupakan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Julian.
Meski tetap saja apa yang ada di dalam kepalanya tidak bisa hilang begitu saja meski suara musik club yang memekakan telinga serta meriahnya suasana di dalam club. Tapi setidaknya hal itu dapat membuanya untuk sejenak tidak memikirkan hal tersebut.
Kiel baru saja keluar dari toilet club, kembali ke tempat teman-teman modelnya berada. Meski butuh perjuangan keras untuk mencapai tempat duduk karena beberapa pria menggodanya dan tidak sedikit yang memaksa.
Tapi seorang Kiel yang blak-blakkan dapat dengan mudah menyingkir berkat kata-katanya yang terkadang cukup tajam. Lolos dari beberapa pria cukup mudah baginya, tapi tidak semudah itu ketika secara tak sengaja ia melihat sosok Julian yang duduk di sebuah sofa merah dengan 2 wanita sexy di samping kiri-kanannya, di sisi ruangan club yang lain.
Lagi-lagi dadanya terasa sesak, melihat betapa lancangnya kedua wanita itu memegang tubuh Julian. Ada letupan amarah yang tak di mengertinya, dan rasa itu memuncak saat pria tampan itu tak sengaja menatapnya.
"Masher"(Hidung belang) desis Keil. Wajah cantiknya bak boneka itu berubah agak dingin.
Dadanya bergemuruh hebat, dengan suasana hati yang memburuk ia berjalan kearah teman-temannya duduk. Dan dengan kasar menghempaskan pantatnya ke sofa, menyambar gelas bir Jonathan yang ada di dekatnya.
"Hei hei, pelan-pelan saja, minumannya masih banyak Kiel" celetuk kakak Naill Horan KW super itu. Si perak tak menyahut, merogoh ponselnya dan ternyata ada 3 pesan masuk.
Sender: Kelly
Berhati-hatilah di club, jangan sampai mabuk lagi!
Satunya,
Sender: Bobby Emerald Agency
Aku dengar dari Heidi kamu pingsan saat pemotretan di Hyde Park, kamu sakit? Beberapa hari ini aku tidak bisa main ke agency mu, kabari aku jika terjadi sesuatu.
Dan yang terakhir,
Sender: Vanessa
Sayang ku Kiel. Kamu sangat cantik tadi, sungguh! Aku ingin menemuimu tapi sayangnya aku tidak boleh masuk. Bagaimana kalau besok kita bertemu? Suamiku Adrien akan datang dari Australia dan aku ingin mengenalkannya padamu, akan ku kabari lagi besok
Tak ada satu pesan pun yang di balas Kiel, ia segera menyimpan iPhone putihnya kembali ke dalam tas. Dan tepat saat ia mengangkat wajahnya, sosok tegap Julian berdiri di depan meja.
"Bukankah pria itu yang di kabarkan dengan Kiel?" bisik Inca, pada teman-temannya.
Wajah dingin pria tampan itu di acuhkan oleh Kiel yang langsung menegak minumannya. Rasanya tak sudi ia menatap pria yang kini menatapnya lekat itu, seperti dapat kapan saja melahapnya.
"Tertarik bergabung dengan kami?" tanya Monica genit.
Kiel masih tak mempedulikannya. Pria bermata abu-abu itu pun menarik pergelangan tangan Kiel, yang membuat kaget beberapa model pria yang duduk di samping si perak itu.
"Lepaskan!" ucap Kiel berusaha melepaskan tangannya. Tapi karena Julian terus menarik tangannya, otomatis ia menyambar tasnya dan terpaksa meninggalkan teman-temannya yang mulai berkasak-kusuk.
"Lepaskan tanganku!" teriak Kiel ketika telah berada diluar club. Julian tak bergeming, dan tiba-tiba menarik pundak Kiel hingga--mendorongnya ke badan mobil Porsche hitamnya.
Untuk sesaat mereka hanya beradu pandang dengan suasana yang aneh.
"Kau marah?" tanya Julian. Kiel mengernyit.
"Untuk apa aku marah?" balasnya sengit.
"Menurutmu apa seharusnya aku membawa lebih banyak wanita ke dalam sana?"
"Ah ya, bawalah lebih banyak lagi dan puaskan mereka"
"Kau cemburu?" Julian semakin mendekatkan wajahnya. Kiel membuang muka.
"Cemburu? Yang benar saja. Kau bersenang-senang, aku juga" ucap Kiel memberi tekanan di tiap kata.
"Kalau begitu mari kita bersenan-senang" kata Julian seduktif.
Pria tampan itu tak menjelaskan apa maksut dari perkataannya dan tak memberi kesempatan bagi Kiel, karena dia lebih dulu membuka kunci mobil hitamnya dan mendudukkan si perak itu ke kursi samping kemudi.
"Apa yang--" Kiel tak melanjutkan kalimatnya karena Julian sudah menutup pintu cepat.
Pria itu berjalan memutar dan naik ke mobil, tanpa memasang safety belt mulai menghidupkan mesin. Nyaris tanpa suara, mobil sport itu melaju di keheningan, di ikuti mobil sedan yang di kemudikan pengawalnya kemudian.
Kiel lelah akan permintaannya yang ingin turun di abaikan oleh Julian yang tak bergeming sedikit pun mengemudikan super carnya. Dan Kiel sama sekali tidak berkesan meskipun dirinya berada di dalam mobil super mahal.
Hening yang aneh. Kiel kekeuh dengan amarah membingungkannya dan Julian tetap pada sifat kerasnya yang tak terkalahkan. Bahkan pada seseorang yang saat ini berarti untuknya.
Tapi rasa lega muncul saat Kiel melihat gedung apartmentnya di depan mata. Well, disaat seperti ini ternyata Julian memikirkan perasaannya juga, dan mengantarnya pulang. Kiel bersiap turun saat super car yang di tumpanginya telah terparkir di basement.
"Kenapa pintunya di kunci?" tanya Kiel tak sabar, menoleh pada Julian yang diam saja memandang lurus ke depan.
"Buka pintunya" pintanya lagi. Kali ini Julian mengalihkan pandangannya, tetap dengan tatapan dinginnya.
"Ku bilang kita akan bersenang-senang" ujarnya.
"Apa maksut--"
Julian meringsek mendekat, membuat Kiel seketika menghentikan kalimatnya. Dan si perak itu dibuat terkejut saat tiba-tiba Julian menarik lengannya kuat hingga menggeser tubuhnya ke tempat pria itu duduk, yang kini tepat duduk di pangkuannya.
"Apa yang k--" bibir merah itu telah di bungkam oleh bibir Julian.
Kiel membelalak kaget, dan dirinya telat bertindak karena Julian telah memegangi kedua tangannya erat. Ia ingin berontak, tapi ia tak leluasa bergerak di dalam mobil itu, terlebih saat ini dirinya berada di pangkuan Julian yang duduk di kursi kemudi.
Dadanya bergemuruh hebat saat lidah Julian mengintimidasi rongga mulutnya, mempermainkan fantasynya yang tak dapat di tahan untuk melambung tinggi. Pria tampan itu sangat pintar membuat tubuhnya lemas hingga tak bergerak, dan sadar atau tidak jika kedua tangannya tak lagi di tahan.
Julian membimbing tangan ramping Kiel merangkul lehernya dan si perak itu menurut, tak mengurangi intensitas ciumannya. Nafas Kiel terdengar berat ketika merasakan sentuhan di balik sweaternya. Sentuhan hangat yang menyapa tubuhnya membuatnya terlena.
"Mmh..." Kiel mengerang. Wajahnya kini merah padam.
Julian menyudahi ciuman mereka, dan mendaratkan bibirnya yang basah di leher halus Kiel, menjilatnya dan memberi tanda disana. Si perak itu mendesis kecil, meremas pundak Julian. Dan dirinya terhenyak ketika merasakan sentuhan diatas celananya, tepat di bagian tengah.
"Tidak, berhenti" pintanya, berusaha mendorong pria itu. Tapi Julian masih berkutat di lehernya.
"Katakan kalau kau cemburu" perintahnya, tak melepaskan diri dari leher Kiel. Semakin turun, dan menjelajahi pundaknya.
"Aah..tidak...berhenti.." Kiel tak kuasa menahan desahannya.
"Katakan" Julian mendesak. Tangannya kini bergerilnya di dada Kiel, membuat sentuhan yang menggetarkan tubuh itu.
"Aah! Nnh...Julian~" Kiel meremas rambut Julian gemas, tak kuasa menahan perasaan aneh yang meluap-luap.
Julian mengangkat sweater serta kemeja yang di kenakan Kiel, menjilati dadanya dan menggigit nipple mungilnya kecil.
"Akh! Stt...stop.." Kiel semakin erat meremas rambut Julian.
"Katakan semuanya" Julian tak berhenti mendesak.
"Aahh...i-iya, aku tidak...suka-aahh~"
"Hanya itu?"
Kiel menggigit bibrinya kuat, namun meskipun begitu tetap tak dapat mencegah desahannya, karena Julian tak berhenti menyerang tubuhnya dengan kenikmatan.
"Aku tidak tahu, apa aku menyukaimu atau tidak" sengal Kiel di sela-sela nafasnya yang tergengah.
"Kau harus menyukai ku, karena pada akhirnya kau tetap akan jadi milikku" ucap Julian, berhenti menjilati dada Kiel dan menatap ke dalam mata biru yang sayu itu.
Mulutnya sudah terlalu lelah karena mendesah, bahkan saat bibir Julian kembali mendarat di bibirnya dan melakukan french kiss.
Satu yang tidak di ketahui Kiel, jika kenikmatan yang di berikan oleh Julian akan berlanjut hingga di kamar apartmentnya.
Dan kata siapa jika menaklukan seseorang yang berarti bagi kita cukup dengan kata-kata manis dan perhatian? Hal itu tidak berlaku bagi Kiel, dan mungkin orang seperti Julian lah yang tepat menaklukan si perak dengan caranya.
Sifat pemaksa, arogan, keras kepala, dingin dan kekejamannya sebagai pemimpin kelompok mafia Red Society.
...to be continue...

Who Say? | 7.1


Author: Otsu Kanzasky
ps: meminjam tokoh Monster, Julian and Kiel. cerita, alur dan karakter individu yang berbeda.
Maaf bukan bermaksud lambat mempostingnya, tapi berhubung kemarin ada lomba yang dilaksanakan jadi kami para Admin focus untunk memposting cerita-cerita lomba, so LIKE yang banyak cerbung ini karena udah makin HOT dan GREGEET wkwkwkwk.
***
"Gila, ini gila" racau Kelly. Tak berhenti berjalan mondar-mandir di ruang tamu apartment Kiel.
Sementara Julian yang duduk tenang di salah satu sofa putih disana, tampak cuek-cuek saja seperti biasa. Malahan sibuk memperhatikan ruangan tersebut, dan bangkit berdiri menghampiri rak lemari kecil yang berada disisi meja tv. Dimana terdapat beberapa foto berpigura.
"Berita apa lagi besok yang akan muncul di tabloid dan infotainment?" Kelly panik sendiri. Jelas jika dia sudah cukup pusing dengan jadwal Kiel dan kini semakin di buat pusing oleh peristiwa yang baru saja terjadi di Hyde Park.
Yup, tepat setelah peristiwa menegangkan itu Julian langsung membawa Kiel ke lokasi pemotretan yang disambut kepanikan oleh Kelly dan beberapa orang yang melihat model androgini itu dalam keadaan pingsan di gendongan Julian.
Hasilnya? Jelas pemotretan itu di tunda untuk bagian Kiel, si perak itu segera di larikan ke Rumah Sakit terdekat. Untungnya si perak bermata biru itu hanya mengalami shock yang membuatnya pingsan, dan setelah itu juga Kiel di bawa kembali ke apartmentnya.
Dan tanpa di ketahui Kelly, jika Julian telah membungkam saksi mata yang melihat peristiwa itu dan entah bagaimana caranya agar kejadian tersebut tak bocor pada wartawan infotainment. Dan alasan yang di utarakannya saat di lokasi pemotretan adalah; jika Kiel pingsan di taman dan tak sengaja dirinya melihatnya.
"Bisakah kau diam? Kiel sedang tidur" Julian melirik tajam pada Kelly yang tak hentinya bicara sendiri.
Wanita itu otomatis berhenti dan mengernyit menatap Julian yang tengah memperhatikan sebuah foto keluarga.
"Kau pikir gara-gara siapa Kiel di posisi berbahaya seperti ini? Kau! Dan kau menyuruh ku diam?" Kelly menatap marah. Julian meletakkan foto tersebut dan menatap si manager yang berapi-api.
"Demi Tuhan, aku tidak keberatan kalau kalian berhubungan. Tapi apapun masalah mu, jangan libatkan Kiel, namanya di pertaruhkan"
"Justru dia akan aman jika bersama ku" ujar Julian. Tapi wajah dingin dan sikap cueknya itu belum bisa di tolerir oleh Kelly yang memang belum pernah bicara dengannya.
"Akan ku ingat itu, dan kalau sesuatu terjadi padanya kau orang pertama yang ku cari. Aku tidak takut sekalipun kau Bos mafia sekalipun" tegas Kelly.
"Aku suka itu" tetap tidak ada ekspresi di wajah dingin Julian.
Kelly memijat kecil pelipisnya, merasakan kepalanya yang agak sakit karena semua ini.
"Ok, kau tetap disini sampai Kiel bangun. Aku masih ada urusan" ujarnya, meraih tas tangannya yang ada diatas meja sofa.
Keributan kecil itu pun lenyap seiring dengan sosok Kelly yang keluar dari apartment sederhana ini. Julian melepas jasnya dan meletakkannya di lengan sofa, sembari membuka kancing teratas kemejanya dan mennggulung lengannya, ia berjalan kearah dapur.
Bir kalengan menjadi pilihannya di dalam lemari es Kiel yang isinya tidak terlalu penuh. Sambil bersandar di meja dapur ia menikmati bir dinginnya, dan tak sengaja ia melihat sebuah photobook bersampul cokelat mozaik yang menampilkan wajah Kiel di atas meja makan.
Kiel Beudelaire presents. Judul majalah tersebut.
Julian meletakkan kaleng birnya di atas lemari es dan menghampiri meja makan, duduk di salah satu kursi meraih photobook tersebut. Jarinya mulai membuka cover, dan matanya di manjakan oleh foto pertama; Kiel duduk di sebuah sofa hitam dengan kemeja sepaha, rambutnya dibuat berantakan, tampak sangat dewasa.
Photobook setebal 30 halaman itu memuat foto dengan berbagai tema. Mulai dari mature, elegan, klasik, hingga ala keluarga kerajaan. Tapi yang paling membuat Julian tertarik adalah foto mature dimana Kiel hanya menutupi tubuhnya dengan kain putih dan ekspresi kosong. Terasa amat hidup, seperti malaikat yang kehilangan kedua sayapnya.
"Julian" suara itu terdengar lirih, menyeret perhatian Julian yang tak kunjung mengganti halaman.
Pria tampan itu menutup photobook tersebut, memperhatikan Kiel yang berjalan mendekat. Wajahnya terlihat lelah, meski tak melunturkan pesonanya yang menyilaukan mata. Dan si perak itu mengambil tempat duduk berhadapan dengan Julian.
"Apa yang sebenarnya terjadi di taman siang tadi?" tanya Kiel, tatapan matanya tak tergoyahkan oleh sorot tajam Julian.
"Apa yang ingin kamu tahu?" pria itu bertanya balik.
"Semuanya. Kenapa orang-orang itu mau menculikku? Kenapa ada pengawalmu disana? Kenapa kamu bisa berada disana?" berondong Kiel tak sabar.
"Mereka anggota kartel narkotika di Rusia" Julian melembutkan nada suaranya. Kiel mengernyit.
"Lalu kenapa mereka mau menculik ku?"
"Karena kau yang paling dekat denganku saat ini, mereka pikir dengan menculikmu akan lebih mudah menyerangku"
Kiel semakin dibuat bingung. "Kenapa mereka ingin menyerangmu? Siapa kamu sebenarnya?"
Julian menatap dalam-dalam pada mata biru Kiel. Entah benar atau tidak, tersirat kekhawatiran di sorot mata tajam itu.
"Aku generasi keempat yang meneruskan Red Society, kelompok mafia yang dibuat orangtua ku. Mereka, Skull Bullet yang hendak menculikmu, mereka menganggap kau penting untukku dan berniat menjadikanmu senjata untuk menyerang ku"
Tampak keterkejutan di wajah cantik Kiel, pupil matanya melebar.
"Jadi kamu mafia Rusia?" suaranya tercekat, dan diamnya Julian menjadi jawabannya.
Kenapa tidak dari awal dirinya curiga? Pria itu memiliki banyak pengawal!
"Wow, that's cool!" pekik Kiel tiba-tiba. Matanya berbinar-binar indah, mimik wajahnya berubah berseri. Dan Julian justru bingung dengan reaksi si perak di hadapannya itu.
"Aku hanya tahu mafia di film action! Dan parahnya tidak ada yang tampan di film-film itu" celoteh Kiel, seperti lupa akan tujuannya untuk meminta kejelasan dari Julian.
"Kau tidak takut berurusan dengan ku?" Julian menaikkan satu alisnya.
"Aku takut pada orang yang berniat buruk padaku, dan kamu tidak melukai ku" jawab Kiel mudah.
Julian hanya diam. Reaksi Kiel itu diluar pemikirannya, bahkan ia berharap jika si perak itu takut padanya dan membuatnya memiliki alasan untuk `melepasnya'. Tapi kalau begini, yang ada semakin besar keinginannya untuk memiliki sosok indah itu dan menjaganya.
"Kenapa mereka berusaha menyerangmu? Apa kamu yang paling di takuti di Rusia?" tanya Kiel tampak sangat ingin tahu.
"50 persen wilayah di Rusia dibawah kekuasan Red Society" jawab Julian. Kiel mendesis `cool', rupanya si perak itu benar-benar dibuat terkesan dengan jalan hidup Julian.
"Jadi semua bisnismu di Dunia gelap?"
"Tidak juga"
"Apa kamu punya bekas luka? Setahu ku di film-film pasti mafia terlibat perkelahian"
"Kamu ingin tahu?"
Kiel mengangguk cepat. Dan entah apa yang di pikirkan Julian, pria itu mau-mau saja membuka kancing kemeja abu-abunya, dan melepasnya. Sementara Kiel yang memperhatikan step demi step itu tampak gugup saat melihat dada bidang Julian. Memang tidak terlalu berotot seperti binaragawan, tapi garis dada dan perutnya cukup menonjol. Terlebih tubuh itu lebih besar darinya.
"Satu tahun yang lalu, aku di serang di jalan" ucap Julian, menjelaskan bekas luka tembak di bawah dadanya. Kiel memperhatikan bekas itu cukup lama, dan kembali menatap mata Julian.
Kiel bukan orang bodoh yang tidak memahami jalan hidup yang di arungi Julian. Dirinya sadar betul jika hidup pria tampan itu penuh oleh ancaman dan berbahaya. Tapi bukankah mafia itu keren? Mereka berkuasa, apapun bisa mereka lakukan!
Kata siapa mafia selalu di takuti? Buktinya adalah dirinya. Apalagi mafia itu setampan Dewa Yunani.
"Semua orang yang penting bagiku tidak lepas dari bahaya" kata Julian sambil mengenakkan kemejanya kembali.
"Apa aku termasuk orang yang penting untukmu?" tanya Kiel. Tanpa di ketahui Julian, jika saat ini detak jantungnya meningkat.
"Aku bisa menghancurkan kepala mereka yang berusaha menculik mu" wajah Julian berubah sangat dingin, tanpa sadar membuat Kiel menahan nafas.
"Kamu bahkan tidak mengenalku" Kiel memelankan suaranya. Dadanya terasa agak penuh memikirkan jika pria Rusia itu memiliki perasaan terhadapnya.
"Apa saja bisa ku miliki termasuk kau" ucap Julian.
Deg!
Kiel memicingkan matanya. Perasaan tersanjung itu seketika lenyap dan di gantikan rasa kecewa akan apa yang keluar dari mulut pria itu. Binar di mata birunya tersirat kekecawaan yang cukup melukai kepercayaannya. Tapi kenapa? Bukankah mereka baru saja mengenal? Bukankah hal seperti ini sudah dapat di prediksi?
"Jangan samakan aku dengan orang-orang yang pernah ada di dalam hidupmu, kekuasaanmu tidak berlaku padaku" ujar Kiel tajam.
Si perak itu bangkit dengan kasar, membuat kursi yang di dudukinya berdecit. Meski tak dapat di pungkiri jika mata indah itu kini berkaca-kaca. Rasa kecewa yang tak di mengertinya.
Namun tiba-tiba pundak kecilnya di tarik cepat hingga punggungnya menabrak pintu dapur. Belum sempat ia mencerna apa yang sedang terjadi, kedua belah bibirnya telah di sumpal bibir seksi Julian. Semuanya terjadi sangat cepat.
Kiel berusaha mendorong dada Julian, tapi tenaganya tidak cukup besar. Tubuh Julian yang besar menghimpit tubuhnya yang jauh lebih kecil, dan kedua tangannya di pegang erat.
Si perak itu berusaha berontak, meski tubuhnya tidak bisa bergerak bebas. Tapi lidah Julian di dalam mulutnya membuat pertahanannya goyah. Namun meskipun begitu, ia tak menyerah untuk melepaskan diri.
Kiel mulai kehabisan nafas, kakinya lemas dan matanya mulai buram karena air mata. Julian mengakhiri ciumannya dan menatap lamat-lamat wajah memerah Kiel.
"Aku bisa mendapatkan apapun yang ku mau" ujarnya tajam. Menegaskan jika tidak ada satu hal pun yang dapat menghalangi keinginannya.
Plak!
Tangan halus Kiel mendarat di pipi kanan Julian. Wajah cantik itu diliputi amarah, nafasnya naik turun agak cepat, dan sorot matanya penuh akan kekecewaan.
Julian melirik tajam, seolah tamparan Kiel tak sedikit pun membuatnya merasakan sakit.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Kiel berlalu tergesa meninggalkan Julian yang terdiam di ambang pintu. Menyisakan suasana tegang yang menyesakkan dada.
Di kamar, Kiel berdiri termenung membelakangi pintu. Pipi mulusnya basah oleh air mata yang lancang keluar dari mata indahnya.
Kiel tidak ktahu apa yang membuat hatinya sakit. Tidak tahu apa yang membuatnya sangat kecewa, tidak tahu apa yang membuatnya menangis.
Yang ia tahu saat ini perasaannya terluka, ia merasa tidak benar-benar di inginkan.
Perasaan kacau, isi kepalanya juga kacau. Sungguh bukan kondisi yang tepat, karena beberapa jam lagi si perak itu harus datang sebagai brand ambassador kosmetik Chanel terbaru.
to be continue.................

Who Says? | 6


Author: Otsu Kanzasky
ps: meminjam tokoh Monster, Julian and Kiel, cerita, alur dan karakter individu yang berbeda.
***
Tidak selalu hal-hal baik datang setelah kesenangan yang banyak di lakukan manusia. Termasuk mabuk yang memang memberi kesenangan semu dan selalu berakhir dengan hangover di pagi hari.
Dan kata siapa mabuk itu nikmat? Itulah yang di pikirkan Kiel setelah terbangun dari alam mimpi karena kepalanya yang terasa sakit.
Rintihan lirih keluar dari mulutnya, teredam oleh bantal yang menjadi alas kepalanya. Merutuk dirinya sendiri karena sudah minum diluar batas kemampuannya, dan seharusnya ia mendengar apa kata Bobby semalam.
"Obat dan airnya sudah di siapkan" kata suara berat seksi itu memecah keheningan kamar yang cukup luas.
Bibir itu masih berkomat-kamit tak jelas dan sedetik kemudian Kiel membuka matanya cepat lalu bangkit duduk tiba-tiba. Diantara kekusutan wajah cantik itu, ia tampak terperangah dan bingung saat memperhatikan kamar yang di huninya ini.
"Ini bukan kamar ku" ucapnya ling -lung menatap seisi kamar yang asing di matanya.
Perabot di kamar ini sangat berkelas, cat dindingnya yang putih bersih jelas berbeda dengan dinding kamarnya yang di cat biru muda. Meski tak terlalu banyak benda, kamar ini tertata dengan elegan. LED plasma yang besar sepaket dengan set home teather tepat berhadapan dengan tempat tidur, terdapat karpet leopard di bagian tengahnya, lalu lemari es disisi kiri tempat tidur beserta sofa panjang yang agak lebar warna hitam, kemudian coffee maker dan seperangkat sofa lengkap yang berkelas, lemari pakaiannya tertanam di dinding, tepat di samping pintu kamar mandi berbahan kaca buram.
Dan mata birunya menangkap sosok Julian yang berdiri di depan rak lemari kaca yang apik dengan ukiran emas di pinggirannya, tampak tengah membalik-balikan halaman dokumen.
"Aku mabuk semalam?" tanya Kiel sembari menyibak selimut lalu duduk di bibir ranjang.
"Seperti yang kamu ingat" kata Julian, menutup dokumen dan berbalik. Memperhatikan Kiel yang berantakan baru bangun tidur, sementara dirinya telah rapi dengan stelan serba hitam.
Dan entah apa yang ada di dalam kepala Kiel ketika tiba-tiba ia mengatupkan bibirnya saat melihat bibir seksi Julian. Mimpinya semalam kembali muncul dan seketika membuat wajahnya memanas serta rona merah yang kini menghiasi pipinya.
"Kamu sakit?" tanya Julian menaikkan satu alisnya. Karena kini Kiel menudukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tidak, kurasa semalam aku benar-benar mabuk berat. Aku bermimpi berciuman dengan seseorang" jawabnya dengan suara teredam. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan tampak malu.
"Semalam kamu memang berciuman Kiel" sahut Vanessa yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar yang tertutup.
Julian menatap kakaknya tajam, seperti sedang memperingati agar wanita cantik itu tutup mulut. Ekspresi Kiel kini berubah kaget, menatap ke belakang punggungnya. Dan seolah tak merasakan tatapan tajam dari sang adik, Vanessa berjalan masuk.
"Maksutmu?" Kiel menatap takut-takut.
"Semalam kamu mencium Julian setelah minum 3 buah sloky" ujarnya melipan tangan di dada.
Sukses membuat Kiel bengong saking kaget dan tak percaya pada apa yang di katakan Vanessa. Wajahnya kembali terasa panas dan merona, adegan ciuman panas yang semula di yakininya sebagai mimpi kembali berputar di benaknya.
"Ya `kan adik ku?" Vanessa berpaling pada Julian yang memalingkan wajah kearah lain.
Sungguh suasana canggung yang menyenangkan bagi Vanessa. Pemandangan malu-malu Kiel yang memerah dan Julian yang tetap acuh, sikapnya yang tidak membenarkan ataupun menampik membuat Kiel semakin malu.
"Maaf aku mabuk semalam, aku tidak tahu apa yang ku lakukan" Kiel sepertinya kehabisan kata, karena sudah terlanjur malu berkat penjelasan Vanessa.
"Bukan salahmu Kiel, mabuk itu wajar. Lagipula orang mabuk tidak akan melakukan hal tak terduga jika tidak berpikiran tentang hal itu sebelumnya" Vanessa semakin membuat suasana di kamar menjadi lebih canggung.
"Tidak! Aku tidak pernah berpikir untuk mencium Julian!" kata Kiel nyaris histeris.
"Atau mungkin kamu memiliki rasa padanya dan saat mabuk kamu jadi ingin menciumnya" Vanessa berstatment.
Wajah Kiel semakin memerah, tapi cepat ia membantah. Mana mungkin dirinya suka pada Julian yang baru di kenalnya, bahkan ia tidak tahu siapa sebenarnya pria itu.
"Yang membuat ku bingung, kenapa Julian membawamu ke kamarnya?" Vanessa melirik sang adik yang berdiri tak jauh darinya.
"Butuh waktu agak lama membersihkan kamar tamu, dan kamarmu di kunci, tidak ada pilihan selain membawanya ke kamarku" ujar Julian tegas, Vanessa menahan senyum.
Kiel jadi salah tingkah sendiri dibuatnya. Antara rasa tak percaya dan yakin jika semalam memang dirinya mencium pria tampan itu. Tapi kenapa? Memang apa yang sedang di rasakannya pada pria itu?
Mereka bertemu pun secara tak sengaja, lalu apa yang membuatnya bisa menyukai Julian?
"Sebaiknya kamu mandi, sarapannya biar di siapkan, dan biar Julian yang mengantar mu" komando Vanessa melepas lipatan tangannya di dada.
"Aku langsung pergi saja, Kelly pasti mencariku" tolak Kiel halus dan terkesan ingin segera meninggalkan hunian mewah itu.
"Tidak-tidak, Kelly bisa marah kapan saja, cepatlah mandi. Sebenarnya aku ingin mengantarmu tapi aku ada janji dengan teman ku yang tinggal disini"
Kiel beralih menatap Julian yang diam saja sejak tadi, lalu akhirnya mengangguk setuju. Ia berjalan gontai ke kamar mandi, dan Julian memilih untuk keluar kamar.
"Tunggu Kiel" cegah Vanessa saat si perak itu memegang kenob pintu kamar mandi. Kiel menoleh.
"Apa kamu menyukai Julian?" tanyanya tiba-tiba, dan jelas mimik bingung di wajah cantik itu.
"Mana mungkin, aku hanya beberapa kali bertemu dengannya secara tidak sengaja, aku bahkan hanya mengetahui namanya" jawab Kiel.
"Bisa saja alam bawah sadarmu sudah tertarik padanya dan kamu tidak menyadari hal itu"
Kiel terdiam. Benarkah dirinya semudah itu menyukai seseorang? Yang bahkan belum benar-benar di kenalnya?
"Aku yakin kamu mencium Julian bukan hanya karena kamu sedang mabuk, ada hal lain yang harus kamu cari jawabaanya" kata Vanessa berujar lembut.
"Kenapa kamu yakin akan hal itu?" tanya Kiel tak mengerti.
"Aku merasa Julian suka padamu. Tapi dia itu lelet, keras kepala, tapi aku yakin dia merasakan perasaan itu"
Kiel meremas kenob pintu yang di genggamnya, dan tanpa kata masuk ke kamar mandi.
"Buktikan kata-kata ku dan kamu akan tahu" ujar Vanessa sebelum pintu kamar mandi itu tertutup.
Jelas Kiel tidak bisa menenangkan pikirannya saat mandi, secepat mungkin ia membersihkan tubuhnya karena dirinya tidak mau membuat Kelly benar-benar marah. Pasti wanita itu telah mencarinya karena pukul 9 nanti dirinya di jadwalkan untuk pemotretan katalog sebuah fashion line di Hyde Park.
Tepat saat ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian semalam, ia melihat Julian yang meletakkan sesuatu di meja kaca sofa tempat dimana tasnya juga berada.
Pria itu berlalu begitu saja seperti tak melihat Kiel. Dan si perak itu tak diberi kesempatan untuk memikirkan kembali apa yang telah terjadi, karena dirinya harus buru-buru berkemas. Setelah mengikat rambut, ia segera menghubungi Kelly.
Dan benar saja, wanita itu langsung menyemburnya di telepon. Dan yang bisa di lakukan Kiel hanya minta maaf karena dirinya memang bersalah, lalu sekarang ia harus cepat-cepat ke lokasi pemotretan. Telat sedetik saja mungkin nasibnya habis di tangan Kelly.
"Hati-hati di jalan" ucap Vanessa, mengantar Kiel dan Julian ke depan lobi rumah. Dimana sebuah sedan Benz hitam telah menunggu.
"Sampai bertemu nanti siang" kata Kiel tersenyum singkat.
Martin membuka pintu mobil belakang untuk Kiel, dan Julian masuk lewat sisi pintu lain yang di bukakan oleh Keith. Dan Vanessa sempat mengernyit bingung ketika melihat adiknya itu membawa kantong cokelat kecil yang biasanya menjadi tempat membungkus roti.
Mobil mewah itu melaju mulus di kompleks perumahan Chelsea yang terkenal. Dan tentu saja keheningan mendominasi di dalam mobil itu. Membuat Kiel cukup gugup dan tak nyaman berada satu kursi dengan Julian.
Siapa yang menduga jika si perak itu diam-diam melirik Julian yang menatap keluar jendela mobil. Menelisik wajahnya dari samping dan dirinya tak menemukan celah di wajah tampan itu. Semuanya terbentuk sempurna, dan mungkin sosok Adam yang maha sempurna.
Kiel tak sempat mengalihkan pandangannya ketika tiba-tiba Julian menoleh dan tak sengaja menatapnya. Pandangan mereka bertemu, dan meski Kiel menyadarinya, ia tak bisa dengan mudah mengalihkan tatapannya.
Sepasang mata abu-abu tajam itu seolah memberikan perintah tak terucap agar dirinya tak berpaling, jantungnya berdebar menyadari betapa tampannya wajah Adam di sampingnya itu.
Julian mengulurkan tangannya, mengambil benang yang ada di rambut perak Kiel dan membuangnya. Membuat si perak itu membeku untuk beberapa detik.
"Jangan mabuk lagi kalau tidak siap dengan akibatnya" ujarnya kalem, beralih menatap lurus ke depan. Kiel mengangguk pelan.
"Aku tidak akan mabuk lagi, maaf sudah membuatmu repot" ucapnya menumduk.
"Ya kamu benar-benar membuat ku repot" nada Julian yang dingin membuat Kiel mengangkat kepalanya dan menatap penuh penyesalan.
"Tidak ada yang bisa membuatku repot selama ini" imbuhnya, agak pelan.
"Aku benar-benar minta maaf, lupakan saja kalau aku sudah menciummu semalam" ujar Kiel, rasa malu itu belum lenyap. Julian mengernyit menatap si perak itu.
"Lupakan? Semudah itu kau mengatakannya?" suara beratnya terdengar dingin.
"Maksutku, hal itu memalukan dan aku tidak berniat mempermalukan mu" Kiel tampak agak salah tingkah.
"Kamu mabuk dan tidak sadar siapa yang kamu cium, aku tahu itu" tandas Julian dingin.
Sorot mata abu-abu itu berubah angkuh, wajah tampannya yang kaku kini sangat dingin, dan auranya berubah.
"Aku tidak berniat membuatmu marah Julian sunguh" kata Kiel menjadi serba salah.
Pria tampan itu diam saja, kentara sekali jika dirinya marah saat ini. Tapi apa yang membuat pria itu tak di ketahui oleh Kiel. Apa dirinya salah bicara.
"Apa ciuman itu berarti untukmu?" tanya Kiel cukup pelan, tampak berhati-hati. Julian bereaksi. Kembali ia melemparkan tatapan tajamnya pada Kiel yang membuat si perak itu mengkerut di tempatnya.
"Jadi berarti karena kau yang melakukannya" jawabnya lugas. Kiel terdiam, sukses membuat dadanya berdebar.
Apa maksutnya?
"Semua yang berhubungan denganmu jadi lebih berarti akhir-akhir ini"
Kiel tidak tahu apa lagi yang harus di katakannya. Ada perasaan aneh mendengarnya, jantungnya seperti di pompa sangat cepat. Berusaha mencari penjelasan di dalam mata tajam Julian yang seolah dapat menelanjangi isi kepalanya.
Apa reaksinya ini karena tersugesti kata-kata Vanessa? Bahkan dirinya tak tahu seperti apa type kesukaannya! Jadi kenapa dirinya harus berdebar pada pria dingin itu?
Julian memang tampan, tapi apa bedanya dengan Bobby? Pria itu juga tampan dan sudah lama menyukai dirinya. Kenapa tidak Bobby saja? Bukan berarti Julian kalah tampan dengan Bobby, tapi sungguh, dirinya bahkan tidak pernah memikirkan betapa tampan dan sempurnanya sosok Julian.
Terlalu dini jika menyimpulkan perasaan aneh ini adalah rasa suka.
Mobil mewah itu memasuki kawasan Buckingham Palace yang terkenal di Inggris, jalanannya terasa lebih asri dan rapi. Dan disanalah letak Hyde Park yang terkenal itu, bersanding dengan Kensington Park yang menjadi bagian dari Buckingham Palace.
Martin yang mengemudi menepikan mobil tepat di depan gerbang Hyde Park. Tak ada kata yang keluar dari mulut Julian ketika Kiel membuka pintu mobil bersiap untuk turun.
"Terima kasih atas tumpangannya" ujarnya sopan, tak berani menatap Julian.
Tepat saat si perak itu menginjakkan kaki diluar mobil, tiba-tiba Julian mengarahkan sebuah kantong cokelat kecil padanya.
"Sarapan mu, jangan sampai sakit" kata pria itu dengan pandangan lurus. Kiel mengambil kantong itu dengan ragu-ragu.
"Terima kasih, hati-hati di jalan" ucapnya, lalu menutup pintu mobil.
Kiel sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memastikan jika mobil mewah itu telah menjauh karena tiba-tiba tangannya di tarik cepat.
"Darimana saja kamu? Cepat ganti baju!" semprot Kelly dengan ekspresi bak medusa. Kiel pasrah saja tangannya di tarik dan mengharuskannya berlari kecil mengikuti Kelly.
Saat itulah ia merasa ada yang memperhatikannya, lagi. Mata biru jernihnya menatap ke sekeliling, berharap dugaannya salah besar. Meski tak melihat hal mencurigakan, Kiel tetap waspada jika memang ada yang mengikutinya.
Di dekat kolam berhiaskan patung Ratu Victoria, pihak clothing line dan fotografer tampak bersiap-siap, tampak Heidi dan Nathan yang telah siap dengan pakaian dan make up tipis. Jadi Kiel harus cepat-cepat berganti pakaian di sebuah tenda darurat yang hanya berupa kain hitam yang di pegangi oleh beberapa orang, itu akibat dirinya yang datang belakangan.
Tanpa di poles make up, Kiel sudah siap dengan pakaian casualnya. Hanya di bubuhkan sedikit lipbalm untuk memperkuat warna merah bibirnya dan eyeliner yang menegaskan bentuk matanya. Karena saat ini dirinya membawakan pakaian casual wanita.
"Baiklah, semuanya bersiap!" komando si fotografer.
Konsep pemotretan kali ini adalah liburan, jadi para model di tuntut untuk bergerak natural seperti biasa, dengan pakaian musim panas yang nyaman di kenakan Masing-masing model membawakan 3 pasang pakaian. Baju yang berbeda, lokasi pemotretannya berbeda pula. Mulai dari di dekat kolam, di lapangan yang di tumbuhi rerumputan pendek, hinga di dekat Sungai Serpenthine yang memisahkan antara Hyde Park dan Kensington Park. Dengan mengambil siluet Istana Buckingham yang tampak darisana.
"Boleh aku ke kamar mandi sebentar?" tanya Kiel gelisah karena menahan hasrat untuk buang air kecil.
"Silahkan kita istirahat 10 menit" kata Peter si fotografer.
Kiel meminta ijin pada Kelly dan setengah berlari menjauh dari gerombolan. Tak terlalu jauh letak toilet umum di taman terbesar di London itu. Dengan segera ia menuntaskan tuntutannya di toilet, karena tak ingin membuat mereka menunggu meski sedang istirahat.
Kiel dapat menikmati suasana taman yang nyaman sekembalinya dari toilet. Pemandangan hijau di seluruh taman akan memanjakan mata siapapun bagi yang melihatnya. Belum lagi segerombolan rusa yang menjadi penghuni taman di sisi yang berpagar, lalu aneka jenis tanaman dan bunga yang memberi kesan cantik dan elegan di taman yang sangat terkenal ini.
Tapi ketenangannya terusik saat tiba-tiba terdengar suara pekikkan keras di belakangnya. Ia menoleh kaget, dan semakin kaget melihat seorang pria berpakaian casual dengan rambut tertata klimis, melumpuhkan pria lain yang berjenggot tipis.
"Bawa Tuan Kiel kembali ke gerombolannya!" kata pria berkulit cokelat itu dengan mengunci gerakan pria yang pernah Kiel lihat di dalam John Lewis.
Kiel kembali di kagetkan akan kedatangan pria lain yang sama-sama berambut klimis yang kini berada di sebelahnya.
"Siapa kalian?" tanyanya bingung, sekaligus takut.
"Saya akan menjelaskan nanti, anda harus kembali ke--"
"Awas!!" teriak Kiel.
BUGH!
Tongkat baseball itu di ayunkan tepat mengenai kepala si pria. Kiel membelalak, melihat hal itu dengan wajah tegang. Dan pria yang mengayunkan tongkat kayu itu kini bergulat dengan pria yang memanggilnya `Tuan'.
Perkelahian keempat pria itu membuat Kiel semakin tak mengerti, darimana mereka muncul? "Saya mohon cepatlah kembali ke gerombolan!" kata pria itu lagi.
Tapi belum sempat Kiel melakukan apa yang diminta, sebuah sapu tangan membekab hidung dan mulutnya.
"Mmh!!" Kiel berusaha meronta, tapi orang yang berada di belakangnya menahan tangannya sangat kuat.
Rasa takut luar biasa merayapinya, tangannya diikat dan mulutnya di sumpal sapu tangan yang di ikat di belakang kepalanya. Kiel berteriak sekuat tenaga ketika tubuhnya di bopong paksa oleh pria berbadan besar.
"Tuan Kiel!!" pria berkulit cokelat itu langsung membuat pingsan pria jahat komplotan pria yang menyerang Kiel.
Apa yang akan menimpanya? Siapa orang-orang ini?
Pria itu membawa Kiel menjauh dari keramaian, melewati tanaman-tanaman tinggi. Wajah cantik itu memucat dengan mimik ketakutan.
Tapi tiba-tiba pria yang menculiknya berhenti berjalan, dan mata biru Kiel yang berkaca-kaca bereaksi pada sosok tegap yang muncul di waktu yang sangat tepat.
"Minggir! Kalau tidak anak ini akan ku habisi!" ancam pria beraksen Rusia itu. Menatap garang pada 2 pengawal berrakaian serba hitam yang menghalangi jalannya.
2 pengawal itu--Keith dan Martin tak bergeming, dan tak akan pernah menyingkir sekalipun nyawa mereka taruhannya. Sementara Kiel menatap penuh harap pada pria yang kini tampak bengis dengan amarah, berjalan nyaris tanpa suara dan sukses membuat penculik itu tak menyadarinya.
"Atau kau saja yang ku habisi?" suara berat yang dingin itu mampu meremangkan bulu halus Kiel yang bahkan sedang tak berdaya.
Sebuah pisau lipat yang sangat tajam diarahkan tepat di tengkuk pria jahat itu. Seperti di komando, Keith dan Martin melakukan hal yang sama. Ujung pisau lipat mereka yang mengkilat hanya berjarak sepersekian mili dari tenggorokan pria itu.
"Waktumu hanya sampai tiga, turunkan dia perlahan" perintah Julian. Dan sungguh, Kiel tak mengenali ekspresi pria tampan itu.
Wajahnya yang memang dingin, detik ini jauh lebih mengerikan. Seperti dia dapat kapan saja berubah menjadi monster yang paling mengerikan.
Diantara rasa takutnya, Kiel dapat merasakan jika tubuhnya perlahan di turunkan. Tapi sayangnya kakinya terlalu lemas untuk berdiri, ia pasrah saja saat tubuhnya merosot dan limbung di rerumputan.
Keith dan Martin bergerak cepat melumpuhkan pria penculik itu seperti pejudo yang dapat dengan mudah membanting pria besar itu ke tanah. Julian menyimpan pisau lipatnya kembali dan mengangkat tubuh Kiel yang lemas karena shock.
"Ada yang terluka?" tanyanya perhatian, menopang punggung dan kepala Kiel, lalu melepas bekapan di mulutnya dan ikatan tangannya.
Si perak itu menggeleng lemah, tangannya tampak bergetar memegangi jas Julian.
"Pastikan beberapa tulang mereka patah" kesadisan Julian muncul.
"Kami mengerti Bos" sahut Martin.
Julian mengangkat tubuh lemas Kiel yang gemetar kecil, si perak itu hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Julian. Kentara sekali jika ia ketakutan.
Bahkan si perak itu tak mampu bertanya akan apa yang telah terjadi. Dan bagaimana Julian datang disaat yang tepat.
"Tidak akan ku biarkan siapapun menyentuhmu seujung jaripun" ujarnya kalem, melangkah mantap ke tempat pemotretan Kiel berlangsung.
Pemuda cantik itu mengangkat wajahnya pelan, menatap wajah tegas Julian yang menunjukkan keseriusan. Tanpa sadar tangannya semakin erat mencengkram jas pria itu. Dan anehnya ada perasaan tenang ketika Julian mengatakan hal itu.
Lega. Rasa nyaman yang aneh ketika tubuh tegap itu mendekapnya. Seolah dirinya berada di posisi sangat aman. Dan ia tidak mau jika hal ini segera berakhir.
...to be continue...

Who Says? Part 5



Author: Otsu Kanzasky

ps: meminjam tokoh Monster, Kiel dan Julian, cerita, alur dan karakter individu yang berbeda.

***

Tepat pukul 9 malam, Julian menutup buku bisnis yang sudah 3 hari ini di bacanya. Sebuah buku yang cukup tebal, agak meragukan memang jika melihat riwayatnya sebagai pemimpin kelompok mafia. Karena kebanyakan para pria seperti itu tidak suka bertele-tele, apalagi membaca buku tebal seperti itu.

Sosok elegannya tak luntur meski saat ini dirinya hanya mengenakkan celana training Puma abu-abu dan kaus lengan panjang putih yang membuatnya tampak sangat tampan.

Julian meletakkan bukunya kembali ke dalam rak lemari kaca, dan beranjak ke sudut kamar, pada coffee maker yang berada di dekat set sofa berwarna hitam mewah. Ia mengambil cangkir porselen yang tersedia di meja coffe maker dan membuat kopinya sendiri.

Kopi arabica kesukaannya. Asap tipis mengepul dari cairan hitam pekat itu, ia hendak menambahkan gula saat Blackberrynya berdering dengan nada khusus.

Julian meletakkan cangkir kopinya ke meja kaca sofa, diantara laptop dan beberapa benda. Sementara Blackberrynya masih berdering menunggu di terima oleh sang pemilik.

Vladimir Adrik.

Julian tak bereaksi akan nama sang Ayah yang tertera di layar gadgetnya.

"Allo?" suaranya yang serak terdengar seksi.

(".....")

"Papa spokoyno , aktsii almaznoy kompanii uzhe ya poluchayu"(Papa tenang saja, saham perusahaan berlian itu sudah ku dapatkan)

("......")

"Vse gladko , ya znayu , chto delat'. Prosto sidet' i naslazhdat'sya zhizn'yu"(Semuanya lancar, aku tahu apa yang harus ku lakukan. Duduk tenang saja dan nikmati hidupmu) ujarnya lalu mengakhiri pembicaraan.

Memang agak membuatnya tak nyaman karena Ayahnya masih saja mengaturnya, padahal dirinya tahu apa yang harus di lakukan.

Julian melemparkan gadgetnya ke tempat tidur dan menghampiri kopinya yang terbengkalai. Sambil menyesapnya perlahan, ia mulai mengecek e-mail yang sejak sore menyala.

Sebuah e-mail baru atas nama Ralph Brigss menyapa matanya. Segera ia membuka pesan dari pimpinan sebuah perusahaan properti besar di London. Tapi lagi-lagi bunyi Blackberrynya membuatnya urung membuka e-mail tersebut.

Pesan BBM dari Vanessa.

VanesAdrik::
-pesta akan dimulai! kamu mau tetap didalam gua atau menemui Kiel?

Julian sempat diam beberapa saat, sebelum jarinya mengetik balasan.

Julian Adrik::
- bersenang-senanglah

Tring!

VanesAdrik::
-you`re so bored! berhentilah bersikap sok serius, ku ajari bagaimana caranya bersenang-senang!

Julian Adrik::
-ajari saja orang lain

VanesAdrik::
-ok, jangan menyesal kalau Kiel dan Bobby akhirnya pacaran. go to hell!

Julian membaca balasan Vanessa cukup lama, seolah tak memahami isi pesan tersebut. Diantara sifat cuek dan dinginnya masih tersisa kesensitifan yang rumit baginya. Karena entah kenapa, ada perasaan tak rela dan marah saat membacanya.

Gadget itu di lemparkannya sembarangan, berjalan kearah pintu dan keluuar kamar. Langkah kakinya tegas menapaki lantai marmer mewah rumahnya, menuju ke bagian depan rumah.

Dan dirinya dapat mendengar suara Vanessa dan suara asing yang sedang mengobrol di Ruang Tamu yang berada disisi kanan dari arahnya.

Dan sepertinya hidung wanita cantik bermata cokelat itu peka akan bau sang adik yang kini berdiri di depan ruang tamu dengan ekspresi yang tak dapat di artikan.

"Ah, itu adikku Julian" ucap Vanessa pada kedua teman wanitanya. Yang tampak seperti ibu-ibu sosialita.

Dengan pakaian yang cukup terbuka dan justru terlihat bitch dimata Julian. Kedua wanita itu langsung merapikan rambut mereka dan berusaha menarik perhatian Julian, yang tentu saja masuk dalam kriteria mereka.

"Ju--hei kembali!" Vanessa refleks bangkit berdiri saat Julian membalikkan badan beranjak dari tempatnya berdiri.

Namun baru beberapa langkah, Julian mendengar seorang pengawal yang berkata jika Kiel dan teman-temannya telah datang pada Vanessa.

"Selamat malam!" suara ringan itu membuat Julian menoleh ke belakang punggungnya.

Mata abu-abunya menangkap sosok cantik Kiel yang tetap dapat menyihir siapapun termasuk dirinya. Pria berusia 25 tahun itu tampak segar dengan celana pendek selutut berwarna cokelat muda, lalau sweater rajut bercorak bintang yang mempertontonkan leher indahnya, sementara rambut peraknya tergerai indah bergelombang.

Diantara beberapa orang yang datang, hanya sosok Kiel yang tampak dimatanya. Hingga sepasang mata biru jernih itu menatapnya dan tersenyum ramah.

"Selamat malam" sapanya mendekat. Julian memalingkan wajahnya.

"Ah iya, Nes aku bawa cake" kata Kiel, berbalik pada Vanessa sembari menyodorkan kotak cake putih pada wanita itu.

"Kamu tidak perlu repot-repot sayang, tapi terima kasih ya" Vanessa menerima kotak cake itu dengan tersenyum.

"Aku membuatnya sendiri"

"Oya? Lalu pekerjaanmu?"

"Ada beberapa jadwal yang batal tadi, jadi aku mencoba membuat cake dengan bantuan buku resep Kelly" Kiel menyeringai kecil sambil menggaruk tengkuk lehernya.

"Wah, aku beruntung sekali" kata Vanessa melirik jahil pada Julian di belakang. Tapi George yang berdiri di belakang Kiel tampak menahan senyum dengan berpura-pura berdehem sambil menutup mulut.

"Ya sudah ayo kita naik" ajak Vanessa bersemangat. "Pedro, bawakan cake ku ke kamar" titahnya pada pengawal yang berdiri di depan ruang tamu.

Pedro mengambil kotak cake itu, dan Vanessa memboyong ketujuh tamunya termasuk Kiel ke lantai atas dimana private partynya di adakan.

Julian tampaknya tak tertarik mengikuti gerombolan itu, dan dari tempatnya berdiri dirinya dapat mendengar celetukan tentang betapa megahnya kediamannya ini.

"Berikan kotak cake itu padaku" pintanya tiba-tiba pada Pedro yang akan beranjak melaksanakan perintah Vanessa.

Seperti anjing yang di cucuk hidungnya, Pedro memberikan kotak putih tersebut. Tak berani berkomentar saat majikannya membuka kotak tersebut dan mencuilnya sedikit lalu melahapnya.

Ada yang aneh dengan ekspresi wajahnya, dan kunyahannya berangsur pelan. Kemudian memperhatikan tiramisu yang ada didalam kotak.

Well, rasanya memang tak seperti dugaannya.

Dan keputusan yang diambil Julian adalah; Seseorang yang feminin belum tentu bisa memasak. Harap di catat.

"Kuenya Bos?" pinta Pedro sopan.

"Katakan pada Vanessa kalau kuenya akan ku ganti" kata Julian setelah menutup kotak cake kembali.

Tak memperdulikan Pedro yang kebingungan setengah mati dan beranjak darisana kembali ke kamarnya.

Entah apa yang membuat pria dingin itu membawa cake Vanessa ke kamarnya, meletakkannya di dekat laptop dan duduk diatas alas bantal, kembali menghadap layar laptopnya.

Mungkin memang tidak ada hal yang dapat membuat Julian `keluar dari kotak&' sekalipun sedang ada pesta kecil di lantai dua rumahnya. Meski dengan adanya Kiel?

Julian berdiam beberapa detik setelah membalas e-mail Ralph Brigss, dan mengalihkan tatapannya pada kotak cake.

"Kenapa aku tidak mau cake tidak enak ini ada di tangan Vanessa?" tanyanya menguap. Seperti bisikan.

Tok, tok, tok, suara ketukan pada pintu kamarnya, membuat perhatiannya teralihkan.

"Siapa?" serunya.

"Maaf, aku mencari toilet tapi tidak menemukannya" ujar orang diluar.

Satu alis Julian terangkat mendengar suara yang telah terekam di dalam kepalanya. Ia segera bangkit dan membuka pintu kamar.

Ekspresi terkejut lah yang di lihatnya ketika melihat Kiel berdiri di depannya. Dan dirinya sendiri cukup bingung kenapa si perak itu bisa berada di depan kamarnya.

"Maaf mengganggu mu, aku mencari toilet tapi aku tidak menemukan siapapun disini" kata Kiel, menjawab pertanyaan di kepala Julian.

"Ada kamar mandi di dalam, masuk" ujarnya seraya membuka pintu kamarnya lebih lebar.

"Terima kasih" desis Kiel.

Si perak itu buru-buru masuk ke dalam kamar dan menyerbu kearah kamar mandi, sementara Julian masih berdiri di dekat pintu memperhatikan Kiel.

Tak lama si cantik bermata biru jernih itu keluar dari kamar mandi dengan wajah lega.

"Terima kasih kamar mandinya" ucapnya. Julian hanya mengangguk singkat. Tepat setelah itu tak sengaja Kiel melihat kotak cake yang ada di meja kaca tak jauh darinya.

"Maaf kalau cakenya tidak enak, Kelly bilang aku payah di dapur" ujarnya tiba-tiba.

"Tidak juga" sahut Julian singkat.

"Sebaiknya kamu ikut denganku keatas"

Julian hanya diam. Sejujurnya dirinya sama sekali tidak berminat dengan usulan Kiel, tapi...

"Vanessa dan teman-temanku sudah mulai menggila" kata Kiel.

"Maksutmu?" Julian bereaksi.

"Yah, you know, beer or something like that" Kiel mengedikkan pundaknya kecil.

"Aku ikut" sahut Julian cepat.

Pria itu menutup pintu kamarnya lebih dulu dan mengikuti Kiel ke lantai atas. Suara musik dengan beat yang atraktif menyapa gendang telinganya, dan keningnya berkerut sempurna saat melihat jika ruang santai rumahnya disulap menjadi ruangan remang-remang lengkap dengan lampu kerlap-kerlip.

"Ayo" ajak Kiel menarik tangan Julian masuk.

Vanessa yang melihat sang adik datang pun tampak senang dan menarik pria itu duduk di sebelahnya.

"Akhirnya kamu datang, sudah bosan didalam gua?" sindirnya, tak peduli akan mimik wajah Julian yang tak bersahabat.

"Seharusnya kau datang daritadi, aku dan Bobby tidak berkutik disini" kata George nimbrung, tepat duduk berhadapan dengan Vanessa di set sofa berwarna merah maroon. Dan Julian tetap tak bereaksi.

Masih dengan wajah dingin ia menatap ke seluruh ruangan, dan melihat kedua teman Vanessa dan teman-teman wanita Kiel sedang menari gila-gila'an. Sepertinya mereka berada dibawah pengaruh alkohol.

"Ini gelasmu dan ini untuk Kiel" Vanessa memberikan 2 sloky pada Julian yang duduk di sebelahnya dan Kiel yang duduk di samping George.

Julian mengernyit mencium bau alkohol yang lumayan keras. Dan perhatiannya teralihkan saat tiba-tiba Vanessa dan George bersorak.

"Rasanya aneh" kata Kiel mencebik. Vanessa tertawa geli, dan malah mengisi sloky Kiel yang kosong.

"Tambah lagi, ayo minum sepuasnya!" seru Vanessa mengangkat botol Johnny Walker tinggi-tinggi.

"Ingat kamu mudah mabuk Kiel" kata Bobby memperingatkan.

"Santailah sedikit Bob, ini waktunya bersenang-senang ya `kan?" George buka suara, menengok pada Kiel yang ada di samping kanannya.

"Benar, apa salahnya minum?" Kiel menyodorkan slokynya pada Vanessa.

"Cukup Kiel" tepis Bobby tak nyaman. Tapi si perak itu kekeuh agar slokynya diisi kembali.

"Ada baiknya mendengarkan temanmu" kata Julian.

"Ayolah, aku jarang minum jadi biarkan aku minum beberapa gelas" Kiel bersikeras.

"Kita hormati keinginannya, ok?" Vanessa dengan senang hati kembali mengisi gelas Kiel.

Si perak itu menegak minumannya dengan menutup mata rapat, lalu mendesis keras setelahnya. Tanpa bisa di kendalikan, Kiel meminta lagi dan membuat Bobby khawatir akan hal itu.

Padahal baru gelas ketiga dan Kiel sudah menunjukkan tanda-tanda mabuk. Si cantik itu mulai menggoyangkan kepalanya mengikuti musik, dengan gelas yang terisi sedikit ia hendak bangkit berdiri tapi tubuhnya limbung. Refleks Julian menangkap tubuh semampai itu dan Kiel masih saja bergoyang-goyang meski kepalanya terkulai di dada bidang pria tampan itu.

"Biar dia ku antar pulang" ucap Bobby, meletakkan gelasnya di meja serta bangkit berdiri.

"Calm down Bob~ Kiel jarang bersenang-senang, biarkan saja dulu" tahan George, mencegah Bobby menghampiri Kiel yang kini bersandar penuh pada Julian.

Kiel mulai meracau tak jelas dan menjauhkan tubuhnya dengan slow motion. Aneh melihatnya diluar kendali sepeti ini, mengoceh tidak jelas tentang Kelly, Emily, bahkan tetangga di apartmennya yang berisik.

"Hihihi, kamu tidak menumbuhkan bulu Julian?" racaunya aneh ketika menatap wajah tampan itu.

Tapi seringaian di bibir merah itu berangsur lenyap ketika mata birunya menelisik tiap jengkal wajah Julian yang tanpa cela. Dan mungkin karena pengaruh alkohol, tiba-tiba ia berjinjit mengalungkan tangannya di leher pria itu dan menempelkan bibirnya ke bibir seksi Julian.

Pria tampan itu terkejut, sementara Vanessa dan George berseru melihat hal itu. Berbeda dengan Bobby yang mengepalkan tangan melihatnya.

Bau alkohol menguar di mulut Julian karena Kiel semakin dalam mencium pria itu. French kiss yang tak bisa di tolak oleh Julian, hingga ciuman itu terasa makin panas ketika erangan kecil meluncur keluar dari sela bibir Kiel.

Seperti menjadi alarm bagi Julian untuk mengakhiri ciuman itu. Dengan bibir basah berusaha menahan tubuh Kiel yang tak bisa berdiri tegak.

"Dia benar-benar mabuk, sebaiknya kamu bawa Kiel istirahat di kamar tamu" kata Vanessa, ada rona bahagia di wajah cantiknya.

"Tidak, biar ku antar pulang saja" Bobby menyahut.

"Tidak tidak, biar Kiel bermalam disini. Tenang saja Julian bukan pria yang mudah gelap mata" Vanessa berkata anggun.

Julian tak ambil pusing dengan kegigihan Bobby untuk membawa Kiel pulang. Dengan mudah ia menggendong tubuh semampai itu meski mendapat penolakan oleh racauannya dan membawanya pergi dari ruangan remang-remang itu.

"Siapkan kamar tamu" perintahnya pada seorang pelayan yang kebetulan melintas.

"Maaf Tuan, tapi kamar tamu sangat berantakan dan berdebu, butuh waktu agak lama membersihkannya" kata pelayan muda itu harap-harap cemas.

Tak banyak bicara, Julian memanuver langkahnya menuju kamar Vanessa yang ada di lantai yang sama, tapi sayangnya pintu kamar itu terkunci. Dan terpaksa dirinya harus membawa Kiel ke kamarnya yang ada di lantai bawah. Tak perlu bersusah payah membuka pintunya, setelah menutupnya kembali dengan menendang pelan, ia merebahkan Kiel di atas tempat tidur queen sizenya yang bahkan mampu menampung 10 orang sekaligus.

Si perak itu tampak lebih tenang, dengan wajah yang agak memerah dan mata terpejam berbaring nyaman. Julian memperhatikan sosok Kiel itu tanpa dapat mengalihkan pandangannya dari wajah boneka klasik tersebut.

Namun entah apa yang membuat seorang Julian mau melepaskan sneakers yang di pakai Kiel, tapi tiba-tiba kedua kaki itu bergoyang pelan dan membuat Julian yang berdiri di antara sela kaki terantuk dan nyaris menindih tubuh Kiel jika dirinya tak sigap menahan tubuhnya.

Dari jarak sedekat ini dirinya dapat dengan leluasa menikmati pahatan sempurna Tuhan yang menarik hatinya. Dari bulu matanya yang panjang, pipi halus padat, hidung lancip dan bibir merah menggoda. Andai saja sosok itu tak membuka mata saat ini, dirinya akan meyakini jika sosok sempurna itu adalah patung bernilai sangat tinggi.

"Julian..." bibir merah alami itu bergerak sensual. Seolah mendesak sang pemilik nama agar menikmatinya.

Lagi-lagi Kiel mengalungkan tangannya dan menyihir Julian yang kini telah menautkan bibir mereka kembali.

Pria Rusia itu sangat ahli dalam bersilat lidah, dan jangan di ragukan jika dia dapat membuat Kiel makin melayang di kondisinya yang mabuk.

Keinginan untuk memiliki itu timbul sangat kuat, membuat Julian tak ingin melepasnya begitu saja. Dan bukan salahnya jika dirinya terpikat oleh sosok indah itu, bahkan mungkin Zeus akan turun ke Bumi dan mendahuluinya jika dia bisa.

Cukup brengsek memang mencium seseorang yang sedang dalam kondisi tak sadarkan diri, tapi Julian orang normal yang tak mampu menolak. Ciuman itu semakin panas, dan membuat detak jantungnya meningkat.

Apa itu cinta? Julian tak tahu, dan mungkin sejak awal rasa ketertarikannya telah muncul dan tak juga di sadari olehnya.

Setelah Kiel tak membalas ciumannya, Julian melepaskan bibirnya dengan saliva yang menghubungkan bibir mereka. Mengusap lembut bibir ranum itu, lalu membelai pipinya.

"Apa yang sedang kamu lakukan padaku?" desisnya menatap sayu.

Kini Kiel telah terbang ke alam mimpi, berkat mabuk yang melandanya. Dan Julian tak kunjung mengangkat tubuhnya dari atas Kiel.

Mungkinkah yang di katakan Vanessa benar adanya? Apakah dirinya tengah jatuh cinta?

Julian segera bangkit, dan memantabkan hatinya akan satu hal. Memandang Kiel yang terlelap, sementara pikirannya kacau.

Ia pun menyelimuti tubuh itu lalu melepas kaus lengan panjangnya seraya berjalan kearah kamar mandi. Ia memutuskan menyegarkan pikiran dengan mandi.

Baginya detik ini adalah hal yang paling rumit dalam hidupnya. Dan siapa bilang jika menyenangkan berada di ruangan yang sama dengan orang yang telah memenuhi pikiranmu terlebih orang itu sedang mabuk?

Percayalah, sulit baginya menjadi Julian yang dingin. Meski sikap dinginnya itu meleleh oleh seorang Kiel.

Siapa bilang hal seperti ini mudah bagi pria idaman wanita sepertinya?

...to be continue...